
"Mama? Kenapa mama kemari?" Tanya Aneska saat melihat mama sambungnya datang ke butik.
"Mama tadi di kirimkan foto yang sangat bagus, jadi mama kemari mampir untuk melihat-lihat." ucap Mala.
"Yaampun ma, segitunya sampai langsung datang kemari." ucap Elvan.
"Emangnya kenapa? Mama kan mau lihat anak-anak mama!" ketus Mala.
"Oh iya Nes, kenapa kamu bisa di antar Elvan kesini? Di mana Kevin?" Tanya Mala kepada Aneska.
"Kak Kevin katanya ada rapat mendadak, clientnya meminta jam rapatnya di ubah." jelas Aneska.
"Emm.." Baru saja Mala ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba Susi menghampiri mereka sehingga Mala tidak bisa mengatakan apapun.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu memiliki anak yang sangat cantik Mala!" tegur Susi.
"Kenapa? Aku sengaja menyembunyikan berlian seindah ini di dalam rumah.. Bahkan ada satu lagi berlian yang indah di rumah." ucap Mala.
"Benarkah? Kalau begitu masih ada kesempatan untuk menjodohkan anakmu dengan anakku bukan?" Tanya Susi.
"Hm,, tapi maaf! Putriku masih kuliah jadi aku tidak bisa menjodohkannya." ucap Mala dengan senyum menyebalkan.
"Kamu memang menyebalkan Mala!" ketus Susi lalu keduanya saling tertawa bersama.
Sedangkan Elvan dan Aneska hanya saling menatap satu sama lain melihat sikap Mala dan Susi.
"Sebaiknya kita kembali ke perusahaan, biarkan dua sahabat ini saling bergosip." Bisik Elvan yang langsung di balas anggukan kepala oleh Aneska.
Elvan dan Aneska pergi keluar dari butik secara diam-diam agar tidak mengganggu pembicaraan dua sahabat itu.
Saat berada di lampu merah, Elvan tidak sengaja melihat Kevin bersama dengan wanita berada di dalam mobil tepat di sebelah Aneska.
Aneska yang awalnya ingin melihat ke samping seketika di halangi oleh Elvan, Elvan memegang kedua pipi Aneska hingga membuatnya merasa aneh.
"Kak? Kamu ngapain?" Tanya Aneska.
"Ah e-engga Nes.. Hmm,,, menurut kamu Aku ganteng ga?" Tanya Elvan mencoba mengalihkan perhatian Aneska.
"Kenapa kak Elvan nanya begitu?"
__ADS_1
"Kenapa? Sekali-kali aku ingin bertanya seperti itu.. Aku ganteng ga?" Tanyanya lagi.
"Ganteng, Gangguan Tenggorokan?" Tanya Aneska yan membuat Elvan bingung.
"Hah? Maksudnya apaan sih Nes?" Tanya Elvan yang tidak mengerti maksud dari ucapan Aneska.
"Kak, ganteng itu singkatan dari gangguan tenggorokan tau!" Bisik Aneska dengan wajah yang menggemaskan.
Deg,, deg,, deg.. Rasanya suara jantung Elvan sangat kencang hingga bisa terdengar oleh Aneska.
Elvan yang melihat wajah Aneska yang sedang bersikap menggemaskan itu langsung melepaskan kedua tangannya dari pipi Aneska karena tidak ingin semakin gugup.
"Kenapa di lepas? Kak Elvan marah?" Tanya Aneska.
"K-karena lampu sudah hijau!" ucap Elvan yang langsung melajukan mobilnya.
Dia menatap mobil Kevin yang ada di depannya, untung saja Kevin tidak membawa mobil yang biasa dia pakai jadi Aneska tidak menyadarinya.
"Sebenarnya apa yang sedang kamu sembunyikan dari kami Kevin!?" batin Elvan dengan tatapan tajamnya.
***
"Kevin, kamu mau kemana?" Tanya seorang wanita yang tidak lain adalah ibu dari Kevin.
Yap! Selama ini Kevin berbohong, dia bilang kalau orang tuanya berada di luar negeri, dia bahkan bilang kalau dirinya tinggal di apartment miliknya.
Namun kenyataannya hanya papanya saja yang berada di luar negeri, sedangkan ibunya berada di rumah yang sama dengan Kevin. Kevin hanya memiliki apartment tapi tidak pernah di tinggali karena dia tinggal di rumah orang tuanya.
Sebenarnya apa yang sedang di sembunyikan oleh Kevin dari Nirmala dan yang lainnya?
"Kevin mau menjemput Aneska ma, karena hari ini kami harus fitting gaun pengantin." ucap Kevin sambil merapihkan dasinya.
"Apa kamu bilang!? Kamu akan tetap menikahi gadis itu!?" ketus mama Kevin.
"Bukankah Kevin sudah bilang ma? Kevin sudah yakin dengan keputusan ini!" tegas Kevin.
"Kevin pikirkanlah! Dia hanyalah seorang anak angkat yang tidak di resmikan oleh keluarga Bagaskara, itu tandanya dia tidak begitu penting untuk mereka.
Bahkan kamu tidak pernah di ceritakan tentang keluarga aslinya bukan? Asal-usulnya tidak jelas dan mama tidak menyukainya!"
__ADS_1
"Ma, berusahalah untuk mengenalnya lebih dekat lagi, Aneska adalah wanita yang sangat baik ma, Kevin menyukainya dan akan menikahinya sebulan lagi!"
"Tidak Kevin! Kamu mau melihat mama mati?! Kamu mau menikahinya dan melihat mamamu ini hanya tinggal nama saja!?" ketus mama Kevin.
"Ma, aku mohon jangan seperti ini! Mama dan Aneska adalah wanita yang paling aku sayangi!"
"Mama sudah memilihkan wanita yang tepat untukmu! Bukankah kamu tau, kalau kamu dan anak sahabat mama sudah di jodohkan sejak SMA? Kalian bahkan saling menyetujuinya!"
"Ma, dia hanyalah masa lalu! Setelah memutuskan untuk kuliah di luar negeri, dia sama sekali tidak menghubungiku dan Aku anggap hubungan kami sudah berakhir saat itu juga!"
"Kevin! Kamu tidak mengerti! Dia melakukan itu karena dia ingin belajar dengan serius, dia ingin menjadi pantas untuk bersanding denganmu."
"Mama mohon mengertilah Kevin, mama hanya ingin yang terbaik untukmu.."
"Ma! Persiapan sudah di lakukan, undangan sudah tersebar, lalu kenapa mama malah mengatakan hal seperti ini?"
"Apa mama sedang mengancamku!?" ketus Kevin.
"Mama tidak mengancammu! Apa kamu lupa dulu kamu juga mengira mama mengancammu, namun ternyata mama benar-benar melakukannya!" tegas mama Kevin.
Seketika Kevin mengingat kejadian saat dirinya berada di bangku SMA, saat itu Kevin tidak ingin menjadi penerus sang papa karena dia ingin menjadi hakim atau pengacara, namun papanya menentangnya dan memberinya pilihan.
Keluar dari rumah? Atau meneruskan perusahaan papanya. Saat itu Kevin ingin sekali keluar dari rumah yang selama ini dia anggap sebagai penjara, namun mamanya mengancam akan melakukan bunuh diri.
Awalnya Kevin hanya menganggap kalau ibunya hanya mengancamnya, namun ternyata salah! Karena ibunya benar-benar melakukannya, ibu Kevin menyayat pergelangan tangannya sendiri.
Untung saja saat itu sayatan itu tidak mengenai nadinya, namun tetap saja niatnya sudah ada dan benar-benar di lakukan.
Akhirnya Kevin mencoba untuk mengalah dan melepaskan semua impiannya.
Dan kali ini terjadi lagi, mamanya kembali mengancamnya dan menyuruhnya untuk membatalkan pernikahan.
"Kenapa semua harus seperti ini? Apa aku harus mengalah lagi untuk kedua kalinya?" batin Kevin.
"Benar! Aku mengalah saja untuk saat ini dan menyuruh Aneska untuk mengundur acara pernikahan, aku akan membereskan masalah di sini lebih dulu baru menikah dengannya." batin Kevin kembali.
"Baiklah ma, aku akan menuruti ucapanmu! Aku akan menemui putri sahabatmu itu, tapi aku tidak berjanji untuk membatalkan pernikahanku dengan Aneska!" tegas Kevin.
Mendengar hal itu membuat mamanya kesal, hanya saja dia berusaha untuk menahannya.
__ADS_1
"Oke tidak masalah! Untuk saat ini biarkan Kevin mengenal putri sahabatku lebih dulu, baru aku akan bertindak lebih banyak lagi dan membatalkan pernikahannya!" batin mama Kevin.