MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI

MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI
BAB 123


__ADS_3

“Mana? Di mana Kanaya?” tanya Evano dengan semangat.


Aneska dan Aneisha terkejut saat Evano tiba-tiba duduk dan bertanya keadaan Kanaya dengan kondisi yang berantakan itu.


“Kamu sudah tergila-gila dengan Kanaya ya Evano?” tanya Aneska.


“Hah? Kalian berdua boongin aku ya?” tanya Evano dengan kesal.


“Pindah sana kak! Kakak bau alcohol tau, mama marah-marah tuh kakak tidur di sini.” Ucap Aneisha.


“Tante Mala sudah bangun? Kalau begitu aku harus pindah sebelum dia melihatku seperti ini.” Ucap Evano yang segera mengambil jas dan tas kerjanya.


“Terlambat, mama sudah melihatmu seperti itu.” Ucap Aneska.


Evano yang baru saja mau menaiki tangga langsung mematung dan menoleh menatap Aneska dan Aneisha yang ada di belakangnya.


“Apa?! Kenapa kalian ga bilang dari tadi?” tanya Evano yang langsung berlari menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya.


Walaupun Mala tidak banyak bicara seperti maminya, namun menurut Evano Mala lebih menakutkan jika marah di bandingkan dengan maminya.


“Apa dia setakut itu sama mama kak?” tanya Aneisha.


“Entahlah, selama ini mama ga pernah marah jadi aku juga ga tau gimana mama kalo lagi marah.” ucap Aneska.


“Udah jangan diem aja, kamu ga mau syuting?” tanya Aneska kepada adiknya.


Mendengar ucapan kakaknya membuat Aneisha teringat kalau dia harus syuting dan sebentar lagi Lita akan datang menjemputnya.


“Ah iya aku lupa! Aku mau bersiap dulu kak.” Ucap Aneisha yang langsung berlari menaiki tangga menuju kamarnya.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Mala yang sudah selesai mandi dan berganti pakaian kembali turun ke bawah dan melihat Aneska yang sedang merapihkan sofa yang tadi di tiduri Evano.


“Evan sudah pindah? Kenapa kamu yang membersihkannya Nes? Kenapa bukan Evano langsung?” tanya Mala.


“Evano tadi langsung lari pas tau mama udah liat dia seperti itu, dia takut kalo mama marah soalnya.” Jelas Aneska sambil tertawa.


“Haah, anak itu sejak kecil memang lebih takut sama mama dari pada sama maminya.” Ucap Mala.


“Hahaha, pantas saja dia langsung lari terbirit-birit tadi ma.” Ucap Aneska.


“Sudahlah kamu sebaiknya segera mandi dan kita akan sarapan bersama sebelum anak-anakmu bangun dan kamu tidak memiliki kesempatan untuk sarapan seperti biasanya.” Ucap Mala.


“Ah iya mama benar, kalo gitu Aneska mandi dulu ya ma, tolong titip kalo denger anak-anak nangis.” Ucap Aneska yang di balas anggukan oleh Mala.


Aneska segera berjalan menaiki tangga, membuka kamar anak-anaknya lebih dulu untuk mengecek keadaan mereka.


Setelah melihat kalau ketiga anaknya masih tertidur, Aneska segera berjalan ke kamarnya yang ada tepat di sebelah kamar anak-anaknya untuk membersihkan diri dan bersiap untuk sarapan.


kamar anak-anaknya kalau malam hari.


Aneska dan Elvan tidak pernah meninggalkan anak-anaknya sendirian terlalu lama, walaupun mereka akan meninggalkan anak-anaknya, mereka pasti akan menitipkan anak-anak mereka kepada orang rumah.


Drrtt,, drrtt.. Aneska yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan baju handuknya segera mengambil handphone nya yang berdering.


“Halo..” ucap Aneska saat mengangkat telfon.


“Halo sayang..” ucap laki-laki yang suaranya tidak asing.


Laki-laki itu adalah Elvan yang menghubunginya menggunakan telfon rumah.

__ADS_1


“Mas Elvan? Kamu telfon pake nomer siapa? Kok nomernya beda? Kamu pake telfon rumah?” tanya Aneska.


“Hm, aku pake telfon hotel karena hpku batrenya habis dan aku sangat merindukanmu jadi aku tidak bisa menunggu sampai batre hpku penuh.” Ucap Elvan dengan nada manjanya.


“Cih, dasar gombal! Kamu ini sudah punya tiga orang anak mas, tapi masih kayak anak kecil aja!” ucap Aneska.


“Hahaha, kenapa kamu ngomong gitu? Aku kan kangen sama istrinya masa ga boleh sih?” tanya Elvan.


“Hemm,, kalo kangen ya pulang jangan cuma telfon aja.” Balas Aneska.


“Aku akan segera pulang setelah semuanya selesai di sini, kalo gitu aku matikan dulu ya sayang nanti aku hubungi lagi bye..” ucap Elvan yang langsung mematikan telfonnya.


Sedangkan Aneska merasa ada yang aneh dengan suaminya, Aneska diam sejenak sebelum kembali menaruh hpnya kembali.


“Kenapa mas Elvan ga nanya keadaan anak-anak?” gumam Aneska.


Sedangkan di sisi lain, Elvan yang sudah mematikan teflfonnya langsung menghela nafas lemas dan menoleh ke samping.


“B-bagaimana bisa, bagaimana bisa aku berada di situasi seperti ini? Aargghh!!!” teriak Elvan sambil menjambak rambutnya dengan kesal.


Elvan melihat seorang wanita yang sedang tidur di sebelahnya, wanita yang sudah tidak memakai sehelai benangpun dan hanya di tutupi oleh selimut.


Sedangkan dirinya yang hanya memakai boxer dan tidak mengingat apapun yang terjadi saat pesta semalam.


“Dimana hpku, aku harus menghubungi papa.” Gumam Elvan yang ternyata kehilangan hpnya saat pesta semalam.


Elvan curiga jika malam itu wanita yang ada di sebelahnya pasti sudah memasukkan sesuatu di minumannya, dia juga yakin kalau hpnya pasti ada pada wanita itu.


Elvan memutuskan untuk mencari hpnya di tas wanita yang masih tertidur di sebelahnya, Elvan yakin kalau dia tidak pernah melakukan apapun kepada wanita itu dan Elvan takut kalau sampai wanita itu sampai menghubungi Aneska dan mengatakan hal yang tidak-tidak.

__ADS_1


“Apa yang kamu lakukan sayang?” tanya wanita tersebut dan membuat Elvan terkejut mendengarnya.


__ADS_2