MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI

MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI
PERUSAHAAN PAPA


__ADS_3

Bab 13


Cinta bukan hanya masalah memiliki, namun memberikan bantuan dan dukungan. Berani berkata jujur jika ada keputusan yang salah.



Malam harinya, di rumah keluarga Bagaskara sedang makan malam bersama dengan tenang. Setelah itu mereka berbincang-bincang di ruang keluarga seperti biasanya.



“Nes, besok kamu akan pergi ke perusahaan papamu sebagai pemegang saham terbesar mewakiliku.” Ucap Bagas.



“Uhukk,, uhukk,, Besok pa? secepat itu?” ucap Elvan yang tersedak karena terkejut mendengar ucapan papanya.



“Aneska yang menghadiri rapatnya kenapa kamu yang kaget Elvan?” tanya Bagas.



“Ya kan aku masih membutuhkan Aneska di perusahaan pa..” rengek Elvan.



“Jam berapa tepatnya rapat itu di mulai pa?” tanya Aneska.



“Nes!” teriak Elvan.



“Kak, tenanglah aku akan segera datang ke perusahaan setelah selesai rapat.” Ucap Aneska menenangkan kakaknya itu.



Aneska tau jika Elvan membutuhkannya di perusahaan karena Aneska lah yang mengerti tentang laporan-laporan penting perusahaan.


Tetapi Aneska berniat untuk segera kembali setelah selesai menghadiri rapat tersebut.



“Besok jam 10 pagi, kamu akan di antar oleh Elvan ke perusahaan.”



“Apa Elvan bisa ikut masuk ke dalam perusahaan pa?”



“Tentu saja tidak! Kamu harus mengurus perusahaanmu yang terbengkalai itu!” ketus Bagas.



Aneisha dan mama Mala hanya diam dan tetap fokus terhadap makanan yang mereka santap, mereka berdua sama sekali tidak memperdulikan masalah bisnis.

__ADS_1



“Ma, sebenarnya mereka ini ngomongin apaan sih? Anei ga ngerti loh..” bisik Aneisha.



“Sama sayang, mama juga ga tau apa yang mereka bicarakan.” Balas Mala.



“Loh mama kan punya usaha butik sendiri, pasti mama tau bukan tentang masalah bisnis?”



“Mama memang memiliki usaha butik sendiri, tapi papa Bagas dan kak Elvan yang mengurus semuanya, mama hanya duduk dan menjadi mandor hihihi..” ucap Mala sambil cekikikan, begitu juga dengan Aneisha yang ikut tertawa mendengar ucapan Mala.



Bagas yang melihat istri dan anak angkatnya tertawa di sela-sela pembicaraannya hanya melirik tajam ke arah mereka berdua.



Aneisha yang melihat jika Bagas melihat ke arahnya langsung diam dan menatap lurus ke depan, sedangkan Mala yang melihat anak perempuannya tiba-tiba terdiam langsung menoleh ke arah suaminya dan terkejut melihat bola mata suaminya sudah mau keluar dari tempatnya.



“Kalian ini, kita sedang berbicara urusan bisnis tapi kalian malah tertawa sendiri!” ketus Bagas.




Bagas hanya menggelengkan kepalanya dan tidak menjawab ucapan istrinya.



Setelah selesai makan malam, mereka semua pergi ke kamar masing-masing untuk beristirahat dan menyiapkan tenaga untuk kegiatan esok harinya.



Pesawat


Di dalam pesawat, Kanaya sedang menyiapkan makanan dan minuman kepada setiap penumpang dengan sangat hati-hati.


Lalu sampailah dia di first class yang biasanya di tempati oleh orang-orang hebat dan memiliki banyak uang. Sebenarnya Kanaya malas untuk datang ke tempat itu karena banyak sekali para pria hidung belang yang sering menggodanya setiap dia ke kelas pertama, namun karena tuntutan pekerjaan dia harus professional menjalaninya.


“Permisi, bisakah saya meminta segelas anggur?” tanya laki-laki yang ada di sana.


“Mohon maaf, tapi kami tidak menyediakan anggur. Apa perlu saya menggantinya dengan minuman bersoda?” ucap Kanaya dengan sopan dan senyum yang mengembang di wajahnya.


“Bagaimana jika di ganti dengan nomer hpmu dan makan malam bersama?” ucap pria itu dengan senyum liciknya.


Kanaya sangat mengenal bualan laki-laki yang sedang berada di hadapannya itu, dia sudah terlalu sering mendengar kata-kata itu hingga membuatnya mual mendengarnya.


“Sayang sekali, dia ganteng tapi buaya!” batin Kanaya dengan senyum terpaksa.


“Helo.. kenapa bengong? Jangan-jangan kamu tidak bisa mendengar ya!? ah sayangnya, cantik-cantik tuli!” ketus pria itu dengan senyum sinisnya.

__ADS_1


Kanaya tau jika dia meladeni pria yang berada di hadapannya akan menjadi panjang masalahnya, akhirnya Kanaya memutuskan untuk pergi dari hadapan pria itu tanpa membalas ucapannya.


“Wanita yang menarik! Ternyata ada juga wanita yang tidak tertarik dengan ketampananku.” Gumam laki-laki tersebut yang masih menatap ke arah Kanaya yang berjalan meninggalkannya.


Kanaya keluar dari kelas pertama dan berhenti di hadapan temannya dengan wajah yang sudah di tekuk.


“Kamu kenapa Nay? Seyumlah, kalo cemberut gitu kamu pasti di protes penumpang!” ucap temanya.


“Aku sedang kesal, tadi aku ke kelas pertama dan menawarkan minuman, eh laki-laki itu malah minta nomerku! Ganteng sih, tapi kalau hidung belang gitu ya paling ke semua cewe dia maintain nomernya..!” ketus Kanaya.


“Ha? emang ada laki-laki ganteng di kelas pertama? Setauku kebanyakan om-om di sana hihihi…” ucap teman Kanaya sambil cekikikan.


“Sudahlah, ayo kita kembali bekerja! Nanti di tegur atasan.” Ucap Kanaya mengingatkan.


Akhirnya Kanaya dan temannya berhenti tertawa dan kembali melakukan kegiatannya masing-masing.




Pagi harinya, di rumah keluarga bagaskara semua orang sudah berkumpul untuk sarapan bersama. Aneska juga sudah rapih dan siap untuk ke perusahaan papanya yang saat ini sedang di ambil alih oleh pamannya.



“Apa kamu gugup Nes?” tanya Bagas.



“Bohong jika Aneska bilang ga gugup pa, Aneska benar-benar gugup saat ini dan mencoba untuk menahan emosi Aneska saat bertemu dengan om Alex nanti.” Jelas Aneska.


“Tenanglah Nes, kakak yakin kamu bisa menghadapi orang jahat itu!” ketus Elvan.


“Iya kak, Anei juga yakin kakak bisa menghadapi om Alex!” sambung Aneisha.


Aneska tersenyum mendengar ucapan semangat dari kakak angkat dan adik kandungnya itu, Aneska bersyukur karena dia memiliki keluarga yang selalu mendukungnya.


Setelah menyelesaikan sarapannya, mereka semua beranjak dari kursi makan dan bersiap untuk pergi.


“Yah,, mama sendirian lagi deh..” ucap Mala lemas.


“Mama tenang saja, setelah selesai kuliah Anei akan langsung pulang ke rumah menemani mama Mala.” Ucap Aneisha menenangkan mama sambungnya itu.


“Benarkah?” tanya Mala meyakinkan lalu di balas anggukan oleh Aneisha.


Aneisha berangkat bersama Bagas, sedangkan Aneska berangkat bersama Elvan karena arah perusahaan mereka berbeda.


Di dalam mobil, Aneska dan Elvan hanya saling diam tanpa mengucapkan sepatah katapun. Elvan tau jika adik angkatnya itu sangat gugup untuk menghadapi orang-orang yang awalnya mendukungnya namun tiba-tiba berbalik membelakanginya.


“Tenanglah. Kami semua mendukungmu Nes.” Ucap Elvan mencoba untuk mencairkan suasana.


“Terimakasih kak, aku benar-benar beruntung memiliki kalian.. aku tidak tau bagaimana caraku membalas semua kebaikan kalian semua.” Ucap Aneska.


“Sukseslah, hanya itu yang kami inginkan Nes. Kami semua hanya ingin keadilan dan kesuksesan untukmu. Jangan bersedih, karena kami juga akan bersedih karenanya.” Ucap Elvan.


“Aku akan membuat kalian semua bangga kepadaku.” Batin Aneska sambil tersenyum kepada Elvan yang masih fokus menyetir.


Setelah sampai di depan gedung perusahaan papanya, Aneska tidak langsung keluar dari mobil. Aneska menatap gedung besar yang sudah di bangun oleh almarhum papanya dari nol itu, lalu menarik nafas terlebih dahulu untuk menstabilkan jantungnya yang sedang berdegup kencang agar lebih tenang.

__ADS_1


__ADS_2