
Pagi hari di rumah Bagas, semua orang sudah berkumpul untuk sarapan kecuali Aneska, dan hal itu membuat semua orang bingung karena biasanya Aneska selalu tepat waktu untuk sarapan.
"Nei, kemana kakakmu?" Tanya Mala.
"Kak Anes tadi kesiangan ma soalnya dia pagi PMS biasa lah perutnya sakit." jelas Aneisha.
"PMS apa? Aneska sakit perut? Bukankah sebaiknya kita bawa dia ke dokter?" Tanya Elvan yang tidak mengerti apa-apa.
"Ck ck ck,, kak! Kamu ini tua umur doang ya tapi ga tau apa-apa!" ketus Evano.
"Emang kamu tau!?" Tanya Cherry yang membuat Evano tergagap.
"Oh iya, kemarin aku bertemu dengan temannya Aneska yang kemarin ngaku jadi pacar kamu!" lanjut Cherry.
"Hah? Serius mi? Ketemu dimana?" Tanya Evano.
"Ketemu di restaurant berduaan sama laki-laki, kayaknya sih laki-laki itu orang kaya." ucap Cherry.
"Ei! Tidak mungkin! Mami salah lihat kali!"
"Beneran kok, mami liat sendiri, bahkan mami ngobrol sama dia!"
Mendengar hal itu membuat Evano kesal dan bertanya-tanya siapa laki-laki yang di maksud maminya.
Tidak lama kemudian, Aneska berjalan menuju ruang makan sambil memegang perutnya yang masih nyeri.
"Itu dia kak Anes." ucap Aneisha.
"Nes, kamu baik-baik saja?" Tanya Mala.
"Baik kok ma, biasalah tiap bulan pasti begini."
"Biasanya kalau sudah menikah sakitnya bakal mengurang kok, kamu banyak-banyak minum air putih hangat biar cepat selesai ya." ucap Mala yang di balas anggukan oleh Aneska.
"Bi, minta tolong buatkan air hangat untuk Aneska sekarang juga ya." ucap Elvan secara tiba-tiba.
"Aku bisa buat sendiri nanti kak."
"Tidak! Kamu sakit jadi istirahat saja di rumah, lagipula sekarang sudah Ada evano yang membantu jadi kamu tidak usah bekerja." ucap Elvan.
"Hah? Engga ah kak, hari ini ada meeting dengan client loh, aku harus tetap menemani kak Elvan karena aku yang mengerti semua materi yang harus di presentasikan." ucap Aneska.
"Tapi kamu sakit, sebaiknya periksa dulu ke dokter."
"Ga perlu kak,, duh susah deh ngomongnya.. Mamaaa,, bantuin Aneska ngomong ke kak Elvan dooong.." rengek Aneska.
Mala hanya menggelengkan kepadanya sambil tersenyum melihat tingkah Aneska yang menggemaskan.
"Elvan, setiap wanita yang datang bulan pasti akan mengalami sakit perut setiap bulannya, cuma ada yang sakit biasa aja ada yang parah bahkan sampai tidak kuat bangun." jelas Mala.
__ADS_1
"Aneska ini masih terbilang biasa saja, jadi kamu tidak perlu khawatir begitu." lanjutnya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan tetap mengijinkan kamu bekerja!" ucap Elvan yang membuat Aneska senang.
"Sudah jangan di bahas! Mami, lanjutkan yang mami bicarakan tadi!" ucap Evano.
"Emang mami bicara apa?"
"Tentang Kanaya."
Mendengar nama sahabatnya membuat Aneska menoleh ke arah Evano dan Cherry secara bergantian.
"Kanaya? Ada apa dengan Kanaya?" Tanya Aneska.
"Mami bilang dia bertemu dengan Kanaya." ucap Evano.
Akhirnya Cherry menceritakan semuanya kepada Aneska.
"Meeting? Tapi Kanaya.."
"Benar bukan? Dia tidak mungkin meeting karena dia hanya seorang pramugari." ucap Cherry memotong perkataan Aneska.
"Bukan itu masalahnya tante, tapi selama ini Kanaya tidak pernah mau menyentuh perusahaan papanya, jadi Aneska sedikit kaget saat mendengar kalau Kanaya sedang meeting." jelas Aneska.
"Apa? Perusahaan papanya? Orang tuanya memiliki perusahaan?" Tanya Cherry.
"Hmm, papanya adalah pengusaha terkaya di negara lain tante, Kanaya sejak kecil memang ingin berkeliling dunia jadi dia memutuskan untuk menjadi pramugari." jelas Aneska lagi.
Semua orang yang ada di sana terkejut mendengar ucapan Aneska, kecuali Bagas.
"Hah! Rasakan itu Cherry! Kamu menginginkan menantu kaya raya tapi kamu sudah kehilangannya sekarang karena sikap aroganmu!" ketus Bagas.
"Cih! Diamlah kak, masih ada Clara yang akan menjadi menantuku!"
"Aku tidak mau Clara mami!!" tegas Evano
"Evano diam! Jangan membantah!"
"Sudah jangan berdebat di depan makanan ga baik! Kalian ini pagi-pagi sudah bikin rumah rame aja!" tegas Mala.
Akhirnya semua orang menyelesaikan perdebatan mereka dan segera berangkat ke tempat tujuan masing-masing.
"Nei, ayo kak Elvan antar, kak Elvan bawa mobil biasa kok." ajak Elvan.
"Beneran kak? Tapi hari ini Aneisha ga ngampus kak, langsung ke tempat pemotretan." ucap Aneisha.
"Kamu udah pemotretan?" Tanya Aneska.
"Hm, sejenis sleksi gitu kak soalnya kan ga semua orang itu percaya diri di depan kamera, jadi harus ada sleksinya." jelas Aneisha.
__ADS_1
"Ah begitu,, kalau begitu semangat ya Nei semoga kamu lolos sleksi." ucap Elvan.
"Semangat Aneisha!!" teriak Evano.
Aneisha tersenyum lebar, dia senang karena semua keluarganya sangat mendukung cita-citanya.
"Terimakasih semuanya! Aneisha akan berusaha dengan kuat!" teriak Aneisha.
Akhirnya Elvan, Evano, Aneska dan Aneisha berangkat menggunakan Mobil yang sama.
"Nes kamu kenapa ga bawa mobil sendiri aja? bukannya kamu dulu selalu bawa mobil sendiri?" celetuk Evano.
Mendengar pertanyaan Evano membuat Aneska mengepal kedua tangannya yang berada di atas pahanya, sedangkan Aneisha yang berada di sebelahnya menyenggol lengan Evano.
"Kenapa?" Bisik Evano kepada Aneisha.
"Kakak ga mau ngendarain mobil sendiri semenjak kecelakaan papa dan mama kak!" balas Aneisha.
Evano terkejut mendengar ucapan Aneisha, dia langsung menoleh ke arah Aneska yang berada di depannya.
Begitu juga dengan Elvan, dia menoleh ke arah Aneska yang berada di sebelahnya, dia tau betul apa yang dirasakan oleh Aneska.
"Yang harusnya bertanya itu aku! Kenapa kamu ikut naik mobilku! Kamu punya mobil sendiri Evano!" ketus Elvan mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.
"Mobilku kemarin aku service kak, nanti pulang kerja aku ambil kok tenang aja." balas Evano.
Elvan hanya diam tidak mengatakan apa-apa lagi kepada Evano. Setelah lama mengendarai mobilnya, akhirnya Elvan berhenti di sebuah gedung yang cukup tinggi dan besar.
"Nei kita sudah sampai, kamu hati-hati ya jangan bicara dengan orang yang tidak kamu kenal!" tegas Elvan.
"Terimakasih ya kak, kalian juga hati-hati ya.." ucap Aneisha sambil melambaikan tangannya.
Setelah memastikan Aneisha masuk ke dalam gedung, Elvan segera melajukan mobilnya menuju perusahaan.
"Kamu baik-baik saja Nes?" Tanya Elvan kepada Aneska yang dari tadi hanya diam saja.
"Eh? Baik kok kak, aku baik-baik saja." ucap Aneska sambil tersenyum ke arah Elvan.
"Perutmu sudah tidak sakit? Kamu yakin bisa melakukan presentasi?" Tanya Elvan.
"Sudah mendingan kok, aku baik-baik saja kak, aku pasti bisa melakukan presentasi."
Elvan hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Aneska, suasana di dalam mobil sangat canggung, sama seperti Evano yang merasa kalau dirinya hanya obat nyamuk di dalam mobil Elvan.
"Kenapa mereka hanya ngobrol berdua saja sih!? Emangnya aku ini cuma bayangan ya ga keliatan!" batin Evano sambil melihat ke arah jendela luar.
***
Author kasih visual mereka hari ini..
__ADS_1