MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI

MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI
BAB 107


__ADS_3

Mala berjalan mendekati tempat tidur Aneska, Mala hanya tersenyum bahagia sambil mengelus wajah cantik Aneska yang sedang beristirahat.


“Dia masih tertidur ma?” tanya Bagas kepada sang istri.


“Iya pa, biarkan dia tertidur karena kelelahan setelah melahirkan tiga malaikat kecil.” Jawab Mala.


“Kita lihat cucu-cucu kita saja yuk pa.” lanjut Mala yang di balas anggukan oleh Bagas.


Bagas dan Mala mendekati incubator yang ada di sebelah tempat tidur Aneska, mereka berdua meneteskan air mata bahagia melihat ketiga cucu mereka yang sangat menggemaskan.


“Yaampun, mama ga nyangka kalo ada foto copyan Elvan di diri mereka pa..” ucap Mala sambil menghapus air mata di pipinya.


“Iya mama benar, dua cucu laki-laki kita ini sangat mirip dengan Elvan, dan yang perempuan sangat mirip dengan Aneska.” Ucap Bagas.


“Apa kita tidak bisa menggendongnya Elvan?” tanya Mala kepada anak laki-lakinya yang sedang duduk sambil menggenggam tangan Aneska.


“Jangan dulu ma, mereka masih butuh kehangatan, mungkin nanti setelah perawat menyuruh Aneska untuk menyusui mama bisa menggendongnya sebentar.” Jelas Elvan.


“Sebaiknya papa dan mama pulang dulu ke rumah, mandi makan ganti baju baru ke sini lagi.” Lanjut Elvan.


Bagas dan Mala saling mengangukkan kepala menyetujui ucapan Elvan, akhirnya mereka berdua segera berpamitan dan pergi ke rumah untuk mandi dan mengganti pakaiannya.


***


Di sisi lain, Kanaya yang masih berdiri di depan mobilnya sambil melihat hp di tangannya itu langsung terkejut saat ada orang yang menariknya tiba-tiba.


Namun saat itu Gavin dan Alisa pulang lebih dulu memakai mobil Gavin karena Kanaya masih ada urusan lain di luar.


“Evano! Apa-apaan sih!” ketus Kanaya yang langsung menarik paksa tangannya.


“Bukankah kita harus bicara di luar? Ini sudah di luar dan aku mau berbicara denganmu!” ucap Evano yang akhirnya meluapkan kekesalannya.


“Ya tapi ga usah main tarik, sakit tau!” balas Kanaya.


“Apa kamu mau di ajak bicara baik-baik? Kamu pasti langsung peri gitu aja kalo aku ngomong baik-baik!” ucap Evano.


Kanaya hanya diam mendengar ucapan Evano karena memang Kanaya males berbicara dengan Evano saat itu.


“Kenapa kamu pergi begitu saja tanpa ada kabar?” tanya Evano.

__ADS_1


“Aku dan Gavin memang memutuskan untuk pergi diam-diam karena kami harus mengurus perusahaan papi karena papi sakit.” Ucap Kanaya.


“Tapi kamu harusnya ngomong sama aku, apa segitu ga sukanya kamu sama aku sampe kamu harus pergi tanpa kabar? Kamu inget ga sih kalo kita udah mulai dekat selama ini dan kamu pergi gitu aja ngebuat aku bener-bener ga bisa berfikir jernih!” ketus Evano.


“Iya, aku ga suka sama kamu! Aku benci, benci, benci sama kamu Evano! Jadi mulai sekarang jangan pernah berbicara denganku, bahkan jangan pernah menganggap kamu mengenalku!” ketus Kanaya.


Evano terkejut dengan ucapan Kanaya yang tiba-tiba itu, dia tidak menyangka jika Kanaya akan mengatakan hal yang membuatnya merasa sesak di dadanya.


“Hai Nay, aku udah nyari kamu ke mana-mana loh.” Ucap seorang laki-laki tampan bertubuh tinggi besar memakai jas dokter, namun masih terlihat lebih tampan Evano di bandingkan dirinya.


Evano yang mendenggar ucapan laki-laki tersebut hanya bisa menatapnya dengan tatapan tajam, lalu menoleh ke arah Kanaya yang terlihat terkejut dengan kedatangan laki-laki itu.


“Hai Roy..” sapa Kanaya yang masih berusaha mengatur nafasnya.


“Apa kamu masih sibuk?” tanya Roy.


“Engga kok, aku sudah selesai, ayo kita berangkat.” Ucap Kanaya.


Evano baru menyadari jika laki-laki tersebut adalah dokter yang bekerja di rumah sakit ini.


“Ah jadi kamu ke sini bukan karena bertemu dengan Aneska, tapi untuk bertemu dengan kekasih barumu?!” ketus Evano.


“Iya, dia adalah kekasihku, tapi aku ke sini untuk siapa itu tidak ada urusannya denganmu, karena yang jelas, aku ke sini bukan untuk melihatmu!” Ketus Kanaya yang langsung merangkul lengan Roy yang menariknya berjalan menjauh dari Evano.


Evano yang melihat Kanaya merangkul tangan Roy hanya bisa mengepalkan tangannya dengan kencang menahan emosinya.


Sedangkan di dalam mobil, Roy menatap wajah Kanaya dengan banyak sekali pertanyaan di kepalanya.


“Aku tau kamu pasti memiliki banyak pertanyaan, silahkan bicaralah.” Ucap Kanaya yang bisa menebak isi kepala Roy.


“Kenapa kamu bilang aku ini kekasihmu, padahal aku ini hanya doktermu saja?” tanya Roy.


“Karena aku tidak mau jadi panjang sama orang itu.” Balas Kanaya.


“Dia kekasihmu bukan? Pasti kalian sedang bertengkar kan?”


“Engga kok! Kami ga ada hubungan apapun, hanya sebatas kenal karena dia adalah mantannya sahabatku dan dia juga sepupu suami sahabatku.” Jelas Kanaya.


“What? Gila sih dunia ini sempit banget.” Ucap Roy.

__ADS_1


“Udah ga usah lebay, cepetan jalan katanya kita mau ke rumah kamu!” ucap Kanaya.


Roy segera melajukan mobilnya menuju rumahnya yang berada tidak jauh dari rumah sakit.


Sesampainya di rumah Roy, keduanya segera masuk ke dalam rumah tersebut dan Kanaya berjalan melihat sekeliling rumah Roy.


“Jadi ini tempat yang sering aku lihat saat kita VCall?” tanya Kanaya.


“Hm, duduklah, aku akan membawa laporan kesehatanmu.” Ucap Roy yang di balas anggukan oleh Kanaya.


Roy kembali ke ruang tamu dengan beberapa lembar kertas di tangannya, dia segera memberikan kertas tersebut kepada Kanaya.


“Ini adalah hasil pemeriksaanmu Nay, semua akan baik-baik saja setelah di operasi karena tumornya masih stadium 2.” Jelas Roy.


Yap, sebenarnya Kanaya memiliki penyakit tumor otak yang baru dia ketahui saat pemeriksaan kesehatan sebelum dia melakukan penerbangan ke negara lain.


Kanaya stress saat mengetahui penyakitnya, dia juga tidak memberitahu siapapun termasuk Gavin adiknya sendiri. Kanaya juga berusaha untuk menjauh dari Aneska, Evano dan yan lainnya saat Gavin memutuskan untuk pergi.


Kanaya mengatakan kepada sang adik kalau dirinya mau menemani sang adik bekerja, tapi sebenarnya Kanaya datang ke sana untuk melakukan pemeriksaan ke beberapa rumah sakit yang ada di kota itu karena tidak mau orang-orang yang mengenalnya tau tentan kondisinya.


“Jadi kapan kamu mau melakukan operasi?” tanya Roy kepada Kanaya.


“Jujur aku mau sembuh secepatnya Roy, tapi kalau berbicara mengenai operasi aku jadi takut kalau terjadi apa-apa kepadaku.” Ucap Kanaya.


“Yaampun Nay, aku sendiri yang akan menangani operasimu dan kamu hanya tinggal percaya kepadaku.” Ucap Roy.


Kanaya hanya diam mendengar ucapan Roy, lalu Kanaya menoleh denan senyum yang di paksakan kepada Roy.


“Kalau aku tidak di operasi, berapa lama aku bisa bertahan?” tanya Kanaya.


“What!? Apaan sih Nay! Kamu ngapain nanya kayak gitu? Kamu harus operasi Nay, dan aku juga ga tau kapan kamu hidup atau mati karena aku bukan tuhan!” ketus Roy dengan nada kesal.


“Aku cuma capek Roy, aku selalu minum obat ini-itu, aku takut perjuangan aku sampai saat ini akan sia-sia setelah aku operasi dan meninggal.” Ucap Kanaya.


“Kamu gila ya!? Kamu jangan mengira operasi tumor otak itu semenakutkan itu Nay, operasi itu ga menyeramkan seperti yang kamu fikirkan.”


“Entahlah Roy, tapi untuk saat ini aku masih mau mengatasinya dengan obat.” Ucap Kanaya.


Roy hanya bisa menghela nafas panjang mendengar ucapan Kanaya yang sebenarnya masih berteman denan Kanaya dan juga Aneska.

__ADS_1


__ADS_2