
Aneska, Elvan dan Evano sudah berada di perusahaan untuk bekerja, di sepanjang perjalanan Aneska dan Evano terus saja berdebat hingga membuat Elvan pusing mendengarnya.
"Kalian berdua ini memang selalu seperti ini kalau bertemu?" Tanya Elvan.
Aneska dan Evano tidak menjawab pertanyaan yang di berikan Elvan, mereka berdua hanya saling memberi tatapan tajam satu sama lain.
"Sudahlah Aneska kamu pergilah ke ruanganmu, biar Evano dan aku akan bertemu dengan Kevin di ruanganku." ucap Elvan.
"Kevin? Ada apa emang kak? Ada pekerjaan yang harus kalian bicarakan? Lalu kenapa aku tidak di ajak?" Tanya Aneska.
"Kamu ini harusnya nurut saja, mana ada sekretaris banyak tanya ke atasannya!" ketus Evano.
"Evano! Kamu tidak bisa diam?" tegas Elvan yang akhirnya membuat Evano diam.
"Bukan masalah pekerjaan Aneska jadi kamu kerjakan pekerjaanmu di ruanganmu ya." ucap Elvan.
"Baiklah kalau begitu aku pergi duluan ya kak." pamit Aneska yang di balas anggukan oleh Elvan.
Setelah Aneska menaiki lift, Elvan langsung memberikan tatapan tajam kepada Evano.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu kak!?" ucap Evano.
"Kenapa kamu selalu mengajak Aneska bertengkar? Jangan-jangan kamu masih suka sama dia ya cuma dia udah ga mau sama kamu!" ucap Elvan.
"Dih engga! Kak, cewekku tuh banyak tau jadi aku ga perlu wanita kayak dia!" tegas Evano.
Elvan hanya diam sambil menggelengkan kepalanya mendengar ucapan sepupunya itu.
"Ngomong-ngomong kita nunggu siapa sih kak!?"
"Kevin! Tadi kan aku udah ngomong."
"Ya Kevin itu siapa?"
"Dia laki-laki yang sedang berjuang mendapatkan hati Aneska." Bisik Elvan.
"Hahaha ada laki-laki yang mau sama dia ternyata!" ucap Evano dengan nada mengejek.
Elvan hanya bisa menghela nafas panjang mendengar ucapan Evano, lalu tidak lama kemudian Kevin datang dan langsung menghampiri Elvan.
"Selamat pagi tuan Elvan." sapa Kevin sambil mengulurkan tangannya.
"Selamat pagi juga tuan Kevin." balas Elvan sambil membalas uluran tangan Kevin.
"Siapa laki-laki tampan yang ada di sebelah anda tuan Elvan?" Tanya Kevin yang tidak mengenal Evano.
__ADS_1
"Ah dia adik sepupuku namanya Evano, dia juga mantan Aneska loh!" ucap Elvan sambil melirik ke arah Evano.
Kevin yang mendengar hal itu langsung menoleh ke arah Evano dan melihat penampilannya dari atas ke bawah.
"Kenapa? Aku terlalu tampan ya sampai kamu melihatku seperti itu? Tenang saja aku sudah tidak menyukainya!" ucap Evano dengan percaya dirinya.
Kevin hanya membalas senyum sinis kepada Evano.
Melihat kecanggungan di antara keduanya akhirnya Elvan mencob untuk mencairkan suasana.
"Ayo tuan Kevin, kita harus membicarakan hal penting bukan?" Tanya Elvan.
"Ah benar juga, ayo silahkan aku juga sudah memiliki banyak sekali informasi tentang kejadian kemarin." ucap Kevin.
Elvan, Kevin dan Evano berjalan menuju lift bersama, sesampainya di depan ruangan Elvan, Kevin berhenti dan melihat ke arah Evano yang mau ikut masuk ke dalam ruangan.
"Apa dia juga akan ikut ke dalam dan mendengar semuanya?" Tanya Kevin kepada Elvan.
"Hm, biarkan dia mendengar dan mengetahui yang terjadi." ucap Elvan.
Kevin hanya mengangguk mendengar ucapan Elvan, sedangkan Evano hanya melihat ke arah Elvan dan Kevin secara bergantian karena tidak mengerti apa yang sedang mereka katakan.
Mereka bertiga sudah duduk di sofa yang ada di sana dan saling menatap dengan serius, sedangkan Evano lagi-lagi hanya melihat ke arah mereka berdua.
"Jadi bagaimana?" Tanya Elvan.
"Apa!? tunggu, obat apa maksudnya?" Tanya Evano yang tidak tau apa-apa.
"Aneska di beri obat perangsang kemarin, dan kami sedang mencari pelakunya!" jelas Elvan.
"Apa!? Gila! Siapa yang berani berbuat hal keji seperti itu! Lalu bagaimana Aneska bisa pulih? Kalian tidak menidurinya bukan!?" selidik Evano dengan tatapan tajamnya.
Elvan dan Kevin menatap Evano dengan tatapan tajam karena ucapan Evano yang menurut mereka sangat kurang ajar.
Bugh!! Elvan meninju perut Evano hingga membuatnya merintih kesakitan.
"Aw, sakit kak!" teriak Evano.
"Kamu kalo ngomong ga bisa di cerna dulu ya!?" ketus Elvan.
"Ya maaf kak, soalnya gimana cara ngeredain seseorang yang kena obat selain itu?"
"Pikiranmu itu jorok terus makanya ga kepikiran sama yang lain!" ketus Elvan
"Sudah-sudah jangan berdebat lagi, lebih baik kita lihat saja videonya!" ucap Kevin.
__ADS_1
Kevin melihatkan rekaman CCTV yang dia miliki, saat melihat rekaman tersebut Elvan dan Evano terkejut bukan main karena mereka berdua sangat mengenal orang yang memberikan obat di minuman Aneska.
"Belvina!" ucap Elvan dan Evano secara bersamaan.
"Kalian berdua mengenal wanita itu?" Tanya Kevin.
"Tentu saja! Dia adalah sepupu Aneska, tapi aku benar-benar tidak menyangka kalau dia berani melakukan hal itu! Selama aku bertemu dengannya di ruma Aneska, dia adalah anak yang baik." ucap Evano.
"Jangan percaya orang dari luarnya saja! Kadang orang yang terlihat baik itu yang berbahaya." ucap Kevin.
Mendengar ucapan Kevin membuat Evano berfikir ulang tentang sikap Belvina kepada Aneska dulu.
"Mungkin dia iri dengan Aneska, kita juga kan ga tau." sambung Elvan.
"Pokoknya sekarang kita sudah memiliki bukti untuk menangkap Belvina, jadi kita harus segera bertindak sebelum dia semakin melukai Aneska." tegas Kevin.
"Jangan terburu-buru! Kita harus bicarakan hal ini kepada Aneska terlebih dahulu, dia yang bersangkutan jadi dia yang harus memutuskan hukuman apa yang akan dia berikan." ucap Elvan.
"Kak Elvan benar, aku akan memanggil Aneska kemari." ucap Evano.
"Tidak perlu! Aku tinggal menelfonnya saja dia akan kemari." ucap Elvan.
Akhirnya Elvan segera menghubungi Aneska, sedangkan Evano kembali ke tempat duduknya dengan wajah yang kesal.
"Ck,,ck,,ck apa kamu tidak tau kalau di jaman sekarang sudah bisa memanggil seseorang menggunakan hp?" ejek Kevin yang membuat Evano kesal.
Tidak lama setelah Elvan menghubungi Aneska, Aneska datang dengan wajah yang sedikit khawatir karena Elvan bilang ada hal penting yang ingin dia beritahu.
"Ada apa kak? Apa ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Aneska.
"Duduklah dulu Aneska." ucap Kevin sambil mempersilahkan Aneska untuk duduk.
Elvan dan Evano yang melihat sikap Kevin kepada Aneska hanya saling melihat satu sama lain dan menggelengkan kepalanya.
"Terimakasih tuan Kevin." ucap Aneska sambil duduk di tengah-tengah antara Elvan dan Kevin.
Aneska tidak lagi menutup diri kepada Kevin, dia merasa berterimakasih karena semalam Kevin sudah membantunya juga bersama dengan Elvan.
Elvan mulai menjelaskan semuanya kepada Aneska, saat Elvan mengatakan kalau pelakunya adalah Belvina, dia sama sekali tidak terkejut mendengar jika pelakunya adalah saudara sepupunya.
"Kamu ga kaget?" Tanya Elvan, Evano dan Kevin secara bersamaan.
"Tentu saja tidak! Justru kalau dia adalah orang lain aku akan sangat terkejut karena aku tidak mengenal siapapun yang ada di sana selain kak Belvina dan om Alex." ucap Aneska.
"Segitu parahnya dia membencimu sampai kamu sudah yakin kalau dialah pelakunya?" Tanya Elvan.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan itu, Aneska hanya tersenyum dan mengangkat kedua bahunya.