
Belvina memilih minuman favorit Aneska dan memberikan obat di dalam minuman tersebut, dan benar saja! Aneska mengambil minuman favoritnya yang sudah di berikan obat oleh Belvina.
“Bagus! Rasakan itu Aneska, aku yakin kamu akan membuka pakaianmu karena kepanasan dan pada saat itu kamu akan membuat malu kedua laki-laki yang ada di sebelahmu!” gumam Belvina dengan senyum sinisnya.
Aneska yang baru saja meminum segelas minuman yang sudah di beri obat itu tiba-tiba saja merasakan sesuatu di tubuhnya, dia merasa kepanasan dan ingin membuka pakaiannya.
Elvan dan Kevin yang mengetahui hal itu segera membuka jas mereka dan ingin memakaikannya kepada Aneska secara bersamaan hingga kedua tangan mereka bertabrakan.
Elvan dan Kevin saling menatap satu sama lain, namun Kevin mengalah, dia tahu kalau Elvan lebih berhak untuk memberikan jas kepada Aneska karena dia adalah kakaknya.
"Aneska! Kenapa kamu mau membuka pakaianmu!? Ada apa denganmu sebenarnya?" Tanya Elvan dengan setengah berbisik.
"Kak Elvan! Panas kak! Tubuhku panas semua, aku ingin sekali membuka pakaianku." ucap Aneska dengan wajah yang mulai memerah.
Elvan tahu betul kalau adik angkatnya itu sudah di beri obat oleh seseorang, Elvan berusaha mencari seseorang yang kemungkinan menaruh obat tersebut, namun Kevin menepuk pundaknya hingga membuatnya menoleh ke arah Kevin.
"Lebih baik kamu segera bawa Aneska pulang sebelum keadaannya semakin parah, aku akan menyelidiki siapa yang sudah memberikan obat di minuman Aneska." ucap Kevin.
"Kamu benar, kalau begitu aku serahkan padamu Kevin dan segera hubungi aku jika kamu memiliki informasi apapun itu." ucap Elvan.
"Baik! Kamu jaga Aneska dengan baik ya segera hubungi aku jika keadaannya mulai membaik." ucap Kevin yang di balas anggukan oleh Elvan.
Sepanjang perjalanan mereka, Aneska terus saja meracau yang tidak jelas dan sesekali dia ingin membuka gaunnya namun Elvan menghalanginya, Aneska membuat Elvan bingung harus melakukan apa.
"Bagaimana bisa kamu jadi seperti ini Nes, siapa yang berani membuat dirimu seperti ini? Aku berjanji tidak akan pernah melepaskan orang yang sudah melakukan hal ini kepadamu!" gumam Elvan sambil fokus menyetir.
"Hmmm,, kak Elvan panas..." gumam Aneska sambil menarik kerah pakaian Elvan.
"Diamlah, sebentar lagi kita akan sampai." ucap Elvan namun Aneska tetap saja menarik kerahnya.
Elvan berusaha untuk melepaskan tangan Aneska dan segera menancap gas mobilnya dengan kecepatan maksimal agar sampai rumah secepatnya.
Sesampainya di rumah, Elvan segera menggendong Aneska dengan terburu-buru dan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Bagas dan Mala terkejut melihat Aneska yang sedang di gendong oleh Elvan. Aneska masih terus meracau yang tidak-tidak dan menarik pakaian Elvan berkali-kali.
"Sayang, apa yang terjadi? Kenapa Aneska kamu gendong seperti itu?" Tanya Mala kepada anak laki-lakinya.
"Ma, Elvan minta tolong bukakan pintu kamar Aneska, ada seseorang yang ingin melukai Aneska disana dan memberikan obat ke dalam minumannya." jelas Elvan yang membuat semua orang terkejut mendengarnya.
"Beraninya! Siapa yang berani mencelakai keluarga Bagaskara! Tidak akan ku biarkan!" ketus Bagas dengan kesal.
"Pa, lebih baik kamu telfon dokter pribadi kita dan suruh dia memeriksa keadaan Aneska." ucap Mala yang langsung di balas anggukan oleh suaminya.
Mala mengikuti anak laki-lakinya naik ke atas dan mengetuk pintu kamar Aneska berkali-kali hingga Aneisha membuka pintu kamarnya dan terkejut melihat keadaan kakaknya.
"Kakak!" ucap Aneisha.
Elvan segera menerobos masuk ke dalam kamar mandi dan menaruh Aneska di dalam bathup lalu menyalahkan kran air agar Aneska merasa lebih baik.
"Kak Elvan, apa harus seperti itu? Nanti kak Anes masuk angin kak!" ucap Aneisha yang mengkhawatirkan keadaan kakaknya.
"Lebih baik dia masuk angin di bandingkan seperti ini Nei! Dia akan lebih baik jika begini." ucap Elvan.
"Tadi saat di pesta, Aneska meminum minuman yang sudah di beri obat dan sekarang dia jadi seperti ini." jelas Elvan.
"Lalu kenapa kakak pulang? Kakak harusnya mencari tahu siapa orang yang sudah membuat kak Anes seperti ini kak!"
"Ada Kevin yang menangani di sana, dia akan mencari tahu siapa yang sudah membuat Aneska seperti ini, nanti aku akan menghubunginya setelah dokter memeriksa Aneska dan dia baik-baik saja." jelas Elvan.
"Kamu tenang saja Nei, kakak janji akan menghukum orang yang sudah membuat Aneska seperti ini!" lanjutnya sambil menepuk pundak adik angkatnya itu.
Mala dan Aneisha masih mengkhawatirkan keadaan Aneska, mereka belum tenang karena Aneska terus saja meracau hal yang tidak-tidak.
"Bagaimana ini ma, kenapa kak Aneska tidak membaik juga? Dan kenapa dokter belum datang juga?" Tanya Aneisha.
Mala memeluk anak angkatnya itu dengan penuh kasih sayang, dia mencoba untuk menenangkan Aneisha yang sangat mengkhawatirkan keadaan kakaknya.
__ADS_1
"Tenang lah sayang, dokter akan segera tiba sebentar lagi." ucap Mala.
Betul saja, tidak lama kemudian dokter pribadi keluarga Bagaskara datang dan langsung di antar ke kamar Aneska.
Kebetulan dokter pribadi mereka adalah anak dari sahabat Bagas, Elvan juga menjadi dekat dengan dokter muda tersebut karena persahabatan kedua orang tuanya.
"Hai Van, hai tante Mala.." sapa Jerry.
"Hai Jer, apa kabar sayang?" Tanya Mala.
"Baik tante.."
"Hai Jer, tolong periksa adikku dia meminum obat saat di pesta tadi dan sekarang dia sedang meracau tidak jelas." ucap Elvan.
"Adik?" Jerry menatap semua orang yang ada di sana dengan tatapan penuh tanda tanya meminta untuk di jelaskan.
"Om tau kamu pasti memiliki banyak pertanyaan, lebih baik kamu periksa anak perempuan om dulu setelah itu om akan menjelaskan semuanya." ucap Bagas.
"Baiklah, kalian semua bisa tinggalkan kami dulu? Aku akan memeriksa keadaannya." ucap Jerry.
"Jer! Jangan berani macam-macam dengan adikku!" ketus Elvan dengan tatapan penuh curiga.
"Aku tidak akan macam-macam, tapi kalau semua orang ada di sini aku tidak bisa konsentrasi memeriksa keadaannya! Atau biarkan tante Mala di sini untuk menemaninya." ucap Jerry.
"Aku saja! Aku akan menemani kakak di sini." ucap Aneisha.
"Anda siapa adik kecil?" Tanya Jerry.
"Tidak usah banyak bertanya! Lebih baik kakak segera periksa kakakku! Jangan membuang waktu!" ketus Aneisha.
Untuk pertama kalinya Jerry mendapatkan perlakuan seperti itu dari wanita, selama ini tidak ada wanita yang berani menolaknya seperti yang Aneisha lakukan padanya.
Elvan tahu betul dengan perubahan wajah Jerry yang terkejut karena sikap adik angkatnya itu, Elvan hanya bisa menahan tawa dan segera membawa papa dan mamanya keluar dari kamar adiknya.
__ADS_1
"Jangan sampai kamu berani macam-macam dengan kedua adikku Jer!" ketus Elvan lalu pergi ke luar kamar.
"Yaampun mereka ini sebenarnya siapa? Sejak kapan Elvan memiliki adik? Aku tidak mengerti lagi!" Gumam Jerry di dalam hatinya sambil memeriksa keadaan Aneska.