
Tidak lama kemudian Aneisha yang sudah selesai mandi pun kembali masuk ke dalam kamar keponakannya untuk membantu sang kakak.
“Sini kak biar Anei aja.” Ucap Aneisha yang sudah menyiapkan kedua tangannya untuk menggendong Kalila.
“Ga usah deh Nei, sebaiknya kamu istirahat saja kamu kan capek habis syuting, tidurlah..” ucap Aneska.
“No kak, kakak juga butuh istirahat.. Kalo gini terus badan kakak bisa remuk kakak bisa drop!” tegas Aneisha.
“Kaka ga apa-apa kok, tadi siang kakak sempet tidur soalnya mas Elvan masih bantuin kakak jaga mereka.”
“Ya sekarang aku yang akan menjaga mereka, kakak tidur aja dulu seengganya beberapa jam pasti segeran.” Ucap Aneisha.
Akhirnya Aneska mengalah dan memberikan Kalila kepada adiknya, sedangkan Aneska memutuskan untuk tidur di sofa besar yang ada di kamar sang anak.
“Mama tidur kak?” tanya Aneisha.
“Iya, mama baru tidur dari tadi dia bantu kakak jaga si kembar jadi jangan di bangunin ya biarin istirahat aja.” ucap Aneska yang di balas anggukan oleh Aneisha.
“Emang kak Elvan sama papa ada urusan apa kak? Kok dadakan begitu?” tanya Aneisha.
“Entahlah kalo masalah pekerjaan kan bisa kapanpun.”
“Iya sih, terus kak Evano mana?”
“Ga tau aku belum lihat dia pulang kerja, mungkin ikut sama papa dan mas Elvan.” Jelas Aneska.
“Kenapa Kalila rewel terus kak? Dia lagi ga enak badan?” tanya Aneisha.
“Kayaknya engga deh, tadi dia anteng kok… Pas papinya pergi baru deh nangis terus padahal abang sama kakaknya ga nangis sama sekali loh.” Jelas Aneska.
“Mungkin karena ini pertama kalinya dia berjauhan sama papinya makanya jadi rewel begini.” Ucap Aneisha yang di balas anggukan setuju oleh Aneska.
“Kak,, kalo gini terus kakak ga akan bisa melakukan pekerjaan lainnya, kakak juga ga akan bisa bebas bekerja di perusahaan, kakak harus memiliki babysitter untuk mereka.” Ucap Aneisha.
“Kakak tau, tapi kakak juga was-was mencari babysitter Nei, kamu tau sendiri kan jaman sekarang nyari orang yang bisa di percaya susah banget, apa lagi ini berurusan sama anak-anak.” Jelas Aneska.
Aneisha hanya bisa mengangguk setuju dengan ucapan sang kakak, untuk dijadikan pembantu aja mereka harus benar-benar memilih dengan teliti, bagaimana kalau disuruh untuk menjaga ketiga keponakannya.
“Kalo kakak udah punya pandangan, kakak kasih tau aku dulu ya aku juga akan menilai orang tersebut bisa di percaya apa engga.” Ucap Aneisha yang di balas anggukan pelan oleh Aneska.
__ADS_1
Aneisha memaju mundurkan kakinya untuk membuat Kalila seperti sedang di ayunan, sampai akhirnya Kalila sudah tidak rewel namun kedua matanya masih melek menatap langit-langit.
“Oh iya kak…”
Kata-kata Aneisha seketika terhenti saat melihat sang kakak sudah terlelap di sofa, akhirnya Aneisha memutuskan untuk keluar dari kamar agar suara Kalila tidak membangunkan Aneska.
Di luar Aneisha memiliki ide untuk membawa keponakannya ke lantai bawah dan menunjukkan foto papinya yang terpampang nyata dan besar di ruang tamu.
“Lihatlah Lil, ini adalah foto papi kamu jadi kalo kangen Kalila lihat foto ini aja ya..” ucap Aneisha.
Entah mengerti atau tidak, entah sudah bisa melihat dengan jelas atau tidak tapi Kalila seolah mengerti dan langsung berhenti merengek, bahkan kedua matanya lama-lama terpejam dan membuat Aneisha tidak menyangka
melihatnya.
“Yaampun, kamu benar-benar menyukai papimu ya Lil..” ucap Aneisha sambil menggelengkan kepalanya.
Sedangkan di sisi lain, Aneska yang tertidur lelap tiba-tiba terbangun karena terkejut seperti mendengar suara anaknya menangis.
Namun saat bangun tidak ada suara tangis anaknya dan bisa membuatnya bernafas lega, namun seketika wajahnya berubah menjadi panik lagi saat tidak melihat keberadaanKalila dan Aneisha di dalam kamar.
“Kalila? Nei?” panggil Aneska yang segera beranjak dari sofa dan mencari keluar kamar.
Dan benar saja, di bawah sana dia melihat Aneisha dan Kalila sedang berada di depan bingkai foto Elvan yang berukuran besar.
“Nei? Kamu kok bawa Kalila keluar ga bilang sih? Kakak kaget tau.” Ucap Aneska sambil menuruni tangga.
“Maaf kak, habisnya kaka tadi tidurnya nyenyak banget, aku takut Kalila nangis terus buat kakak bangun.” Jelas Aneisha.
“Loh itu sekarang dia udah tidur hebat banget kamu Nei.” Puji Aneska.
“Hahaha, kak ternyata gampang banget buat dia tidur! Tinggal taro depan foto papinya aja dia langsung diem loh kak padahal kan belum ngerti apa-apa.” Ucap Aneisha.
“Wah benarkah? Tau gitu dari tadi aku kasih lihat foto papinya, kalo udah lama tidur langsung pindahin aja ke kamar ya Nei.” Ucap Aneska.
“Iya kak, ini udah lumayan lama kok, kalo gitu aku taro kamar dulu ya.” Ucap Aneisha.
Aneska menganggukkan kepala sambil mengikuti adiknya menaiki tangga dan menaruh Kalila di kamarnya.
Dengan perlahan Aneisha menaruh keponakannya itu di dalam box bayi.
__ADS_1
“Udah kamu istirahat sana.” Ucap Aneska.
“Kakak ga istirahat?” tanya Aneisha.
“Aku istirahat di sini aja takut si kembar bangun lagi.” Jawab Aneska.
“Yaudah kalo gitu istirahat yang nyenyak ya kak, kakak harus sehat kalo mau jaga si kembar.” Ucap Aneisha yang di balas anggukan oleh Aneska.
Untung saja sofa yang ada di kamar si kembar sangat besar hampir seperti single bed, jadi jika ada yang tidur di sana tidak perlu takut pegal atau kesempitan.
Setelah memastikan kakaknya berbaring dan tertidur, Aneisha segera keluar dari kamar perlahan meninggalkan kakaknya dan tiga keponakannya.
Sejak kecil Aneisha sangat mengagumi sang kakak, menurutnya Aneska adalah orang yang paling berwibawa dan menjadi panutannya dan Aneska adalah orang yang sangat dia sayangi dari dulu sampai saat ini.
***
Di sisi lain, Kanaya yang baru saja pulang dari bandara terkejut saat menerima telfon dari seseorang yang paling tidak dia sukai.
“Ngapain sih dia nelfon aku!” gumam Kanaya yang sengaja tidak mengangkat telfonnya.
Namun telfon tersebut terus saja berdering sampai lima kali dan akhirnya Kanaya mengangkat telfon tersebut dengan kesal.
“Halo, apaan sih!” ketus Kanaya.
“Hai cantik! Kenapa kamu ga langsung ngangkat tefonku hah! Kamu tau ga aku ini suka banget sama kamu tau!” ucap seseorang dari sebrang telfon dengan nada yang tidak jelas seperti sedang mabuk.
“Evano! Kamu gila ya!” ketus Kanaya.
Yap, orang yang menghubungi Kanaya adalah Evano, laki-laki yang selalu menempel padanya seperti lintah namun Kanaya tidak memperdulikannya.
“Hahaha, kamu semakin cantik kalau lagi marah seperti itu!” balas Evano.
“Gila! Jangan menghubungiku lagi!” teriak Kanaya yang mau mematikan telfonnya.
“Wait! Jangan di tutup begitu saja! Jemput aku, aku sedang di bar X aku lelah sekali mengurus perusahaan keluargaku, aku stress!” ucap Evano yang membuat Kanaya mengurungkan niatnya untuk menutup telfonnya.
"Arrghh... Menyusahkan!" ketus Kanaya.
Kanaya benar-benar malas untuk meladeni Evano namun dia mengingat kalau Evano adalah sepupu suami sahabatnya, kalau sampai ada apa-apa di saat dirinya menghiraukan permintaannya untuk menjemputnya, Kanaya akan merasa sangat bersalah.
__ADS_1
Akhirnya Kanaya mengijak pedal gas dan mempercepat laju mobilnya agar bisa sampai di bar X untuk menjemput Evano.