MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI

MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI
BAB 91


__ADS_3

“SETANN!!!” teriak Gavin sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


Gavin ingin berbalik dan kembali ke mobilnya, namun dia urungkan saat seseorang meminta tolong.


“T-tolong,,, tolong a-akuu..” rintih wanita tersebut.


Gavin yang awalnya ingin kembali ke mobilnya langsung mengurungkan niatnya dan kembali memperhatikan wanita itu baik-baik.


Gavin menatap wajah wanita tersebut yang sudah di penuhi dengan memar sehingga Gavin awalnya menyangka kalau wanita tersebut adalah hantu. Dan setelah melihat jelas wajah wanita tersebut, barulah Gavin bisa bernafas dengan lega dan berani untuk lebih dekat dengan wanita tersebut.


“Kamu manusia?” tanya Gavin yang di balas anggukan secara perlahan dari wanita tersebut.


Gavin akhirnya membantu wanita tersebut untuk berdiri dan membuka pintu mobil belakang agar bisa membuat wanita tersebut duduk di bangku belakang sementara.


“Apa kamu baik-baik saja? Aku akan membawamu ke rumah sakit, tunggu sebentar.” Ucap Gavin.


“T-tunggu! Jangan bawa aku ke rumah sakit, d-dia bisa mengetahui keberadaanku dan menangkapku.” Ucap wanita tersebut.


“Dia? Dia siapa?” tanya Gavin.


Syukurlah Gavin hanya menyerempet wanita itu dan tidak melukainya terlalu parah sehingga wanita tersebut masih sadar dan bericara dengan Gavin.


“N-nanti aku a-akan menjelaskannya… A-aku hanya ingin kamu membawaku p-pergi j-jauh…” ucapnya.


“Katakan dulu, siapa namamu?” tanya Gavin.


“A-aku, Alisa.” Ucap wanita tersebut.


“Oke, Alisa aku Gavin, kamu memintaku untuk membawamu pergi jauh, tapi ke mana?” tanya Gavin.


“K-kemanapun, aku mau pergi sejauh mungkin.” Jawab Alisa.


“Baiklah, tapi setelah ini kamu harus berjanji untuk menceritakan semuanya kepadaku.” Ucap Gavin yang sekali lagi di balas anggukan oleh Alisa.


Akhirnya Gavin menyuruh Alisa untuk duduk di kursi belakang agar Alisa bisa berbaring dan beristirahat, sedangkan Gavin segera melajukan mobilnya dan pergi menuju apartment miliknya dan kakaknya.

__ADS_1


“Kita mau kemana?” tanya Alisa saat merasa jika keduanya seperti berada di tempat yang asing.


“Kita ke apartmentku dan kakakku, dia pasti senang membantumu dan mau mendengarkan ceritamu.” Jelas Gavin.


Alias hanya diam saja, dia tidak mengatakan apapun dan hanya duduk sambil melihat ke luar jendela mobil.


Setelah beberapa lama melakukan perjalanan, akhirnya Gavin dan Alisa tiba di apartment dan segera membantu Alisa untuk berjalan masuk ke dalam apartment.


“Ayo masuklah, ini adalah apartmentku dan kakakku jadi kamu tidak perlu takut karena aku tidak akan macam-macam padamu.” Ucap Gavin.


Saat masuk ke dalam apartment, suasana di dalam apartment sangat sepi dan semua lampu di matikan sehingga Alisa mundur satu langkah karena takut jika Gavin adalah orang jahat.


“Apa aku baru saja keluar dari kandang singa dan sekarang akan masuk ke dalam kandang buaya?” gumam Alisa dengan suara yang sangat kecil.


“Jangan taut, sekarang sudah hampir tengah malam dan kakakku pasti sedang tidur.” Jelas Gavin.


Gavin paham betul pasti Alisa takut karena kondisi apartmentnya yang terlihat menyeramkan. Namun Gavin berusaha untuk meyakinkan Alisa.


Gavin masuk lebih dulu dan menyalakan lampu, namun dia terkejut saat melihat bungkus camilan yang sudah kosong berada di mana-mana dan membuat apartment tersebut seperti kapal pecah.


“Yaampun, kak Naya benar-benar!!” gumam Gavin sambil mengacak-acak rambutnya karena frustasi.


“Tidak apa-apa, aku bisa membantumu merapihkan semuanya.” Ucap Alisa yang ahirnya buka suara.


“Ah tidak perlu, kamu tidurlah di kamarku malam ini, aku akan merapihkan ruang tamu dan tidur di sofa.” Ucap Gavin.


“Hah? T-tidak perlu seperti itu, kamu tidur di kamarmu sendiri saja, tidur di sofa saja sudah menjadi hal yang sangat baik untukku.” Balas Alisa.


“Tidak Alisa, kamu sedang sakit dan harus tidur di tempat yang nyaman.” Ucap Gavin.


“Tapi tidur di sofa aja udah hal yang paling baik seumur hidupku.” Gumam Alisa yang masih bisa di dengar oleh Gavin.


“Apa? Kamu tadi ngomong apa Al?” tanya Gavin yang tidak mendengar dengan jelas.


“Eh, engga kok.. Aku baik-baik saja di sini jadi kamu tidur di kamarmu sendiri saja.” Ucap Alisa.

__ADS_1


“Jangan membantah! Aku ini tuan rumah di sini jadi terserah aku kamu tidur di mana!” tegas Gavin yang membuat Ailsa langsung terdiam.


Akhirnya Alisa menuruti ucapan Gavin, namun sebelum masuk ke dalam kamarnya Alisa membantu Gavin untuk membersihkan ruang tamu.


Walaupun Gavin sudah melarangnya, namun Alisa tetap memaksa untuk membantu Gavin sampai akhirnya semua sudah selesai dan rapih hingga keduanya bisa bernafas lega.


“Sudah selesai, terimakasih ya Alisa.. Aku akan mengantarmu ke kamarku dan kamu juga bisa memakai bajuku untuk sementara, soalnya kamar kak Naya pasti di kunci jadi aku ga bisa ngambilin baju buat kamu pakai.” Jelas Gavin.


“Anggap saja merapihkan apartment ini sebagai biaya yang aku bayar karena sudah menumpang di rumahmu.” Ucap Alisa.


“Ya terserah kamu deh, ayo ke atas aku tunjukkan kamarku.” Ajak Gavin.


Dengan sedikit ragu Alisa berjalan mengikuti Gavin, hingga akhirnya mereka sampai di depan kamar Gavin.


“Ini kamarku, di sebelah sana kamar kakakku.. Kakakku baik kok jadi kamu ga usah takut.” Jelas Gavin.


“Aku ga takut kok…”


“Kamu sekarang bisa ngomong kayak gitu, tapi orang yang baru pertama melihat kakakku pasti takut karena wajahnya yang terlihat galak, padahal dia baik kok.” Lanjut Gavin.


Alias hanya mengangguk perlahan, lalu Gavin segera membuka pintu kamarnya dan meninggalkan Alisa agar bisa masuk ke dalam kamarnya dengan nyaman.


Sedangkan Gavin segera kembai turun dan bersiap untuk tidur di sofa. Alisa masuk ke dalam kamar dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Namun sebelum membersihkan tubuhnya, Alisa membuka lemari pakaian Gavin dengan ragu dan mengambil kaos berwarna hitam yang terlihat longgar.


“Pakai ini saja, sepertinya kaos ini yang terlihat biasa di bandingkan dengan yang lain.” Gumam Alisa sambil mengambil mengambil pakaian milik Gavin.


Setelah memilih pakaian, barulah Alisa masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya secara perlahan karena rasa sakit yang dia rasakan pada lukanya.


“Bagaimana ini, pakaian dalamku kotor semua, aku tidak mungkin meminta laki-laki itu untuk membelikan aku pakaian dalam bukan?” gumam Alisa.


Dan akhirnya Alisa memakai pakaiannya tanpa memakai dalaman, lalu segera berbaring di tempat tidurnya dan menarik selimut dengan nyaman.


Hingga malam pun berlalu, Alisa yang tubuhnya terasa remuk itu masih tidur terlelap di tempat tidurnya, sedangkan Kanaya yang sudah terbangun segera keluar dari kamar dan berjalan ke kamar Gavin untuk membangunkan adiknya seperti biasanya.

__ADS_1


“Gavin bangunlah sudah siang ini.” Panggil Kanaya yang langsung membuka pintu kamar adiknya tanpa mengetuk pintunya lebih dulu.


“Waaaa!! Oh My God! Kenapa adikku berubah jadi perempuan!?” teriak Kanaya saat melihat sosok wanita yang sedang berbaring di atas tempat tidur adiknya.


__ADS_2