
Kanaya baru saja selesai meeting bersama Bilal, hal yang paling tidak di sukai oleh Kanaya terjadi, sebelum pulang Bilal mengajak Kanaya untuk bertemu lain kali dan itu membuat Kanaya tidak nyaman.
"Maaf tuan Bilal, tapi saya tidak menyukai hubungan di luar pekerjaan." ucap Kanaya menolak dengan halus.
"Ah begitu, sayang sekali, kalau begitu kita bisa menjadi teman agar bisa membuat hubungan di luar pekerjaan."
"Maaf, saya tidak mudah berteman dengan orang baru tuan. Kalau begitu saya permisi." ucap Kanaya yang langsung pergi meninggalkan Bilal.
Dengan wajah kesalnya, Kanaya kembali masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobilnya menuju apartment miliknya.
Drrtt,, drrtt..
Hp Kanaya berbunyi, mamanya menghubunginya hingga membuat Kanaya mengangkat telfonnya dengan malas.
"Halo ma.."
"Gimana Naya? Kamu sudah bertemu dengan client kita?"
"Mama sudah tau kan kalau orang yang bertemu denganku adalah laki-laki?" Tanya Kanaya to the point.
"Hah? Engga kok Nay, mama ga tau apa-apa serius deh."
"Ah sudahlah ma, intinya semuanya baik-baik saja! Jadi sebaiknya bilang papa cepat sembuh dan jangan menyuruh Naya melakukan hal ini lagi." ucap Kanaya yang langsung mematikan telfonnya.
Kanaya segera melajukan mobilnya ke perusahaan Elvan untuk menjemput Aneska.
***
Di sisi lain, Aneska dan Evano berada di divisi product karena di perintahkan untuk memantau produksi barang baru yang akan mereka keluarkan.
"Kenapa kak Elvan menyuruh kita memantau pekerjaan pegawai sih Nes?" Tanya Evano.
"Kenapa emangnya? Kita selalu memantau begini kok, kak Elvan tidak mau sampai produk yang di produksi perusahaannya berbahan dasar jelek atau yang lain." ucap Aneska.
"Di perusahaanku tidak pernah di lantai seperti ini."
Aneska kesal dengan ucapan Evano yang terkesan membandingkan seperti itu.
"Asal kamu tau Evano, perusahaan ini kak Elvan mendapatkannya dalam keadaan yang benar-benar sudah mau bangkrut! Dia berusaha untuk membuktikan kepada papa Bagas kalau dia bisa membuat perusahaan yang hampir bangkrut ini bisa semaju perusahaan papa Bagas!"
"Tentu saja hal itu membuat kak Elvan semakin memikirkan kualitas dan pekerjaan karyawannya, kadang kak Elvan sendiri yang datang langsung untuk memantau perkembangan di sini." ucap Aneska.
"Jika seperti itu, kak Elvan akan di anggap tidak mempercayai karyawannya!"
"Di pantau yang seperti apa yang di anggap tidak percaya? Kak Elvan kemari sambil membawa makanan untuk karyawannya, dia berusaha dekat dengan yang lain sambil bertanya-tanya perkembangan produksi." ucap Aneska.
__ADS_1
"Sudahlah kalau kamu hanya ingin berdebat lebih baik pergi saja ke tempat lain! Aku tidak mau mengganggu karyawan lainnya." ketus Aneska.
Evano kesal dengan ucapan Aneska, akhirnya dia pergi meninggalkan divsi product, Evano memutuskan untuk pergi ke kantin untuk meminum kopi kesukaannya.
"Ribet banget sih lagian, ketimbang tinggal perintah aja apa susahnya coba!" gumam Evano sambil duduk di pojok kantin menunggu kopi yang dia pesan.
Saat sedang melihat ke luar jendela, tanpa sengaja Evano menangkap seorang gadis yang saat ini sangat dia sukai, senyum di bibir Evano seketika mengembang dan segera bangkit dari tempat duduknya tanpa memikirkan kopi yang dia pesan.
"Hai cantik!" teriak Evano hingga membuat semua orang menatapnya.
Namun Evano tidak memikirkan keadaan sekitarnya, dia hanya berlari ke arah Kanaya yang saat itu sedang menundukkan kepalanya karena malu.
"Kenapa kamu menghindariku? Aku ini lagi manggil kamu tau!" ucap Evano.
"Kamu ini bisa ga sih pura-pura ga kenal aja sama aku!?" ketus Kanaya.
"Kenapa Nay? Kamu malu ya deket sama aku?" Tanya Evano dengan nada yang sedih.
"Tentu saja aku malu! Siapa yang tidak malu jika ada orang berlari sambil teriak-teriak ke arahku sampai semua orang menatapku!" ketus Kanaya.
Elvano melihat sekelilingnya dan menyadari kalau semua orang memang sedang melihatnya dan Kanaya.
"Maaf Nay.."
"Sudahlah, lain kali jangan membuatku malu seperti ini!"
"Aku mau bertemu Aneska."
"Aneska sedang sibuk, sebaiknya kamu menunggu di kantin saja bersamaku."
"Benarkah? Apa sesibuk itu? Baiklah aku akan menunggu di kantin tapi tidak bersamamu!" tegas Kanaya.
"Eh? Kenapa?"
"Emang kamu ga kerja? Kamu ngapain ke perusahaan kalau tidak bekerja?"
"Aku kesal, aku dan Aneska di suruh kesana kemari, kami bahkan di suruh mengecek produksi barang secara langsung!"
"Emang apa salahnya mengecek produksi secara langsung?"
"Menurutku itu tidak perlu! Itu akan membuat karyawan di sini merasa kalau kak elvan tidak mempercayai mereka."
"Kamu salah! Pemikiranmu yang seperti itu hanya di pikirkan oleh anak kecil! Kamu tidak pernah memeriksa langsung pekerjaan karyawanmu bukan?" Tanya Kanaya yang di balas gelengan kepala oleh Evano.
"Memeriksa pekerjaan karyawan bukan berarti kita meragukan mereka, kak Elvan ingin lebih dekat dengan karyawannya, dia ingin karyawannya merasa nyaman karena di perhatikan oleh atasannya."
__ADS_1
"Lagipula hal itu bisa meminum kecurangan yang di lakukan karyawan yang tidak bertanggung jawab, Anes pernah bilang kalau kak Elvan benar-benar membangun perusahaan ini dari nol lagi."
"Mungkin itu yang membuat kak Elvan tidak ingin ada kecurangan, dan korupsi di perusahaannya!"
Kanaya menjelaskan semuanya kepada Evano agar tidak berfikiran pendek.
"Tapi selama ini perusahaan yang aku pegang juga baik-baik saja, tidak ada yang korupsi tuh!"
"Korupsi itu dilakukan secara perlahan Evano, kamu tidak akan menyadarinya, kamu tidak pernah melihat pekerjaan karyawanmu bukan? Jadi aku tebak kamu juga tidak pernah melihat pekerjaan bagian keuangan, selama keuntungan yang kamu hasilkan tidak berkurang kamu tidak akan mengecek keuangan perusahaanmu!"
"Lain kali cobalah cek keuanganmu secara berkala!" ucap Kanaya yang langsung berjalan ke arah kantin.
Sedangkan Evano hanya diam mematung di tempatnya, dia tidak menyangka kalau Kanaya akan mengatakan hal itu kepadanya.
"Benar juga apa yang di katakan Kanaya, eh? tapi kenapa dia bisa sangat mengerti tentang perusahaan?" gumam Evano yang langsung mengikuti Kanaya dari belakang.
***
Di sisi lain, ada sutradara film yang sengaja datang ke tempat pemotretan untuk memantau model baru untuk dia kontrak di salah satu film yang akan dia buat.
"Pak sutradara, apa yang anda lakukan di sini?" Tanya manager perusahaan model tersebut.
"Saya ingin melihat bibit baru, siapa tau ada yang cocok dengan film baru yang akan saya buat." ucap sutradara tersebut.
"Anda tidak perlu datang kemari, kami akan memilihkan yang terbaik jika anda mau." ucap manager tersebut.
"Mumpung aku memiliki waktu luang jadi aku ingin melihat secara langsung! Oh iya apa yang sedang kamu lakukan?"
"Saya sedang melihat hasil pemotretan barusan, ini semua adalah foto-foto model baru yang akan kami kontrak."
Manager tersebut melihat satu per satu foto, begitu juga dengan sutradara film tersebut.
"Tunggu!" ucap sutradara.
"Ada apa?"
"Dia siapa? Apa dia model yang sudah kamu kontrak?"
"Ah dia ini masih baru, dia sekolah modelling dan baru di uji untuk pemotretan."
Sutradara tersebut sangat menyukai Aneisha, dia merasa kalau Aneisha sangat cocok untuk film yang akan dia buat.
"Aku ingin bertemu dengannya!"
__ADS_1
"Anda pasti sudah mendapat peran untuk gadis ini bukan? Baiklah saya akan mempertemukan anda dengan gadis ini, mungkin dia masih ada di ruang ganti." ucap manager tersebut.
Sutradara tersebut menganggukkan kepalanya sambil tersenyum menatap foto Aneisha.