MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI

MENGEJAR CINTA TUAN PUTRI
SERANGAN


__ADS_3

Dan aku juga masih tetap disini untuk melewati semua apa yang akan terjadi. Aku tetap menunggumu, dan menunggu kamu.



Elvan yang baru saja menyelesaikan pidatonya segera menoleh ke arah Aneska dan tersenyum bahagia.



“Gimana pidatoku? Keren kan?” ucap Elvan memamerkan diri kepada Aneska.


Aneska hanya mengangguk dan memaksakan senyumnya untuk menanggapi kepedean Elvan yang berlebihan.



“Sudahlah kak, lebih baik kita segera ke ruang rapat. Aku ingin cepat pulang dan beristirahat.” Ajak Aneska.



“Baiklah, ayo kita ke ruang rapat. Aku yakin semuanya sedang sibuk menutupi kesalahan-kesalaha yang sudah mereka perbuat.”



“Mungkin kedepannya kita harus sering melakukan rapat mendadak seperti ini kak, agar tidak ada karyawan yang bermain curang.” Tegas Aneska.



“Kamu benar juga Nes, kita harus sering-sering mengadakan rapat mendadak seperti ini.” ucap Elvan yang menyetujui ide dari Aneska.



Mereka berdua sudah memasuki ruangan rapat, Elvan menatap satu per satu wajah karyawan yang sudah datang ke ruang rapat.



“Kalian tepat waktu juga.” Elvan mencoba memuji para kepala divisi untuk memecah suasana canggung yang ada di ruangan itu.



Elvan duduk di kursi depan sedangkan Aneska duduk di sebelah Elvan, Aneska dan Elvan terlihat sangat santai menghadapi para kepala divisi.



Walaupun mereka hanyalah anak muda yang baru saja memasuki dunia bisnis tapi mereka sudah memiliki kepercayaan diri yang cukup besar untuk menghadapi situasi seperti ini.



“Apa kamu siap untuk mempresentasikan laporanmu?” bisik Elvan kepada Aneska.



“Tentu saja! aku sudah menyiapkan laporan ini semalaman, jika aku tidak siap aku akan sangat menyesal seumur hidupku!” Ucap Aneska.



Elvan sangat menyukai semangat Aneska yang menggebu itu, dia merasa jika Aneska adalah wanita pekerja keras yang tidak akan mengalah dengan segala rintangan yang akan dia hadapi.



Setelah semua sudah berada di ruangan, Elvan memulai rapat dan meminta para kepala divisi untuk melaporkan hasil pekerjaan mereka selama ini dan kemajuan apa saja yang sudah di alami oleh perusahaan.



Giliran Aneska yang mempresentasikan hasil laporannya yang sudah dia kumpulkan kemarin, Aneska mengungkapkan semua kecurangan yang di lakukan oleh beberapa karyawan, para kepala divisi terkejut karena Aneska yang baru saja memulai kerjanya kemarin sudah mendapatkan bukti-bukti konkret seperti itu.

__ADS_1



“Saya tidak terima!” ucap Arif, kepala divisi uji kualitas.



Arif tidak terima dengan tuduhan yang di lontarkan oleh Aneska tentang kecurangannya saat mengecek kain yang di gunakan untuk membuat pakaian.



“Jika memang pak Arif tidak terima, silahkan beritahu kami apa yang tidak bisa anda terima.” Ucap Aneska dengan tenang dan membuat Arif kesal.



Arif berlari ke arah Aneska secara tiba-tiba dan membuat semua orang terkejut dengan pergerakan Arif yang tidak bisa di tebak itu.


Elvan yang melihat kejadian itu segera berdiri dan ingin melindungi Aneska, namun betapa terkejutnya Elvan karena melihat Aneska dengan berani memutar tangan Arif ke belakang hingga membuat Arif tidak bisa bergerak lagi.



“Anda pikir saya adalah wanita lemah yang tidak bisa membela dirinya sendiri? Saya tidak selemah yang anda pikir, jadi jangan berbuat ulah jika tidak ingin saya buat malu di depan orang banyak!” tegas Aneska.



Elvan segera memanggil keamanan untuk membawa Arif keluar dari ruangan itu dan membawanya ke kantor polisi karena berani melakukan penyerangan.



“Lepas! Lepaskan aku!” teriak Arif.



“Lihat saja, kesombonganmu itu akan membuatmu terpuruk suatu saat nanti!” lanjut Arif sebelum akhirnya sudah tidak terlihat lagi dari pandangan mereka.




“Kamu ga apa-apa Nes? Ayo kita pulang saja.” ucap Elvan yang membantu Aneska untuk berdiri.



“Aku tidak apa-apa kak tenang saja, aku hanya sedikit terkejut dengan kejadian tadi.” ucap Aneska mencoba untuk membuat Elvan tidak mengkhawatirkan dirinya.



“Apa kamu bisa berdiri? Aku akan menggendongmu.” Ucap Elvan yang dengan sigap di tolak oleh Aneska.



“Tidak kak! Aku bisa sendiri aku baik-baik saja kak.” Ucap Aneska.



“Baiklah jika begitu aku tidak akan memaksamu.”



“Rapat hari ini kita hentikan di sini karena kejadian tidak terduga ini. Kalian kerjakan apa yang tadi sudah saya perintahkan, saya ingin seminggu kedepan perusahaan ini sudah ada perubahan sedikit demi sedikit.” Ucap Elvan kepada para kepala divisi.



Mereka semua mengangguk mengerti dengan apa yang sudah Elvan perintahkan kepada mereka lalu mereka serentak meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1



Elvan mencoba untuk membantu Aneska berjalan, namun Aneska selalu menolak karena dia merasa tidak enak di lihat oleh karyawan lain.



“Kak, jangan beri tau hal ini kepada mama Mala ya.” Aneska memohon kepada Elvan, Aneska takut jika dirinya akan membuat mama Mala khawatir.



“Aku sudah memberitahu mama mengenai kejadian tadi, aku tidak mungkin merahasiakan hal ini kepada mama.” Ucap Elvan.



“Yah kak, terus gimana dong kalo mama Mala khawatir?”



“Sudah kodratnya seorang ibu untuk mengkhawatirkan anak-anaknya!”



Setelah mendengar itu Aneska memilih untuk diam dan tidak ingin membuat masalah menjadi lebih panjang lagi.



Rumah Bagaskara


Mama Mala yang baru saja mendapat telfon dari Kalandra sangat terkejut karena mendengar kabar jika Aneska di serang oleh salah satu karyawan perusahaan.


“Ma, sudahlah jangan mondar-mandir seperti itu, bukankah kata Elvan Aneska baik-baik saja?” ucap papa Bagas.


“Kamu ini tau apa sih pa! lagi pula kamu kenapa ada di rumah, bukannya kerja sana cari uang yang banyak biar mama bisa shoping.” Ketus mama Mala.


“Papa bekerja dari rumah ma, lagi pula harta papa tidak akan habis ma, mama tenang saja. Mama bisa shoping sepuas yang mama mau.” Ucap papa Bagas.


“Terserahlah!” mama Mala masih mondar mandir menunggu kedatangan Elvan dan Aneska.


Tinn,, tinn..


Mobil Elvan sudah sampai di halaman rumah, mama Mala yang mendengarnya segera menghampiri mereka dan membantu Aneska turun dari mobil.


“Yaampun sayang, apakah kamu baik-baik saja? apa ada yang terluka?” tanya mama Mala.


“Tidak ma, Aneska baik-baik saja, justru orang yang menyerang Aneska yang harus di khawatirkan!” ucap Aneska yang berusaha membuat mama Mala tidak mengkhawatirkan dirinya.


“Ayo masuk, mama akan membuatkanmu makanan special untukmu.” Ucap mama Mala sambil menuntun Aneska masuk ke dalam rumah.


“Elvan kok di anggurin sih ma? Mama udah ga sayang Elvan ya huhuhu..” ucap Elvan yang berpura-pura menangis untuk mendapatkan perhatian dari mamanya.


Mama Mala dan Aneska hanya menoleh sebentar ke arah Elvan lalu kembali masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan Elvan.


“Yaampun, segini aku hanya memiliki adik angkat, bagaimana jika aku memiliki istri dan anak-anak perempuan? Mungkin aku sudah tidak terlihat lagi di ruman ini.” batin Elvan yang menatap kepergian Aneska dan mamanya.


Di dalam rumah, papa Bagas sudah menunggu Aneska dan Elvan masuk ke dalam rumah.


“Kamu tidak apa-apa Aneska?” tanya papa Bagas.


“Tidak apa-apa pa, Aneska baik-baik saja.” ucap Aneska.


“Elvan! Bagaimana kamu bisa ceroboh seperti itu! Bagaimana bisa ada karyawan yang menyerang Aneska! Apa kamu sudah mengurusnya dengan baik!?” tanya papa Bagas.


“Papa tenang saja, Elvan sudah mengurus semuanya dengan sangat baik.” Tegas Elvan.

__ADS_1


__ADS_2