
“Bagaimana keadaannya dok? Apa ketiga bayinya sehat?” tanya Mala kepada dokter kandungan yang sedang memeriksa Aneska.
“Semuanya baik, ibu dan bayinya sangat sehat dan jenis kelamin bayi kembar nona Aneska juga sudah mulai terlihat jelas.” Ucap dokter tersebut.
“Benarkah? Apa jenis kelaminnya dok?” tanya Mala yang sangat antusias.
“Saya hanya bisa melihat satu bayi berjenis kelamin laki-laki, sedangkan dua lainnya masih mengumpat.” Jelas dokter tersebut.
“Kenapa mereka ngumpet? Apa tidak masalah jika begitu?” tanya Mala yang mendadak khawatir.
“Tidak masalah nyonya, mereka akan baik-baik saja kok.” Ucap dokter meyakinkan.
“Ma sudahlah, laki-laki atau perempuan yang penting mereka sehat ya kan?” ucap Aneska kepada mamanya.
“Iya sih, yaudah deh klo gitu ayo kita pulang.” Ajak Mala.
Aneska tersenyum dan berpamitan kepada dokter kandungan tersebut sebelum akhirnya berjalan keluar ruangan pemeriksaan dan bersiap untuk pulang bersama mertuanya.
Sedangkan di sisi lain ada seseorang yang melihat Aneska dan Mala dengan wajah yang penuh dengan amarah.
“Cih! Sekarang kamu bisa bahagia, tapi nanti tidak akan lagi!” gumam orang tersebut dengan senyuman di wajahnya.
***
Di dalam mobil, Aneisha hanya diam sambil sibuk bermain hp dan membuat Jody kesal di buatnya.
“Kamu ini sebenarnya pikirannya kemana sih Nei?” tanya Jody dengan kesal.
Keduanya menjadi semakin dekat setelah Jody keluar dari rumah sakit dan Gavin pergi ke luar kota karena kuliahnya sudah lulus dan dia sedang mengurus pekerjaan di perusahaan orang tuanya karena papanya sedang
sakit.
“Lah, ya di kepala lah kak.” Jawab Aneisha.
“Tapi kayaknya badan kamu doang yang di sini, pikiran kamu ada di tempat lain karena dari tadi kamu cuma pegang hp dengan wajah khawatir.” Ucap Jody.
“Ah, aku ngecek jadwal syuting kedepannya kak, padet banget nih syuting aku, sekarang Lita juga terima tawaran iklan dan reality show kak.” Jelas Aneisha.
“Benarkah? Bagus dong! Kalau begitu kamu akan semakin terkenal Nei, sejak awal papiku memilihmu karena dia tau kalau kamu akan menjadi artis yang besar!” ucap Jody.
“Ya, aku sendiri pun tidak menyangka kalau aku akan mendapatkan banyak tawaran seperti ini.” Ucap Aneisha.
__ADS_1
“Tapi, yang memilihku pertama kali bukan papi kak Jody, aku di pilih sama kak Dio dan karena dia harus pergi jadi dia menitipkan aku di perusahaan papi kak Jody.” Sambung Aneisha.
“Cih, kalo tidak karena papi juga om Dio tidak akan bisa membuatmu seperti sekarang.” Ketus Jody.
“Ya, ya, terserah kamu aja deh kak.. Oh iya kita ini mau ke mana sebenarnya?” tanya Aneisha.
“Kita mau makan lah, tadi kan aku ijin ke Lita ngajak kamu makan.”
“Ya terus kenapa dari tadi ga nyampe-nyampe kak? Cacing di perutku udah nyany-nyanyi dari tadi nih!” protes Aneisha.
“Ya aku kan masih cari tempat buat makan siang Nei, sabar kek!”
“Yaelah ngapain di cari sih kak? Di deket lokasi syuting juga banyak noh berjejer.”
“Tapi aku juga harus melihat kualitas restaurantnya dan juga aku harus mencari tempat yang sepi agar kamu bisa makan dengan tenang.” Jelas Jody.
Aneisha yang mengetahui alasan Jody berkeliling mencari restaurant segera terdiam setelah mendengar penjelasan Jody dan hanya menyikutinya dengan kembali memainkan hpnya.
Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya Jody memarkirkan mobilnya di depan restaurant dan menyuruh Aneisha untuk turun.
“Turunlah..” ucap Jody.
“Hm, tunggu kak aku harus pakai masker biar ga keliatan.” Balas Aneisha.
“Kamu ini kenapa liat sana-sini sih? Kayak maling aja!” ucap Jody yang kesal karena Aneisha menoleh ke sana kemari.
“Apaan sih kak! Aku ini memastikan kalau ga ada paparazzi tau, kita sih biasa aja tapi kasian Lita yang harus sibuk mengurus semua gossip yang tersebar tau!” ketus Aneisha.
Setelah berdebat akhirnya keduanya duduk di meja yang berada di pojokan lalu segera memesan makanan yang enak untuk mereka.
***
Di kota lain, ada seseorang yang sedang sibuk dengan berkas yang berserakan di atas mejanya, tanpa henti dia melihat berkas tersebut lalu menatap layar komputernya dengan serius.
“Gavin, berhentilah bekerja! Lihatlah wajahmu sudah sangat tirus dan matamu sudah seperti mata panda.” Ucap Kanaya yang saat itu sedang mengunjungi adiknya di perusahaan orang tuanya.
“Diamlah kak, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu.” Balas Gavin.
“Siapa yang ngajak kamu berdebat? Aku cuma ngingetin kamu aja kok.” Ucap Kanaya.
“Aku sedang bekerja, ada banyak sekali tugas di sini dan aku harus segera menyelesaikannya agar bisa kembali.” Jelas Gavin.
__ADS_1
“Kembali? Jadi kamu bekerja sekeras ini karena ingin segera kembali?” tanya Kanaya yang di balas anggukan oleh Gavin.
“Kenapa? Aku kira kamu senang bekerja di perusahaan papa dan mama.” Ucap Kanaya.
“Ya aku senang, dan selama 7 bulan ini aku berusaha untuk membuktikan diri untuk menjadikan diriku lebih pantas.” Jelas Gavin yang tidak di mengerti oleh Kanaya.
“Apaan sih Gavin? Kamu ini ngomong apa? Mau buktiin kesiapa, papa?” tanya Kanaya.
“Ya bukan lah kak! Aku mau buktiin ke seseorang yang aku suka dari dulu.” Ucap Gavin yang membuat Kanaya terkejut.
Tentu saja Kanaya terkejut mendengarnya, karena selama ini dia tidak pernah mendengar adiknya membicarakan seorang wanita yang dia sukai.
“Apa?! Kamu menyukai seseorang? Seriusan Gavin? Siapa?!” tanya Kanaya dengan rasa penasaran.
“Diamlah kak, berisik sekali sih bikin ga konsen aja deh!” ketus Gavin.
Kanaya yang masih penasaran segera mencabut kabel yang menyambung ke komputer adiknya hingga membuat komputer tersebut mati seketika hingga membuat Gavin membuka lebar kedua matanya sambil menahan emosinya.
“Kakak!!!” teriak Gavin dengan kesal.
“Apa?! Jangan membuatku penasaran, cepat jawab siapa wanita yang kamu sukai?” ketus Kanaya.
“Diamlah kak, jangan menggangguku! Cepat pasang lagi kabel itu!” perintah Gavin.
“Ga! Cepet bilang dulu siapa wanita yang kamu sukai!?” tanya Kanaya kembali.
“Aneisha! Puas!?” ucap Gavin yang langsung berjalan ke arah kabel yang baru saja di cabut oleh Kanaya.
Kanaya yang mendengar jawaban dari adiknya segera membuka kedua matanya dengan lebar lalu menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
“A-apa!? Aneisha? Aneisha yang kita kenal?” tanya Kanaya meyakinkan.
Gavin hanya diam tidak mengatakan apapun karena fokus dengan komputernya, dan itu semakin membuat Kanaya yakin kalau adiknya benar-benar menyukai Aneisha.
“Kamu beneran menyukai Aneisha Gavin? Sejak kapan?” tanya Kanaya.
“Cukup kak! Bisa ga sih nanti lagi nanyanya? Aku harus bekerja dan menyelesaikan semuanya secepatnya agar bisa kembali dan tidak membiarkan laki-laki itu berdekatan dengan Aneisha terlalu lama!” tegas Gavin yang membuat Kanaya berfikir.
“Laki-laki? Siapa? Jangan bilang… Jody!?” gumam Kanaya sambil menatap ke arah adiknya yang kembali fokus pada komputer dan berkas-berkasnya.
***
__ADS_1
Mohon maaf semua kakak-kakak yang setia menunggu author update setiap hari, maaf karena kemarin author belum bisa menepati janji update 2 bab sehari karena tanggal 2 kemarin ayah author telah berpulang dan itu sama sekali ga pernah author duga jadi author tidak update beberapa hari kemarin, author benar-benar minta maaf yang sebesar-besarnya... SARANGHAE..