
Aneska sudah berada di stasiun tempat tujuannya, dia mulai menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaan tante Kanaya.
"Aneska?" sapa seseorang dari belakang tubuh Aneska.
Aneska yang merasa namanya di panggil langsung menoleh ke asal suara.
"Iya, anda siapa ya?" Tanya Aneska.
"Aku Irma, tantenya Kanaya.." ucap Irma sambil mengulurkan tangan kepada Aneska.
Mendengar kalau wanita di hadapannya adalah tante sahabatnya langsung berbalik dan membalas uluran tangan Irma.
"Oh tante, maaf aku ga tau.. aku Aneska tante, maaf ya sudah merepotkan tante di sini." ucap Aneska.
"Engga ngerepotin kok, ayo kita pulang tante sudah memesan taxi online." ucap Irma.
Mendengar hal itu membuat Aneska mengangguk dan berjalan mengikuti lrma sampai ke taxinya.
"Rumah tante tidak sebesar rumah Kanaya Nes, ga papa kan?" tanya Irma.
"Yaampun te, gapapa kali.. aku bersyukur banget tante mau nerima aku." ucap Aneska.
__ADS_1
Irma hanya tersenyum mendengar ucapan Aneska lalu mereka berdua pun akhirnya masuk ke dalam taxi dan menuju ke rumah Irma.
Mereka berdua akhirnya sampai di sebuat halaman yang tidak begitu luas namun masih terlihat mewah karena tanaman yang menghiasi halaman tersebut.
Rumah Irma juga berada di dekat rumah tetangga, ada banyak sekali tetangga yang ada di sana menyapa Irma saat mereka turun dari taxi.
"Enak ya di sini tante, banyak tetangganya, beda sama di jakarta sendiri-sendiri." ucap Aneska.
"Iyalah Nes, di sini orangnya baik-baik terus juga enak serius deh." ucap Irma.
Irma adalah seorang wanita yang masih terbilang muda karena usianya masih 30 tahunan, suami dan anaknya meninggal karena kecelakaan dan itulah yang membuat Irma merasa kesepian dan menerima kehadiran Aneska di rumahnya.
"Tante sendirian di sini, jadi kamu bisa pilih di mana aja kamu mau tinggal." ucap Irma.
Irma hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya kepada Aneska.
***
Di sisi lain, semua orang masih di sibukkan untuk mencari keberadaan Aneska. Sudah sebulan, sudah sebulan Aneska menghilang tanpa mengatakan apapun kepada keluarganya, dan selama itu juga Elvan tidak pernah menginjakkan kaki ke perusahaannya karena sibuk mencari keberadaan Aneska, dan juga papanya yang tidak mengijinkannya untuk pergi ke perusahaan sampai Aneska di temukan.
"Kak, kamu tau sesuatu tentang kepergian kak Aneska?" Tanya Gavin kepada kakaknya yang saat itu sedang berada di rumah Bagaskara untuk menemani Aneisha yang ikut hancur karena kepergian kakaknya.
__ADS_1
"Hah!? Apaan sih Vin, jangan ngaco deh! Kalo aku tau aku udah kasih tau ke keluarga om Bagas lah!" ucap Kanaya.
"Serius kak? Kakak adalah satu-satunya orang yang paling deket sama kak Anes selain Anei, masa iya kakak ga tau apa-apa?"
"Kamu curiga sama kakak? Kamu ga percaya kalo kakak itu beneran ga tau tentang keberadaan Aneska?" Tanya Kanaya.
"Ya engga sih, kirain kakak nyembunyiin sesuatu.." ucap Gavin.
Kanaya hanya menggelengkan kepalanya sambil menaikkan kedua bahunya. Lalu Kanaya menghampiri adik sahabatnya itu untuk menenangkannya.
"Nei, sudah sebulan kamu berada di rumah, kamu ga bisa kayak gini terus kakakmu pasti sedih karena udah ngebuat kamu kayak gini." ucap Kanaya.
"Gimana kak, aku benar-benar tidak tau kemana kakakku pergi, dia menghilang entah kemana dan membuat semua orang khawatir." ucap Aneisha.
"Sebulan lagi kamu akan mulai syuting dan kamu ga boleh ngebiarin mata kamu bengkak di kamera." ucap Kanaya.
"Aku bahkan ga bisa mikirin tentang syuting kak, gimana keadaan kakakku.."
"Nei, percaya sama aku kalo Aneska pasti baik-baik saja! Sekarang tugas kamu berusaha untuk membuatnya bangga saat kembali nanti!" tegas Kanaya.
Aneisha menoleh ucapan Kanaya, dia merasa kalau ucapan Kanaya memang benar adanya, dia harus membuat kakaknya bangga dengan prestasinya.
__ADS_1
"Kak Naya benar! Aku harus membuat kakakku bangga saat pulang nanti!" tegas Aneisha yang membuat Kanaya dan Gavin tersenyum mendengarnya.