
Malam harinya, mobil Bagas dan Mala sudah terparkir di halaman depan rumah. Di dalam rumah Aneisha sibuk kesana kemari untuk menyiapkan kejutan untuk kedua orang tuanya.
Aneisha mengeluarkan sebuah kotak super besar dari dalam kamarnya hingga membuat Aneska dan Elvan merasa aneh dengan tingkah adiknya itu.
“Kamu ngapain Nei?” Tanya Elvan saat Aneisha berhenti tepat di hadapannya.
“Kak Elvan ga liat? Aku lagi dorong kotak, bukannya di bantuin sih kak Elvan ga peka deh!” ketus Aneisha.
“Ya maksudnya ngapain kamu dorong kotak?”
“Buat masukin kak Anes..” jawab Aneisha dengan polosnya.
“Apa?!” teriak Aneska dan Elvan secara bersamaan.
“Kenapa kalian berteriak? Kaget tau!” sahut Aneisha.
“Maksud kamu apa mau masukin aku ke dalem kotak?!” Tanya Aneska.
“Ya kakak masuk ke dalam sini, terus aku tutup buat jadi hadiah papa dan mama.” Jelas Aneisha.
“Yaampun Anei yang bener aja deh..”
“Udah kak cepetan masuk dulu, papa sama mama udah sampe di sini..” ucap Aneisha sambil mendorong pelan tubuh Aneska masuk ke dalam kotak besar itu lewat bagian belakang.
Tepat setelah Aneisha memasukan Aneska ke dalam kotak, Bagas dan Mala masuk ke dalam rumah sambil bergandengan tangan.
“Welcome papa, mama…” ucap Aneisha dengan ceria.
“Nei,, kamu ini bikin kaget aja deh..” ucap Mala.
“Ini apa Nei?” Tanya Bagas saat melihat kotak besar yang ada di sana.
“Ini adalah hadiah yang aku bicarakan tadi di telfon,, Kalian pasti akan sangat senang melihat hadiah dariku.” Ucap Aneisha dengan senang.
“Apa isinya?” Tanya Bagas kepada sang istri yang ada di sebelahnya.
“Buka aja pa, mungkin sesuatu yang berkaitan dengan syutingnya.” Jawab Mala.
Sebelum Bagas dan Mala mendekati kotak besar tersebut, keduanya tiba-tiba focus ke arah yang berbeda. Bagas dan Mala baru menyadari jika di dekat kotak besar itu ada Elvan yang sedang berdiri di sana.
__ADS_1
Keduanya tidak melihat keberadaan Elvan karena terhalang oleh kotak besar itu, namun saat melihat Elvan seketika Bagas menghentikan langkahnya dan menatap tajam ke arah Elvan.
“Kamu! Kenapa kamu berada di sini!?” ketus Bagas yang langsung emosi melihat Elvan.
Aneisha baru sadar jika papanya belum tau tentang keberadaan Aneska dan sudah jelas pasti papanya marah jika melihat Elvan berada di dalam rumah.
“Pa,, sebaiknya buka dulu hadiah dariku.. Ini juga hadiah dari kak Elvan makanya aku memanggilnya kemari.” Ucap Aneisha mencoba untuk menenangkan Bagas.
“Kenapa kamu memanggilnya Anei? Kamu tau bukan kalau dia tidak boleh menginjakkan kaki di rumah ini sebelum dia menemukan Aneska!” ketus Bagas.
“aku tau pa,, tapi setidaknya kak Elvan berhak berada di sini karena hadiah yang akan aku berikan adalah hasil dari kerja keras kak Elvan.” Ucap Aneisha.
“Wow,, ada apa ini? Kenapa suasananya menegangkan seperti ini?” Tanya Evano yang baru saja datang dan masuk ke dalam rumah.
“Kak Evan, tolong bilangin papa jangan marahin kak Elvan kak Anei mohon..” pinta Aneisha.
Evano hanya melihat ke arah Aneisha lalu menatap Elvan yang sedang menunduk di pinggir kotak besar.
“Tante, ada apa ini? Kenapa kak Elvan ada di sini?” Tanya Evano kepada Mala yang hanya diam sambil menatap wajah Elvan dengan penuh kerinduan.
Melihat tantenya yang hanya diam saja membuat Evano semakin tidak mengerti, ada apa sebenarnya di rumah ini, kenapa Elvan ada di rumah setelah berbulan-bulan dia tidak pulang ke rumah.
Evano tau betul bagaimana jika omnya itu sudah marah dan membuat keputusan, terutama mengenai anaknya sendiri.
Aneska yang berada di dalam kotak mendengar semua percakapan mereka, Aneska benar-benar merasa bersalah dengan apa yang sudah di alami oleh Elvan karena keegoisan dirinya.
“Kenapa jadi seperti ini? Semuanya salahku, kak Elvan tidak boleh menginjakkan kaki di rumah orang tuanya dan bahkan di perusahaannya karena aku..” gumam Aneska sambil memijat keningnya.
Karena di luar suasana masih sangat menegangkan dan Aneska juga sudah mulai pengap berada di dalam kotak besar itu, akhirnya Aneska berinisiatif untuk keluar sendiri tanpa menunggu seseorang membuka kotak tersebut.
Aneska berjalan ke bagian depan kotak sambil menatap orang tua sambungnya yang selama ini sangat mengkhawatirkan dirinya.
“Papa,, mama..” ucap Aneska.
Suara Aneska membuat Bagas dan Mala menoleh ke arahnya, suara yang sangat mereka rindukan, suara seseorang yang mereka anggap seperti anak kandung mereka sendiri.
“Aneska?!” teriak Bagas, Mala dan Evano secara bersamaan.
Keduanya tetap berada di tempatnya, mereka berdua bahkan tidak bisa bergerak karena terlalu senang dan terkejut melihat Aneska berada di hadapan mereka. Mala bahkan sampai menangis tersedu-sedu, sedangkan Bagas mencoba untuk menenangkan istrinya itu.
__ADS_1
“Hikss,, papa, apakan dia benar-benar putriku?” Tanya Mala kepada Evano yang berada di sebelahnya.
“Aku tidak bermimpi bukan?” Tanya Mala kembali.
“Tidak tante,, ini bukan mimpi karena Evano juga melihat Aneska di sana.” Ucap Evano yang sama terkejutnya dengan Mala.
Begitu juga dengan Bagas yang emosinya seketika menghilang bagai di tiup angin.
“Aneska..? Ini kamu nak? Bagaimana kamu bisa berada di sini?” Tanya Bagas.
“Kak Elvan yang menjemputku pa, dia berhasil membujukku kembali pulang ke rumah.” Ucap Aneska.
“Papa dan mama jangan marah sama kak Elvan lagi ya? Aneska baik-baik saja, bahkan Aneska juga punya hadiah lain untuk kalian semua.” Lanjut Aneska.
“Hadiah? Hadiah apa Nei? Bukannya kamu tidak membawa apa-apa selain pakaian tadi?” Tanya Elvan yang kebingungan karena tadi dia hanya tau kalau Aneska hanya membawa sebuah tas yang berisi pakaiannya.
Aneska tersenyum ke arah Elvan, lalu dia berjalan menghampiri Elvan hingga membuat Elvan merasa aneh hingga tanpa sadar kakinya melangkah mundur karena terlalu gugup.
Sebelum Elvan semakin menjauh, Aneska menggenggam tangan Elvan secara tiba-tiba lalu meletakkannya di perutnya.
Elvan tentu terkejutmelihat sikap Aneska yang tiba-tiba seperti itu, begitu juga dengan yang lain. Mereka semua tidak mengerti apa yang sedang di lakukan Aneska saat itu.
“Kak, kamu kenapa?” Tanya Aneisha namun tidak di gubris oleh Aneska.
“Aku tau ini semua berawal dari kesalahan kak,, tapi di dalam sini ada nyawa yang tumbuh dari kesalahan itu.” Ucap Aneska.
Tentu saja Elvan tidak mengerti apa yang di ucapkan Aneska, apa maksudnya? Pikiran Elvan saat itu benar-benar bercampur aduk karena sikap Aneska yang serba tiba-tiba itu.
“Nes, apa maksudnya?” Tanya Mala.
“Anes hamil ma..” ucap Aneska.
“A-apa?!” semua orang berteriak tidak percaya terutama Elvan.
Semua orang bahagia mendengar ucapan Aneska terutama Mala yang langsung berlari memeluk tubuh anak menantunya itu sambil meneteskan air mata.
Sedangkan Elvan.. Elvan benar-benar di buat terkejut berkali-kali hari itu, hamil? Bagaimana bisa? Bukankah kita hanya tidur bersama satu kali? Itupun aku sendiri bahkan tidak ingat apakah keluar di dalam atau tidak.
Pikiran Elvan benar-benar sangat kacau. Di satu sisi dia ingin bertanya lebih banyak tentang kehamilan Aneska, di sisi lain dia tidak ingin membuat suasana menjadi semakin kacau karena Aneska akan mengira kalau dirinya sedang meragukan kehamilannya.
__ADS_1
Akhirnya Elvan diam, dia tidak ingin bertanya apapun dan memilih untuk percaya kepada Aneska, istrinya..