
Elvan yang sudah selesai mandi dan bersiap segera keluar dari kamarnya dan segera turun ke restaurant yang ada di lantai bawah hotel tersebut karena papanya membritahunya kalau dia dan Elizabeth akan menunggunya di sana.
“Kenapa papa harus membawa bocah itu sih! Buat jantungan aja tiba-tiba ada di sbelahku, aku sudah takut kalau Aneska akan lari lagi dariku dan akhirnya aku harus mengejarnya lagi.” Gumam Elvan sambil masuk ke dalam lift.
Ting!! Pintu lift terbuka dan Elvan segera keluar dari lift berjalan mencari keberadaan papanya, sampai akhirnya Elvan menemukan sang papa sedang tertawa bersama Elizabeth di sebuah meja.
“Hai kak Elvan!” teriak Elizabeth sambil melambaikan tangannya membuat semua perhatian tertuju kpada Elvan dan membuatnya malu.
“Lihatlah, kelakuannya benar-benar seperti anak kecil! Bikin malu saja!” ketus Elvan yang berjalan sambil menundukkan kepalanya agar tidak terlihat oleh orang-orang.
Elvan segera duduk di sebelah kursi papanya dan menatap Elizabeth yang berada di hadapannya dengan tajam.
“Kamu ga bisa kalo ga teriak ya?! Ga tau apa kalo semua orang melihat ke arahku dan itu sangat memalukan!” ketus Elvan.
“Maaf kak, aku tidak tau kalau panggilanku membuat kakak malu…” ucap Elizabeth dengan nada sedih.
“Elvan,, kamu ini gimana sih, adik kamu kan mau menyapa kamu tapi malah kamu marahin begitu, lihatlah dia jadi sedih!” ketus Bagas.
Elvan menganga melihat dirinya di marahi oleh papanya, karena selama ini papanya tidak pernah memarahinya jika bukan masalah pekerjaan dan masalah Aneska.
“Setelah Aneska, aku memiliki saingan lain sepertinya!” gumam Elvan yang segera mengalihkan pandangannya.
“Apa Elvan? Kamu ngomong apa tadi?” tanya Bagas.
“Engga pa, ga ngomong apa-apa, mungkin perut Elvan yang ngomong kelaperan.” Ucap Elvan berbohong dan segera mengambil piring untuknya.
Akhirnya setelah kedatangan Elvan, Bagas dan Elizabeth pun segera memulai sarapan mereka dengan tenang, hanya ada suara piring dan sendok bertabrakan saat itu.
“Pa, hari ini bukannya semua pekerjaan kita selesai? Lalu kenapa harus menungg lusa?” tanya Elvan.
“Karena kita akan jalan-jalan lebih dulu sebelum pulang dan membli beberapa oleh-oleh untuk mamamu, Aneska, Aneisha, Elvan dan ketiga cucuku.” Ucap Bagas.
“Kenapa ga kita lakukan semuanya besok dan segera pulang ke rumah.” Ucap Elvan.
“Kalau begitu kamu akan lelah Elvan, kita mmiliki sehari untuk beristirahat sebelum pulang.” Ucap Bagas.
“Kalau papa mau istirahat maka istirahatlah, Elizabeth akan menemanimu pulang lusa dan aku akan kembali besok.” Ucap Elvan.
__ADS_1
“Tapi aku juga mau pulang sama kak Elvan, aku mau cepat bertemu dengan kakak ipar, om pliss kita pulang bareng-bareng aja ya..” rengek Elizabeth kepada Bagas.
“Haah,, kalian berdua ini… Baiklah hari ini kita akan segera menyelesaikan beberapa pekerjaan lalu besok kita belanja dan segera pulang.” Ucap Bagas mengalah.
Elizabeth tersenyum senang saat mendengar persetujuan Bagas, lalu dia menoleh ke arah Elvan dan ingin melakukan high five namun Elvan hanya menatapnya dengan dingin dan memalingkan wajahnya membuat Elizabeth sedih.
“Kalau begitu ayo kita segera berangkat pa, biarkan anak kecil ini menunggu di kamarnya.” Ucap Elvan yang segera beranjak dari tempat duduknya dan segera menuju pintu keluar hotel.
“Elizabeth, maaf karena kamu tidak bisa ikut bersama kami, sebaiknya kamu segera kembali ke kamarmu, jika pekerjaan kami tidak sampai malam kami akan segera kembali.” Ucap Bagas yang di balas anggukan oleh Elizabeth.
Dengan segera Bagas berjalan menyusul Elvan yang sudah berada di dalam mobil.
“Kenapa papa lama sekali sih?” ucap Elvan saat papanya masuk dan baru saja duduk di sebelahnya.
“Papa harus meyakinkan Elizabeth untuk tetap berada di dalam kamarnya.” Jawab Bagas.
“Dia bukan anak kecil lagi pa, dia pasti bisa kembali walaupun dia akan keluar.” Ucap Elvan.
“Elvan, kenapa kamu begitu ketus dengan Elizabeth? Dia adalah adik sepupumu, mama sangat menyayanginya begitu juga dengan papa, kamu juga dulu sangat menyayanginya bahkan sampai kamu tidak mengijinkan siapapun
menindasnya.” Jelas Bagas.
Aneska.” Ucap Elvan.
“Tapi buktinya tidak bukan? Kalau Elizabeth orang yang seperti itu, jangankan kamu, tapi papa sendiri yang akan mengusirnya dan menghukumnya karena papa tidak mau sampai kamu mengulangi kesalahan yang sama kepada Aneska.” Jelas Bagas meyakinkan Elvan.
“Terimakasih pa.” ucap Elvan setelah mendengar ucapan papanya.
“Kalau begitu kamu harus mengubah sikapmu, jangan membuat Elizabeth sedih karena dia hanya memiliki kita saat ini.” Ucap Bagas.
“Aku tidak bisa janji papa, sulit untuk akrab dengan orang yang sudah lama tidak kita temui.” Ucap Elvan yang hanya di balas helaan nafas oleh Bagas.
Sedangkan di sisi lain, Elizabeth yang sudah berada di dalam kamarnya merasa sangat bosan karena dia tidak memiliki teman dan tidak boleh ke manapun, akhirnya dia memutuskan untuk mengambil hpnya dan menghubungi
seseorang.
“Halo..” ucap sesorang dari sebrang telfon.
__ADS_1
“Halo aunty!!!!” teriak Elizabeth membuat orang yang ada di sebrang telfon terkejut.
“Oh yaampun Elizabeth jangan teriak karena itu membuat telinga aunty pecah.” Ucap Mala.
Yap, orang yang di hubungi oleh Elizabeth adalah Mala sang tante kesayangannya.
“Sorry aunty,, apa kabar aunty? Aku sangat merindukanmu.” Rengek Elizabeth.
“Aunty juga sangat merindukanmu El, bagaimana kabar kamu sekarang?” tanya Mala.
“El juga baik-baik saja aunty, coba tebak El di mana?” tanya Elizabeth.
“Di mana? Sepertinya di kamar.” Ucap Mala.
“Tentu saja di kamar, tapi El sekarang sedang di hotel om Bagas! Aku sudah bertemu dengan om bagas dan kak Elvan aunty dan setelah ini kami akan ke sana bersama.” Jelas Elizabeth.
“Benarkah? Good! Aunty akan menyiapkan banyak hal untuk menyambutmu.” Ucap Mala dengan bahagia.
“Jangan menyiapkan apapun aunty karena aku tidak ingin merepotkan aunty, El hanya ingin bertemu dengan kakak ipar dan tiga ponakan lucuku.” Ucap Elizabeth.
“Ah kebetulan sekali, ada kakak iparmu di sini.” Ucap Mala yang segera mengarahkan kamera ke arah Aneska yang sedang menggendong bayinya.
“Hai kakak ipar!!” sapa Elizabeth dengan ceria.
“Hai, siapa ini?” tanya Aneska.
“Aku Elizabeth kak, senang bisa melihat kakak iparku.” Ucap Elizabeth.
“Aku Aneska, senang bisa melihatmu juga Elizabeth.” Balas Aneska.
“Aku sedang sendirian sekarang kak, karena kak Elvan tidak mengijinkanku untuk ikut ke perusahaan.” Ucap Elizabeth.
“Kenapa dia tidak mengijinkanmu ikut? Biasanya mas Elvan selalu ramah kepada siapapun.” Ucap Aneska.
“Karena aku membuatnya kesal semalam, aku ngerjain kak Elvan sampai dia benar-benar kesal dan akhirnya dia begitu kepadaku.” Ucap Elizabeth.
“Kamu tenang saja, nanti aku akan memarahinya kalau kalian sudah kembali.” Ucap Aneska.
__ADS_1
“Terimakasih kakak ipar, kamu memang benar-benar baik dan sangat cantik!” seru Elizabeth yang di balas senyuman oleh Aneska.