
Aisyah terombang-ambing di dalam ruangan pintu kelima bersama dengan yang lainnya, ketika dia masuk terhisap ke dalam pintu kelima, Aisyah tidak lupa untuk membawa serta cermin kristal ajaib bersama dengannya dan memasukkannya ke dalam saku tuniknya.
Tubuh Aisyah melayang-layang di antara benda-benda yang terhisap masuk ke dalam pintu kelima.
Dia berbolak-balik masuk di ruangan pintu kelima, hampir membuatnya membentur benda yang ada disekitarnya.
Tempat itu hampa udara dan hampir semua benda-benda di dalam ruangan pintu kelima berterbangan melayang kian kemari dan saling bertabrakan dengan pelan.
"Rupanya aku sudah masuk ke dalam pintu kelima ini tetapi ruangan di dalam sini lebih berbeda lagi dari pintu sebelumnya, dan tidak sama keadaannya dengan pintu keempat yang aku jumpai", kata Aisyah sembari berbaring melayang di udara.
"Bagaimana kabar anda, Nona Aisyah ?", tanya cermin ajaib dari dalam saku tuniknya.
"Aku baik-baik saja, hanya saja aku sedang melayang di ruangan ini, jangan keluar dari saku karena aku nanti kesulitan mencarimu", kata Aisyah.
"Bagaimana dengan lainnya ? Apakah anda melihat anemon laut serta kereta gulali roller coaster di dalam pintu kelima ini ?", tanya cermin ajaib.
"Yah, aku masih melihat semuanya di dalam ruangan ini dan terombang-ambing bersama denganku", sahut Aisyah. "Kenapa ?"
"Tidak, hanya bertanya saja, hamba berpikir alangkah baiknya jika anda masuk ke dalam kereta gulali roller coaster itu sehingga anda aman di dalam sana, Nona Aisyah", jawab cermin ajaib.
"Tetapi kalau aku masuk ke dalam kereta roller coaster lalu bagaimana dengan anemon laut, bukankah dia tidak dapat berubah menjadi kecil dan tidak dapat masuk ke dalam kereta bersama kita, wahai cermin ajaib", kata Aisyah.
"Hmmm..., benar juga, kalau begitu hamba akan menjadikan anemon laut itu seukuran anemon laut pada umumnya, bagaimana anda setuju, Nona Aisyah ?", tanya cermin ajaib dari balik saku tunik Aisyah.
"Aku pikir ideamu menarik untuk dipraktekkan, dan alangkah baiknya jika kamu mengubah ukuran anemon laut itu seperti ukuran anemon laut normal, wahai cermin ajaib", kata Aisyah menyarankan.
"Baiklah, hamba akan mengubah ukuran anemon laut yang besar itu menjadi ukuran normal, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.
"Ya, lakukanlah sekarang dan jangan menunda waktu lagi, wahai cermin ajaib", kata Aisyah.
"Hamba akan membuat anemon laut seukuran diameter dua kaki saja agar bisa masuk ke dalam kereta gulali bersama kita, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.
"Oh, iya, kira-kira berapa ukuran anemon normal, wahai cermin ajaib ?", tanya Aisyah.
"Ukuran anemon laut paling kecil bisa seukuran kepala peniti dan paling besar ukuran anemon laut berdiameter 3 kaki tetapi hamba membuatnya hanya seukuran berdiameter 2 kaki saja, Nona Aisyah", terang cermin ajaib panjang lebar.
"Oh !? Luar biasa sekali, makhluk laut yang bernama anemon itu, dia sangat unik sekali dan ternyata ukuran tubuhnya juga imut ! Seandainya aku bisa menyentuhnya alangkah menyenangkannya dan bisa menjadi sebuah boneka cantik, aku rasa", kata Aisyah terkagum-kagum.
"Itulah kebesaran dari Yang Maha Kuasa, Pemilik Arsy ini, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.
"Yah, benar sekali, tidak ada yang mampu untuk mengungguli kebesaran Allah Subhanahu wa ta'ala meski sehebat apapun manusia itu, tidak akan dapat melebihi kebesaran Tuhan yang kita sembah, wahai cermin ajaib", kata Aisyah.
"Benar, Nona Aisyah", sahut cermin kristal ajaib itu. "Tapi siapakah itu Allah, Nona Aisyah ?"
Aisyah mendadak terkejut kaget lalu terdiam sesaat, dia berpikir dengan keras dan mencoba menelaah semuanya kemudian dia mulai mengerti akan sesuatu dari cermin kristal ajaib.
Sebenarnya cermin ajaib adalah sebuah benda yang tidak mengenal kehidupan manusia hingga Tuhan yang disembah oleh manusia, cermin kristal ajaib tidak memahaminya sampai akhirnya Aisyah mengerti jika cermin ajaib itu hanyalah benda yang ajaib dan bukan makhluk hidup.
Karena itulah cermin kristal ajaib tidak mengerti akan adanya Sang Pencipta Yang Maha Tunggal.
__ADS_1
Dari situlah Aisyah mulai mengerti akan sosok cermin ajaib bahwa cermin itu tidak mengenal Tuhan karena dia sejatinya sebuah benda mati yang ajaib dan mampu berbicara layaknya manusia.
"Baiklah, aku akan menjelaskan tentang Allah Subhanahu wa ta'ala setelah kamu mengubah anemon laut itu ke ukuran normal, wahai cermin ajaib", kata Aisyah.
"Baiklah, hamba akan segera laksanakan perintah anda, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.
Sebuah cahaya berwarna-warni keluar dari dalam saku tunik Aisyah dan bergerak menuju ke arah anemon laut yang melayang di ruangan pintu kelima.
Berputar-putar mengelilingi makhluk laut berwarna hijau kekuningan yang mirip kelopak bunga mawar yang melambai-lambai itu.
Membuat lingkaran cahaya yang indah berkilauan lalu mengangkat makhluk laut itu ke atas dan mengubah anemon laut yang berukuran besar itu menjadi anemon berukuran diameter 2 kaki.
"Cahaya apakah ini ? Kenapa tubuhku berubah menjadi ukuran dua kaki ?", kata anemon laut terperanjat kaget saat melihat ukuran tubuhnya berubah menjadi dua kaki.
"Kamu tahu, anemon laut itu berubah menjadi ukuran normal dan kini hewan laut itu sekarang kebingungan melihat perubahan yang terjadi padanya, wahai cermin ajaib", kata Aisyah.
"Benarkah !? Dia tidak tahu yang terjadi padanya dan tentu saja anemon laut itu pasti kebingungan melihat dirinya berubah dari berukuran raksasa menjadi hanya dua kaki", ucap cermin ajaib dari dalam saku tuniknya.
"Tentu saja dia bingung mendapati dirinya berubah menjadi kecil seperti itu, wahai cermin ajaib", kata Aisyah.
"Sekarang anda dapat membawa serta anemon laut itu masuk ke dalam kereta gulali roller coaster, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.
"Yah, baiklah aku akan menghampiri hewan itu", sahut Aisyah.
Aisyah bergerak melayang di antara benda-benda yang masuk ke dalam ruangan pintu kelima yang hampa udara.
Gadis muda berwajah bening lalu meraih anemon laut dengan membungkus tangannya dengan kain tuniknya yang lebar dan panjang kemudian membawanya masuk beserta dirinya ke dalam kereta gulali roller coaster yang terlihat melayang di udara serta menutup pintu kereta.
"Sekarang kita semua sudah berada di dalam kereta gulali roller coaster dan tinggal menunggu keadaan di dalam ruangan pintu kelima ini, akankah mengalami perubahan ataukah tidak", kata Aisyah.
"Menunggu keadaan di dalam pintu kelima ini ? Maksud anda !?", tanya cermin ajaib.
"Kita tidak tahu perkembangan yang terjadi di dalam ruangan pintu kelima, jika dilihat ruangan disini adalah ruangan hampa udara berarti kita akan terus melayang seperti ini", kata Aisyah. "Kita akan menunggu perubahan di dalam pintu kelima ini selanjutnya, wahai cermin ajaib."
Aisyah masih memegang anemon laut yang tampak bercahaya hijau kekuningan di telapak tangannya yang terbalut kain tuniknya.
Pandangan Aisyah lalu tertuju kepada makhluk laut yang sangat ajaib serta luar biasa indahnya itu dengan terus mengaguminya. Dia merasakan perasaan tenang saat melihat anemon laut.
Kegalauan hati Aisyah ketika berada di dalam ruangan pintu kelima yang tidak menentu keadaannya sedikit terhibur saat memandangi anemon laut itu bergerak-gerak seperti bunga mawar yang bercahaya cantik itu.
"Lihatlah kereta gulali roller coaster ini mulai bergerak maju ke depan, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.
"Hmmm, iya, aku melihatnya, dan akhirnya ada perubahan di dalam ruangan pintu kelima ini, wahai cermin ajaib", kata Aisyah.
"Sepertinya kereta gulali ini tidak terpengaruh dengan ruangan hampa di pintu kelima ini dan anda dapat melihat kereta bergerak maju, Nona Aisyah !", ucap cermin ajaib.
"Ternyata ruangan pada pintu kelima ini seperti sebuah jalan tanpa ujung dan sisi-sisi di ruangan pintu ini semuanya tampak putih bersih serta memancarkan cahaya terang benderang", kata Aisyah saat melihat keluar kereta gulali.
Gadis muda itu hanya memperhatikan arah samping kanan dan kiri ruangan pintu kelima dari dalam kereta gulali roller coaster yang seluruhnya berwarna terang bercahaya.
__ADS_1
Awan-awan terlihat bertebangan di samping ruangan pintu kelima, mengiringi kereta gulali yang tengah bergerak maju.
"Tetapi ruangan pada pintu kelima ini benar-benar berbeda dari pintu sebelumnya karena dalam ruangan pintu ini mirip sekali seperti sebuah kamar tetapi memiliki jalan panjang dan hampir mirip terowongan jalan", kata Aisyah.
"Hmmm, benar juga, hamba berpikir sama karena saat melihat ruangan di pintu keempat memang agak berbeda dengan pintu kelima ini", ucap cermin ajaib.
"Iya, jika di ruangan pintu keempat, kita melihat air menggenang yang terus menerus mengalir dari arah bawah tanpa hentinya maka di ruangan pintu kelima kita melihat sebuah ruangan hampa udara yang memiliki jalan panjang dan mirip sebuah terowongan yang semuanya berwarna terang serta bercahaya", kata Aisyah.
"Sangat berbeda sekali bukankah seperti itu, bahkan ruangannya yang hampa udara mampu membuat seluruh benda di ruangan pintu kelima melayang-layang berterbangan kian kemari", ucap cermin ajaib.
"Menarik, bukan !? Aku suka dengan ruangan pada pintu kelima ini karena suasananya sangat menenangkan sekali", kata Aisyah.
"Anda menyukainya, Nona Aisyah !? Dan hamba lihat anda sangat suka di ruangan pintu kelima ini", ucap cermin ajaib.
"Tidak juga, karena aku tidak tahu kejadian apalagi yang bakal kita hadapi nantinya di pintu kelima, wahai cermin ajaib", sahut Aisyah.
Pandangan Aisyah teralihkan kembali kepada anemon laut yang dia letakkan di atas pangkuannya dan memperhatikan hewan laut itu dengan hati yang sangat lega.
Akhirnya dia dapat masuk ke dalam pintu kelima sehingga memudahkan Aisyah menyelesaikan tugasnya di istana awan putih secepatnya.
"Apakah kamu lelah ?", tanya Aisyah.
"Hamba yang anda maksud ?", ucap cermin ajaib balik bertanya.
"Yah, kalian berdua, siapa lagi di ruangan pintu kelima ini !?", kata Aisyah sambil mengangkat kedua pundaknya ke atas.
"Kalau hamba tidak merasa lelah tetapi mengantuk dikarenakan suasana di pintu kelima ini yang sangat damai", sahut cermin ajaib.
"Apakah kamu mengantuk ? Sulit dipercaya, wahai cermin ajaib jika kamu bisa merasa ngantuk !?", kata Aisyah.
"Bukan berarti hamba tidak tidur di karenakan hamba hanya sebuah benda ajaib, tentu saja hamba juga bisa tidur seperti anda, Nona Aisyah", sahut cermin ajaib. "Jika hamba merasa ngantuk tentu saja hamba akan tidur dengan sangat lelapnya."
Cermin kristal ajaib lalu terbang keluar dari dalam saku tunik Aisyah dan terbang berbaring di atas kursi kereta gulali roller coaster dengan sangat tenangnya sedangkan anemon laut masih berada di atas pangkuan Aisyah.
Suasana yang tenang serta damai di dalam ruangan pintu kelima membuat perasaan damai di hati Aisyah, perlahan-lahan membuat gadis itu terlelap nyenyak di dalam kereta gulali roller coaster.
Ruangan pintu kelima memang berbeda dengan ruangan yang ada di pintu keempat dan ruangannya yang hampa udara membawa masuk kereta yang dinaiki oleh Aisyah terus maju bergerak ke depan melewati ruangan yang mirip terowongan berwarna terang benderang bagaikan cahaya.
Aisyah tertidur lelap sembari bersandar di atas kursi kereta yang terus bergerak membawa mereka.
Entah kemana kereta gulali roller coaster itu bergerak hanya terlihat bahwa kereta terus maju tanpa berhenti, tidak ada yang tahu ujung dari jalan di pintu kelima yang sangat panjang itu.
Kereta gulali roller coster bergerak melayang di ruang hampa udara, terombang-ambing masuk semakin ke dalam terowongan yang terang yang seluruhnya berwarna putih benderang.
Hampir berjam-jam kereta gulali roller coaster itu bergerak maju masuk ke dalam ruangan pintu kelima dan bergerak-gerak ke arah samping kanan dan kiri dengan pelan. Membawa Aisyah, cermin ajaib, dan anemon laut yang tengah terlelap tidur karena pengaruh suasana di dalam pintu kelima yang sangat damai.
Tepat di depan kereta gulali roller coaster muncul sebuah pintu yang melayang dengan kedua sisi-sisinya tampak transparan sehingga mengecoh mata yang melihatnya karena seperti sebuah kaca.
Kereta gulali roller coaster lalu berhenti di depan pintu kelima dan tidak bergerak lagi, hanya terombang-ambing pelan di ruang hampa udara sedangkan Aisyah beserta yang lainnya masih terlelap tidur dengan nyenyaknya tanpa mereka sadari kereta gulali yang mereka naiki telah berhenti.
__ADS_1