Mengubah Takdir Aisyah

Mengubah Takdir Aisyah
Cara Mengangkatnya Ternyata Unik...


__ADS_3

Layar transparan sistem menghilang dari pandangan Aisyah, kembali terlihat jelas benda kilat di depan Aisyah yang berkilauan oleh cahaya dari luar istana awan putih.


Aisyah terdiam dan bergeming sesaat lalu mencoba menggerakkan benda kilat itu dengan kedua tangannya.


Tidak mengerti penjelasan sistem yang memaksanya untuk memutar benda kilat itu tetapi dia hanya memahami jika dirinya harus memindahkan benda kilat agar dia dapat masuk ke dalam pintu kelima.


"Aduh... Ini sangat berat sekali ! Aku tidak mampu menggesernya...", kata Aisyah sambil meringis.


Benda kilat sangatlah besar hampir dua kali ukuran manusia dan berdiri kokoh menancap dalam di lantai istana. Jika di bandingkan dengan tubuh Aisyah sangatlah jauh perbandingannya sedangkan tugas yang harus diselesaikan oleh Aisyah adalah mencabut benda kilat tersebut.


Aisyah mencoba untuk mencabut benda kilat yang ada di hadapannya seraya mengerahkan tenaganya semaksimal mungkin.


Tetap saja benda kilat itu tidak bergeser sedikitpun bahkan bergerakpun tidak.


Dingin, tatapan Aisyah menjadi dingin karena benda kilat itu telah membuatnya kehilangan kesabarannya.


Gadis muda berparas bening bagaikan mutiara laut itu terlihat mulai kesal karena hampir berkali-kali dia mengerahkan kekuatannya tetap benda kilat itu tidak bergerak dari tempatnya.


"Akh ! Benda apakah ini sebenarnya !? Dan kenapa sangat sulit sekali untuk digerakkan lalu aku harus bagaimana untuk memindahkan benda kilat ini ???", ucap Aisyah penuh tanya dan agak kesal.


Aisyah berdiri sembari mengamati benda kilat di depannya dan dia tampak kelelahan setelah mati-matian mengeluarkan tenaga untuk menggeser benda kilat itu.


Keringat bercucuran dari keningnya dan membasahi wajah gadis muda saat dia mencoba lagi memindahkan benda kilat di depannya.


Mati-matian... Iya... Dia mati-matian melakukannya agar benda kilat nan asing itu dapat dia pindahkan dari muka pintu kelima.


Meskipun dia harus mengerahkan seluruh tenaganya tanpa ampun. Dia tetap berusaha untuk memindahkan benda kilat itu dengan pantang menyerah.


"Aku akan mencobanya lagi. Dan aku harus bisa tanpa putus asa !", kata Aisyah.


Dia kembali mendorong benda kilat di depannya dan mengangkat benda itu sekuat tenaga agar dapat dipindahkan dari muka pintu kelima.


Tetap dia tidak berhasil mencabut benda kilat yang menancap pada lantai istana awan putih meski dia telah mengeluarkan seluruh tenaganya, dan benda itu bergeming di tempatnya kokoh.


"Huft !?", keluh Aisyah, jarang dia mengeluh seperti itu yang disebabkan sesuatu yang tidak dapat dia selesaikan dengan baik. "Apa yang harus aku lakukan sekarang !?"


Aisyah bersandar pada benda kilat di hadapannya sedangkan cermin ajaib hanya mengawasinya dari dalam saku tunik gadis berwajah bening itu.


"Aku sudah berusaha menggesernya tetapi benda kilat ini tetap tidak dapat bergerak sedikitpun dari tempatnya. Apa yang sebaiknya aku lakukan untuk memindahkan benda kilat ini !?", kata Aisyah lelah.


"Benda kilat itu sangat besar dan akan sulit bagi anda untuk mencabutnya, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.


"Yeah... Aku tahu itu untuk aku lakukan, wahai cermin ajaib..., tetapi aku harus mencabut benda kilat itu dari muka pintu kelima", kata Aisyah sambil mengusap keringatnya dengan kain tuniknya. "Jika aku tidak dapat mencabutnya maka aku tidak akan bisa keluar dari istana ini", sambungnya.


"Bagaimana kalau hamba membantu anda, Nona Aisyah ?", tanya cermin ajaib.


"Membantuku ? Bagaimana ?", tanya Aisyah.


"Mungkin saja hamba dapat mencabut benda kilat itu dari sana", sahut cermin ajaib.


"Jangan ! Karena ini adalah tugasku yang harus aku selesaikan jika bukan aku yang mencabutnya maka pintu kelima tidak akan terbuka", kata Aisyah.


"Bukankah hamba selalu membantu anda dan kenapa sekarang anda tidak mengizinkannya, Nona Aisyah ?", tanya cermin ajaib.


"Bukan, bukan aku melarangmu untuk membantuku karena bantuanmu sangatlah berguna untukku tetapi ini tugasku dan aku sendiri yang harus menyelesaikannya", sahut Aisyah menghela nafas. "Fiuh..."


Aisyah lalu duduk bersandar di badan benda kilat itu karena kehabisan tenaga setelah berusaha mendorong benda tersebut.


Dia mengipaskan kain tuniknya yang panjang menjuntai ke arah wajahnya yang penuh oleh peluh keringat.


Aisyah mendongakkan kepalanya, menatap lelah kemudian terpejam.


"Tidakkah itu merepotkan anda, apabila anda harus bekerja sendirian untuk menyelesaikan tugas anda ini, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.


"Huh !? Memang, tetapi ini sudah menjadi kewajibanku jika tidak aku tidak dapat keluar dari istana ini karena seperti itulah ketentuannya", kata Aisyah.

__ADS_1


"Apa tertulis demikian bahwa anda harus melakukannya sendiri, bukankah benda-benda ajaib milik anda adalah alat yang tercipta untuk meringankan tugas anda, Nona Aisyah !?", ucap cermin ajaib.


"Iya, ya, yang kamu katakan seratus persen memang benar tetapi aku tidak boleh sering menggunakan benda-benda ajaib itu di istana ini", kata Aisyah.


"Hamba tidak mengerti, bukankah anda menggunakan kereta gulali roller coaster lalu harimau putih pemindai dan gulali berbentuk bulat lingkaran itu tadi untuk membantu anda lantas kenapa sekarang anda tidak menggunakan hamba, Nona Aisyah ?", tanya cermin ajaib.


"Tadi aku gunakan karena untuk berbicara pada sistem dan bertanya tentang cara untuk membuka pintu kelima tetapi bukan untuk membantuku membuka pintu kelima", kata Aisyah menjelaskan.


"Bagaimana... !?", tanya cermin ajaib masih tidak mengerti dan paham benar.


"Emmm !? Begini, untuk membuka pintu kelima butuh cara, bukan ?", ucap Aisyah.


"Iya, benar butuh cara", sahut cermin ajaib.


"Nah, untuk mengetahui cara itu maka aku bertanya pada sistem kemudian sistem memberitahukan padaku bagaimana caranya membuka pintu kelima lalu aku menggunakan gulali sebagai kuncinya dan juga sama saat aku menggunakan kereta gulali untuk membuka kunci pintu keempat", kata Aisyah.


"Maksud anda bahwa benda-benda ajaib itu anda gunakan karena memang itu alatnya, begitu !?", ucap cermin ajaib.


Aisyah menganggukkan kepalanya cepat dan tersenyum, dia senang karena cermin ajaib itu mulai mengerti penjelasan yang dia ucapkan.


"Benar, jadi aku harus sendiri yang melakukannya untuk mencabut benda kilat itu karena jika kamu atau yang lainnya melakukannya dan berhasil maka bukan aku yang menyelesaikan tugas itu", kata Aisyah.


"Melainkan hamba, bukankah seperti itu maksudnya, Nona Aisyah !?", ucap cermin ajaib.


"Hmmm... Benar sekali, jika kamu yang mencabut benda kilat itu dan berhasil maka kamulah yang harus menyelesaikan tugas misi di pintu kelima itu dan bukan aku", kata Aisyah.


"Bukannya sama saja hasilnya dan anda akan ikut bersama hamba ke dalam pintu kelima", ucap cermin ajaib.


"Tidak, tidak seperti itu cara kerja pada sistem istana awan putih ini karena tugas itu teruntuk diriku bukan untukmu, wahai cermin ajaib", kata Aisyah.


"Rumit sekali...", ucap cermin ajaib.


"Jika aku bertanya kepadamu caranya untuk mencabut benda kilat, itu boleh dan dibenarkan, bukan berarti kamu yang menyelesaikannya sendiri", kata Aisyah.


"Baiklah ! Baiklah ! Apapun yang anda sampaikan akan hamba terima dan di mengerti oleh hamba", sahut cermin ajaib.


Cermin kristal ajaib tidak berbicara lagi dan menyelusup ke dalam saku tunik Aisyah kembali.


"Bagaimana cara mencabut benda kilat ini ?", kata Aisyah kemudian.


Aisyah hanya mampu bersandar di badan kilat itu seraya berpikir.


Tiba-tiba dia teringat akan tuas di kereta gulali roller coaster dan dia langsung berlari ke arah kereta gulali miliknya.


"Aku akan menggunakan tuas ini, bukankah tuas memiliki fungsi sebagai pengungkit ?", kata Aisyah.


Aisyah lalu berjalan masuk ke dalam kereta gulali kemudian dia mendekat ke arah tuas yang ada di kereta miliknya.


Dia tidak berpikir lama lagi dan menarik tuas tersebut.


KLEK...


KLEK...


KLEK...


Terdengar suara tuas pengungkit bergerak naik turun kemudian muncul semacam alat yang sama dengan tuas pada kereta gulali roller coaster.


Layar monitor yang ada di kereta gulali menampilkan gambaran mengenai keadaan di luar kereta sehingga Aisyah dapat melihatnya dari dalam kereta gulali dengan sangat jelas.


"Ehk !? Muncul sebuah tuas pengungkit pada kereta gulali roller coaster ini di luar sana", kata Aisyah.


Aisyah lalu mendekat ke arah layar monitor di dalam kereta gulali dan melihat kepada layar di depannya.


"Emmm, apa guna dari tuas di luar itu !? Haruskah aku menggerakkannya tetapi dengan apa ?", kata Aisyah.

__ADS_1


"Ada apa Nona Aisyah ?", tanya cermin ajaib menyembul dari balik saku tunik Aisyah.


"Ada tuas pengungkit yang keluar dari kereta gulali roller coaster ini setelah aku menggerakkan tuas yang ada di dalam kereta ini, wahai cermin ajaib", jawab Aisyah.


"Benarkah !?", ucap cermin ajaib.


Cermin kristal ajaib itu lalu keluar dari saku tunik Aisyah dan terbang menghampiri layar monitor.


"Iya, benar, ada tuas pengungkit di luar kereta gulali roller coaster itu ! Bagaimana cara menggerakkan tuas itu ?", ucap cermin ajaib.


"Aku juga tidak tahu caranya karena itulah aku tadi memiliki idea untuk masuk kereta gulali roller coaster ini untuk mencari cara menggerakkan benda kilat itu tetapi yang muncul justru tuas lainnya di luar sana", kata Aisyah sambil menunjuk pada layar monitor kereta gulali.


"Apakah anda tidak bertanya pada sistem, Nona Aisyah ?", tanya cermin ajaib.


"Emmm... Itu yang aku pikirkan sedari tadi, aku akan mengarahkan benda berbentuk harimau putih ini pada tuas karena aku sudah memindai sistem pada benda ini", jawab Aisyah.


Aisyah berjalan kembali ke arah tuas pengungkit lalu memindai sistem, dan muncul sebuah layar sistem transparan lagi pada benda tuas.


Beberapa petunjuk tertera pada layar monitor dan terdapat keterangan tentang cara menggunakan tuas pengungkit.


"Ternyata kita hanya perlu mengusap tuas pengungkit itu saja maka tuas akan bergerak sesuai fungsinya", kata Aisyah sambil membaca pedoman yang ada pada layar monitor.


"Aha, iya, ya ! Mengusapnya ? Benda yang sangat unik sekali !", ujar cermin ajaib terkaget-kaget.


"Sudahlah, jangan banyak berkomentar karena kita harus segera keluar dari istana ini, menurut saja dan lakukan sesuai perintah pada sistem", kata Aisyah seraya melirik pada cermin ajaib yang ada di saku tuniknya.


"Aha, iya, iya ! Ayo, ayo, Nona Aisyah, kita lakukan sesuai perintah sistem !", sahut cermin ajaib.


Aisyah hanya memandangi benda tuas pengungkit itu dengan sangat teliti, mengamatinya cermat lalu mengusap tuas pengungkit.


"Benda yang sangat aneh ? Bagaimana bisa cara menggerakkan tuas pengungkit hanya dengan mengusap saja ? Apakah tidak ada cara lainnya !?"


Aisyah hanya menggerutu dalam hatinya sambil mengusap tuas pengungkit yang ada di depannya dengan cepat.


Tidak butuh waktu lama tuas pengungkit itu lalu bergerak, keluar cahaya yang menggulung di sekitar tuas pengungkit di dalam kereta gulali roller coaster.


Cahaya itu menggulung-gulung semakin cepat lalu di sisi-sisi tuas pengungkit terdapat alat yang mirip dengan penggerak.


"Hmmm... Tuas pengungkit ini jadi mirip dengan setir sepeda setelah dilengkapi alat penggerak disisi-sisinya", kata Aisyah.


"Bagaimana cara kerjanya sekarang tuas pengungkit itu, Nona Aisyah ?", tanya cermin ajaib.


"Aku tidak tahu karena belum mencobanya dan sekarang aku akan menggerakkan alat itu, wahai cermin ajaib", sahut Aisyah.


"Aha, iya, iya, ya ! Ayo, segera kita mencobanya, Nona Aisyah !", ucap cermin ajaib berseru keras.


"Kamu sangat bersemangat sekali", kata Aisyah.


Aisyah berjalan ke arah tuas pengungkit dengan memegang alat yang baru muncul pada kedua sisi tuas itu.


"Hai, alat ini dapat digerakkan dengan tangan, dan dapat berputar. Coba lihat tuas ini, aku bisa menggerakkan tuas pengungkit di dalam kereta ini, wahai cermin ajaib", kata Aisyah tersenyum senang.


"Dan anda juga dapat menggerakkan tuas pengungkit yang ada di luar kereta gulali roller coaster ini, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.


Aisyah melihat ke arah layar monitor pada kereta yang menampilkan gambar tuas pengungkit yang ada di luar sana dan bergerak ketika Aisyah memutar alat di sisi tuas.


Tuas pengungkit bergerak naik-turun seperti jungkat-jungkit, Aisyah menggerakkan benda tersebut ke arah benda kilat.


Mengungkit benda kilat itu dengan tuas pengungkit beberapa kali dan mengangkat benda kilat yang menancap di lantai istana awan putih itu sehingga benda kilat itu dapat lepas dan jatuh tergeletak di atas lantai.


Aisyah bersorak kegirangan ketika dirinya dapat mencabut benda kilat dari muka pintu kelima.


"Yeay ! Aku berhasil ! Aku berhasil melakukannya ! Benda kilat itu akhirnya dapat aku cabut sehingga tidak menghalangi pintu masuk lagi !", kata Aisyah berseru ceria.


"Hore ! Anda berhasil menyingkirkan benda kilat itu, Nona Aisyah !", teriak cermin ajaib ikut senang.

__ADS_1


Aisyah tersenyum puas saat dia dapat mengangkat dan melepaskan benda kilat yang menancap itu.


__ADS_2