
Hujan diluar rumah masih terlihat turun membasahi halaman rumah, bau udara yang bercampur tanah tercium hingga menusuk hidung.
Aisyah memandangi tiap rintik-rintik hujan yang turun seraya bertopang dagu didepan jendela kamar rumah yang terbuka sedikit. Ia hampir menghabiskan waktu dirumah hanya diam seperti ini selain pergi keperpustakaan lalu kembali kerumah atau kadang bergelantungan diatas menara kota. Kegiatan itulah yang kini ia lakukan disini untuk mengisi harinya setelah keluar dari perjalanan kemasa lalu.
"Wahai jam antik kuno, bisakah kamu mengeluarkan bola cermin ajaib milikmu ?", kata Aisyah pada jam antik kuno yang sedang tergeletak diatas meja dekat jendela.
"Untuk apa nona menanyakannya ?", kata jam antik kuno yang tengah berbaring santai diatas meja.
"Aku ingin melihat keadaan tuan agung itu disana !", kata Aisyah masih bertopang dagu didepan jendela kamarnya.
"Lebih baik kita tidak perlu tahu kabar tuan agung itu lagi disana !", kata jam antik kuno.
"Mengapa ?", kata Aisyah lalu menoleh kearah jam antik kuno.
"Hmph !? Bukankah kita tidak akan melanjutkan perjalanan waktu ini lagi nona jadi kita tidak perlu penasaran lagi dengan keadaan tuan agung itu disana !", kata jam antik kuno menjawab santai.
Aisyah lalu membalikkan badannya menghadap kearah jam antik kuno dan berjalan mendekat kearah meja. Ia sengaja menarik rantai jam antik kuno itu dengan kasar dan sembarangan dari atas meja seraya ia menggoyang-goyangkan badan jam antik kuno cepat.
Tatapan Aisyah langsung berubah seketika saat mendengar ucapan jam antik kuno itu, ia tidak terima dengan jawaban jam antik kuno yang menurutnya terdengar seperti kalimat sindiran padanya. Ia juga tidak segan menggerakkan rantai jam antik kuno dengan gerakan yang sangat cepat.
"Aih ! Aku merasa kalimatmu sangat mengkhawatirkan terdengar ditelingaku wahai jam antik kuno !? Kata-kata dalam ucapanmu, aku rasa kurang enak didengar olehku ???", kata Aisyah seraya mengangkat kedua alisnya keatas.
"B--bu--bu--kan begitu nona ! Hamba rasa lebih baik kita melupakan tentang tuan agung itu dan hidup dimasa depan dengan tenang !", kata jam antik kuno buru-buru.
"Oh iya !?", kata Aisyah tidak percaya.
"Ha...Ha...Ha...!? U--un--tuk...a--p--a hamba berdusta pa-da..nona !? Ha...Ha..Ha...!!", kata jam antik kuno gagap.
"Rupanya kamu telah siap untuk melakukan sebuah acara pemakaman wahai jam antik kuno ??", kata Aisyah seraya mengguncangkan rantai jam antik kuno ditangannya cepat.
"Hen--ti--kaaan...no--naaa...!!!", kata jam antik kuno berseru keras saat badannya berputar-putar kencang.
"Rasakanlah wahai jam antik kuno ! Bagaimana rasanya pusing itu !!!", kata Aisyah dengan ekspresi wajah datar.
"A--am--puun nonaaa...!?", teriak jam antik kuno.
"Pusingkaaan !?", kata Aisyah dengan mata tertutup.
"Iya, iya, iyaa...nona ! Ampuun !", kata jam antik kuno.
"Hmm...!?", gumam Aisyah santai lalu meletakkan jam antik kuno diatas meja dengan asal.
"Baik, baik nona, hamba akan mengeluarkan bola cermin ajaib milik hamba !", kata jam antik kuno buru-buru.
Sebuah bola cermin ajaib muncul ditengah-tengah ruangan kamar Aisyah yang sedang melayang pelan. Bola cermin ajaib tersebut tampak bercahaya terang benderang.
__ADS_1
Aisyah segera menghampiri bola cermin ajaib tersebut dan menatapnya lekat-lekat tapi ia hanya melihat sebuah benda mati yang bercahaya saja tanpa ada gambar satupun yang muncul didalam bola cermin ajaib.
"Mana gambar tuan agung itu wahai jam antik kuno ?", kata Aisyah seraya mengerutkan alis.
"Sebentar, sebentar nona !!!", kata jam antik kuno berseru keras.
"Kenapa kamu berteriak seperti itu padaku ?", tanya Aisyah heran.
"Tidak apa-apa nona ! Ha--hanya re--flek sa--jaaa !?", kata jam antik kuno sambil tertawa kecil.
Didalam bola cermin ajaib muncul gambaran sosok pria dengan sorban putih serta jubah putih tengah bersandar diatas ranjang kayu dengan kasur tipis.
Pria bersorban putih itu tampak sedang meminum sesuatu dari sebuah cawan ditangannya dan seorang wanita muda bercadar tipis berdiri disampingnya dengan memandangi tuan agung itu penuh perhatian.
Aisyah hanya melihat pemandangan itu tanpa berkedip ataupun meresponsnya serius, ia hanya sekedar ingin tahu perkembangan tuan agung itu setelah ia dan jam antik kuno kembali pulang kemasa depan.
"Mmm...!? Tampaknya tuan agung itu telah pulih tapi ia belum terlihat sehat seperti semula !", kata Aisyah.
"Benar nona ! Hamba rasa tuan agung itu masih memerlukan waktu untuk pemulihan setelah terluka cukup serius !", kata jam antik kuno.
"Lalu kenapa tuan agung itu masih ngotot memburu bangsa jin kalau selemah itu ? Apakah ia akan mengorbankan jiwanya untuk melindungi manusia yang belum tentu berbuat sama padanya ?", kata Aisyah bingung.
"Entahlah nona, hamba sendiri juga tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan tuan besar itu !?", sahut jam antik kuno.
Pria dengan sorban putih serta jubah putih itu hanya diam sambil tersenyum lembut pada wanita muda bercadar tipis disampingnya yang sedang melayani dirinya sepenuh hati.
Baru pertama kalinya Aisyah melihat senyum dari tuan agung itu sekarang, ia tidak pernah melihat ekspresi selembut itu dari pria bersorban putih sebelumnya.
"Ternyata tuan besar itu bisa tersenyum lembut juga ?", kata Aisyah nyengir.
"Iya nona, aku juga baru pertama kalinya melihat tuanku itu tersenyum karena yang hamba tahu, sepanjang hidup tuan agung itu hanya penuh dengan dunia ilmu spiritual yang memabukkan !", kata jam antik kuno lalu terbang menghampiri bola cermin ajaib miliknya.
"Haih ! Aku rasa tuan agung itu sekarang tengah jatuh hati pada wanita muda bercadar tipis itu wahai jam antik kuno !", kata Aisyah.
"Aku harap demikian nona dan semoga kabar gembira datang dari kisah mereka !", kata jam antik kuno.
Aisyah mengetuk bagian atas dari jam antik kuno pelan sambil mengerucutkan bibirnya kedepan. Ia tampak senewen mendengar ucapan jam antik kuno. Bukan karena tidak suka melihat tuan agung itu bahagia bersama wanitanya tapi ia tidak bisa menerima alasan pertempuran yang terjadi diantara jam antik kuno dengan tuan agung itu dan dirinya serta membuat mereka hidup tak karuan seperti ini.
Bisa-bisanya jam antik kuno itu membicarakan tentang sebuah pernikahan disaat genting seperti ini. Aisyah hanya mendongakkan kepalanya sambil menghela nafas panjang.
"Aduh nona ! Sakiit !", jerit kecil jam antik kuno ketika Aisyah mengetuk bagian atas jam antik kuno.
"Jangan omong ngelantur lagi ! Kamu mengerti !", kata Aisyah cepat.
"Apa ada yang salah dari perkataanku ?", kata jam antik kuno itu heran.
__ADS_1
"Lainkali jika berbicara lagi kamu pikir dulu ! Jangan asal omong !", kata Aisyah sebal.
"Ada apa ?", kata jam antik kuno bertambah bingung.
"Rasanya aku ingin sekali membuang bola cermin ajaib ini kedalam tong sampah !", ucap Aisyah tidak senang.
"Jangan lakukan hal itu nona !", kata jam antik kuno terkejut.
"Apakah aku harus melihat pemandangan didalam bola cermin ajaib itu ?", kata Aisyah sewot.
Tampak pria bersorban putih serta berjubah putih itu tertawa senang sambil bercakap-cakap dengan wanita muda bercadar tipis itu yang kini duduk dikursi dekat ranjangnya.
Tiba-tiba muncul sebuah rangkaian bunga yang bermekaran dari tangan tuan agung itu dan ia melihat pria bersorban putih itu memberikan rangkaian bunga yang indah itu kepada wanita muda bercadar tipis itu.
Mereka berdua tampak tertawa bahagia sedangkan Aisyah yang sedari tadi hanya menatap kearah bola cermin ajaib itu sekarang tampak marah, dengan ekspresi wajah kesal dan tidak terima melihat kedua insan manusia itu saling kasmaran.
"Kapan mereka akan menikah ? Ah, akhirnya keluar juga kata-kata tentang pernikahan dari benakku !?", kata Aisyah gemas.
"Mungkin jika tuan agung itu telah menikah akan mengubah pendirian kerasnya yang memusuhi kaum bangsa jin !?", kata jam antik kuno serius.
"Aku harap begitu juga wahai jam antik kuno ! Sehingga pria bersorban putih serta berjubah putih itu setidaknya mempunyai kesibukan yang lebih berarti !", kata Aisyah masih saja memperhatikan bola cermin ajaib dengan tatapan tajam.
"Jangan bersikap semarah itu nona ! Hamba rasa lebih baik kita mendekatkan mereka berdua untuk bersama selamanya !", ucap jam antik kuno serius.
"Aku rasa idemu benar sekali wahai jam antik kuno dengan begitu tuan agung itu akan melupakan tentang pertempuran antara bangsa jin dengannya !", kata Aisyah lalu beranjak dari tempatnya dan berdiri tegak didepan bola cermin ajaib.
"Lalu bagaimana kita melakukannya nona Aisyah ?", kata jam antik kuno.
"Kamu pikir saja sendiri caranya wahai jam antik kuno !", kata Aisyah sambil berlalu.
"Astaga !? Bagaimana mungkin nona !?", ucap jam antik kuno panik.
"Bukankah kamu adalah makhluk ghaib yang tercipta lebih memiliki kecerdasan yang sangat tinggi dibanding manusia ? Meski aku pikir kaummu sedikit bodoh !", sindir Aisyah lalu pergi menghilang dari hadapan jam antik kuno.
"Haihhhh...!?", ucap jam antik kuno kaget.
Jam antik kuno hanya diam termangu didepan bola cermin ajaib miliknya sambil terbang melayang. "Bagaimana bisa gadis muda ini mengatakan seterus terang seperti itu tentang kaum bangsa jin !?", kata jam antik kuno dalam hatinya bergumam.
Aisyah meraih jas hujan warna hijau kesukaannya lalu mengenakannya dengan sangat hati-hati dan bergegas pergi meninggalkan rumah secara berpindah tempat. Ia ingin mengunjungi suatu tempat yang hampir lama tidak ia kunjungi karena kesibukannya kuliah diluar negeri.
Kebetulan ia memiliki waktu cukup untuk saat ini maka Aisyah berinisiatif untuk mendatangi tempat tersebut meskipun diluar hujan turun rintik-rintik. Dengan cepat ia melakukan teleportasi dari satu tempat ketempat lainnya secara cepat.
Aisyah memandang dengan tatapan suram dari atas tempat ketinggian, kali ini pandangan mata Aisyah berubah sangat dingin. "Seandainya waktu mampu aku ubah maka aku akan membalikkan semuanya kesisiku dengan baik, tapi sayangnya aku tidak pernah bisa mengubahnya dan melawan kehendak Ilahi ...!", ucap Aisyah dalam lubuk hati kecilnya lelah.
Angin menerbangkan kain panjang yang menutup kepala Aisyah rapat dan menghembuskan suasana yang segar diseluruh tempat ini setelah air hujan yang turun membasahi tempat Aisyah berada. Lagi-lagi tatapan Aisyah sangat dingin dan kosong saat memandangi tempat yang hening ini.
__ADS_1