
Aisyah bergeming menatap lurus kearah sosok bayangan berjubah putih yang berada diatas badan harimau.
Sekali lagi sosok tersebut tidak menunjukkan wajahnya dengan jelas dan selalu terhalang oleh sinar cahaya keemasan yang sangat terang meski Aisyah dapat melihat raga jasmani sosok bayangan itu yang mirip seorang laki-laki tetapi ia tidak pernah tahu bagaimana wajah asli sosok bayangan tersebut.
"Siapakah kamu ? Kenapa kamu tidak tidak pernah menunjukkan raut wajahmu ? Dan kenapa kamu selalu hadir dalam setiap mimpi-mimpiku ?", kata Aisyah.
Sosok berjubah putih itu tidak menjawab pertanyaan Aisyah padanya dan ia hanya memandang kearah Aisyah yang terlihat sangat penasaran sekali dengannya.
"Siapakah kamu ? Kenapa kamu selalu menolongku tetapi kamu tidak pernah mau mengenalku ?", kata Aisyah berjalan mendekat kearah harimau raksasa itu.
Harimau raksasa itu tampak jinak sekali dan duduk terbaring diatas jalan kota yang sangat lebar, serta hewan buas itu hanya memandangi Aisyah dengan sayu. Harimau raksasa itu juga sangat tenang sekali, tidak ada tanda-tanda amarah dan keinginan untuk mengamuk.
Aisyah melangkahkan kedua kakinya pelan sambil menoleh kearah hewan buas bertubuh besar dengan langkah yang sangat hati-hati.
"Apakah aku boleh melihat wajahmu lebih dekat agar aku bisa melihat wajahmu dengan jelas ?", kata Aisyah.
Sosok berjubah putih itu tidak menjawab perkataan Aisyah padanya dan hanya memandang Aisyah yang ada dibawah badan harimau raksasa itu.
Terdengar suara nyanyian dari sosok bayangan berjubah putih itu, ia sedang berdendang menyanyikan lagu-lagu yang sangat lembut dan merdu sekali.
"Suaramu sangat indah sekali, lagu apa yang tengah kamu nyanyikan ? Kenapa terdengar suaranya sangat sendu ?", kata Aisyah mencoba mendekat seraya menunjukkan sikap bersahabat.
Sosok bayangan berjubah putih itu lalu berbisik ditelinga harimau raksasa itu kemudian hewan buas itu meraih tubuh Aisyah dengan kuku cakarnya yang tajam. Hewan besar itu meletakkan tubuh Aisyah dibelakang sosok bayangan berjubah putih untuk duduk.
Aisyah sangat terkejut melihat dirinya telah berada diatas badan harimau raksasa itu.
"Wow !?", pekik Aisyah.
Suara senandung yang keluar dari sosok bayangan berjubah putih itu semakin terdengar dengan jelas dan ia melihat harimau raksasa itu berlari cepat meninggalkan tempat dimana kerumunan orang-orang berada.
"Wouuuw....!!! Kemana kamu akan membawaku pergi ?", kata Aisyah berseru ceria.
"ROOOOOAAARRR....!!!", suara auman harimau raksasa itu seperti membalas perkataan Aisyah padanya.
"Iya, kalian akan membawaku pergi kemana ? Kenapa kamu pergi dari sini ?", tanya Aisyah.
Aisyah melihat sosok bayangan berjubah putih itu semakin keras bersenandung riang dan ia menatap lurus kearah jalan yang ada didepannya tanpa bergeming.
Harimau raksasa itu terus berlari kencang melewati jalan-jalan dikota asing ini yang sangat modern dan serba canggih. Gedung-gedung bangunan dikota asing ini sedikit berbeda dari pertama kali Aisyah datang dan benar seperti dugaan Aisyah jika ia perhatikan bangunan-bangunan dikota ini bergerak serta berubah bentuknya setiap detiknya.
__ADS_1
Aisyah menjadi tercengang ketika bangunan dikota itu tiba-tiba berubah bentuknya secara perlahan-lahan. Dan setiap bentuk bangunannya berbeda-beda setiap detiknya. Layaknya warna monokrom yang hidup yang memiliki sebuah arti yang sangat dalam yaitu adalah tentang sesuatu yang saling menghilangkan. Seperti putih yang menghilangkan hitam, air yang memadamkan api, ataupun cahaya yang menerangi gelap, atau justru sebaliknya. Dan seperti itulah gambaran yang tengah disampaikan oleh bangunan-bangunan dikota asing ini yang berubah-ubah bentuknya setiap detiknya seperti monokrom hidup manusia yang terus bergerak tiada henti-hentinya karena hanya kematian yang tidak bergerak.
Harimau raksasa itu terus saja bergerak dan berlari cepat, tidak dirinya ataupun sosok bayangan berjubah putih itu yang bertanya mengenai perjalanan harimau raksasa putih itu. Semua terdiam dan menikmati perjalanan dari atas tubuh harimau raksasa putih itu.
Aisyah terdiam sambil terus memperhatikan sekeliling kota asing ini. Ia sendiri tidak mengerti tentang keberadaan dirinya ditempat asing ini.
Apakah ia sedang bermimpi ? Ataukah ia sedang berhalusinasi ataukah ini benar-benar sesuatu yang ia alami dalam kenyataan ?
Ini semacam sebuah pilihan hidup bagi Aisyah saat didalam kota asing ini dan yang ia sebut Kota Monokrom. Haruskah ia segera pergi dari kota asing ini ataukah tetap terlena dalam ilusi waktu.
"Kemana kita akan pergi ?", tanya Aisyah pada sosok bayangan berjubah putih yang ada didepannya itu.
Sosok bayangan itu tidak pernah sedikitpun menjawab setiap pertanyaan Aisyah kepadanya.
"Kenapa kamu selalu terdiam ? Apakah kamu tidak mengerti bahasa yang aku ucapkan ?", kata Aisyah.
Sosok itu hanya terus bersenandung tanpa memperhatikan dirinya dan ia seakan membiarkan harimau raksasa putih itu terus membawa mereka berlari dan terus berlari tiada hentinya. Hal ini yang membuat Aisyah bingung dan selalu bertanya, baik pada dirinya ataupun pada sosok itu yang hanya terdiam.
"Kamu tahu !? Jika kamu ibarat sebuah pilihan hidup bagiku saat ini, seperti dua hal yang saling berlawanan tetapi tetap harus aku jatuhkan satu pilihan !", kata Aisyah menatap sendu.
"Pilihan itu bukan tentang mencampur yang haq dan yang batil atau kata gus hamid, "sunt bona mixtra malis", tetapi kita harus bisa memilih sebuah pilihan yang bisa membimbing kita dalam hidup agar bisa keluar dari kegelapan seperti sebuah lilin yang bercahaya menerangi jalan dimalam hari !", kata sosok bayangan berjubah putih itu yang mengagetkan Aisyah.
"Seperti pilihan yang ada didepan matamu Aisyah !", kata sosok berjubah putih itu.
"Maksudmu !?", ucap Aisyah.
"Hidup itu seperti momentum untuk memilih satu warna yang selama ini tertanam dihati setiap manusia termasuk dirimu, Aisyah !", kata sosok bayangan berjubah putih itu.
"Apakah itu ?", tanya Aisyah.
"Hidup tak hanya sebuah pilihan baik dan buruk yang keduanya seperti air dan minyak yang tidak akan pernah menyatu atau seperti memilih satu warna hitam atau putih, bukan seperti itu melainkan pilihan yang mampu menolongmu keluar dari himpitan hidup serta waktu yang terus saling berkejaran, kamu harus bisa menjatuhkan sebuah pilihan karena itu tempat ini tercipta khusus untukmu !", kata sosok bayangan berjubah putih itu lalu terdiam bersenandung.
Suasana diatas harimau raksasa itu mendadak sangat hening sekali, dan tenang hanya suara desiran angin yang berhembus disekitar mereka yang seakan-akan berbisik pelan dan lembut.
Harimau raksasa putih itu terus bergerak cepat kearah depan tanpa berhenti. Aisyah memalingkan wajahnya kearah pemandangan kota asing yang ada disekitarnya dengan bangunan-bangunannya yang terus bergerak dan berubah-ubah tiada hentinya.
"Kalian akan membawaku pergi kemana saat ini ? Bisakah kamu memberitahukan padaku ?", tanya Aisyah penuh tanda tanya dalam hatinya.
"Kamu selalu saja bertanya tanpa mampu menunggu dengan sabar Aisyah, tetapkanlah satu pilihan dihatimu !", kata sosok bayangan berjubah putih itu serius.
"Apa yang harus aku pilih ? Bukankah ini adalah tempatku saat ini ?", kata Aisyah.
__ADS_1
Terdengar sosok bayangan berjubah putih itu menghela nafas panjangnya. Lalu mereka bertiga berhenti disebuah lorong panjang nan gelap gulita.
Harimau raksasa putih itu lalu berhenti tepat didepan lorong itu dan terdiam patuh. Sosok bayangan berjubah putih itu dengan wajah yang tersamarkan oleh sinar cahaya terang kemudian melompat turun dan berdiri disamping lorong panjang gelap seraya menatap kearah Aisyah yang masih berada duduk diatas badan harimau raksasa putih itu.
"Ini adalah pilihan yang aku maksud Aisyah ! Turunlah !", ucap sosok bayangan berjubah putih itu pada Aisyah yang diam mematung.
Aisyah tidak menyahut perkataan sosok bayangan berjubah putih itu dan ia memilih mendiamkannya.
"Waktunya untuk memilih Aisyah ! Dan jangan bersikap manja !", ucap sosok bayangan berjubah putih itu.
Aisyah tetap tidak berbicara atau bergeming dari tempat duduknya bahkan ia tidak merespon sosok bayangan berjubah putih itu.
Entah apa yang dipikirkan oleh Aisyah sekarang ini tapi jelas diwajahnya jika ia tidak ingin pergi dari tempat asing itu lalu masuk kedalam lorong yang gelap didepannya. Ia tetap bersikukuh untuk bertahan ditempat duduknya dan lebih memilih tinggal terus dikota asing ini.
"Aisyah ! Ini bukan saatnya bermain-main dengan waktu karena waktu bagaikan pedang yang bermata dua, Aisyah !", kata sosok bayangan itu. "Cepatlah turun dari atas badan harimau putih itu, Aisyah !"
Aisyah hanya terdiam dan berpura-pura seakan ia tidak mendengar perkataan sosok bayangan berjubah putih itu serta memilih terdiam tak bergerak. Ia benar-benar lebih memilih tinggal dikota asing ini dan ia memutuskan menetap untuk menghabiskan sisa hidupnya disini.
"Apakah ini pilihan yang datang dari hati kecilmu Nona Aisyah ?", ucap sosok bayangan berjubah putih itu sambil menatap Aisyah.
Gadis berwajah bening itu lalu menganggukkan kepalanya mantap serta sangat tegas saat melihat kearah sosok didepannya itu dan seakan ia mengiyakan perkataan dari sosok bayangan berjubah putih itu bahwa ia akan tinggal dikota asing ini.
"Benarkah demikian ?", ucap sosok bayangan itu lalu berjalan mendekat kearah Aisyah yang masih tetap diatas badan harimau raksasa putih itu. "Apakah kamu telah melupakan kawan-kawanmu yang sekarang menunggumu kembali untuk menolong mereka semuanya ?"
"Kawan ? Aku tidak memiliki kawan !?", sahut Aisyah seraya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. "Aku tidak mengerti ucapanmu !"
Aisyah memegangi kepalanya dengan kedua tangannya lalu tertunduk pelan, ia memejamkan kedua matanya rapat-rapat.
"Aku tidak mengingatnya !", pekik Aisyah keras tertahan.
"Apakah kamu telah melupakan perjalanan waktumu kemasa lima ratus tahun yang lalu untuk membantu temanmu agar kembali kewujud asalnya, Nona Aisyah ?", ucap sosok bayangan berjubah putih itu.
"Hentikan ! Aku mohon hentikan ucapanmu ! Aku benar-benar tidak mengingatnya !", teriak Aisyah gelisah.
"Ingatlah Aisyah karena inilah pilihanmu yang sebenarnya karena itulah tempat ini tercipta !", kata sosok berjubah putih itu mulai mengacaukan pikiran Aisyah yang terasa terbelah-belah pening.
"Aku tidak tahu ! Aku tidak tahu apapun ! Tolong hentikan ucapanmu !", teriak Aisyah.
"Ingatlah tentang saat dirimu bersama dengan jam antik kuno kesayanganmu itu ! Ingatlah tentang keinginanmu untuk membawa jam antik kuno itu pulang keasalnya dan mencari rahasia cara mengembalikan jam antik kuno itu kewujud asalnya !", cecar sosok bayangan berjubah putih itu. "Ingatlah baba dan keinginanmu serta harapanmu untuk menyelesaikan kuliahmu dinegeri asing dan segera menggapai impianmu serta hidup penuh bahagia !? Bukankah seperti itu sebenarnya tujuan hidupmu, Nona Aisyah !?"
Aisyah hanya memandang kearah sosok bayangan berjubah putih itu dengan tatapan kosong tanpa ekspresi. Benaknya penuh dengan pikiran buruk dan sangat gelap yang datang silih berganti datang tak karuan dalam pikirannya. Dan dalam hitungan detik, Aisyah kemudian jatuh lunglai tak sadarkan diri diatas badan harimau raksasa putih itu.
__ADS_1