Mengubah Takdir Aisyah

Mengubah Takdir Aisyah
Lemparan Manisan...


__ADS_3

Aisyah berjalan mencari datangnya suara air yang gemericik, dengan langkah kaki terseret serta menahan rasa sakit yang bertubi-tubi. Tetapi ia tidak menemukan sumber air itu, sembari memegangi tangannya yang terluka, ia terus mencari sumber air itu.


Tempat dasar taman halus terdapat bebatuan, tidak ada hal lainnya disana. Hamparan tanah kosong yang luas tanpa tanaman di sekitarnya, bahkan sekuntum bunga satupun tak tumbuh disana, hanya tanah lapang serta tumpukan bebatuan.


"Aku tidak menemukan sumber air itu, dimanakah air itu, aku tidak melihatnya sama sekali meskipun telah berjalan lama !?", ucap Aisyah.


Aisyah merasakan seluruh tubuhnya menggigil kedinginan dengan wajah yang pucat pasi, ia masih mencoba bertahan.


"Tubuhku dingin... Apakah aku sakit... Mungkin tanganku infeksi karena luka yang diakibatkan terjatuh tadi", ucap Aisyah.


Aisyah tetap mencoba berjalan meski dengan langkah kaki yang terseret sambil memegangi tangannya yang terluka, ia tidak ingin menyerah sedikitpun dan tetap berusaha mencari sumber air itu.


Dia menolehkan kepalanya ke arah sekitarnya tetapi ia hanya melhat tanah lapang yang luas serta batu-batu yang bertumpuk-tumpuk asal, tak teratur.


Suasana di dasar taman halus sangat berbeda dengan kondisi di atas, di dalam dasar seluruhnya hanya hamparan tanah berwarna cokelat serta batu, tidak ada kehidupan, tidak ada hutan ataupun makhluk hidup yang nampak di sekitar tempat ini.


"Cokelat... semuanya berwarna cokelat tua dan tidak ada warna lainnya seperti di atas taman halus...", ucap Aisyah seraya mengedarkan pandangannya.


Aisyah terdiam, ia memeriksa tangannya yang terluka akibat terjatuh tadi. Dia melipat lengan pakaiannya yang panjang serta sobek, dan ia melihat tangannya penuh luka serta lebam kemerahan di sekujur lengan tangannya.


"Lukaku sangat parah sekali, aku juga tidak memiliki obat untuk menyembuhkan luka ini, dan ini sangat sakit sekali", ucap Aisyah sembari memeriksa lengannya yang penuh luka itu.


Gadis berwajah bening itu kemudian meniup tangannya yang luka tetapi ia tidak dapat membersihkan luka tersebut dan ia hanya membiarkan luka itu tanpa membalutnya.


Aisyah merasakan tubuhnya gemetaran karena luka di tangannya, ia terus memegangi tangannya yang sakit serta terluka dengan kedua mata berkunang-kunang.


"Aku harus bertahan hidup di tempat ini, dan segera keluar dari tempat ini", ucap Aisyah sambil menggigil kesakitan.


Dia merasakan seluruh suhu tubuhnya panas serta demam tinggi, dan ia mengeluarkan keringat dingin di tubuhnya yang demam.


Aisyah lalu bersandar untuk beristirahat sebentar di sebuah batu berwarna cokelat tua yang ada di sampingnya, sembari memejamkan kedua matanya, ia merebahkan kepalanya di badan batu berwarna cokelat tua.


"Hufthhh...", hela nafas panjangnya.


Aisyah terdiam tanpa bersuara seraya menatap ke atas tempatnya bersandar, dan ia hanya melihat hamparan langit-langit yang berwarna cokelat tua, meski tempat itu tertutup rapat tetapi ia masih merasakan udara di sekitarnya berhembus pelan.


"Aku harus keluar dari sini, apapun yang terjadi aku harus cepat menemukan jalan keluar...", kata Aisyah lelah.


Dia sengaja terus berbicara sendiri agar kesadarannya tetap terjaga, sehingga ia dapat mempertahankan dirinya tanpa kehilangan keyakinannya untuk hidup.


"Aku tidak boleh mengantuk ataupun sampai tertidur pulas disini... Aku harus bisa bertahan hidup... Aku harus kuat...", ucap Aisyah.


Gadis muda itu terus bergumam seorang diri dengan suhu tubuh tinggi dan demam, ia terus berbicara.


Tempat itu meski berada di dalam dasar tanah yang terdalam, cahaya masih dapat masuk ke dalam dasar taman halus serta keadaan di tempat itu tidak terasa pengap ataupun gelap.


Udara juga terasa berhembus di sekitar tempat itu dan Aisyah dapat bernafas melalui udara tersebut.

__ADS_1


Kemungkinan itulah tempat di dasar taman halus tidak ada kehidupan dan nyaris sepi senyap, karena cahaya matahari tidak sepenuhnya masuk menyinari dasar taman halus dan udara di dalam juga sangat terbatas.


"Apa yang sebenarnya terjadi padaku ? Apakah memang aku bukan berasal dari tempat ini karena itulah aku tidak tahu apa-apa tentang dunia ini ?", ucap Aisyah.


Aisyah bertahan sembari duduk menyandarkan tubuhnya ke badan batu berwarna cokelat tua itu.


"Benarkah apa yang di ucapkan sosok berjubah putih dan harimau putih metalik itu jika aku memang bukan dari dunia ini ? Apakah ini memang dunia mimpiku ?", kata Aisyah.


Aisyah berusaha untuk mengingat-ingat semuanya tetapi ia tidak sedikitpun dapat mengingat semuanya.


Dia menepuk pipinya dengan satu tangannya agar dirinya tetap tersadar, dan ia melakukannya berkali-kali supaya ia tetap selalu terjaga.


Saat Aisyah berusaha untuk mengingat kembali, ia merasakan kepalanya menjadi sangat nyeri sekali seperti di hantam sesuatu yang keras.


Setiap Aisyah mencoba ingat akan kenangan-kenangan yang telah hilang dari pikirannya, maka sakit itu akan datang menyerang kepalanya bertubi-tubi. Dan semakin ia mengingatnya maka rasa sakit itu semakin bertambah.


"M... Kepalaku sangat sakit sekali... Ditambah luka di tanganku ini, semakin membuatku sakit sekali tapi aku harus bisa bertahan disini dan mencari cara untuk keluar dari dalam sini...", kata Aisyah dengan meringis kesakitan.


Aisyah menghela nafas panjangnya dan menolehkan kepalanya ke arah sekitarnya tetapi ia tetap tidak mendapati apa-apa disana.


Duduk terdiam dengan luka di tubuh, menahan perih dan bertahan hidup tanpa perlengkapan apapun yang menunjang Aisyah untuk tetap tinggal di tempat itu sendiri.


"Oh Tuhanku.., tolonglah aku, bantu diriku untuk tetap bertahan hidup..., tolong aku !", ucap Aisyah.


Tak terasa Aisyah jatuh tertidur dengan bersandar di badan batu berwarna cokelat tua yang ada di belakangnya.


"GLUDUK... GLUDUK... GLUDUK... !", suara bergemuruh terdengar dari arah Aisyah bersandar.


Suara gemuruh itu semakin lama semakin mendekat dan sangat keras sekali kedengarannya.


Tiba-tiba sesuatu berwarna putih dan hitam muncul dari arah samping Aisyah, benda-benda itu tampak kenyal dan lentur serta beraneka ragam bentuknya.


"GLUDUK... GLUDUK... GLUDUK...", suara gemuruh itu semakin lama makin kencang dan bergerak mengarah kepada Aisyah yang tengah bersandar di batu berwarna cokelat itu.


Aisyah yang terlelap itu tidak menyadari datangnya benda-benda berwarna hitam dan putih itu menuju ke arah dirinya.


"GLUDUK... GLUDUK... GLUDUK...", suara benda berwarna hitam-putih itu memantul-mantul di atas permukaan tanah berwarna cokelat tua itu.


Benda itu sangat kenyal dan bergerak semakin mendekat ke arah Aisyah yang masih tertidur. Dan saat benda itu berada tidak jauh dari Aisyah, gadis itu lalu terbangun.


"Emmm... Apa itu !?", ucap Aisyah setengah tersadar dan terjaga.


Terlambat, benda-benda yang memantul di atas permukaan tanah cokelat tua itu menyerang Aisyah yang belum sepenuhnya terjaga dari tidurnya.


"AAAAAAAKH !!!", teriak Aisyah terperanjat kaget.


Benda berwarna hitam dan putih itu terlempar dan langsung mengenai tubuh Aisyah yang tengah berbaring di batu cokelat tua, meski teksturnya kenyal seperti manisan jelly tetapi sangat sakit saat menghantam tubuh Aisyah yang penuh luka, apalagi bentuknya yang berukuran besar, jelas terasa apabila mengenai tubuh gadis muda itu.

__ADS_1


Aisyah yang tidak sempat menghindari lemparan manisan berwarna hitam-putih itu tampak kewalahan ketika menghadapi manisan-manisan itu datang ke arahnya bertubi-tubi.


"AAAAAAKH... Apa ini !? Sakit ! Hentikan !", jerit Aisyah kesakitan.


"GLUDUK... GLUDUK... GLUDUK...", suara gemuruh manisan-manisan berwarna putih dan hitam itu semakin keras.


Jumlah benda-benda bertekstur kenyal itu semakin lama semakin banyak jumlahnya dari yang tadi, lemparan manisan-manisan itu terus-menerus menyerang Aisyah.


"Tolong... Siapapun... Tolong, hentikan ! Ini sakit sekali !", teriak Aisyah.


Walaupun Aisyah berteriak meminta tolong sekeras apapun, tetap saja tidak ada yang akan datang menolongnya.


Aisyah sendiri tidak mampu menghindarinya bahkan ia tidak dapat menggerakkan tubuhnya karena lemparan manisan-manisan itu terus berdatangan ke arah dirinya.


"Tolong aku ! Siapapun tolonglah aku !", teriak Aisyah.


Aisyah beringsut pelan-pelan dan ia berusaha menahan manisan-manisan kenyal itu dengan salah satu tangannya tetapi manisan itu berukuran besar tentu membuat Aisyah tidak mampu menyanggahnya.


Dia terlihat tak berdaya dengan serangan manisan-manisan berwarna hitam dan putih itu, dan ia hampir jatuh tak sadarkan diri lagi saat manisan-manisan kenyal itu mengenai tubuhnya.


"Berteriak tidak ada gunanya, karena itu aku harus segera pergi dari tempat ini secepatnya jika tidak aku akan menjadi pipih karena lemparan manisan-manisan itu", ucap Aisyah lalu berdiri dari tempatnya berbaring.


Aisyah berusaha menahan tubuhnya yang penuh luka dan mencoba berjalan meski terasa berat, ia tertatih-tatih saat mencoba berdiri tegak.


Lemparan manisan-manisan itu terus menerus mengenai tubuh Aisyah yang berjalan meninggalkan batu berwarna cokelat tua.


"Darimana datangnya manisan-manisan kenyal yang mirip manisan jelly itu ? Bukankah disini tidak ada kehidupan, lalu kenapa ada manisan-manisan jelly di tempat ini ?", ucap Aisyah kebingungan.


Aisyah berjalan terseret sembari menolehkan kepalanya ke arah manisan-manisan jelly yang mengikutinya dan terus melempari dirinya.


"Manisan jelly ? Apakah manisan itu berasal dari atas taman halus ?", tanya Aisyah.


"GLUDUK... GLUDUK... GLUDUK...", suara lemparan manisan-manisan berwarna hitam dan putih itu terdengar sangat keras sekali.


Manisan jelly itu yang berjumlah sangat banyak itu terus berdatangan dan melempari tubuh Aisyah.


"Aduh !", jerit Aisyah.


Gadis berwajah bening dengan kain penutup kepala itu tersandung batu cokelat tua yang ada di depan kakinya.


Dia lalu jatuh terjerembab ke atas permukaan tanah yang berwarna cokelat tua itu. Dan saat wajahnya mengenai tanah, ia merasakan sesuatu yang sangat manis di mulutnya.


"Eh, apa ini ? Kenapa rasanya sangat manis sekali !? Apakah tanah di tempat ini juga terbuat dari manisan ?", gumam Aisyah seraya mengusap mulutnya yang penuh dengan tanah cokelat tua.


Dia melihat batu yang ada di sebelahnya yang telah membuatnya tersandung, kemudian ia mengambil pucuk batu berwarna cokelat tua itu lalu menggigitnya dengan hati-hati.


"Benar ! Ini adalah cokelat ! Ini manisan cokelat !? Jadi semua tempat di dalam dasar taman halus itu ternyata terbuat dari cokelat !? Apakah ini adalah lembah cokelat di dasar taman halus ?", ucap Aisyah terpana tak percaya dengan yang di lihatnya itu.

__ADS_1


__ADS_2