Mengubah Takdir Aisyah

Mengubah Takdir Aisyah
Roller Coaster Gulali Ke-2...


__ADS_3

Aisyah membelalakkan kedua matanya sembari berpegangan pada batang panjang gulali yang melintang di dalam kereta roller coaster terbuat dari gulali merah.


Roller coaster gulali yang membawa Aisyah didalam kereta yang tertutup kaca tebal dari gula bening meluncur cepat dengan kecepatan 180, 5 km per jam, kemudian bergerak cepat di titik tertentu dan kembali meluncur ke arah bawah dengan kecepatan tinggi.


Kereta roller coaster itu menuju ke titik puncak dari lintasan roller coaster lalu berhenti sesaat dan kembali meluncur ke arah bawah.


Aisyah menggenggam erat batang gulali yang ada di depannya dengan jantung bedegup kencang serta keringat membasahi seluruh tubuhnya.


Roller coaster dari gulali merah terus bergerak kencang naik dan turun tanpa henti-hentinya dan setiap mencapai titik tertentu pada jalur lintasan roller coaster maka kecepatannya berbeda-beda sesuai tinggi-rendahnya lintasan yang dilalui oleh kereta roller coaster gulali itu.


"AAAAAAAAAA... !!!! AAAAAAAAAAAA...!!!", jerit Aisyah sangat keras.


Hanya kata-kata itulah yang keluar dari mulut Aisyah saat menaiki roller coaster gulali yang mengerikan dan membuat seluruh bulu kuduk berdiri.


Kereta gulali merah melaju kencang ke arah bawah menuruni jalan-jalan lintasan roller coaster yang curam di area alam bebas tanpa henti lalu meliuk-liuk mengikuti lintasan rel kereta roller coaster dari gulali yang sangat panjang.


Terdengar kembali teriakan-teriakan dari Aisyah saat kereta yang dinaikinya turun menukik ke bawah lalu naik cepat ke arah puncak lintasan roller coaster kemudian bergerak mendatar sesaat.


"Apa ini !? Membuatku terasa mual !", ucap Aisyah yang merasa pening.


Aisyah tidak sempat lagi memikirkan tentang keberadaan cermin kristal ajaib yang tengah menempel melekat di kaca jendela kereta roller coaster gulali merah.


Dia hanya fokus dengan lintasan roller coaster gulali yang dilewatinya tanpa berpikir apa-apa bahkan ia sudah tidak ingat akan keberadaan cermin ajaib yang masih berada di luar kereta roller coaster.


"Oh tidak, kereta roller coaster ini akan meluncur ke arah atas lintasan yang ada disana", kata Aisyah yang tak pernah melepaskan kedua tangannya dari batang gulali bening yang melintang di hadapannya didalam ruang kereta.


Benar saja, setelah berjalan mendatar di atas rel roller coaster gulali cukup lama, kereta dari gulali merah itu bergerak ke atas titik tertinggi dari lintasan roller coaster kemudian meluncur turun dengan kecepatan yang sangat luar biasa cepatnya.


Aisyah kembali menjerit kencang ketika kereta gulali merah itu melaju turun sangat cepat ke arah bawah dan lintasan yang di lewati oleh kereta sangatlah curam dan panjang.


"AAAAAAAAAHHH... !!! AAAAAAAHHH... !!! AAAAAAAAHHHH... !!!", jerit Aisyah sekeras-kerasnya dan betapa pucatnya wajah Aisyah saat melihat kereta yang dinaikinya meluncur ke arah bawah dengan kecepatan yang tinggi melintasi jalur roller coaster yang licin dan mengerikan.


Bukanlah cara terbaik untuk mencari jalan keluar saat menaiki roller coaster karena tidak mengubah lintasan maut itu berubah lebih baik tetapi semakin menuju lintasan roller coaster yang memacu andrenalin lebih meningkat hebat.


Mungkin berdoa adalah cara ampuh untuk menenangkan jiwa yang terguncang karena menaiki lintasan roller coaster.


Memang benar roller coaster bukan hiburan yang baik bagi orang-orang yang tidak memiliki kekuatan jantung serta tidak cocok untuk orang yang takut akan ketinggian. Sebab kecepatan roller coaster setara pesawat jet saat terbang landas.


"Tolong aku..., agar cepat keluar dari area yang mengerikan ini...", ucap Aisyah dalam hatinya.


Aisyah tidak dapat memejamkan kedua matanya bahkan untuk sekedar berkedip saja, ia tidak mampu melakukannya karena pikirannya terfokus pada roller coaster yang di naikinya.


Dia merasakan jiwanya hampir terbang melayang pergi meninggalkan tubuhnya, meski ia tidak merasa lemas sama sekali walaupun telah menaiki kereta maut roller coaster gulali merah itu selama hampir lebih berjam-jam lamanya.


Tubuh Aisyah memang penuh peluh keringat tetapi tidak sampai melemahkan tubuh dan jiwanya meski telah lama naik kereta roller coaster gulali merah tersebut.


Roller coaster gulali itu tiba-tiba bergerak pelan setelah berputar-putar di lintasan jalur roller coaster, serta meliuk-liuk sangat cepatnya.

__ADS_1


Sekarang kereta roller coaster itu sangat tenang tidak seperti tadi, naik-turun membuat jantung hampir lepas.


"Emm..., kereta roller coaster ini mulai tenang gerakannya..., apakah telah sampai tujuan...!?", ucap Aisyah bertanya-tanya.


Aisyah menoleh ke arah kaca jendela kereta dari gulali bening yang tebal dan ia melihat cermin kristal ajaib itu masih melekat erat di kaca.


"Syukurlah, cermin ajaib itu masih menempel di permukaan kaca jendela kereta dari gulali merah ini, aku sempat takut jika cermin itu akan lenyap karena cepatnya gerakan kereta roller coaster tadi", kata Aisyah yang masih berpegangan pada batang gulali yang melintang itu.


Dia mengedarkan pandangannya tanpa berkedip, mengawasi seluruh pemandangan di luar kereta yang tertutup rapat.


Aisyah hanya melihat bentangan langit berwarna biru muda dengan awan-awan putih yang bergerak pelan, ia tidak melihat apapun selain langit yang sangat luas terhampar di pelupuk mata.


"Warna langit di area ini berbeda dengan langit yang ada di dalam dasar taman halus yang semuanya tertutup oleh lapisan cokelat atau langit yang ada di dataran tinggi gulali yang berwarna merah muda serta langit dalam bentangan tanaman menjalar yang berwarna-warni", kata Aisyah.


Kereta roller coaster masih tetap bergerak lambat sehingga suasana di luar dapat Aisyah saksikan dengan jelas dan tenang, tanpa adanya riuh rendah teriakannya yang keluar dari mulutnya sedari tadi.


"Semuanya tampak berbeda sekali dibanding tadi, apa kereta ini akan berhenti atau masih terus berjalan lagi !?", tanya Aisyah.


Roller coaster tiba di sebuah lorong transparan dan lagi-lagi yang Aisyah temukan adalah lorong yang semuanya terbuat dari gulali tetapi ini berwarna jernih sekali.


Tidak seperti lorong pada umumnya yang gelap dan kusam, gambaran yang identik dengan lorong yang biasa Aisyah jumpai selama ini.


Bedanya lagi lorong yang kini kereta masuki tidak panjang seperti lorong lainnya.


"Sebuah lorong transparan !? Dan ini mirip sekali seperti berada di dalam lorong aquarium tapi bukan ikan yang nampak di dinding-dinding lorong yang transparan itu melainkan kumpulan gulali yang bening", ucap Aisyah pada dirinya sendiri.


Gulali-gulali bening itu seolah-olah sedang berenang di dalam aquarium dengan bentuk yang sejenis tengah mengapung di dinding lorong transparan dari gulali.


Kedua mata Aisyah berbinar-binar senang, pemandangan yang sangat menakjubkan baginya saat memasuki lorong trasparan tersebut.


"Aku baru pertama kalinya melihat hal baru ini, sungguh luar biasa, aku hampir tidak mempercayainya", kata Aisyah.


Aisyah menoleh ke arah cermin kristal ajaib yang masih menempel di kaca jendela kereta, gadis muda itu buru-buru melepaskan sabuk pengamannya sekagi kereta bergerak lamabat.


Pada saat sabuk di lepaskan, kunci pintu terbuka secara otomatis. Aisyah tidak menunggu lama lagi dan mengambil kesempatan itu dengan membuka pintu kereta secepatnya.


"Wahai cermin ajaib, bertahanlah !", ucap Aisyah setengah berteriak keras.


Aisyah lalu meraih cermin kristal ajaib yang menempel di kaca jendela kereta roller coaster dan mengambilnya dengan satu gerakan yang sangat cepat.


Dia menarik segera gagang cermin kristal ajaib yang terbuat dari emas dan membawanya masuk ke dalam kereta gulali sembari menutup pintunya.


"Maaf, maafkan aku, ini salahku, sehingga membuatmu tertinggal di luar, wahai cermin ajaib", ucap Aisyah.


Tampak wajah cermin ajaib itu miring ke samping karena terlalu lama berada menempel di luar kaca jendela kereta roller coaster selama berjam-jam.


Cermin kristal ajaib itu juga tidak menjawab perkataan dari Aisyah dan hanya terdiam kaku, gadis muda itu berusaha mengusap-usap badan cermin ajaib dengan kedua tangannya dan membungkusnya dalam balutan kain tunik yang di pakainya.

__ADS_1


"Oooh cermin ajaib, maafkan aku telah membuatmu seperti ini, oh cermin ajaib, sadarlah !?", ucap Aisyah gelisah.


Tak butuh waktu yang lama, cermin kristal ajaib itu berhasil terjaga dan mulai bergerak-gerak pelan di dalam kain tunik yang membungkusnya.


"Cermin ajaib ! Akhirnya kamu tersadar juga, wahai cermin ajaib !?", ucap Aisyah.


Dia sangat senang melihat cermin kristal ajaib itu kembali bergerak seperti biasanya dan mulai terbang melayang meski gerakannya masih sangat lambat sekali.


"Apa kabar anda, Nona Aisyah ?", tanya cermin ajaib.


"Ooohhh cermin kristal ajaib, aku sangat mencemaskanmu tapi aku bersyukur jika kamu dapat kembali normal", sahut Aisyah.


"Hamba tidak apa-apa, walaupun agak lelah dan pegal karena terlalu lama berada di luar kereta yang bergerak sekencang itu selama berjam-jam, Nona Aisyah", kata cermin ajaib.


"Maafkan aku, telah menyebabkan ini semua terjadi padamu, aku harap kamu baik-baik saja, wahai cermin ajaib", ucap Aisyah menyesal.


"Tidak apa-apa, Nona Aisyah", kata cermin ajaib.


Aisyah tersenyum mendengar ucapan dari cermin kristal ajaib itu dan menarik nafas lega.


Keduanya kembali sibuk memperhatikan pemandangan yang ada di luar kereta gulali roller coaster yang memasuki lorong transparan dari gulali bening itu.


"Kira-kira kita berada dimana sekarang ini, apakah kamu tahu, wahai cermin ajaib !?", tanya Aisyah.


"Hamba sendiri juga tidak paham tempat ini, seperti berada di dalam terowongan tetapi transparan bening dan hampir mirip aquarium, luar biasa dan unik", ucap cermin ajaib.


"Benar yang kamu katakan itu, hanya kita masih belum menemukan jalan keluar dari tempat ini dan masih berputar keliling di area asing, yang kita sendiri tidak tahu dimana tempatnya", kata Aisyah.


"Iya, Nona Aisyah", sahut cermin ajaib.


"Sepertinya kita hanya bisa menunggu ujung dari lorong transparan ini, wahai cermin ajaib", ucap Aisyah lagi.


"Sepertinya memang demikian, kita hanya bisa menunggu kereta gulali ini berhenti karena hamba tidak dapat melakukan apa-apa untuk menghentikan ini semua", ucap cermin ajaib.


"Hmmm..., iya, aku mengerti itu...", ucap Aisyah.


"Itu di luar kemampuan hamba, Nona Aisyah", kata cermin ajaib lalu bersandar di kursi penumpang kereta.


"Tenanglah, aku tidak memaksamu untuk mengubah sesuatu yang ada di dalam dunia mimpi ini, wahai cermin ajaib", kata Aisyah.


"Iya, Nona Aisyah...", sahut cermin ajaib lalu terdiam dan terdengar suara dengkurannya yang cukup keras saat ia beristirahat.


Aisyah yang mendengarkan suara dengkuran cermin ajaib itu lalu menolehkan kepalanya ke arah kursi penumpang di dalam kereta gulali.


Dia melihat cermin kristal berbingkai emas yang sangat cantik itu tengah terlelap di atas kursi penumpang kereta dan tergeletak begitu saja tanpa memperdulikan keberadaan Aisyah di dalam kereta.


"Rupanya cermin ajaib itu tertidur lelah", ucap Aisyah seraya tertawa kecil.

__ADS_1


Kereta gulali bergerak pelan melewati sepanjang rel lintasan terowongan dengan lorong transparan dari gulali bening, dan sangat tenang sekali sehingga Aisyah yang berada di dalam kereta tersebut merasa sangat nyaman saat kereta gulali roller coaster itu tengah melaju di dalam lorong tersebut.


Tampak senyum tergurat di wajah Aisyah dengan perasaan lega ia mulai menikmati perjalanannya melewati terowongan yang mirip seperti aquarium tetapi ini semua gulali isinya.


__ADS_2