Mengubah Takdir Aisyah

Mengubah Takdir Aisyah
Perjalanan Ke Tujuh Mata Air Part VIII...


__ADS_3

Hari telah berganti hari...


Hari ini merupakan hari untuk melanjutkan perjalanan menuju ke mata air keempat setelah beristirahat.


Sejak dari taman fin, kereta terus bergerak selama dua hari penuh menuju Teheran.


Aisyah melajukan kereta rollercoaster gulalinya melewati kembali awan-awan yang ada di atas langit biru.


"Tampaknya hari sudah berganti cerah dan kita akan sampai di Teheran dalam waktu beberapa jam lagi", kata Aisyah.


"Benar, Aisyah..., karena waktu ke Teheran memang cukup lama dari taman fin tetapi kita sudah hampir sampai", sahut Keroshy.


"Kita akan pergi ke Teheran, kemanakah tujuan kita ?", tanya Aisyah.


"Kita akan ke Niavaran", sahut Keroshy.


"Niavaran..., apakah masih jauh dari sini ?", tanya Aisyah.


"Tidak", sahut Keroshy.


"Dan apakah tempat itu sama dengan taman fin ?", tanya Aisyah.


"Hampir sama hanya saja, mata air yang kita cari bersumber dari sebuah kariz yang muncul di Niavaran", sahut Keroshy.


Keroshy lalu menjelaskan kepada Aisyah mengenai Niavaran.


Niavaran ( Persia : اوران ) adalah distrik kelas atas dan makmur di utara Teheran.


Berbatasan dengan Jalan Darband yang rindang dan berkelok-kelok , dapat dicapai dari Tajrish Square , dan dekat dengan Darabad di ujung timur laut dari Greater Tehran.


"Sedangkan kariz adalah jaringan distribusi kanal bawah tanah yang lebih kecil", lanjut Keroshy.


"Kita akan pergi kesana untuk mengambil air yang keluar dari kariz yang merupakan salah satu dari tujuh mata air di Persia", sahut Tabib Naia.


"Berarti masih tinggal tiga mata air yang belum kita kunjungi", kata Aisyah.


"Tenanglah Aisyah, kita pasti akan sampai di semua mata air itu dan kita akan menyelesaikan misi ini dengan cepat", ucap Tabib Naia.


''Dan semoga lancar...", kata Keroshy.


"Iya, dan amien", sahut Tabib Naia.


"Hanya saja penjagaan di Niavaran pasti lebih ketat ketimbang di taman fin", ucap Keroshy.


"Sebaiknya kami yang pergi ke Niavaran dan kalian berdua tetaplah tinggal di kereta ini", ucap Aidl.


"Aduh ! Bagaimana bisa aku tinggal di dalam kereta dan hanya diam menunggu kalian ?", sahut Tabib Naia.


"Naia...", ucap Keroshy sambil mencubit lengan Tabib Naia.


"Apa ? Aku juga ingin mengambil air dari Niavaran dan aku juga ingin melihat bagaimana rupa tempat itu, Keroshy...", kata Tabib Naia.


"Biarkan aku yang membawa kalian bersama denganku ke dalam Niavaran", ucap Aisyah.


"Tidak, Aisyah ! Dan benar yang dikatakan oleh Aidl bahwa kami berdua sebaiknya menunggu di dalam kereta ini saja", sahut Keroshy.


"Tapi Keroshy !?", ucap tabib perempuan itu tidak terima dengan keputusan yang diambil Keroshy.


"Ingat Naia ! Kita sudah menyusahkan Aisyah ketika berada di taman fin dan hampir saja kita semua tertangkap disana", kata Keroshy mencoba mengingatkan.


"Tapi Keroshy...", ucap Tabib Naia memelas.


"Tidak ada tapi-tapi-an Naia ! Kita tunggu disini saja dan jangan membuat masalah !", sahut Keroshy.

__ADS_1


"Oh iya, kalian bisa melihat kedalam Niavaran melalui layar monitor yang ada di kereta rollercoaster gulali ini", kata Aisyah.


Aisyah lalu menunjuk ke arah layar monitor yang berada tepat didepan mereka semua.


"Layar monitor ?", sahut Tabib Naia.


"Benar, kamu tidak perlu repot-repot masuk ke Niavaran karena kamu bisa langsung melihatnya dari layar itu, tabib", kata Aisyah.


"Benarkah ?", ucap Tabib Naia.


Tabib Naia lalu memandangi layar monitor yang ada di dalam kereta.


"Tetapi ini tidak sama jika kita masuk dan melihatnya sendiri bagaimana Niavaran itu aslinya, Aisyah", sahut Tabib Naia protes.


"Mmm...", gumam Aisyah sambil berpikir.


"Tidak seru !", ucap Tabib Naia.


"Baiklah kita akan pergi bersama-sama ke dalam Niavaran dan mengambil mata air itu yang berasal dari Kariz", sahut Aisyah.


Tabib Naia tampak bersemangat lagi dan dia langsung memeluk Aisyah.


"Terimakasih Aisyah ! Aku sangat senang sekali bisa mengikuti perjalanan ke tujuh mata air ini denganmu !", kata Tabib Naia.


"Iya, aku mengerti dan aku juga senang kita semua dapat terus bersama-sama dalam perjalanan ini", sahut Aisyah.


Keroshy hanya tersenyum ketika melihat Tabib Naia dan Aisyah saling berpelukan erat layaknya saudara.


Timbul perasaan terharu di hati Keroshy saat ini karena dia terkadang berpikir bahwa akan tiba waktu dimana mereka semua akan berpisah.


Tak lama kemudian...


Aisyah membawa kereta rollercoaster gulalinya ke area Niavaran.


Mereka menuju sebuah kariz untuk mengambil mata air yang keluar terus menerus dari kariz tersebut.


"Dan aku akan mengambil air dari mata air di kariz itu", sahut Tabib Naia.


"Cepatlah, karena penjagaan di Niavaran lebih ketat dan tidak seperti di mata air sebelumnya", ingat Keroshy kepada yang lainnya.


Aisyah lalu berjalan cepat seraya melambung tinggi menuju sebuah kariz yang muncul di Niavaran.


Dia merendamkan jam antik kuno ke dalam mata air yang ada disebuah kariz.


Seperti biasanya Aisyah harus menunggu jam antik kuno itu.


Namun, tidak saat di kariz ini, jam antik kuno itu lalu muncul kembali keluar dari kariz.


"Ada apa ?", ucap Aisyah.


"Kenapa Aisyah?", tanya Aidl.


"Aku tidak mengerti, kenapa jam antik kuno itu mendadak keluar lagi dari dalam mata air yang ada di kariz itu !?", tanya Aisyah.


"Coba kamu ulangi lagi dan masukkan jam antik kuno itu kedalam kariz, Aisyah !", ucap Aidl.


"Baiklah...", sahut Aisyah.


Aisyah meraih jam antik kuno itu lalu merendamnya lagi ke dalam kariz.


Dia melihat jam antik kuno yang bercahaya terang itu kembali keluar dari dalam kariz dan melayang berputar-putar cepat.


"Lihatlah ! Jam antik kuno itu kembali muncul dari dalam kariz !", ucap Tabib Naia.

__ADS_1


"Kenapa bisa seperti itu ? Dan apa yang terjadi ?", kata Keroshy.


"Coba kamu tahan dengan kedua tanganmu jam antik kuno itu, Aisyah !", saran Aidl.


"Baiklah..., Aku akan menahannya", sahut Aisyah cepat.


Aisyah tergesa-gesa menahan jam antik kuno supaya jam itu tetap berada di dalam mata air kariz.


Terlihat Aisyah berusaha keras menahan badan jam antik kuno itu agar tidak keluar lagi dari dalam kariz.


Dia dibantu Aidl untuk menahan jam antik kuno itu agar tidak keluar dari mata air kariz.


"Ehem...", Tabib Naia berdehem pelan dibelakang Aidl.


Aidl mengacuhkan Tabib Naia dan memaksa tabib perempuan itu kembali berdehem sebanyak tiga kali.


"Ehem... Ehem... Ehem..."


Aidl segera memalingkan mukanya ke arah Tabib Naia.


"Ada apa ?", tanya Aidl bingung.


"Laki-laki pada umumnya di Persia dilarang menyentuh perempuan apalagi anak gadis yang bukan muhrimnya !", sahut Tabib Naia.


"Aku tidak menyentuh Aisyah !?", kata Aidl.


"Lihat tanganmu !", seru Tabib Naia.


Tabib perempuan itu menunjuk ke arah tangan Aidl yang menggenggam erat tangan Aisyah untuk menahan jam antik kuno agar tidak keluar lagi dari kariz.


"Ehk !? Maaf...", sahut Aidl.


"Minggir ! Laki-laki dilarang berdekatan dengan wanita !", ucap Tabib Naia.


"Eh..., iya..., iya...", kata Aidl lalu beranjak dari samping Aisyah.


Tabib Naia dan Keroshy lalu membantu Aisyah untuk menahan jam antik kuno tetap berada didalam air yang ada di kariz.


"Berapa lama kita menahan jam antik kuno itu ?", tanya Tabib Naia.


"Sampai jam antik kuno itu berubah cahayanya", sahut Aisyah.


"Aku lihat hari-hari sebelumnya jam antik kuno ini sudah bercahaya, pada saat di mata air pertama jam antik kuno ini sudah mengeluarkan cahayanya", kata Tabib Naia.


"Iya, tetapi cahayanya setiap kali usai berendam di dalam mata air akan selalu berubah sinarnya", sahut Aisyah.


"Oh, begitu...", kata Tabib Naia.


"Coba lihat Aisyah !", kata Keroshy.


Sinar cahaya yang keluar dari jam antik kuno tiba-tiba lenyap.


"Apa yang terjadi ?", kata Aisyah bertambah bingung serta panik.


"Kenapa sinar cahaya dari jam antik kuno itu lenyap ?", tanya Tabib Naia.


"Mungkinkah kita telah melakukan kesalahan", sahut Aisyah.


"Aku rasa tidak, karena kita hanya mencoba untuk membuat jam antik kuno itu bertahan di dalam air", kata Keroshy.


"Astaga...", ucap Tabib Naia.


Jam antik kuno lalu berputar semakin kencangnya. Dan perlahan-lahan badan jam antik kuno itu berubah menjadi transparan.

__ADS_1


Aisyah sangat terkejut sekali ketika melihat perubahan yang terjadi pada diri jam antik kuno.


Gadis berparas bening itu hanya diam berdiri memandangi ke arah jam antik kuno dengan keheranan.


__ADS_2