Mengubah Takdir Aisyah

Mengubah Takdir Aisyah
Cermin Ajaib milik Aisyah...


__ADS_3

Aisyah beringsut turun dari atas tumpukan bunga-bunga mekar berwarna-warni itu, lalu berdiri memperhatikan tempatnya tadi berbaring.


Dia mengamati tempat itu dengan seksama, membungkukkan tubuhnya pelan ke arah benda berukuran besar itu, melihatnya sembari menyibakkan bunga-bunga bermekaran yang terhampar di atasnya.


"Apakah ini sebuah cermin ? Besar sekali ukurannya ? Apakah suara tadi berasal dari cermin yang besar ini !?", tanya Aisyah seraya mengernyitkan keningnya.


Rasa penasaran mulai menghinggapi Aisyah saat ia melihat cermin besar itu sambil menyingkirkan bunga-bunga mekar yang tersebar di atas permukaan cermin tersebut.


Aisyah mengetuk kaca cermin itu dengan tangannya beberapa kali dan ia melihat pantulan dirinya pada kaca cermin kristal yang berukuran besar itu. Ia menunggu agak lama tetapi tidak ada reaksi dari arah cermin kristal.


"Mmmm... Aku tidak mendengar apa-apa dari arah cermin ini ? Lantas darimanakah asal suara yang memanggilku tadi ?", kata Aisyah.


Lama tidak ada suara menggema yang memanggil namanya, Aisyah lalu duduk kembali ke atas cermin besar kemudian terdiam.


"Sepertinya aku hanya dengar-dengar saja tapi sebenarnya itu cuma ilusiku, mungkin dikarenakan tadi aku habis tenggelam ke dalam pasir hisap dari cokelat", kata Aisyah.


Aisyah mengusap kaca cermin yang tersibak itu kemudian memandanginya, hanya terlihat pantulan dirinya yang sedang duduk di atas cermin sendirian lalu kembali mengedarkan pandangannya ke arah sekitarnya.


"Tapi darimana asal cermin ini ? Bagaimana ia tiba-tiba ada di tempat ini ? Dan cermin ini telah menolongku dari pasir hisap itu, apakah cermin ini punyaku ? Seperti gelang-gelang yang ada di tanganku ini yang muncul dengan sendirinya ?", kata Aisyah pada dirinya.


Tampak sekali jika ia sangat kebingungan dengan yang terjadi padanya, tetapi ia sama sekali tidak menemukan jawaban apa-apa di tempat yang kosong itu, hanya ada hamparan dari manisan cokelat tua dengan batu-batu berserakan yang juga semuanya terbuat dari manisan cokelat.


Aisyah duduk termenung sendirian sembari merenungi kembali setiap kejadian demi kejadian yang ia alami, saat ia terbangun dan mendapati dirinya telah berada di sebuah kota asing ini, kemudian melihat hal-hal aneh saat pertama kalinya di kota ini, mulai dari bangunan-bangunan yang berbentuk aneh, ketika ia bertemu seekor harimau raksasa putih metalik yang membawanya ke taman halus ini dan perjumpaannya dengan sosok berjubah putih yang seperti bayangan semu tetapi dapat berbicara dengannya


Semua itu benar-benar seperti berada dalam dunia mimpi yang penuh misteri tetapi sangat nyata terjadi dan Aisyah alami meskipun ia sulit untuk menerimanya, tetapi ia tahu jika itu memang hal yang ia temui dan ia lihat dengan kedua matanya sendiri.


Aisyah hanya memandangi tempat di dasar taman halus itu, lalu ke arah cermin berukuran besar yang ada di bawahnya kemudian menundukkan kepalanya terdiam.


"Apa kabar Nona Aisyah ?'', suara menggema tiba-tiba menyapanya.


"Eh...!?", gumam Aisyah.


Gadis muda berwajah bening itu amat terkejut ketika mendengar suara menggema yang sedang menyapanya, ia mencari-cari asal datangnya suara itu tetapi lagi-lagi ia tidak menemukannya.


"S--siapa kamu ? Keluarlah !", ucap Aisyah seraya menolehkan kepalanya ke arah samping kanan dan kiri dengan perasaan bercampur aduk kebingungan.


"Apakah anda sudah melupakan hamba, Nona Aisyah ?'', sapa suara itu lagi padanya.


"Iya, tapi siapakah kamu wahai suara ajaib ?", tanya Aisyah.


"Apakah anda benar-benar telah melupakan hamba, nona, hamba adalah sahabat nona", sahut suara menggema itu.


"Sahabat ? Bagaimana aku bisa bersahabat dengan sebuah suara ?", tanya Aisyah semakin kebingungan.


Aisyah memutar tubuhnya ke arah sekitar cermin berukuran besar itu tetapi ia tidak mendapati apa-apa di tempat itu, kosong, dan tidak ada siapapun disana.


Dia berpikir keras meskipun demikian, ia tidak menemukan apapun di sekitar dirinya berada, tidak seorangpun yang terlihat di sebelahnya.


Aisyah sedikit ketakutan karena hal itu, namun ia masih berusaha untuk mempertahankan dirinya di sana dan menunggu suara itu muncul kembali.

__ADS_1


"Benarkah anda telah lupa pada hamba ? Apakah anda juga tidak mengingat kami ? Dan melupakan misi anda untuk membantu jam antik itu, Nona Aisyah ?", tanya suara yang menggema itu.


"Apa yang sedang kamu bicarakan itu wahai suara asing ?'', jawab Aisyah sangat terkejut mendengar suara tersebut.


"Ini hamba, Nona Aisyah ! Lihatlah kemari !", ucap suara menggema itu lagi.


"Eh !?", gumam Aisyah.


"Ya Tuhanku... Nona Aisyah ! Tidakkah anda mengingat hamba ini, kenapa anda begitu mudahnya melupakan saya ?", sahut suara menggema itu lagi-lagi mengejutkan Aisyah.


"Aku benar-benar tidak mengenal kamu ! Lalu siapakah sebenarnya dirimu ?", ucap Aisyah bertambah bingung.


"Ini hamba nona..., ini hamba..., sahabat anda dari Persia...", jawab suara menggema itu lagi.


Suara menggema itu terdengar terisak-isak dan sedikit putus asa ketika mendengar jawaban dari Aisyah yang tidak mengenali dirinya.


"Uhu.. Hu.. Hu.. Hu.. Apa yang sedang terjadi pada anda, Nona Aisyah ? Apakah otak anda sedang bermasalah ? Uhu... Hu... Hu.. Hu...", isak suara yang menggema itu.


"Eh... Apakah kamu menangis ? Kenapa kamu menangis ? Apakah ada yang keliru dari ucapanku ini ?", tanya Aisyah panik.


"Uhuu... Hu... Huuu.. Huuu...", suara itu menangis.


"Hai ! Kenapa tangisanmu semakin kencangnya ? Berhentilah menangis ! Siapakah kamu dan coba kamu katakan padaku siapa sebenarnya dirimu ?", kata Aisyah terkejut mendengar suara itu menangis.


Bukan menghentikan tangisannya, suara itu malah semakin keras menangis dan membuat Aisyah bertambah kebingungan, tidak mengerti.


Bagaimana sesuatu yang tak terlihat dapat menangis seperti itu dan mengajaknya berbicara padanya, Aisyah hanya berpikir keras tetapi ia tidak mengerti.


"Hamba menangis lantaran anda telah melupakan hamba ini, tidakkah anda pahami jika hamba menangisi anda, karena anda telah melupakan hamba, nona ?'', ucap suara yang menggema itu sesenggukkan.


"Melupakan kamu ? Aku benar-benar tidak mengerti denganmu, apalagi mengenal kamu ? Cobalah kamu sadari jika kamu hanyalah sebuah suara menggema saja lalu bagaimana aku dapat mengetahui akan dirimu ?'', kata Aisyah seraya mendongakkan kepalanya ke atas.


"Hamba ini bukan sekedar suara yang menggema saja, nona, hamba ini sangat nyata sekali dan keberadaan hamba ada di dekat, nona", sahut suara menggema itu sedikit frustasi.


"Nyata ? Kamu bilang bahwa dirimu nyata ? Bagaimana bisa kamu mengatakannya wahai suara menggema ?", tanya Aisyah.


"Oh Tuhanku ! Anda benar-benar telah melupakan hamba, apa anda tidak mengingat hamba sama sekali, tentang hamba ?'', sahut suara itu lagi.


"Tidak ! Aku tegaskan jika aku memang tidak mengingatmu sama sekali, cobalah kamu mengerti akan hal itu", kata Aisyah.


"Ini hamba, cermin kristal ajaib yang anda temui di sebuah hamparan taman bunga, Nona Aisyah !", ucap suara menggema itu.


'Eh !? Cermin ?", sahut Aisyah kaget.


Sontak Aisyah melompat dari tempatnya duduk dengan terkejut kaget saat mendengar jawaban suara yang menggema itu lalu gadis muda berwajah bening itu membalikkan tubuhnya ke arah benda berupa cermin besar itu.


Aisyah berdiri termenung sembari memperhatikan benda berukuran sangat besar itu yang di atasnya terdapat tumpukan bunga-bunga bermekaran warna-warni yang beraroma wangi. Gadis itu nyaris tidak mempercayai dengan yang di lihatnya serta di dengarnya itu.


"Cermin ? Apakah kamu sebuah cermin ? Dan kamu sedang berbicara padaku ? Benarkah itu ?'', tanya Aisyah setengah tak percaya.

__ADS_1


"Iya, nona, ini hamba, cermin kristal milikmu, sudahkah anda mengingatnya ?'', sahut suara menggema yang ternyata berasal dari sebuah cermin kristal.


"Oh benarkah itu ? Aku benar-benar tidak percaya akan itu semua jika aku sedang berbicara pada sebuah benda... Dan itu Cermin ! Bayangkan betapa anehnya aku ini ?", ucap Aisyah seraya mengusap kepalanya yang tertutup kain.


"Apakah anda tidak mempercayai yang hamba katakan ini, nona ? Ini hamba, cermin kristal ajaib milik anda !", sahut cermin kristal itu putus asa.


"Benarkah aku memiliki sebuah cermin ajaib dalam hidupku ? Sungguh aku tidak mempercayai ini ?", ucap Aisyah sambil berjalan mendekat ke arah cermin kristal besar itu.


"Benar, Nona Aisyah, hamba adalah cermin ajaib milik anda, bagaimana anda bisa melupakan hamba ?", kata cermin kristal padanya.


"Aku memang tidak percaya itu karena aku sama sekali tidak mengingatnya jika aku memiliki sebuah cermin ajaib", sahut Aisyah.


"Baiklah, maka hamba akan membuktikannya pada anda, nona", kata cermin kristal.


Cermin kristal berukuran besar itu lalu bergerak-gerak sangat kencangnya sehingga bunga-bunga yang ada di atas cermin itu berterbangan ke atas dan memenuhi ruang udara yang ada di sekitar cermin tersebut.


Perlahan-lahan cermin kristal itu berubah berangsur-angsur menjadi sebuah cermin kristal berukuran kecil.


Mendadak cermin kristal ajaib terbang ke arah Aisyah lalu menyentakkan tubuh gadis muda itu ke atas dan memutar-mutarnya di udara sesaat kemudian menurunkan tubuh Aisyah perlahan-lahan ke arah bawah.


"Oh Tuhan ! Ini sungguh sangat luar biasa sekali ! Kamu benar-benar membuatku kagum, wahai cermin ajaib !?", kata Aisyah setengah terpekik.


"Nah, sekarang anda percaya bukan, jika hamba adalah sebuah cermin ajaib kepunyaan anda", kata cermin kristal.


Muncul sebuah wajah berpipi merah dengan hidung yang sangat mancung keluar dari dalam cermin kristal ajaib itu, kemudian tersenyum dengan ramahnya kepada Aisyah.


Tanpa Aisyah sadari jika dia telah memegang ganggang cermin tersebut di tangannya.


"Ya Tuhan... Kamu bisa berbicara denganku ? Dan kamu memiliki wajah ?", tanya Aisyah.


"Yeah, itu benar sekali, nona, sekarang anda percaya bukan ? Jika hamba memang sebuah cermin yang ajaib ?", kata cermin kristal.


"Apakah kamu memang sebuah cermin kristal ajaib ?", tanya Aisyah.


"Benar ! Mengapa ?", sahut cermin kristal itu lagi.


"Mmm... Bisakah kamu mrmbantuku ?", tanya Aisyah.


"Tentu saja, dengan berbesar hati hamba akan membantu anda", jawab cermin kristal.


"Apakah kamu bisa membuat kita keluar dari dasar taman halus ini ?", tanya Aisyah.


"Hmm..., jika hal itu hamba akan mencobanya, nona, hamba akan membuat kita agar keluar dari dalam dasar taman halus ini", jawab cermin kristal.


"Benarkah itu ?", pekik Aisyah dengan mata berbinar-binar senang.


"Tentu, kenapa tidak !? Lihatlah, hamba akan menunjukkannya !", sahut cermin kristal.


"Silahkan... Oh iya, sebelumnya aku ingin mengucapkan terimakasih padamu karena telah menyelamatkan diriku dari bahaya pasir hisap itu, terimakasih", ucap Aisyah.

__ADS_1


"Sama-sama, itu sudah menjadi tugas hamba sebagai sahabat anda, Nona Aisyah", kata cermin ajaib itu tersenyum padanya.


Aisyah yang mendengar jawaban dari cermin kristal itu lalu turut tersenyum senang, ia tidak lagi terlihat bersedih seperti sebelumnya.


__ADS_2