Mengubah Takdir Aisyah

Mengubah Takdir Aisyah
Melakukan Perjalanan...


__ADS_3


Aisyah kembali melanjutkan perjalanan bersama dua orang di atas bunga tulip kuning raksasa setelah dia bertemu tuan agung besar itu.


Bunga kuning tulip raksasa bergerak lamban di atas udara serta melayang diantara awan-awan putih di atas langit.


"Kita akan pergi kemana, Aisyah ?", tanya Tabib Naia.


"Aku sedang mencari jalan menuju ke tujuh mata air", sahut Aisyah.


"Tujuh mata air !?", kata Tabib Naia.


"Apakah kamu tahu tempat itu, tabib ?", tanya Aisyah.


"Aku pernah mendengar kisah ke tujuh mata air di penjuru negeri Persia tetapi aku tidak tahu pasti tempatnya, Aisyah", jawab Tabib Naia.


"Berarti aku harus mencari di setiap sudut negeri ini", kata Aisyah.


"Akan butuh waktu lama untuk kita mencari tempat itu di negeri yang luas seperti Persia ini", lanjut Aidl.


"Tapi kami tidak mengetahui lokasi ke tujuh mata air itu sehingga kami harus mencarinya sendiri", ucap Aisyah.


"Bukankah jam antik kuno milik mu itu sangatlah ajaib, coba kamu tanyakan padanya, Aisyah", kata Aidl.


"Hamba sendiri tidak mengetahui lokasi ke tujuh mata air itu, meski hamba dari Persia namun hamba benar-benar tidak tahu lokasi ke tujuh mata air itu", sahut jam antik kuno.


"Ini semakin sulit dan kita semua tidak tahu lokasi ke tujuh mata air itu", kata Aidl.


"Kenapa kamu tidak menyakannya kepada pria bersurban itu sebelum kita pergi darinya, Aisyah ?", tanya Tabib Naia.


"Tuan agung itu tidak mengatakan secara detail lokasi ke tujuh mata air itu dan dia hanya memberikan petunjuk untuk aku mencarinya tanpa memberitahukan detail lokasi itu", jawab Aisyah.


"Tunggu, aku seperti ingat bahwa ada orang ahli mata air dari negeri Persia ini, dan mungkin saja orang itu tahu kebenaran kisah tujuh mata air yang kamu cari, Aisyah", kata Tabib Naia.


"Benarkah !?", kata Aisyah.


"Iya, orang itu berasal dari Susa bernama Koreshy, tinggal di bangunan beratap ilalang, orangnya sangat sederhana tetapi kekayaan pengalamannya sungguh luar biasa", sahut Tabib Naia.


"Bagaimana kalau kita segera pergi mencarinya di Susa ?", tanya Aisyah.


"Pergi ke Susa !?", lanjut Tabib Naia.


"Mungkin saja kita dapat menemukan informasi penting di sana", kata Aisyah.


"Perjalanan ke Susa sangat jauh sekali dan membutuhkan semalaman untuk sampai ke sana", sahut Tabib Naia.


"Tidak apa-apa, kita harus mencari orang bernama Koreshy itu dan menanyakan kepadanya lokasi yang sebenarnya kepada orang itu", kata Aisyah.


"Aku ragu pada Koreshy, aku takut jika orang itu meminta imbalan atas informasi yang dia berikan kepada kita, Aisyah", ucap Tabib Naia.


"Aku rasa itu sangat wajar, karena dia memberikan informasi penting yang memang kita cari, tabib", kata Aisyah.


"Anggap saja kita membeli informasi khusus darinya dengan menukarkan beberapa koin emas untuknya", sahut Aidl.


"Apakah kamu memiliki koin emas itu untuk sekedar berjaga-jaga, Aisyah ?", tanya Tabib Naia.


"Jam antik kuno ini punya koin emas itu, jangan kuatir dia punya banyak kantung koin emas", kata Aisyah.


"Oh iya, benarkah ?", ucap Tabib Naia sambil tertawa pelan.


"Wahai jam antik kuno perintahkanlah kepada bunga tulip kuning raksasa ini untuk bergerak menuju Susa !", perintah Aisyah.


"Baik, hamba akan memerintahkan kepada bunga tulip kuning raksasa untuk segera pergi menuju Susa", sahut jam antik kuno.

__ADS_1


"Iya, dan aku sarankan untuk lebih cepat agar kita sampai di Susa tidak kemalaman", kata Aisyah.


"Baik, Nona Aisyah", sahut jam antik kuno.


Terdengar suara dari arah jam antik kuno yang melayang di atas bunga tulip kuning raksasa kepada bunga itu lantang.


"KAMU ADALAH TUANKU DAN AKU ADALAH PELAYAN SETIAMU... JAM... JAM ANTIK BERPUTARLAH... !", kata jam antik kuno. "AKU PERINTAHKAN KEPADA MU WAHAI BUNGA TULIP KUNING RAKSASA UNTUK BERGERAK MENUJU SUSA !"


Aisyah melihat bunga tulip kuning raksasa bergerak cepat menuju ke arah barat.


Tujuan mereka kali ini adalah kota Susa di negeri Persia yang luas.


Angin bertiup kencang menerbangkan bunga tulip kuning raksasa yang tengah melayang di atas langit.


Aisyah dan yang lainnya melakukan perjalanan dengan melewati awan-awan di atas langit dengan suasana hati tenang.


Berharap tujuan kali ini ke Susa akan membuahkan hasil yang sesuai harapannya, menemukan informasi dari ke tujuh mata air.


"Apakah lama kita ke Susa ?", tanya Aisyah.


"Kalau dari pusat kota tadi lumayan lama tetapi tidak membutuhkan waktu satu hari ke Susa, mungkin sekitar setengah hari kita sampai di Susa", jawab jam antik kuno.


"Tidak bisakah kamu mempercepat laju dari bunga tulip kuning raksasa ini, wahai jam antik kuno", kata Aisyah.


"Kecepatan yang dimiliki bunga tulip kuning sudah mencapai batas maksimum dan hamba tidak dapat menambahkan kecepatan laju bunga tulip ini, Nona Aisyah", sahut jam antik kuno.


"Sayang sekali padahal kita perlu waktu singkat untuk ke Susa agar perjalanan kita mencari ke tujuh mata air itu menjadi cepat", kata Aisyah.


"Bersabarlah, sebentar lagi kita akan sampai di Susa, Nona Aisyah", saran jam antik kuno.


"Tetapi aku merasa bersemangat untuk mencari ke tujuh mata air itu, wahai jam antik kuno", lanjut Aisyah.


"Tenanglah, Susa tidaklah jauh dari tempat kita berada sekarang dan setengah hari kita akan sampai di sana sebelum malam hari", kata jam antik kuno.


"Hamba pikir itu idea yang bagus buat anda untuk merebahkan badan anda sejenak di atas bunga tulip kuning raksasa, Nona Aisyah", ucap jam antik kuno.


"Iya...", jawab Aisyah. "Hai Aidl ! Tidurlah sejenak ! Karena kita masih setengah hari untuk sampai ke Susa"


"Tidak, aku akan tetap duduk sambil mengamati sekitar kita karena aku khawatir ratu jin itu akan mengejar kita", sahut Aidl.


"Apa !?", kata Aisyah.


Aisyah terburu-buru bangun dari tempatnya berbaring dan duduk menghadap Aidl dengan tatapan serius.


"Apa yang kamu katakan itu, Aidl !?", ucap Aisyah terkejut.


"Bukankah kamu sedang membawa benda pusaka yang merupakan incaran dari ratu jin itu, Aisyah !?", kata Aidl.


"Astaga ! Aku hampir melupakannya !", seru Aisyah.


"Hmmm...", gumam Aidl.


"Aku baru ingat jika aku membawa benda pusaka itu sekarang dan pasti ratu jin itu akan mengejar kita", kata Aisyah sambil menepuk pelan keningnya.


"Nah, Itu yang aku maksudkan dan sekarang kamu mengerti, Aisyah", ucap Aidl.


"Iya, iya, maaf karena aku hampir lalai dan untung saja kamu mengingatkannya, Aidl", sahut Aisyah.


"Hmmm...", sahut Aidl bergumam.


Aisyah lalu menolehkan kepalanya ke arah tabib Naia.


"Tabib Naia !", panggil Aisyah.

__ADS_1


Tampak Tabib Naia yang dipanggil oleh Aisyah sangat terkejut sekali dan ekspresi wajahnya langsung berubah pucat pasi ketakutan.


"A--ada apa Aisyah !?", tanya Tabib Naia.


"Apa kamu tahu penyebab ratu jin itu berubah ? Dan apakah kamu tahu yang menyebabkannya menjadi seperti itu ?", tanya Aisyah.


"A--ku hanya menyarankan kepadanya untuk segera menemui tuan agung besar itu...", sahut Tabib Naia.


"Kamu memberi saran padanya ?", ucap Aisyah tertegun.


"I--iya...", sahut Tabib Naia.


"Astaga !?", sahut Aidl tak percaya.


"M--maafkan aku...Tapi aku benar-benar tidak tahu jika perempuan yang bernama Bilqis itu adalah sosok bangsa jin dan merupakan ratu jin...", kata Tabib Naia.


"Kamu tahu jika dia bukan bernama Bilqis dan dia telah membohongi kita, kau tahu itu, tabib", ucap Aisyah.


"A--aku sungguh tidak tahu jika ternyata dia berbohong", lajut Tabib Naia.


"Dan tahukah kamu bahwa dia hanyalah memanfaatkan kita semua", kata Aisyah.


"Ti--tidak ! Aku benar-benar tidak tahu jika dia adalah ratu jin !", sahut Tabib Naia menyesal.


Semua terdiam saat Tabib Naia itu menjerit, terlihat jelas bahwa tabib itu sangat putus asa dengan sikapnya.


"Aku menyesal telah menyebabkan keributan yang dilakukan oleh ratu jin itu...", ucap Tabib Naia.


Dia mengusap air mata penyesalan yang turun dari kedua matanya yang basah berlinang.


"A--aku hanya bermaksud membantunya untuk mendapatkan yang dia inginkan dan mengembalikannya ke dunianya tetapi aku tidak tahu jika dia berbohong...", isak Tabib Naia.


Aisyah tidak berkata apapun lagi dan hanya daim memandangi Tabib Naia yang terisak-isak sedih.


Tidak ada yang mengira dari tujuan ratu jin yang menyamar menjadi sosok Ratu Bilqis.


Aisyah sendiri bahkan tidak menyadarinya, dia tidak menyalahkan Tabib Naia karena dia telah merasakan hal yang mencurigakan saat masih berada di istana emas itu.


Terutama ketika Aisyah melihat burung garuda putih yang terikat kakinya dengan rantai emas di dalam istana emas.


Aisyah sudah merasa curiga melihat burung garuda itu.


Dia berpikir bagaimana mungkin seekor burung garuda putih terikat kakinya oleh rantai emas sendiri sedangkan tidak ada seorangpun di dalam istana emas selain ratu jin itu.


"Sudahlah, semua sudah terjadi...", sahut Aisyah sambil menghela nafas panjangnya.


"Maafkan aku, Aisyah... Dan aku sungguh tidak menyangka ratu jin itu telah memanfaatkan kita semua...", kata Tabib Naia.


"Iya, aku mengerti, tabib", jawab Aisyah.


"Aku kira jika dia menemui tuan agung besar itu maka dia dapat kembali ke negerinya, ternyata aku salah", kata Tabib Naia.


Tabib Naia lalu menyeka air matanya yang membasahi wajahnya, dia masih menundukkan kepalanya dengan rasa penyesalan yang dalam.


Dia juga berkata pada Aisyah dengan sesenggukkan.


"Maafkan aku atas apa yang telah aku lakukan..."


Aisyah kembali menghela nafas panjangnya lalu terdiam menerawang jauh ke atas langit tanpa menjawab ucapan dari Tabib Naia.


Suratan takdir memang tidak dapat di ubah seperti maut, jodoh serta rejeki, tidak ada yang bisa mengubah takdir Tuhan.


Keputusan Tuhan mutlak adanya tetapi hanya kita yang harus berusaha untuk mengubah nasib kita agar takdir buruk tidak mendekati kita, diberi umur panjang untuk melihat kesuksesan, diberi rejeki berupa kekayaan pengalaman untuk kebaikan dan diberi jodoh untuk kita sayangi serta kita jaga hatinya.

__ADS_1


Aisyah memandangi awan-awan yang bergerak lamban disekitarnya ketika bunga tulip kuning raksasa yang dia naiki bersama dua rekannya tengah bergerak melewati negeri Persia menuju Susa.


__ADS_2