
Lingkaran berputar melingkar membuat kepala Aisyah pusing sekali bahkan ia tidak sanggup menahan rasa sakitnya.
Dia merintih sembari memegangi kepalanya, rasa nyeri menusuk-nusuk kepala Aisyah dan menyebabkan gadis itu berguling-guling di dalam lingkaran tersebut.
Ingatan Aisyah datang silih bergantian secara cepat bagaikan kilatan cahaya, semakin menambah pusing dan rasa sakit di dalam kepalanya.
"Nona Aisyah, kenapa dengan anda ?", tanya cermin ajaib terperanjat kaget.
Cermin kristal ajaib melihat Aisyah yang merintih kesakitan seraya memegangi kepalanya dan bergerak kian-kemari tak menentu. Cermin ajaib berusaha mendekati Aisyah meski ia tidak dapat menenangkan gadis itu.
Dia hanya bisa melihat Aisyah yang kesakitan tanpa bisa menolongnya lalu ia teringat dengan obat cahaya yang dia berikan kepada Aisyah saat berada di dasar taman halus.
"Oh iya, hamba pernah memberikan Nona Aisyah pil cahaya, mungkin itu dapat menyembuhkan Nona Aisyah dengan cepat", kata cermin ajaib.
Cermin kristal ajaib itu terbang menghampiri Aisyah kemudian ia masuk ke dalam saku tunik yang dikenakan gadis muda itu.
Dia mencari ke dalam saku tetapi ia tidak menemukan apa-apa di dalam saku tersebut.
Terlihat cermin ajaib itu menyembul keluar dari dalam saku dan mengintip keluar, cermin itu seperti sedang berpikir lalu ia terbang menuju saku lainnya.
"Mungkin hamba dapat mencari di saku lainnya karena hamba tidak menemukan apa-apa di dalam saku barusan", ucap cermin ajaib.
Cermin kristal ajaib itu masuk kembali ke dalam saku lainnya dan ia menemukan sebuah kantung yang terbuat dari kain sutra tenunan tangan yang mewah dengan benang-benang halus dari anyaman emas di dalam saku tunik Aisyah.
"Oh iya, bukankah pernah hamba memberikan kantung ajaib kepada Nona Aisyah ternyata nona selalu membawanya kemana-mana", kata cermin ajaib.
Cermin kristal ajaib lalu menerbangkan kantung kain itu da membuka tali yang melilit kantung kain milik Aisyah.
Keluarlah dua pil cahaya serta kumpulan botol dari dalam kantung kain yang ajaib itu dan beberapa butiran-butiran kristal bahkan banyak barang yang Aisyah masukkan ke dalam kantung kain itu.
"Banyak sekali barang yang ada di dalam kantung kain itu, apakah Nona Aisyah selalu membawa semuanya !?", ucap cermin ajaib terpana.
Tampak dua pil bercahaya sangat terang benderang diantara benda-benda yang keluar melayang dari dalam kantung kain sutra tenunan tangan.
"Itu dia dua pil cahaya yang hamba pernah berikan kepada Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.
Cermin kristal ajaib lalu terbang keluar dari saku tunik Aisyah menghampiri dua pil cahaya dan segera menaruhnya ke atas badan cerminnya.
Terbang mendekati Aisyah yang merintih kesakitan di dalam lingkaran berputar.
"Nona Aisyah minumlah pil cahaya ini, mungkin dapat meredakan rasa sakit di kepala anda", ucap cermin ajaib.
Aisyah tidak menjawab ucapan cermin kristal ajaib itu dan masih terlihat berguling-guling di dalam lingkaran yang berputar-putar itu.
"Oh tidak, Nona Aisyah tidak mendengarnya, lebih baik mencari cara untuk memasukkan pil-pil cahaya ini ke dalam mulut nona", ucap cermin ajaib.
Cermin kristal ajaib itu lalu mengeluarkan jurus andalannya yaitu cahaya berwarna-warni yang terang, menyinari tubuh Aisyah yang bergulingan di dalam lingkaran.
Kedua pil cahaya perlahan masuk ke tubuh Aisyah dan berpendar menyelubungi seluruh tubuh gadis muda itu.
Tidak butuh lama rasa sakit yang hinggap di kepala Aisyah perlahan mereda dan ia mulai dapat bersikap tenang setelah dua pil cahaya masuk ke dalam tubuhnya.
"Bagaimana keadaan anda sekarang, Nona Aisyah ?", tanya cermin ajaib.
"Mmm... Aku merasa agak baikan...", sahut Aisyah.
"Syukurlah, hamba terpaksa masukkan kedua pil cahaya tersebut sekaligus ke dalam tubuh anda karena hamba melihat anda kesakitan dan terus-menerus merintih, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.
"Emmm, iya, aku mengerti...", kata Aisyah pelan.
"Tapi bagaimana rasanya tubuh anda sekarang, apakah lebih baikan, Nona Aisyah ?", tanya cermin ajaib dengan nada cemas.
"Hmmm... Lumayan..., aku merasa rasa sakit di kepalaku agak berkurang", sahut Aisyah masih terlihat lemah.
__ADS_1
"Yah, hamba mengerti, tidak secepat itu untuk sembuh dari rasa sakit yang teramat sangat, butuh waktu untuk menyembuhkannya, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.
"Iyah... Tapi kepalaku tidak terasa pusing seperti tadi, wahai cermin ajaib", kata Aisyah.
"Hamba terpaksa memberi anda dua pil cahaya, tentu kepala anda langsung sembuh dan tidak terasa sakit lagi", ucap cermin ajaib.
"Ternyata pil cahaya ciptaanmu sangat mujarab sekali, tapi tidak bisakah pil itu berkhasiat mengembalikan ingatanku, wahai cermin ajaib ?", tanya Aisyah.
"Mengembalikan ingatan anda !? Hamba rasa tidak mungkin karena pil cahaya ciptaan hamba hanya untuk pengobatan bukan memiliki daya sehebat itu, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.
"Hmmm..., sayang sekali, padahal pil cahaya ciptaanmu sangat mujarab menyembuhkan rasa sakit di kepalaku ini", kata Aisyah.
Lingkaran itu masih terus berputar-putar tanpa henti tetapi kali ini tidak membuat Aisyah sakit kepala lagi.
"Oh, iya, hamba juga meminta maaf pada anda telah membongkar kantung kain sutra milik anda, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.
"Kantung kain !?", tanya Aisyah seraya mengerutkan dahinya.
"Benar, hamba tadi mencari pil cahaya dan menemukan kantung kain di dalam saku anda serta mengeluarkan isinya, maaf atas kelancangan hamba, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.
"Oh, tidak apa-apa, aku tidak akan menyalahkanmu karena hal itu, justru aku harus berterimakasih kepadamu yang selalu menolongku, wahai cermin ajaib", sahut Aisyah terharu.
"Maafkan hamba harus membuka isi kantung kain tersebut, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.
"Sungguh, aku tidak marah dan itu bukan sebuah rahasia meski itu rahasia tetapi karena niatmu ingin mbantuku maka aku tidak mempersalahkannya, wahai cermin ajaib", ucap Aisyah.
"Ini kantung kain sutra milik anda, hamba telah memasukkan semua barang milik anda ke dalam kantung ini lagi, silahkan anda menyimpannya kembali, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.
"Iya, baiklah, aku akan menyimpannya ke dalam saku pakaianku, apa tidak ada yang kamu butuhkan lagi, wahai cermin ajaib", kata Aisyah.
"Tidak, Nona Aisyah", sahut cermin ajaib.
Cermin kristal ajaib lalu memberikan kantung kain sutra itu kepada Aisyah kembali dan gadis muda itu menerimanya sembari tersenyum.
Aisyah memandangi kantung kain sutra yang ada di tangannya lalu menimang-nimangnya pelan.
"Iya !? Ada apa !?", tanya Aisyah.
Aisyah mendongakkan kepalanya ke arah cermin yang tengah melayang di atas kepalanya.
"Hamba tadi menemukan beberapa botol keramik di dalam kantung kain sutra itu sewaktu hamba mencari pil-pil cahaya, apakah anda mengetahui fungsi dari botol-botol itu, Nona Aisyah ?", tanya cermin ajaib.
"Botol keramik ? Apakah itu ?", tanya Aisyah terkejut.
"Iya, botol keramik yang jumlahnya sangat banyak hampir kira-kira ratusan terdapat pada kantung kain sutra di tangan anda, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.
"Benarkah ? Aku sendiri tidak tahu jika aku menyimpan botol-botol keramik itu dan bagaimana bisa jumlahnya sebanyak itu ?", tanya Aisyah kaget.
"Hamba juga tidak tahu, bukankah kantung kain sutra itu adalah pemberian dari hamba untuk menyelamatkan jam antik kuno saat ia rusak", kata cermin ajaib.
"Jam antik kuno !?", tanya Aisyah bingung.
"Oh iya, iya, anda masih belum mengingat apa-apa, tapi mungkin juga botol-botol keramik itu milik jam antik kuno", ucap cermin ajaib.
Cermin kristal ajaib itu lalu terbang ke arah kantung kain sutra yang ada di genggaman tangan Aisyah dan mendekati kantung tersebut.
"Hmm..., sepertinya botol keramik itu bukan sekedar botol biasa tapi jika itu pemberian dari jam antik kuno yang terkenal hebat maka botol-botol keramik itu pasti ada khasiatnya, NonaAisyah", ucap cermin ajaib.
"Benarkah itu ?", ucap Aisyah lagi seraya meperhatikan kantung kain sutra di tangannya.
"Bagaimana kalau kita melihat botol keramik yang semuanya sama persis itu, Nona Aisyah ?", tanya cermin ajaib kepada Aisyah.
Aisyah hanya bergumam pelan seraya memandangi kantung kain sutra itu.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan melihatnya, mungkin botol tersebut berguna buatku", kata Aisyah.
"Iya, hamba rasa itu adalah ide yang baik, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.
"Aku akan membuka kantung kain sutra ini dan mengeluarkan botol keramik itu", kata Aisyah.
Aisyah mengambil botol keramik dari dalam kantung kain sutra tenunan tangan yang mewah dengan benang-benang halus dari anyaman emas.
Dia melihat botol yang ada di tangannya dengan seksama, dan menengok ke dalam kantung kain tapi ia tidak melihat apa-apa di dalam kantung kain itu, kosong dan gelap.
"Aku hanya mendapatkan satu botol keramik ini saja dan aku tidak melihat benda-benda lainnya di dalam kantung ini, wahai cermin ajaib", kata Aisyah seraya memperlihatkan isi kantung kain sutra kepada cermin kristal ajaib.
"Tidak ada benda-benda lainnya, benarkah iti ?", tanya cermin ajaib terperanjat kaget.
"Coba kamu lihat sendiri di dalam kantung kain sutra ini !", kata Aisyah.
"Iya, iya, hamba akan melihatnya, bagaimana mungkin tidak ada benda lainnya di dalam kantung itu, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.
"Lihatlah sendiri !", kata Aisyah.
Cermin kristal ajaib lalu menghampiri Aisyah dan menengok ke dalam kantung kain sutra tersebut.
"Benar, kosong, dan tidak ada apa-apa di dalam kantung tersebut", ucap cermin ajaib.
"Aku hanya mendapatkan satu botol keramik ini, dan aku tidak melihat apapun di dalam kantung ini lalu kemana benda-benda yang lainnya ?", kata Aisyah heran.
"Oh iya, hamba yang menciptakannya, tentu saja kantung ini ajaib, hamba lupa, Nona Aisyah", sahut cermin ajaib.
"Terus kemana perginya benda-benda yang kamu katakan tadi, ratusan botol keramik ? Aku tidak melihatnya, wahai cermin ajaib", ucap Aisyah.
"Tentu saja, ada di dalam kantung tersebut karena isi kantung ini bisa bermacam-macam sesuai yang anda inginkan, Nona Aisyah", ucap cermin kristal ajaib.
"Oh iya, aku dapat mengambil sesuatu didalam kantung ini, benda yang kuinginkan, benarkah itu ?", tanya Aisyah takjub.
"Iya, anda bisa mendapatkan barang yang anda inginkan tetapi dalam batas tertentu, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.
"Aku akan mencobanya... Mmm.... Tapi apa ya !?", kata Aisyah sambil bergumam.
"Terserah anda, kalau bisa barang yang berguna, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.
"Baiklah, aku akan mengambil barang yang aku inginkan itu, wahai cermin ajaib", kata Aisyah.
Aisyah lalu memasukkan tangannya ke dalam kantung kain sutra seraya membayangkan benda yang diinginkannya dan diucapkan dalam hatinya.
Sepasang terompah muncul dari kantung kain sutra dan sedang ia genggam di tangannya.
"Terompah ?", kata Aisyah terkejut.
"Benda apakah itu, Nona Aisyah ? Hamba baru melihatnya, apakah itu ?", tanya cermin kristal ajaib.
"Lapik kaki yang dibuat dari kulit, karet atau kayu yang dilengkapi dengan tali kulit sebagai penguat, atau kayu bertudung bulat, tempat ibu jari kaki dan jari kaki tengah menjepit", sahut Aisyah menerangkan arti terompah.
"Fungsi terompah itu untuk apa, Nona Aisyah ?", tanya cermin ajaib.
"Untuk dipakai di kaki sebagai alas kaki, nanti aku akan menunjukkannya kepadamu tetapi aku akan membuka botol keramik ini dulu, apa isinya !?", kata Aisyah.
"Benar, dan hamba rasa itu ide yang baik buat anda, Nona Aisyah", jawab cermin ajaib.
Aisyah lalu membuka tutup botol keramik yang ada di genggamannya dan ia melihat isi di dalam botol itu.
"Isinya cairan yang bercahaya, apakah aku harus meminumnya ?", tanya Aisyah.
"Cobalah...", sahut cermin ajaib.
__ADS_1
Aisyah lalu menegak habis isi di dalam botol keramik itu.
Tiba-tiba tubuh Aisyah berpendar-pendar terang serta perlahan-lahan menghilang, dengan cepat Aisyah menyambar gagang cermin ajaib dan ikut pergi menghilang dari lingkaran tersebut.