Mengubah Takdir Aisyah

Mengubah Takdir Aisyah
Harimau Raksasa Putih Metalik


__ADS_3

Aisyah duduk memandangi taman halus yang penuh manisan serta permen-permen yang beraneka macamnya, disampingnya duduk seekor harimau besar. Keduanya tampak menikmati suasana yang indah itu dengan hati bahagia.


"Apakah manisan-manisan dan permen itu dapat di makan ?'', tanya Aisyah.


"Manisan-manisan itu dapat di makan oleh siapapun, tapi jangan kebanyakan karena tidak baik untuk kesehatan", jawab harimau besar itu.


"Benarkah ?'', tanya Aisyah.


"Terutama kesehatan gigi mu, akan sangat mengganggu apabila kamu sakit gigi, tidak nyaman dan ditambah lagi jika di tempat ini tidak ada dokter gigi yang modern", ucap harimau itu berbaring santainya disamping Aisyah.


"Tidak bisakah kamu mengobati gigi yang sakit ? Bukankah kamu adalah seekor harimau besar yang berkultivasi, pasti kamu dapat menyembuhkan orang yang sakit", kata Aisyah.


"Aku bukan tabib atau dokter, aku ini hewan harimau yang berkultivasi menjadi makhluk suci untuk mencapai kesempurnaan, aku tiidak dapat menyembuhkan orang atau pasien seperti tabib atau dokter !?'', ucap harimau besar itu.


"Tak bisakah kamu membuat pengecualiannya dan mengubah kemampuanmu itu ?", tanya Aisyah.


"Aku hanya seekor hewan tanpa kemampuan tapi jika kamu ingin bertemu tabib atau dokter di tempat ini maka aku akan membawamu kepada seorang ahlinya", sahut harimau besar itu.


"Baiklah, nanti kita menemuinya tapi sekarang aku ingin menikmati suasana dengn santai di taman halus ini", kata Aisyah sambil berbaring di atas hamparan rerumputan yang terbuat dari manisan arum manis yang lembut seperti kapas.


Bukankah memang manisan arum manis terbuat dari gula yang mengurai menjadi manisan yang bentuknya seperti kapas yang sangat ringan.


Aisyah memandang ke arah atas langit yang cerah di taman halus itu, tetapi ia melihat ada sesuatu yang sangat aneh di atas sana dan ia baru menyadarinya setelah berada di taman halus itu.


"Mmm... Apakah langit di area taman halus berbeda dengan di tempat lain di dunia alam mimpi ini, kota asing ini ?'', tanya Aisyah sambil bergumam.


"Maksud ucapan Nona Aisyah ?'', harimau itu balik bertanya padanya.


Aisyah lantas menunjuk ke arah atas dengan jari tangannya, ke arah langit yang cerah dan indah berkilaun di terpa oleh sinar cahaya Matahari.


Langit di atas mereka tampak berbeda serta berwarna merah muda dengan pelangi yang menghias angkasa raya, dan kumpulan mega yang berbentuk donat.


"Apakah memang dunia alam mimpi seperti ini selalu berubah-ubah setiap saatnya ? Tapi, aku tidak melihat di area kota asing itu, langitnya berwarna merah muda, hanya saja di kota asing juga nampak berbeda karena aku melihat setiap bangunan disana berubah-ubah serta berkamuflase setiap menitnya bahkan aku juga melihat jika papan reklame yang seperti layar televisi dapat mengeluarkan orang dari dalam !?'', kata Aisyah.


"Ini yang disebut alam mimpi, alam fantasi, dan semuanya akan selalu tidak sama dengan dunia nyata yang terkadang penuh mimpi dan manusianya masih setengah bermimpi tapi tidak pernah mau untuk bekerja keras mencapai impian mereka", ucap harimau besar.


"Seharusnya kita membangun mimpi kita menjadi kenyataan, dan mengejar mimpi-mimpi kita ? Tapi sebaiknya terus tetap bermimpi agar memiliki harapan yang kuat untuk hidup lebih baik", kata Aisyah.


"Apakah kamu memang berniat untuk selamanya tinggal di tempat ini ?", tanya harimau besar itu.


"Ini adalah duniaku dan kenapa aku harus kembali pulang jika pada kenyataannya ini adalah rumahku, kediamanku ?'', jawab Aisyah.


"Apa kamu tidak mengingat apa-apa di tempat asalmu ?'', tanya harimau besar itu.

__ADS_1


"Tidak, karena memang tidak ada yang perlu aku ingat dari tempat manapun sebab ini memang tempat tinggalku, dan seharusnya aku berada, kenapa aku harus mengingat sesuatu yang bukan bagian dari hidupku !?'', ucap Aisyah.


"Hmmm....", gumam harimau besar itu.


"Mengapa ?'', tanya Aisyah.


''Tidak apa-apa, aku merasa kamu tidak berkata jujur", ucap harimau besar itu.


"Jujur ?'', gumam Aisyah sambil memiringkan kepalanya.


"AUUUUUMMMM....!!!'', harimau itu menggeliat sambil berguling-guling di atas hamparan rumput yang terbuat dari manisan arum manis yang lembut.


Harimau itu menggelengkan kepalanya dengan cepat sembari mengibaskan ekornya yang panjang dan besar itu kemudian menggosok-gosokkan badannya ke atas hamparan rumput yang terbuat dari arum manis.


Hewan buas itu lalu menggaruk kepalanya dengan cakar-cakarnya yang tajam serta menggoyangkan ekornya dan duduk berbaring kembali di atas rumput dari arum manis, harimau besar itu melirik ke arah Aisyah.


"Tapi aku melihat dari dalam kedua matamu bahwa kamu sedang merindukan sesuatu !?'', ucap harimau besar itu.


"Merindukan sesuatu ? Apa yang sedang kamu bicarakan wahai harimau besar ? Jangan bercanda terlalu berlebihan !?'', sahut Aisyah.


"Percaya atau tidak, memang seperti itu yang aku rasakan, kamu tengah merindukan tempat asalmu...", ucap harimau besar itu seraya menatap lurus ke arah depan.


"Apa itu benar yang kamu ucapkan ? Bagaimana kamu dapat mengetahuinya sedangkan aku sendiri tidak merasakan apa-apa !? Bahkan mengingatnya aku tidak !?'', sahut Aisyah.


"Aku adalah hewan yang memiliki pancaindera yang kuat dan peka dibanding manusia, dan penciumanku sangatlah tajam serta kecepatanku melebihi hewan manapun di alam ini, bahkan taring-taringku mampu meluluh lantakkan tulang manusia dalam sekejap serta cakar-cakarku mampu merobek langit", ucap harimau itu.


"Aku juga tidak bermaksud untuk menakutimu, Nona Aisyah, dan aku hanya berkata yang sebenarnya pada mu, percayalah, aku tidak bermaksud menakuti mu", ucap harimau itu.


"Iya, aku tahu itu, tapi pada kenyatannya aku memang tidak mengingatnya sedikitpun, bahkan kenangan untuk diingat aku tidak memilikinya !?'', ucap Aisyah.


"Apa kamu benar-benar tidak mengingat apapun ?'', tanya harimau itu.


"Haruskah aku berbohong ?'', jawab Aisyah.


"Setidaknya kamu mengingat hal yang paling kamu benci dalam hidupmu, Nona Aisyah", ucap harimau besar itu.


"Hal yang di benci ya ?", gumam Aisyah.


"Iya, jika ada hal yang tidak kamu sukai atau yang paling kamu benci dalam hidupmu, aku rasa kamu akan dengan cepat untuk mengingatnya, semuanya dengan baik dan mudah bagimu", ucap harimau besar itu.


"Di benci ? Hal yang tidak aku sukai ?'', ucap Aisyah.


"Benar sekali, hal yang paling membuatmu terus mengingatnya sampai kamu sendiri tidak dapat lepas dari rasa itu dan membuatmu tidak dapat melupakan hal tersebut, seakan-akan hal itu telah melekat dan mendarah daging di tubuhmu, itulah hal yang dirasakan manusia sebuah perasaan yang bisa membuatmu mengingat akan suatu hal dan tidak dapat lepas darimu meskipun sampai kamu mati...", ucap harimau besar itu.

__ADS_1


"Apakah itu mampu membuatku mengingat kembali ?'', tanya Aisyah.


"Setidaknya hal yang paling kamu ingat-ingat sampai kamu sendiri tidak dapat melupakannya, dalam setiap detik nafasmu, setiap kamu melangkahkan kedua kakimu, satu langkah demi langkah, satu helaan nafas demi helaan nafas ketika kamu hendak tidur, kamu langsung mengingatnya", ucap harimau itu.


"Tapi... Sayangnya, aku tidak mengingat hal yang perlu aku ingat !?'', ucap Aisyah.


"Hal yang dibenci contohnya, kamu membenci makan makanan busuk atau kawan yang menggodamu di sekolah atau kamu membenci sebuah lagu atau kamu tidak menyukai televisi atau kamu benci dirimu yang pelupa dan pikun !", sahut harimau besar itu mencoba menerangkan kata arti suatu hal yang perlu diingat.


"Makanan busuk ? Apa seperti tahu bau ?", tanya Aisyah.


"Yah, iya ! Seperti itu ! Tahu bau contohnya !?'', ucap harimau besar itu bersemangat.


"Televisi ? Aku tidak suka menonton televisi !", sahut Aisyah.


"Benar ! Seperti televisi yang tidak kamu sukai, programnya, atau siarannya, atau cerita dalam televisi atau benda yang disebut dengan televisi !'', ucap harimau besar itu.


"Tapi aku melihat televisi itu, di kota asing itu, di sebuah papan reklame yang dapat mengeluarkan orang dari dalam televisi dan orang itu berubah menjadi sangat besar sekali dan semakin besar seperti halnya badanmu yang berukuran besar, wahai harimau besar", sahut Aisyah.


"Astaga... ?", gumam harimau besar itu terbengong.


"Apakah seperti itu ? Hal yang kita perlu ingat ?", ucap Aisyah.


"Apakah kamu sedang membicarakan hal yang baru kamu lihat ?'', jawab harimau besar itu.


''Benar sekali, aku menceritakan tentang televisi reklame yang ada di kota asing itu, hanya itu yang aku ingat, sebuah televisi berukuran raksasa dengan manusia di dalamnya sedang berbicara padaku, apa itu benar ?'', kata Aisyah.


"Televisi reklame ? Hanya televisi itu yang diingatnya ?'', gumam harimau besar itu.


Harimau besar dengan bulu-bulu halus serta berwarna putih metalik mengkilat itu hanya tertegun saat mendengar ucapan Aisyah, gadis muda berwajah bening itu benar-benar tidak mengingat apapun.


Aisyah hanya mengingat hal-hal yang baru dia temui di tempat ini, di dalam alam mimpinya setelah terkena racun dari anemon laut itu, bahkan ia tidak mengingat dan telah melupakan semua kejadian yang ia alami sebelumnya dan ia tidak ingat darimana datangnya dirinya.


Gadis muda pemberani itu telah melupakan semua kenangan yang ada didalam benaknya, jiwanya, dan semua kenangan yang ia lewati setiap harinya, seakan-akan semuanya telah terlupakan untuk selama-lamanya.


"Apakah itu sangat menyakitkan, Nona Aisyah ?'', ucap harimau besar itu jatuh iba melihat kondisi Aisyah yang hilang ingatan.


"Menyakitkan ? Apa yang kamu bicarakan wahai harimau ?'', tanya Aisyah.


"Apakah kehilangan seluruh ingatan itu sangat sakit dan menyakitimu ?'', tanya Aisyah.


"Tidak, wahai harimau besar, tidak ada yang sakit karena aku memang tidak kehilangan ingatan dan tidak ada yang perlu aku ingat", sahut Aisyah tersenyum manis dengan tatapan teduhnya.


"Oh Tuhan ! Ini sangat tidak adil sekali bagimu, Nona Aisyah yang pemberani, seharusnya rasa luka itu bukanlah sesuatu yang harus kamu terima, dan ini benar-benar tidak adil !?'', ucap harimau raksasa itu lalu menitikkan air matanya.

__ADS_1


Hewan itu menangis terharu melihat perjuangan Aisyah, seorang gadis muda yang polos dan berkeyakinan yang sangat kuat, dan telah menggerakkan hati harimau besar itu.


Harimau raksasa yang merupakan salah satu hewan terbuas di dunia itu dapat menangis, dan harimau itu menangis karena melihat penderitaan yang di alami oleh Aisyah, gadi muda penuh semangat serta pemberani, gadis yang memiliki keberanian besar yang tidak terkalahkan.


__ADS_2