Mengubah Takdir Aisyah

Mengubah Takdir Aisyah
BOCAH KECIL BAGIAN 2


__ADS_3

Bocah kecil dengan topi bulat dari rambut domba bergerak melayang lalu mengarahkan tangannya kembali ke kereta gulali roller coaster.


Cahaya api membara memancar dari tangannya yang kecil.


Terdengar lagi letusan keras saat cahaya api membara itu menghantam kereta gulali roller coaster dan melambungkannya kembali tinggi ke udara.


BLAR... BLAR... BLAR...


Kereta gulali roller coaster berputar-putar lalu jatuh ke bawah tetapi ruangan di tempat itu hampa udara sehingga tidak mengakibatkan kereta menghantam dasar tempat itu.


Loket pertama mereka disambut oleh kehadiran bocah kecil yang unik dengan mengenakan topi bundar dari rambut domba.


Wajahnya dingin tanpa senyuman, hanya menatap kosong ke arah kereta di depannya.


Tubuh mungilnya bercahaya putih dengan sinar yang terus terpancar disekitar tubuh bocah kecil itu.


Bocah kecil terbang melayang lalu melambung tinggi, diam, tidak bergerak sedikitpun dari posisinya berada.


Kembali terpancar cahaya api dari kedua tangannya yang mengarah lurus ke kereta gulali roller coaster, sebelum cahaya api mengenai kereta gulali lagi, seberkas cahaya berwarna-warni keluar melesat menghantam cahaya api dari bocah kecil itu.


Benturan kedua cahaya terang yang memancar itu menyebabkan ledakan hebat yang mampu menggoyangkan area jalan berkelok, tempat mereka sekarang berada.


DUAAAAR... DUAAAAR... DADAAR...


Ledakan hebat itu tidak mempengaruhi tubuh bocah kecil bahkan nyaris tidak terluka sama sekali.


Bocah kecil mengangkat tangannya yang bercahaya api membara dan bersiap-siap hendak menyerang ke arah kereta gulali roller coaster yang dikendarai Aisyah.


Sesosok tubuh keluar meluncur dari dalam kereta gulali yang terbalik melayang di udara lalu berdiri tegak menghadap bocah kecil itu.


Aisyah memandang lurus ke bocah kecil dan menatapnya tajam.


Tampak raut kekesalan tergambar jelas di wajah Aisyah kepada bocah kecil dihadapannya.


"Apa maumu ?", tanya Aisyah.


Bocah kecil itu hanya tersenyum tipis dan membalas menatap tajam ke arah Aisyah seraya mengarahkan tangannya yang bercahaya api.


Dia tidak menjawab pertanyaan dari Aisyah lalu melontarkan cahaya api itu ke arah Aisyah.


Aisyah bertindak cepat dengan memerintahkan kepada gelang batu pirus yang menghiasi pergelangan tangannya.


"Aku perintahkan padamu wahai gelang batu pirus untuk keluar dan berubahlah menjadi perisai pelindungku !", ucap Aisyah.


Tangan Aisyah menjulur tepat ke arah bocah kecil yang mengarahkan cahaya api kepada dirinya.


Terlihat cahaya api yang mirip roket meluncur cepat menuju Aisyah, dan hampir mengenai tubuh gadis muda berwajah bening itu.


Pada saat bersamaan muncul perisai pelindung yang menghadang laju cahaya api dari bocah kecil yang membara.


BLAR... BLAR.. BLAR...


Hantaman cahaya api mengenai perisai pelindung yang menutupi tubuh Aisyah yang ada digenggaman tangan gadis muda itu.


Cahaya api membara sangat panas serta menghantam keras pada perisai pelindung dari batu pirus milik Aisyah dan sempat membuat gadis tersebut kewalahan saat menghadapi datangnya cahaya api yang meluncur deras ke arah perisainya.


Aisyah mencoba menahan api membara itu dengan sekuat tenaganya. Dan tubuhnya hampir terjatuh akibat serangan yang mengenai perisai pelindungnya, daya dorong cahaya api memiliki kekuatan yang sangat besar sehingga membuat Aisyah kesulitan menghadapinya.


Seberkas cahaya terang seperti warna pelangi keluar dari arah kereta gulali milik Aisyah kemudian meluncur cepat mendorong perisai pelindung Aisyah sehingga membantu gadis muda itu untuk menahan laju cahaya api membara dari bocah kecil itu.


BLAR... BLAR... BLAR...


Ledakan kembali terdengar dari arah Aisyah dan bocah kecil yang saling berhadapan. Dan membuat keduanya terpental jauh karena ledakan dari senjata mereka masing-masing.


Cermin kristal ajaib mengubah bentuk badannya menjadi berukuran besar dengan cepat melesat ke arah Aisyah yang jatuh melayang di udara, menangkap badan Aisyah.


BRUK...

__ADS_1


Tubuh Aisyah terbaring tepat di atas cermin kristal ajaib yang berukuran besar dan melayang rendah menurunkan tubuh gadis berwajah bening itu.


Kaki Aisyah menyentuh lantai ruangan pintu kelima dan turun dari atas badan cermin ajaib yang terbang rendah.


HUP !


Aisyah melompat lalu akhirnya mendarat ke atas lantai dan berdiri kembali, sebelum dia melangkahkan kakinya, tiba-tiba datang serangan berupa cahaya api seperti pukulan beruntun ke tubuh Aisyah.


DASH... DASH... DASH...


Tubuh Aisyah yang terkena hantaman cahaya api membara dari bocah kecil itu terdorong kuat ke belakang dan membentur gelembung yang menutupi dinding masuk jalan berkelok di pintu kelima.


Aisyah berusaha menahan dorongan cahaya api membara yang menghentak-hentakkan tubuh Aisyah hingga terpental dan jatuh ke bawah.


"Nona Aisyah !", teriak cermin ajaib.


Cermin kristal ajaib itu langsung mengubah tubuhnya kembali semula lalu melesat cepat ke arah Aisyah yang terduduk menahan kesakitan akibat serangan cahaya api membara yang mengenai tubuhnya.


Dia hanya menatap cermin ajaib tanpa bersuara dengan salah satu tangannya menggenggam erat perisai pelindung yang terpasang di pergelangan tangannya.


"Nona Aisyah !", ucap cermin ajaib seraya terbang menghampiri Aisyah.


"Uhuk !", mulut Aisyah mengeluarkan darah segar akibat hantaman cahaya api membara yang mengenai tubuhnya. "Uhuk... Uhuk...", sambungnya seraya mengusap mulutnya dengan kain tunik yang dia kenakan.


"Nona Aisyah ! Bertahanlah !", pekik cermin ajaib panik saat melihat Aisyah terbaring duduk di bawah dengan menahan rasa sakitnya.


"Aku tidak apa-apa, hanya terluka sedikit nanti akan sembuh sendirinya...", sahut Aisyah lemas.


"Oh tidak, luka dalam anda sepertinya sangat parah sekali, sebaiknya kita pergi dari sini, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.


"Bagaimana !? Bagaimana kita keluar dari tempat ini, wahai cermin ajaib !? Katakanlah padaku !", kata Aisyah seraya berdiri dari bawah dengan menahan luka dalam di tubuhnya.


"Aih, hamba juga tidak tahu, Nona Aisyah !?", sahut cermin ajaib kebingungan.


"Kita tidak bisa pergi dari tempat ini dan melanjutkan perjalanan kita karena adanya bocah kecil yang menghalangi jalan ini", kata Aisyah sembari memegangi dadanya yang terasa pedih.


Dari arah kejauhan, tempat Aisyah dan cermin ajaib berada.


Tampak bocah kecil bertopi bundar dari rambut domba itu terbang melayang di udara dan berputar-putar memancarkan cahaya putih yang sangat terang.


Putaran cahaya putih itu semakin lama semakin cepat dan seperti gasing yang berputar kencang.


Aisyah terbang pelan menuju kereta gulali roller coaster seraya menatap tajam ke arah gasing yang ada dihadapannya serta bersiap-siap kembali dengan mengarahkan perisai pelindung miliknya ke depan menutupi tubuhnya dan kereta gulali yang terbalik.


Putaran gasing bercahaya putih yang memancar terang itu bergerak perlahan-lahan ke arah Aisyah kemudian dengan cepatnya menghantam perisai pelindung dari batu pirus.


BLAR... BLAR... BLAR...


Cahaya putih yang menyilaukan mata itu tepat mengenai kembali badan perisai pelindung batu pirus milik Aisyah.


Tubuh Aisyah tiba-tiba memancarkan cahaya pelangi yang sangat indahnya dan tanpa disadari oleh gadis muda itu kedua matanya berubah menjadi berwarna putih.


Pada saat bersamaaan tubuh Aisyah melesat tinggi ke atas dan meliuk-liuk cepat memancarkan kilatan pelangi dengan perisai pindung bintang dari batu pirus di tangan kanannya.


BLASH...


Suara angin mendadak muncul dari tubuh Aisyah menyebabkan suara gaduh lalu gadis itu terbang cepat ke arah bocah kecil yang berdiri melayang di udara dengan kedua tangan mengeluarkan cahaya api.


Aisyah menatap tajam dengan kedua matanya yang berwarna putih lalu mengarahkan tubuhnya menabrak tubuh bocah kecil itu.


Bocah kecil itu terkena hantaman Aisyah sehingga dia terdorong jauh beberapa meter dan tersungkur di jalan.


BRUK...


Tubuh bocah kecil itu bangkit kembali tanpa butuh waktu lama serta berbalik dan bergerak ke arah Aisyah.


Melancarkan serangan berupa cahaya api membara secara beruntun kepada gadis berparas bening itu tanpa ampun.

__ADS_1


Aisyah yang menyadari serangan dari bocah kecil bertopi bundar dari rambut domba melompat tinggi seraya memutar tubuhnya menghadap ke arah bocah kecil itu lalu mengayunkan perisai pelindung bintangnya yang terbuat dari batu pirus.


Perisai itu memancarkan cahaya terang yang sangat kuat serta mampu merobek topi bundar dari rambut domba yang dikenakan bocah kecil itu, cahaya api yang keluar dari tangan bocah kecil yang membara itu akhirnya menghantam cahaya putih dari perisai pelindung batu pirus.


DUAR... DUAR... DUAR...


Ledakan api berkobar-kobar di udara setelah kedua cahaya yang sama-sama kuat itu saling berhantaman dengan kerasnya.


Aisyah dengan kedua matanya yang berubah putih menatap lurus ke arah bocah kecil dihadapannya kemudian dia berbicara pada bocah itu dengan suara parau.


"Siapa kamu bocah kecil ? Kenapa kamu menyerangku tanpa alasan !?", tanya Aisyah.


Bocah kecil itu hanya tersenyum tipis seakan mengajak berteka-teki, dia tidak menjawab pertanyaan Aisyah dan bersiap kembali melancarkan serangan cahaya apinya yang berbahaya.


Aisyah terperanjat kaget melihat reaksi yang ditunjukkan oleh bocah kecil itu padanya, bukan sebuah jawaban yang menyenangkan melainkan tantangan yang tidak diinginkan oleh Aisyah yaitu bertempur.


"Sejatinya aku tidak menginginkan pertempuran diantara kita karena sangat memalukan untukku melawan bocah kecil seperti mu", kata Aisyah parau.


Bocah kecil itu tidak menjawab ucapan Aisyah, dia hanya meresponnya dengan mengangkat kedua tangannya yang bercahaya api membara.


Menatap tajam ke arah Aisyah seraya menyunggingkan sebuah senyuman.


Aisyah terlihat tidak senang dengan sikap bocah kecil itu yang kembali menantang dirinya untuk bertempur lagi.


Kedua mata putih Aisyah berkilat-kilat marah lalu dia mengulang kembali ucapannya pada bocah kecil itu.


"Katakanlah siapa dirimu yang sebenarnya karena aku tidak ingin melukai dirimu ! Dan aku ulangi lagi pertanyaanku. Siapakah kamu ?", tanya Aisyah dengan kedua mata putihnya.


Bocah itu lagi-lagi tidak menjawab pertanyaan Aisyah kemudian melontarkan serangan ke arah Aisyah dengan cahaya api membaranya.


Aisyah akhirnya tidak segan-segan melawan bocah kecil itu.


Sebelum dia mengarahkan kembali perisai pelindungnya yang berbentuk bintang yang memancarkan cahaya terang yang sangat tajam.


Aisyah mengulang lagi ucapannya kepada bocah kecil itu sebelum dia melancarkan serangannya.


"Aku ulangi lagi padamu, bocah kecil. Siapakah dirimu ? Dan kenapa kamu berusaha menyerangku ?", ucap Aisyah dengan bertanya pada bocah kecil itu.


Tidak ada jawaban dari bocah kecil itu bahkan terlihat dari raut wajahnya jika bocah kecil itu tertawa mengejek Aisyah.


"Hmm... Baiklah kalau memang itu keputusanmu maka aku tidak akan segan melawan mu dan menghentikan mu, bocah kecil !", kata Aisyah dengan suara paraunya.


Aisyah langsung mengarahkan perisai pelindungnya yang berbentuk bintang serta bercahaya terang benderang ke arah serangan bocah kecil dihadapannya.


Terjadi lagi benturan yang sangat luar biasa dari kedua cahaya yang berbeda itu ketika kedua cahaya saling melesat cepat sehingga meledak dahsyatnya.


Hembusan angin kencang muncul akibat benturan keras yang keluar dari kedua serangan cahaya yang datangnya dari Aisyah dan bocah kecil itu.


Angin langsung menerpa tubuh Aisyah tetapi tidak mempengaruhinya bahkan tidak membuat tubuh gadis muda itu bergeming sedikitpun.


Diam mematung dengan kokohnya di tempatnya berdiri.


Angin yang berhembus kuat itu mengaburkan pandangan kedua mata Aisyah sehingga dia tidak dapat melihat keadaan didepannya dengan sangat jelas.


Samar-samar terlihat sosok tubuh bergerak maju diantara hembusan angin yang berterbangan kencang itu.


Aisyah terdiam menatap tajam dengan kedua mata putihnya ke arah sosok tubuh yang bergerak pelan.


Muncul bocah kecil dengan tubuh yang terlihat membayang serta bercahaya berpijar-pijar redup berjalan terhuyung-huyung keluar dari hembusan angin yang bertiup kerasnya.


Tubuh bocah kecil itu berubah menjadi transparan saat berdiri dihadapan Aisyah, dengan menjulurkan tangannya ke arah depan, dia melambai-lambaikan tangannya yang berubah transparan lalu menghilang lenyap dari pandangan Aisyah.


Aisyah hanya berdiri tertegun ketika dia melihat bocah kecil itu lenyap seketika dari tempat itu.


Gadis muda berparas bening dengan kedua mata yang masih berwarna putih itu tersentak kaget setelah mengalahkan bocah kecil tersebut, timbul perasaan bersalah di hati Aisyah tetapi sudah menjadi tugasnya untuk melawan susuatu yang berbahaya dan mengancam keselamatan dirinya.


Untuk melanjutkan kembali perjalanannya menyelesaikan tugas misi dari pintu kelima selanjutnya, dan ini merupakan tanggung jawab Aisyah untuk mengembalikan waktu kembali berputar seperti sediakala.

__ADS_1


__ADS_2