Mengubah Takdir Aisyah

Mengubah Takdir Aisyah
Perjalanan Ke Tujuh Mata Air Part IX...


__ADS_3


Aisyah hanya memandangi jam antik kuno didepannya yang berubah transparan itu dengan perasaan kacau serta gelisah.


Dia tidak mengerti saat melihat jam antik kuno itu berubah seperti itu.


"Apa yang mesti aku lakukan sekarang ? Kenapa jam antik kuno menjadi tak terlihat ?", tanya Aisyah.


"Mungkin itu pengaruh dari mata air itu dan membuat jam antik kuno milikmu berubah transparan", sahut Keroshy.


"Tetapi ini tidak seperti biasanya karena perubahannya badan jam antik kuno sangat berbeda dan terbilang mengejutkan, Keroshy", kata Aisyah.


"Kita sebaiknya segera pergi dari Niavaran ini sebelum penjaga keamanan disini menangkap kita, Aisyah", ucap Tabib Naia.


"Benar, Naia yang kamu katakan itu, kita lebih baik segera angkat kaki dari Niavaran sebelum tertangkap", sahut Keroshy.


"Baiklah..., aku akan pergi dari Niavaran dan membawa jam antik kuno ini", kata Aisyah.


Aisyah mencoba meraih jam antik kuno yang terbang melayang di atas kariz.


Namun, pada saat Aisyah hendak meraih jam antik kuno itu, tangan Aisyah menembus ke dalam badan jam antik kuno yang transparan.


"Oh tidak ! Kenapa aku tidak dapat meraih jam antik kuno itu !?", ucap Aisyah kebingungan.


"Tentu saja, kamu tidak dapat mengambil jam antik kuno itu karena badan jam antik itu berubah tembus pandang, Aisyah", sahut Tabib Naia.


"Bagaimana ini ? Aku tidak dapat membawa jam antik kuno pergi dari sini...", kata Aisyah.


"Cobalah dengan memakai kain pembungkus jam antik kuno tadi, mungkin saja kamu dapat mengambilnya, Aisyah !", lanjut Keroshy.


Aisyah lalu menoleh ke arah selembar kain yang ada di salah satu tangannya.


"Baiklah, aku akan mengambil jam antik kuno itu dengan kain pembungkus ini", kata Aisyah.


Aisyah lalu menggunakan kain pembungkus itu dan menutupkannya ke badan jam antik kuno yang berubah tembus pandang.


Usaha Aisyah membuahkan hasil dan jam antik kuno itu berhasil dia raih dan dia dapat memegangnya dengan kedua tangannya.


"Ayo, kita pergi dari Niavaran ini !", kata Aisyah kepada ketiga temannya.


Mereka berempat lalu berlari cepat meninggalkan Niavaran, tempat munculnya sebuah kariz yang mengeluarkan mata air tanpa henti-hentinya.


Aisyah bergerak cepat menuju ke arah kereta rollercoaster gulalinya.


Mereka berempat lalu masuk ke dalam kereta dan melanjutkan kembali tujuan perjalanan mereka ke mata air selanjutnya.

__ADS_1


Kereta rollercoaster gulali bergerak lamban di atas langit dengan hamparan awan-awan putihnya.


"Kita akan pergi kemana setelah ini, Keroshy ?", tanya Aisyah.


"Ke danau merah, Aisyah", sahut Keroshy.


"Danau merah ? Dimanakah itu letaknya, Keroshy ?", tanya Aisyah penasaran.


"Di Tehran, daerah perbatasan, namanya danau urmia", sahut Keroshy.


"Tetapi danau Urmia bukankah termasuk danau asin ? Tidak ada mata air yang keluar disana !?", tanya Tabib Naia.


"Tidak juga sebelum kita mencobanya", jawab Keroshy dengan ekspresi wajah datar.


"Mencobanya !?", ucap Tabib Naia. "Apa tidak salah yang kamu katakan itu, Keroshy !?", sambungnya.


"Tidak, aku rasa itu adalah mata air kelima yang merupakan tujuan kita selanjutnya dan aku yakin itu", sahut Keroshy tanpa ragu.


"Tapi...", kata Tabib Naia bimbang.


"Kita akan pergi ke danau Urmia selanjutnya dan kita akan mencobanya disana", kata Aisyah.


"Baiklah, jika kamu yakin akan hal itu maka kita akan pergi ke danau Urmia sekarang juga", sahut Tabib Naia.


"Kita tidak akan pernah tahu jika kita tidak mencobanya", ucap Keroshy.


Aisyah menggerakkan tuas kereta rollercoaster menuju ke Tehran yaitu ke danau Urmia.


Tidak butuh waktu lama kereta yang dinaiki oleh Aisyah dan ketiga temannya telah sampai di Tehran.


Terlihat sebuah danau berwarna merah darah yang berada dibawah mereka tengah menggenang luas.


"Danau apakah itu, Keroshy ? Kenapa airnya berwarna merah seperti darah ?", tanya Aisyah.


"Itu yang disebut danau Urmia", sahut Keroshy.


"Entahlah, kami sendiri tidak tahu kenapa danau Urmia itu berwarna merah darah, Aisyah", kata Tabib Naia.


"Ini benar-benar fenomena langka dan aku baru melihatnya sekarang", sahut Aisyah.


"Danau Urmia sangat berbeda dari danau-danau yang ada di negeri Persia dan memiliki ciri khas yaitu berwarna merah dan airnya baru berubah akhir-akhir ini", kata Keroshy.


"Benarkah ? Hal yang luar biasa sekali dan itu sangat mengagumkan", lanjut Aisyah.


"Bagaimana kalau kita turun sekarang ke bawah sana ?", tanya Aidl.

__ADS_1


Aisyah lalu menganggukkan kepalanya pelan dan menarik tuas kereta menuju ke arah danau Urmia yang terletak dibawah.


Kereta rollercoaster gulali bergerak perlahan turun dan mendarat ke area danau Urmia yang ada di Tehran.


"Apakah kamu akan melompat ke atas danau merah itu, Aisyah ?", tanya Keroshy.


"Tentu saja, karena aku harus merendamkan jam antik kuno ini ke dalam air danau Urmia", sahut Aisyah.


"Tidak bisakah kamu merendamnya disekitar pinggir danau Urmia ini tanpa harus terbang ke atas danau merah itu, Aisyah", kata Tabib Naia.


"Aku tidak bisa hanya mengapungkan jam ini saja karena kata tuan agung besar itu, aku harus merendam jam antik kuno ini ke dalam ketujuh mata air", sahut Aisyah.


"Tetapi akan sangat berbahaya sekali jika kamu pergi ke tengah-tengah danau Urmia karena danau itu terkenal misterius", kata Tabib Naia.


"Iya, benar, Aisyah, aku juga berpendapat sama dengan Naia, sebaiknya kamu cukup membasuhnya dengan air dari danau Urmia tanpa harus merendamnya di tengah-tengah danau merah", ucap Keroshy.


"Tidak, aku tidak bisa melakukan saran kalian karena aku harus merendamnya ke dalam air danau merah", sahut Aisyah.


"Baiklah..., terserah kepadamu, Aisyah", kata Tabib Naia.


"Biarkan aku yang menemanimu pergi ke tengah-tengah danau Urmia itu, Aisyah", ucap Aidl.


"Itu adalah idea yang sangat baik, dan aku setuju jika kamu turut menemani Aisyah ke danau Urmia", sahut Tabib Naia.


"Benar, Aidl, dan kami akan merasa tenang jika kamu pergi menemani Aisyah ke tengah-tengah danau merah itu", ucap Keroshy.


Aisyah dan Aidl melambung tinggi ke atas danau merah serta melayang tepat di tengah-tengah danau Urmia.


"Aku akan memasukan jam antik kuno ini ke dalam air danau Urmia, dan aku berharap akan ada perubahan yang lebih baik dari ini", kata Aisyah.


"Berhati-hatilah, karena danau Urmia ini terkenal sangat misterius dan kita tidak pernah tahu yang ada didalam danau merah ini", ucap Aidl.


"Iya, aku tahu itu dan aku akan mencoba untuk berhati-hati, Aidl", kata Aisyah.


"Hati-hatilah, Aisyah ! Dan tetaplah waspada !", ucap Aidl mengingatkan.


Aisyah menganggukkan kepalanya pelan lalu bergerak turun ke arah danau Urmia.


Dia melepaskan pembungkus jam antik kuno dan memasukkan jam antik itu ke dalam air danau Urmia.


Tampak jam antik kuno itu bergerak turun ke arah danau merah dan masuk perlahan-lahan ke dalam air berwarna merah darah itu.


Tenggelam lalu tidak terlihat lagi keberadaan jam antik kuno itu di permukaan air danau Urmia.


Aisyah beserta Aidl hanya memandangi badan jam antik kuno yang tenggelam di dalam danau Urmia dengan airnya berwarna merah darah.

__ADS_1


Mereka melayang di atas tengah danau Urmia dan menunggu dengan sabar jam antik kuno yang berada didalam danau.


__ADS_2