Mengubah Takdir Aisyah

Mengubah Takdir Aisyah
Rumah...


__ADS_3

Aisyah memasuki ruangan kamar tidur pribadi dirumah, menutup pintu kamar serta menguncinya tanpa mengeluarkan suara gaduh. Duduk, bersandar lalu terdiam sesaat.


Tak lupa ia mengeluarkan jam antik kuno dari dalam saku tuniknya, lalu dengan ekspresi datar ia memandangi jam antik kuno ditangannya lekat-lekat.


"Apakah aku harus menghentikan perjalanan waktu ini ?", kata Aisyah.


"Kenapa nona ? Apakah nona telah menyerah ?", tanya jam antik kuno terbangun.


"Tidak ada dalam kamusku kata menyerah wahai jam antik kuno !", kata Aisyah lalu menyadarkan kepalanya.


"Kenapa nona ingin berhenti ?", kata jam antik kuno.


"Perjalanan waktu ini aku rasa semakin lama semakin sangat berbahaya wahai jam antik kuno !", kata Aisyah.


"Jika nona menyerah hamba mengerti tapi hamba tidak akan menyerah nona karena hamba harus bisa menemukan cara untuk kembali kewujud asliku !", kata jam antik kuno lalu terbang melayang.


"Hufh...!?", desah Aisyah.


Aisyah membuka kedua matanya dan menoleh pelan kearah jam antik kuno yang sedang melayang diatasnya seraya menyentuh jam antik kuno itu dengan jari telunjuknya.


Senyuman Aisyah terasa hambar, cemas dan mungkin saja ia menginginkan semua ini cepat berakhir.


"Mengapa...? Mengapa kamu sangat ingin menemukan asal muasalmu wahai jam antik kuno ? Tidak bisakah kamu hanya sebagai jam ajaib saja untukku ?", kata Aisyah pelan.


"Bukan..., bukan begitu nona, jika hamba tidak segera menemukan wujud hamba setelah terbangun selama lima ratus tahun...!?", kata jam antik kuno ragu-ragu.


"Iya..., teruskanlah...", kata Aisyah.


"Maka hamba akan terjebak selamanya didalam jam antik kuno lagi nona, dan jiwa hamba akan musnah !", kata jam antik kuno.


Aisyah tertegun menatap lurus kearah jam antik kuno tanpa berkedip, sedikit sulit untuk mencerna perkataan jam antik kuno yang terdengar mustahil untuk ia wujudkan tapi ia kembali sadar jika memang ini adalah cara untuk menolong jam antik kuno, ia harus segera bersemangat lagi.


Bangun dari duduknya dan kembali tersenyum seraya menatap tajam kearah jam antik kuno lalu berkata, "Aku tidak menyerah wahai jam antik kuno, aku hanya ingin kamu memiliki semangat kuat untuk melanjutkan perjalanan waktu ini kembali !"


"Lalu mengapa nona menginginkan berhenti tadi ?", kata jam antik kuno tidak mengerti akan sikap tuannya itu.


"Semangat harus digali dari dalam hati terdalam wahai jam antik kuno ! Aku ingin mendengarnya langsung dari dirimu !", kata Aisyah.


"Maksud nona ?", kata jam antik kuno tercengang.


"Kita akan berperang wahai jam antik kuno ! Tanpa kita sadari munculnya kita dialam dimensi waktu dimasa lalu memicu perperangan antara manusia dengan bangsa jin !", kata Aisyah.


"Perang ?", kata jam antik kuno tersentak.


"Iya...! Apakah kamu tidak melihatnya dan menyadarinya wahai jam antik kuno ?", kata Aisyah lalu berdiri tegak.


"Tuan Agung itu sedang memerangi kalian kaum bangsa jin ! Aku merasakan tuan besar itu sedang menghimpun kekuatan besar !", kata Aisyah.

__ADS_1


"H-hamba tidak berkeinginan perang terjadi nona ! Hamba..., hamba hanya ingin kembali kewujud asli hamba !? T-tidak ada perang ! Tidak ! Hamba tidak menginginkannya !", kata jam antik kuno gelisah.


"Tapi saat waktu itu datang...", kata Aisyah seraya menatap tajam kearah jam antik kuno.


Aisyah menghentikan ucapannya dan bergeming, tanpa mengeluarkan suara lalu meraih jam antik kuno itu.


"Saat wujudmu kembali semula wahai jam antik kuno, perang itu akan segera terjadi dan tak terelakkan lagi !", kata Aisyah.


"Bagaimana mungkin nona ?", kata jam antik kuno panik.


"Kita tidak menyadarinya sedari tadi, jika kita harus menemukan cara untuk membuatmu kembali kewujud asalmu itu tandanya kita telah membuat tuan agung itu mengetahui keberadaan kita !", kata Aisyah.


"Apakah itu artinya kita telah memicu kewaspadaan tuan besar itu akan kehadiran bangsa jin !", kata jam antik kuno.


"Benar sekali !", kata Aisyah. "Itu alasanku mengapa aku ingin menghentikan ini semua wahai jam antik kuno !"


"Astaga ?", kata jam antik kuno lesu.


"Jika kita terus baku hantam dengan tuan agung itu bukannya kita menyulut api amarah kaum bangsa manusia !", kata Aisyah.


Jam antik kuno lalu terdiam dan terbang melayang keatas meja belajar Aisyah yang berada didepan jendela kamar.


Menatap keluar rumah tanpa bergerak, entah apa yang terlintas dibenak jam antik kuno itu saat mendengar penjelasan dari Aisyah padanya.


Suara kicau burung terdengar dari halaman rumah Aisyah yang asri, terasa kenyamanan dan ketenangan dihati saat menengok halaman penuh taman bunga anggrek yang indah.


"Hamba akan menghentikan perjalanan waktu ini nona dan menerima kutukan untuk tetap tinggal didalam wujud jam ini !", kata jam antik kuno.


"Emm...!?", Aisyah bergumam pelan.


"Hamba akan menerimanya !", kata jam antik kuno.


Aisyah berjalan kearah jam antik kuno yang sedang berada didepan jendela kamar sambil berdiri sejajar disampingnya.


"Ini rasa ujian kita untuk menghadapi takdir hidup wahai jam antik kuno meski terasa berat untuk menerimanya tapi harus kita jalani !", kata Aisyah kelu.


"Hamba tahu nona !", kata jam antik kuno.


"Apakah tidak ada cara lain untuk menghindari pertempuran ini ?", kata Aisyah seraya menghela nafas pelan.


"Hamba tidak tahu nona tapi setiap kami bertemu pasti pertempuran tidak terelakkan !", kata jam antik kuno.


"Aku juga heran kenapa tuan agung itu begitu keras memusuhi banga jin yang tidak bersalah ?", kata Aisyah memejamkan kedua matanya perih.


"Entahlah nona, hamba hanyalah bangsa jin biasa yang tidak memiliki kekuasaan tertinggi didunia ini dan tidak berambisi menguasai bangsa manusia !", kata jam antik kuno sedih.


"Aku tahu kamu terpaksa melawannya karena keadaan yang telah memaksanya !", kata Aisyah pedih.

__ADS_1


"Tapi hamba telah mengambil keputusan untuk menerima kutukan ini, mungkin jika hamba menerimanya sebagai bentuk ujian dan hukuman karena keteledoran hamba maka hamba akan menerimanya nona !", kata jam antik kuno bergetar.


"Aku mengerti...!", kata Aisyah tertunduk lesu seraya menahan rasa perih yang teramat dalam dihatinya.


Aisyah hanya ingin pertempuran tidak terjadi antara manusia dengan bangsa jin dan bisa dihindarkan karena peperangan hanya meninggalkan luka dan karma yang buruk untuk semua, baik yang ditinggalkan maupun yang telah tiada.


Tangan Aisyah mengepal erat menahan goncangan teramat dalam yang menyakitkan hatinya harus mengalah menerima takdir ini, tubuhnya terasa gemetar hebat. Aisyah tidak mampu berkata-kata dan menahan airmatanya yang akan tumpah membasahi wajahnya.


Aisyah berjanji jika harus mengalah ia akan menghentikan perjalanan waktu ini untuk menghindari pertempuran terjadi antara manusia dengan bangsa jin tetapi jika ia melihat kesalahan dari kaumnya maka ia akan melanjutkan pertempuran ini sampai selesai apapun resiko yang harus ia hadapi nantinya.


Hari di masa Aisyah datang telah berganti menjadi malam, ia sendiri tidak bisa menemui babanya meski telah kembali pulang kerumah.


Aisyah terbang melayang menuju ketempat babanya berada, ia melihat babanya sedang duduk bersandar sambil menonton televisi. Ia ingat jika acara kesukaan babanya ditelevisi diputar pada jam saat ini.


"Apa kabarmu baba ?", kata Aisyah bergumam pelan seorang diri.


Aisyah tahu jika babanya tidak akan bisa mendengar ucapannya atau melihat kehadirannya disini, dirumah ini. Ia menghampiri babanya yang sedang asyik menonton televisi.


Baba terlihat tertawa senang saat menonton televisi sambil menikmati camilan disampingnya. Tawanya terdengar sangat renyah dan wajahnya begitu cerah, Aisyah tidak sanggup mengubah wajah yang begitu bahagia itu.


Seandainya ia tidak menghentikan tujuan utamanya melakukan perjalanan waktu ini maka ia tidak mampu lagi untuk menghentikan pertumpahan darah yang akan terjadi antara bangsa jin dan manusia.


"Selamat malam baba ! Aisyah tidak bisa menemuimu sekarang, tapi Aisyah berjanji akan segera pulang dan menyelesaikan kuliah Aisyah !", kata Aisyah.


Masih terlihat baba yang tertawa senang ketika menonton acara kesukaannya ditelevisi. Aisyah menyentuh kedua kaki ayah tercintanya itu untuk memberi rasa hormat padanya, ia tahu jika ia akan menghadapi pertempuran yang tak terelakkan meski ia berusaha menghindarinya dan ia tidak tahu bagaimana nasibnya nanti dalam peperangan ini.


Kalah atau menang, hanya Sang Maha Kuasa Pemilik Arsy dimuka bumi ini yang mengetahui rahasianya.


"Aisyah meminta restu darimu baba..., restuilah puterimu ini baik suka maupun duka...dalam setiap langkah kakinya, jaga diri baba dirumah !", kata Aisyah.


Aisyah terlihat menundukkan kepalanya didepan kedua kaki ayah tercintanya untuk meminta doa restu serta keselamatan hidupnya.


Suasana diruangan ini mendadak berubah menjadi sangat hening dan hikmat, waktu terasa berhenti berputar. Kesyahduhan terasa diseluruh ruangan ini saat Aisyah memberi hormat kepada babanya, ayah tercintanya.


Hormat dari Aisyah yang telah berubah menjadi gadis yang sangat kuat dan mandiri bukan menjadi Aisyah yang manja dan kekanak-kanakan lagi. Aisyah yang sudah tumbuh besar dan mulai belajar dewasa menghadapi hidupnya.


"Maafkan Aisyah yang selama ini selalu merepotkan baba dan membuat baba lelah menghadapi sikap Aisyah ! Hari ini Aisyah datang kerumah dan memberi hormat pada baba !", kata Aisyah. "Terimalah hormat Aisyah, baba !"


Jam antik kuno yang melihat pemandangan dihadapannya itu tidak mampu menahan tangisannya dan tak terasa ia menangis menjadi-jadi seraya mengeluarkan suara keras seperti bunyi bel. Ia lalu pergi dari ruangan ini karena tak kuasa menahan rasa haru yang ada dihatinya.


Sebenarnya ia tidak ingin mengalah pada bangsa manusia yang dianggapnya kejam telah membuatnya terkurung didalam sebuah jam saku antik kuno ini dan terkunci rapat seperti kematian didalam kotak kayu bidara.


Jam antik kuno merasakan jiwanya yang tersiksa dan terluka karena siksaan kutukan yang kejam dari seorang tuan agung besar, ia tahu bahwa dirinya telah menyinggung tuan besar itu dan terpaksa menerima kutukan kejam ini tapi saat ia melihat Aisyah dari bangsa manusia yang begitu baik dan sangat penuh kasih sayang padanya, ia mengubah cara pandangnya terhadap bangsa manusia.


Ada ketenangan didalam hatinya yang sangat terasa mengisi lembut direlung hati jam antik kuno, meski ia hanya sosok sebuah benda mati saat ini tapi ia masih makhluk ghaib ciptaan Tuhan yang memiliki hati dan perasaan serta budi yang tinggi.


Hanya peradaban yang membedakan dirinya yang merupakan bangsa jin dengan kaum bangsa manusia yang jauh berbeda layaknya jurang yang curam. Meski saling sulit untuk hidup berdampingan dan menimbulkan kecurigaan satu sama lainnya tapi belajar dari Aisyah yang mau menerimanya sebagai kawannya telah mengubah pemahaman jam antik kuno terhadap manusia yang ia anggap kejam dan jahat serta sombong merasa kesempurnaan adalah yang tertinggi dari segalanya.

__ADS_1


__ADS_2