Mengubah Takdir Aisyah

Mengubah Takdir Aisyah
Mengendalikannya...


__ADS_3

Hamparan pasir emas berhembus semilir menerbangkan butiran pasir emas disekitarnya.


Aisyah berdiri dengan kedua mata putihnya menatap tajam ke arah angin topan yang berputar kencang, berubah-ubah bentuknya terkadang menjadi monster jin raksasa kadang menjadi pusaran angin topan.


Dia terus bergerak mengelilingi pusaran angin itu, kedua tangan menghunus pedang yang tajam.


Melangkahkan kakinya pelan tanpa mengenal rasa takut.


Kekuatan Aisyah bertambah ketika tubuhnya berubah seperti monster, dia berprinsip bahwa melawan monster juga harus menjadi monster untuk mengalahkannya.


Kulit tubuh Aisyah berubah menjadi putih pucat serta mengeluarkan asap es diseluruh tubuhnya. Dan wajahnya yang sangat dingin sekali hampir seperti batu es.


"Mari kita bertaruh, siapa yang yang kalah harus tunduk kepada pemenangnya", kata Aisyah.


Suara gadis itu berubah parau dan berat, kedua matanya berubah seluruhnya menjadi putih tanpa pupil hitam.


"BAIKLAH ! AKU AKAN MENERIMA TANTANGANMU !"


Suara berasal dari pusaran angin topan yang berputar kencang lalu muncul sebuah kepala diantara pusaran itu.


Tertawa kerasnya kemudian berubah kembali menjadi monster jin raksasa.


Pedang awan putih yang dipegangnya berkilauan terang memancarkan sinar yang sangat menyilaukan mata.


Monster jin raksasa angin topan menghentakkan badannya lalu menyerang Aisyah dengan ribuan tombak.


Aisyah melambung tinggi kemudian meliukkan tubuhnya di udara untuk menghindari ribuan tombak yang menghujaninya.


Melompat ke udara dengan salah satu kaki berada di atas tombak yang melayang kemudian mengarahkan pedang awan putih miliknya dengan menangkis serangan tombak-tombak yang berdatangan tanpa hentinya.


Tidak mudah untuk mengendalikan monster jin rakasasa apalagi mengalahkannya. Butuh perjuangan kuat untuk melawannya.


Tiga jin angin topan yang bersatu dan membentuk raksasa merupakan musuh besar yang sulit untuk ditaklukkan apalagi dengan kekauatan sebesar itu, Aisyah banyak mengalami tekanan saat bertempur dengan monster jin raksasa.


Menang atau kalah sekarang menjadi tanda tanya yang besar saat ini, ditambah rasa sedih yang masih menggelayuti hati Aisyah setelah dirinya harus kehilangan cermin kristal ajaibnya.


KLANG... KLANG... KLANG...


Terdengar suara pedang awan putih Aisyah yang saling beradu ketika bertempur melawan monster jin raksasa angin topan, ribuan tombak yang keluar dari pusaran angin topan mengarah bersama-sama menuju Aisyah.


Aisyah mengeluarkan perisai pelindung bintangnya yang terbuat dari batu pirus sambil berseru lantang.


"Wahai perisai pelindungku ! Aku peritahkan kepadamu untuk melindingiku. Keluarlah !"


Tiba-tiba sebuah perisai berbentuk bintang muncul menghadang lenparan tombak yang berasal dari pusaran angin topan yang melesat ke arah Aisyah serta memantulkan sinarnya ke berbagai arah.


KLANG... KLANG... KLANG...


Suara tombak yang mengantam perisai pelindung berbentuk bintang terdengar nyaring di telinga.


Aisyah yang masih berdiri dengan kedua kaki berada di atas tombak-tombak yang datang menghujani dirinya, menggerakkan pedang awan putihnya berulangkali untuk menangkis berbagai serangan tombak yang luput dari perisai pelindung bintangnya.


Dia langsung melambung ke atas lalu melompat masuk ke dalam pusaran angin topan yang kencang.


"Aku harus langsung menghadapi jin itu jika aku masih diluar maka aku tidak dapat mengalahkan ketiga jin itu", kata Aisyah.


Didalam pusaran angin topan dia tidak melihat pusaran angin melainkan Aisyah menemukan ketiga jin yang saling berdiri bersusun ke atas.


"Itu mereka", kata Aisyah.


Aisyah lalu menghunus pedang awan putihnya untuk bersiap-siap mengayunkan pedangnya ke arah tiga jin angin topan.


Dia melambungkan tubuhnya ke arah ketiga jin itu lalu mengarahkan pedangnya kepada ketiga jin angin topan.

__ADS_1


WUSH...


Ketiga jin angin topan lalu bergerak menghindar ketika Aisyah berhasil masuk menembus pertahanan tiga jin angin topan itu.


"Rasakan pedangku ini !", teriak Aisyah marah.


WUSH...


Aisyah lalu menerjang ketiga jin angin topan itu secara beruntun tanpa hentinya. Bergerak cepat menebaskan pedang awan putihnya tanpa ampun.


Ketiga jin angin topan tersentak kaget dan merasa pertahanannya berhasil dihancurkan sehingga formasi susunan tiga jin itu berantakan, pusaran angin topan kemudian perlahan-lahan lenyap dan menghilang dari pandangannya.


"Kami tidak akan pernah tunduk kepadamu dan tetap melawanmu ! Kami bangsa jin bukan bawahanmu, manusia !", teriak jin-jin angin topan itu lantang.


"Dasar jin ! Bagaimanapun juga aku akan mengalahkan kalian !", teriak Aisyah kencang.


"Kamu tidak akan pernah bisa mengalahkan kami bangsa jin, wahai manusia lemah", kata salah satu jin angin topan kepada Aisyah.


"Baiklah, kalau begitu... Mari kita bertempur ! Dan tunjukkan kepadaku siapa yang akan kalah", kata Aisyah.


Ketiga jin angin topan tertawa kencang hingga suaranya terdengar membahana ke seluruh hamparan padang pasir emas yang luas.


"Rasakanlah pedang awan putihku ini !", teriak Aisyah seraya berlari kencang ke arah ketiga jin angin topan.


"Manusia bodoh !", ucap salah satu jin angin topan.


Jin-jin angin topan lalu menyerbu Aisyah yang berlari kencang ke arahnya seraya mengayunkan tombak-tombak mereka ke arah Aisyah.


Aisyah dengan cepat membungkukkan badannya menghindari serangan tombak dari ketiga jin angin topan, berlari cepat seraya memutar tubuhnya lalu menghunuskan pedang awan putihnya.


Salah satu dari jin terkena goresan pedang awan putih Aisyah, dan tubuhnya langsung terbakar hingga jin angin topan itu menjerit keras sedangkan ketiga jin angin topan yang melihat salah satu saudaranya terluka langsung marah dan menganyunkan tombaknya secara membabi buta ke arah Aisyah.


"Manusia sialan ! Jangan pernah berpikir kamu dapat mengalahkan kami, bangsa jin angin topan ! Terima kematianmu !", teriak jin angin topan itu.


Aisyah terbang melayang meliukkan tubuhnya ke arah atas menghindari serangan tombak jin angin topan yang sangat murka.


"Jangan harap aku akan menyerah !", teriak salah satu jin angin topan marah.


Jin angin topan itu bersama saudaranya langsung melesat cepat sembari menghuskan tombaknya ke arah Aisyah yang berputar-putar menghindari serangan kedua jin angin topan.


Cukup lama mereka bertempur dan saling menyerang satu dengan lainnya di atas hamparan padang pasir emas yang sunyi, serta hanya ditemani desiran angin yang bertiup menerpa padang pasir emas.


Aisyah yang telah berubah menjadi putih pucat serta mengeluarkan asap es diseluruh tubuhnya dengan kedua mata putih tanpa pupil hitam.


Dia bertempur dengan kekuatan tak terbatasnya dan menyerang kedua jin angin topan yang berusaha mengalahkannya. Satu jin telah terluka tinggal dua jin angin topan yang masih kuat bertahan.


Aisyah mengusap pedangnya yang tajam dengan telapak tangannya yang telah menjadi putih pucat serta mengeluarkan asap es yang dingin.


"Kalian tidak akan pernah mampu mengalahkanku sampai titik darah terakhir", ucap Aisyah dengan mata menatap tajam.


"Buktikanlah wahai manusia, kemampuanmu mengalahkan kami bangsa jin !", seru salah satu jin angin topan itu.


Kedua jin angin topan itu hanya tertawa mengejek kepada Aisyah sembari berlari ke arah gadis muda itu.


"Jangan salahkan aku jika akhirnya kalian harus mati di tanganku dan jangan salahkan aku karena aku telah mengingatkan kepada kalian !", ucap Aisyah.


KLANG... KLANG... KLANG...


Senjata mereka kembali beradu dan terlihat percikan-percikan api keluar dari senjata mereka ketika bertempur.


Aisyah yang telah terlatih menggunakan kekuatannya mampu melawan serangan-serangan dari kedua jin angin topan yang datang secara brutal ke arahnya.


Dia bergerak cepat lalu terbang melambung tinggi ke udara sembari terus mengayunkan pedang awan putihnya serta perisai pelindungnya.

__ADS_1


Aisyah secara bergantian mengarahkan pedang awan putihnya saat menangkis tombak milik jin angin topan sedangkan salah satu tangannya yang lain dia arahkan perisai pelindungnya yang berbentuk bintang untuk menghadang tombak dari satu jin angin topan lainnya.


KLANG... KLANG... KLANG...


Terdengar suara senjata mereka yang saling beradu dan pada saat Aisyah melihat kelengahan salah satu dari jin angin topan, dia langsung menghunuskan pedang awan putihnya dan berhasil melukai badan jin tersebut.


Aisyah melompat cepat mundur setelah berhasil melukai salah satu jin angin topan dan dia melihat jin itu menjerit kesakitan karena sabetan pedang awan putih miliknya mampu membakar tubuh jin angin topan.


"AAAARRRGHHH...!!!", teriak salah satu jin angin topan dengan tubuh panas terbakar.


"Sialan ! Kamu berani melukai saudara jinku dan membuatnya terluka parah, aku tidak akan memberimu ampun sedikitpun", ucap salah satu jin dengan nada tinggi dan penuh emosi.


"Aku sudah memperingatkan kepada kalian untuk menyerah tetapi kalian tidak mendengarkanku dan jangan salahkan aku jika akhirnya kalian lenyap", kata Aisyah.


Aisyah melayang di udara di ketinggian yang tidak terlihat lalu dia melesat turun ke arah jin angin topan yang masih bertahan itu dan dengan sangat cepatnya dia mengayunkan pedang awan putihnya ke arah jin angin topan yang ada dibawahnya.


"WUSH... BLAR...!!!"


Aisyah langsung melompat jauh menghindari hembusan angin kencang yang keluar dari arah hamparan padang pasir emas.


Dia melihat ketiga jin angin topan itu tumbang dan tak berdaya terkapar di atas hamparan padang pasir emas yang luas itu setelah bertempur dengannya. Dan dia juga melihat tubuh dari tiga jin angin topan itu hangus terbakar.


Aisyah masih bergeming di atas sembari melayang-layang di udara dan terdiam ketika melihat tubuh ketiga jin angin topan itu perlahan-lahan lenyap serta musnah dari pandangannya.


"Aku sudah memperingatkan kalian tetapi kalian tidak mendengarkanku dan jangan salahkan aku jika kalian harus lenyap", ucap Aisyah.


Dia lalu turun pelan-pelan dari atas ke arah bawah ketika kedua kakinya menyentuh ke padang pasir emas yang luas, pedang di tangannya langsung bersuara.


"Kamu telah memenangkan pertandingan ini, dan berhasil mendapatkan kunci untuk keluar dari pintu kelima", ucap suara dari arah pedang awan putihnya.


"Kunci !?", tanya Aisyah.


"Benar, kamu akan memperoleh sebuah kunci untuk membuka pintu istana emas yang terletak di ujung padang pasir emas ini", sahut suara dari pedang awan putihnya.


"Istana emas ? Apakah itu pintu keluar dari tempat ini ?", tanya Aisyah.


"Benar, dengan kunci yang kamu dapatkan nanti maka kamu dapat membuka pintu keluar yang ada di istana emas itu", kata suara dari pedang awan putih.


"Lalu dimana kunci itu sekarang ?", tanya Aisyah.


"Kamu kuburkanlah cermin kristal ajaib milikmu itu ke dalam hamparan pasir emas di tempat ini maka kamu akan melihat kunci itu", sahut suara dari arah pedang awan putihnya.


"Apa yang kamu bicarakan ?", tanya Aisyah.


Aisyah tidak percaya dengan yang dikatakan oleh suara itu yang memerintahkan kepada dirinya untuk mengubur cermin kristal ajaib ke dalam hamparan padang pasir emas.


"Bagaimana mungkin aku bisa melakukannya ?", ucap Aisyah bingung.


"Tapi itu petunjuknya supaya kamu dapat keluar dari pintu kelima dan menyelesaikan tugas misimu di pintu ini", kata suara dari arah pedang awan putihnya.


"Tidak... Tidak... Aku tidak mungkin dapat melakukannya...", ucap Aisyah gelisah.


"Jika kamu tidak melakukannya maka kamu tidak akan dapat keluar dari pintu kelima dan menyelesaikan tugas misi istana awan putih ini", kata suara dari arah pedang awan putih.


"Tidak ! Aku tidak dapat meninggalkan cermin ajaib itu sendirian di tempat ini !? Mana mungkin aku sanggup melakukannya !?", kata Aisyah.


"Maka kamu akan terjebak selamanya di ruangan pintu kelima dan waktu akan tetap berhenti berputar", ucap suara itu.


"Oh tidak...", ratap Aisyah.


Aisyah lalu tertunduk lesu di atas hamparan padang pasir emas yang luas sembari menggenggam erat cermin kristal emas di tangannya. Dan bersedih karena dia harus merelakan cermin kristal ajaib miliknya harus terkubur dan dia tinggalkan di tempat itu.


Bagaimanapun juga dia, Aisyah masih mengharapkan cermin ajaib yang lucu itu kembali lagi ke sisinya tapi pada kenyataannya yang harus dia hadapi, ternyata cermin kristal ajaib itu merupakan kunci untuk keluar dari pintu kelima dan tanpa Aisyah sadari serta dia duga sebelumnya bahwa benda kesayangannya yang dia dapatkan di hamparan padang bunga itu adalah sebuah kunci.

__ADS_1


__ADS_2