Mengubah Takdir Aisyah

Mengubah Takdir Aisyah
Perjalanan ke tujuh mata air Part II...


__ADS_3


Aisyah segera mengisi botol-botol antik dengan air dari mata air Koohrang yang jernih dan bersih alami.


''Isilah semua botol-botol dengan air berkhasiat ini, Aisyah !", perintah Tabib Naia.


"Buat apa kamu menyuruh Aisyah untuk mengisi botol-botol itu dengan air, bukankah masih ada enam mata air yang belum kita datangi !?", kata Keroshy.


"Maksud mu ?", tanya Tabib Naia.


"Maksud ku..., jika kamu isi botol-botol antik itu dengan semua air... Bagaimana dengan air yang lainnya ? Kamu tidak berminat mengambil air dari enam mata air yang belum kita datangi itu !?", sahut Keroshy.


"Oh !?", ucap Tabib Naia. "Kamu benar, Keroshy..."


"Ya sudah ! Jangan kamu isi lagi botol-botol itu dengan air, Naia !", lanjut Keroshy.


"Baik, aku tidak akan mengisinya lagi dan meluangkannya untuk air yang lainnya", sahut Tabib Naia.


"Cepatlah ! Karena kita masih harus mengunjungi ke enam mata air lainnya, Naia", kata Keroshy.


"Iya..., iya...", sahut Tabib Naia cepat-cepat.


"Ayo, Aisyah ! Cepatlah !", ucap Keroshy yang berjalan jauh dari sumber mata air Koohrang.


"Iyaaa !", teriak Aisyah.


Terlihat Aisyah tergesa-gesa menutup botol antik berisi air dari mata air Koohrang.


Dia berjalan menyusul ke arah Keroshy dan lainnya sedangkan jam antik kuno yang telah berendam ke dalam air aliran air Koohrang sudah berada didalam saku tunik Aisyah.


Jam antik kuno antik itu setelah berendam didalam aliran air Koohrang, terus-menerus bercahaya terang.


Cahayanya sangat menyilaukan mata sehingga Aisyah harus mengenakan batu membaca untuk menghalangi sinar terang dari badan jam antik kuno.


"Kenapa dari tadi j antik kuno milik mu itu terus-menerus bercahaya, Aisyah ?", tanya Aidl.


"Mmmm...", gumam Aisyah.


Aisyah memperhatikan jam antik kuno yang terbungkus kain sutra di dalam saku tuniknya.


"Entahlah, aku sendiri tidak tahu, apa yang menyebabkan jam antik kuno ini bercahaya", sahut Aisyah.


"Mungkin ini khasiat dari mata air Koohrang itu sehingga membuat badan jam antik kuno berubah, Aisyah", ucap Aidl.


"Mungkin juga, aku belum yakin akan hal itu, Aidl", sahut Aisyah.


Keduanya berjalan bersama-sama menuju ke bunga tulip kuning raksasa.


Kembali melanjutkan perjalanan mereka ke tempat mata air yang masih tersisa enam lagi.


"Setelah ini kita pergi ke arah mana, Keroshy ?", tanya Aisyah.


"Ke arah timur, Aisyah", sahut Keroshy.


"Apakah cukup jauh lagi jaraknya dari sini ?", tanya Aisyah lagi.


"Iya, lumayan cukup jauh karena kita harus menempuh perjalanan setidaknya seharian agar sampai di sana", jawab Keroshy.


"Ke daerah mana kita akan kunjungi selain pegunungan Zardkooh ?", kata Aidl.


"Kita akan ke danau ovan", sahut Keroshy.


"Apakah itu tempat dimana lokasi ke enam mata air yang kami cari ?", tanya Aisyah.


"Benar...", sahut Keroshy.


Aisyah kembali memperhatikan jam antik kuno yang ada di saku tuniknya kemudian mengambil jam itu.


"Wahai jam antik kuno, bagaimana keadaan mu sekarang ? Apa yang kamu rasakan setelah berendam didalam air tadi ?'', tanya Aisyah.

__ADS_1


Aisyah memandangi jam antik kuno di tangannya.


"Tubuh mu sangat bercahaya terang", kata Aisyah.


Lama tidak terdengar suara dari arah jam antik kuno yang di pegang oleh Aisyah.


"Apakah dia tidak mendengar suara ku ?", tanya Aisyah.


"Mungkin karena pengaruh dari air Koohrang sehingga jam antik kuno milik mu itu tidak bereaksi terhadap lingkungan di sekitarnya", sahut Aidl.


"Jika aku lihat air dari mata air Koohrang itu sangat berkhasiat sekali dan membuat jam antik kuno langsung bereaksi cepat", kata Aisyah.


"Bahkan membuat jam antik kuno itu bercahaya sangat terang", lanjut Aidl.


"Tetapi aku sangat lega karena air dari mata air Koohrang itu ternyata sangat berkhasiat untuk jam antik kuno ini", ucap Aisyah.


"Hanya saja sekarang dia tidak dapat bereaksi seperti sebelumnya", kata Aidl.


"Itu bedanya...", sahut Aisyah.


"Kenapa, Aisyah ?", tanya Tabib Naia.


"Tidak apa-apa, hanya aku merasa jam antik kuno ini sekarang lebih berbeda dari sebelumnya", sahut Aisyah.


"Benarkah ?", kata Tabib Naia.


Aisyah segera mengangguk-anggukkan kepalanya kepada Tabib Naia.


"Apa bedanya ?", tanya Tabib Naia.


"Jam antik kuno ini tidak bereaksi lagi dan hanya diam kalau aku bertanya padanya", jawab Aisyah.


"Keroshy !", panggil Tabib Naia.


Keroshy lalu menolehkan kepalanya ke arah Tabib Naia yang ada di belakangnya.


"Kenapa jam antik kuno milik Aisyah tidak merespon ucapan dari Aisyah lagi ? Apa yang terjadi sebenarnya ?", tanya Tabib Naia.


"Aku tidak tahu apa-apa mengenai hal itu, Naia", jawab Keroshy.


"Tapi setidaknya kamu paham dengan khasiat dari mata air", lanjut Aidl.


"Oh, tidak, aku sama sekali tidak mengetahui seluk-beluk tentang ke tujuh mata air itu", sahut Keroshy.


"Kamu tahu kalau air dari mata air itu sangat berkhasiat, Keroshy ", kata Aidl.


"Iya, memang benar jika aku mengetahui bahwa air dari mata air itu memiliki khasiat istimewa tetapi aku tidak tahu yang terjadi pada jam itu", sahut Keroshy.


"Apa yang dikatakan oleh tuan agung besar pada mu, Aisyah ?", tanya Tabib Naia.


"Dia hanya mengatakan bahwa aku harus mencari ke tujuh mata air untuk mengembalikan wujud asli dari jam antik kuno ini ke wujud semula", kata Aisyah.


"Tidak ada petunjuk lainnya dari tuan agung besar mengenai ke tujuh mata air itu, Aisyah", ucap Aidl.


"Tidak..., tidak ada...", jawab Aisyah.


Aisyah hanya menggeleng pelan kepalanya.


"Sebaiknya kita segera menuju ke tempat mata air di danau ovan", sahut Keroshy.


"Aku rasa idea mu tepat sekali, dengan pergi ke tempat mata air yang selanjutnya maka aku pikir kita akan tahu jawaban dari rahasia ke tujuh mata air itu", ucap Aidl.


"Tetapi masalahnya sekarang...", kata Aisyah.


"Apa ?", jawab ketiga orang itu serempak.


"Jam antik kuno tidak merespon kita maka kita tidak tahu cara menggerakkan bunga tulip kuning raksasa ini...", sahut Aisyah.


"Astaga !", seru ketiganya.

__ADS_1


"Maaf...", ucap Aisyah.


"Bagaimana kita akan pergi ke tempat mata air selanjutnya jika kamu tidak tahu cara menggerakkan bunga tulip kuning raksasa ini, Aisyah ?", tanya Tabib Naia.


Aisyah terdiam sejenak kemudian dia langsung teringat dengan kereta gulali rollercoaster miliknya.


Dia mencari-cari kereta rollercoaster itu di dalam tas miliknya.


"Aku akan mencoba dengan kereta rollercoaster gulali ini, mungkin saja kita bisa menggunakan kereta rollercoaster ini", sahut Aisyah.


"Ya Tuhan... Apa tidak salah kita naik kereta rollercoaster dari gulali yang pipih ini, Aisyah ?", kata Tabib Naia.


"Tunggu, aku akan mengubahnya menjadi kereta rollercoaster gulali yang sebenarnya", ucap Aisyah.


"Yang benar saja, Aisyah !?", seru Tabib Naia.


Aisyah lalu melemparkan kereta rollercoaster gulali miliknya ke atas udara.


Tidak butuh waktu lama kereta rollercoaster gulali yang pipih tadi langsung berubah menjadi kereta berukuran besar sekali.


Semua orang yang ada di sekitar Aisyah terpana melihat kereta pipih itu berubah wujud.


"Berapa banyak barang ajaib dan aneh yang kamu miliki, Aisyah !?", kata Tabib Naia.


Tampak sekali Tabib Naia kebingungan melihat kereta rollercoaster itu berubah menjadi kereta dalam wujud nyata.


"Tidak banyak, tabib", sahut Aisyah.


"Dia benar-benar gadis yang ajaib !", ucap tabib perempuan itu.


Tabib Naia yang keheranan melihat keajaiban-keajaiban yang terjadi di sekitar Aisyah.


"Ayo ! Kita naik kereta rollercoaster gulali ini dan pergi ke tempat mata air selanjutnya, cepatlah !", teriak Aisyah dari dalam kereta gulali.


Ketiga orang itu lalu melangkahkan kaki mereka menuju ke arah kereta rollercoaster gulali yang ada di hadapan mereka.


Melanjutkan kembali perjalanan mereka menuju ke tempat mata air yang tinggal tersisa enam tempat lagi.


Kereta rollercoaster gulali mulai bergerak perlahan meninggalkan area pegunungan Zardkooh.


"Bagaimana dengan bunga tulip kuning raksasa itu, Aisyah ?", tanya Keroshy seraya menengok ke arah bawah dari dalam kaca kereta.


"Jangan dipikirkan lagi tentang bunga tulip kuning raksasa karena dia akan menghilang dengan sendirinya", sahut Aisyah.


"Menghilang !?", ucap Keroshy dan Tabib Naia bersama-sama.


"Iya...", jawab Aisyah.


"Kamu benar-benar gadis ajaib, Aisyah", ucap Tabib Naia.


"Tidak , aku hanya gadis biasa saja", lanjut Aisyah seraya tersenyum.


"Aku baru pertama kalinya melihat keajaiban setelah bertemu dengan mu, Aisyah", kata Tabib Naia.


"Bukankah kamu telah mengetahuinya setelah bertemu jam antik kuno yang menjemput mu untuk menyembuhkan amnesia ku, tabib", ucap Aisyah.


"Karena itulah aku sangat tertarik bertemu dengan mu dan terus terang itu adalah alasan ku menerima ajakan jam antik kuno untuk mengobati mu, Aisyah", sahut Tabib Naia.


"Terimakasih sudah mengobati ku, tabib", kata Aisyah.


"Iya, dan aku senang melakukannya, Aisyah", sahut Tabib Naia.


Kereta rollercoaster gulali terus bergerak melayang di angkasa, melaju lurus melewati awan-awan putih di atas langit yang cerah.


Terbang tinggi menuju ke tempat mata air yang selanjutnya.


Bergerak bebas tanpa halangan maupun rintangan di sekitar awan-awan putih yang mirip kapas lembut.


Aisyah terlihat sangat serius ketika mengemudikan kereta rollercoaster gulali itu dan dia sangat tenang sekali.

__ADS_1


__ADS_2