
Aisyah masih terdiam terduduk memandangi danau fantasi di hadapannya sembari termenung galau.
Tubuhnya gemetaran karena sakit yang mendera tubuhnya di sebabkan luka terjatuh dari atas taman halus.
Gadis berwajah bening itu masih setengah terkejut setelah melihat danau penuh air gulali yang meletup-letup di depannya menjadikan buah pisang itu seperti karamel.
Dia mengurungkan niatnya untuk berendam di dalam danau fantasi di area dataran tinggi di dasar taman halus.
"Argh... Sepertinya aku harus menunggu lama untuk keluar dari dasar taman halus ini...", ucap Aisyah setengah bergumam.
"Tampaknya kita masih belum menemukan jalan keluar dari tempat ini, Nona Aisyah", sahut cermin ajaib.
"Yah..., sepertinya begitu, dan aku belum tahu cara untuk mengobati luka di tubuhku terutama tanganku ini...", kata Aisyah.
"Apakah tangan anda terluka, nona ?", tanya cermin ajaib.
"Iya, aku terluka saat terjatuh ke dalam dasar taman halus ini dan aku tidak dapat menemukan obat untuk luka ku ini", kata Aisyah.
"Apakah anda mencari danau fantasi ini bermaksud untuk menyembuhkan luka anda, Nona Aisyah ?", tanya cermin ajaib.
"Iya, aku berpikiran bahwa menemukan danau fantasi ini, aku dapat menyembuhkan luka-luka ku terutama tanganku", sahut Aisyah.
"Mmm..., sayangnya anda tidak menemukan danau yang anda maksudkan, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.
"Aku telah menemukannya tetapi danau itu tidak dapat aku gunakan... Arghhh...", sahut Aisyah.
"Apakah tangan anda sangat sakit sekali, Nona Aisyah ?", tanya cermin ajaib.
"Emm, iya, luka ini lebih parah dari luka lainnya yang ada di tubuh ku, wahai cermin ajaib", kata Aisyah.
"Coba hamba lihat, nona, luka di tangan anda", ucap cermin ajaib.
"Mmmm...", gumam Aisyah.
Aisyah melipat lengan tuniknya lalu menunjukkan luka yang ada di tangannya yang terluka parah pada cermin kristal ajaib.
Terlihat luka menganga yang kering di atas tangan Aisyah yang penuh luka lebam akibat terjatuh dari atas permukaan taman halus.
Cermin kristal ajaib memperhatikan luka di tangan Aisyah yang cukup parah dengan batu membaca yang ia letakkan di salah satu matanya.
"Oh Tidak ! Ini sangat parah sekali, Nona Aisyah, dan ini berbahaya apabila anda membiarkan luka ini tanpa perawatan bahkan bisa membusuk", ucap cermin ajaib cemas.
"Aku tahu itu, tapi aku tidak dapat menemukan obat untuk menyembuhkan luka di tangan ku ini selama aku berada di dalam dasar taman halus ini, wahai cermin ajaib", sahut Aisyah dengan raut mengiba.
"Ini tidak dapat dibiarkan, luka ini bisa menyebabkan anda demam tinggi dan mungkin akan membuat anda akan tiada jika terus-terusan dibiarkan seperti ini serta akan membusuk", ucap cermin ajaib semakin cemas.
"Apakah aku akan tiada dan meninggalkan dunia ini ? Aku memang demam dan sering merasa kedinginan", kata Aisyah.
"Oh, nona, anda benar-benar ceroboh sekali, kenapa anda tidak meminum ramuan ajaib yang diberikan oleh jam antik kuno pada anda ?", tanya cermin ajaib itu.
"Ramuan ajaib ? Dari jam antik kuno ? Apakah itu wahai cermin ajaib ? Benda apakah itu ?", tanya Aisyah bingung.
"Astaga ! Hamba lupa jika anda telah kehilangan ingatan anda ! Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih mengampuni hamba yang lalai pada anda, Nona Aisyah !", ucap cermin ajaib berseru.
"Yah..., itu benar sekali dengan yang kamu ucapkan, wahai cermin ajaib..., bahwa aku tidak mengingat apapun...", sahut Aisyah bersedih.
"Jangan bersedih, nona, karena sekarang ada hamba disisi anda yang akan menjaga nona, hamba akan menyembuhkan nona", ucap cermin ajaib.
__ADS_1
"Apakah kamu bisa menyembuhkan diriku, wahai cermin ajaib ?", tanya Aisyah lalu menengadahkan kepalanya ke arah cermin kristal ajaib yang ada di depannya.
"Tentu saja, hamba dapat menyembuhkan anda seperti yang telah hamba lakukan pada jam antik kuno pada waktu jam itu terluka parah dan berhenti bergerak", kata cermin ajaib seraya tersenyum.
Cermin kristal ajaib itu memang sedikit berbeda dan ia memiliki wajah di badan kaca cerminnya dengan kedua mata bulat serta selalu bersinar indah serta sebuah hidung yang sangat mancung sekali.
Hal itulah yang menjadi pembeda dari benda berkaca bening dengan benda-benda ajaib yang dimiliki Aisyah.
"Baiklah, hambaakan menyembuhkan anda, Nona Aisyah dan lihatlah anda akan merasa sehat serta pulih kembali seperti sediakala", ucap cermin kristal ajaib itu.
"Oh..., benarkah itu, wahai cermin ajaib...", kata Aisyah.
"Iya, percayalah pada hamba, Nona Aisyah, hamba akan menyembuhkan luka-luka pada tubuh anda", sahut cermin kristal ajaib.
"Terimakasih aku ucapkan sebelumnya, dan semoga Yang Maha Kuasa akan selalu memberkati mu, wahai cermin ajaib", kata Aisyah.
"Sama-sama, nona, dan semoga Tuhan selalu bersama dengan anda, Nona Aisyah", sahut cermin ajaib.
Aisyah menganggukkan kepalanya pelan kepada cermin kristal ajaib di hadapannya saat cermin itu hendak mengobati dirinya.
Semburat cahaya terang menyertai sinar warna-warni yang mengarah ke tangan Aisyah, perlahan-lahan naik terus ke atas lengan kemudian ke seluruh tubuh Aisyah.
Cahaya warna-warni itu terasa sangat hangat di tubuh gadis berwajah bening yang bernama Aisyah.
"Hmm... Cahaya ini sungguh hangat sekali... Aku merasa nyaman sekali...", ucap Aisyah terpejam.
Harum semerbak bunga-bunga menyelimuti tubuh Aisyah yang bermandikan cahaya warna-warni yang berkilauan terang.
Aisyah menyandarkan tubuhnya pelan-pelan ke batu yang terbuat dari gulali bening yang mirip kaca.
Merasakan kehangatan cahaya dari cermin kristal ajaib yang membuat tubuhnya sangat nyaman.
"Tubuhku tidak terasa sakit lagi, dan aku merasa sangat segar sekali", ucap Aisyah.
"Apa yang anda rasakan saat ini, Nona Aisyah ?", tanya cermin ajaib pada Aisyah yang tengah bersandar di batu bening dari gulali.
"Mmm... Aku merasa baikan serta tidak lagi merasakan kedinginan..., mungkin demamku mulai turun, wahai cermin ajaib", jawab Aisyah.
Gadis muda itu meraba keningnya yang tidak panas lagi. Dan ia merasakan tubuhnya tidak menggigil lagi seperti tadi.
"Aku merasa sehat kembali", kata Aisyah.
"Anda sudah baikan, ya, kalau begitu anda tinggal menelan pil cahaya ini, Nona Aisyah", kata cermin ajaib.
Aisyah membuka kedua matanya saat cermin ajaib itu berbicara kepadanya.
Dia melihat tiga butir pil cahaya yang sedang melayang-layang di atasnya dan bergerak ke arah Aisyah.
"Pil cahaya !?", gumam Aisyah.
"Benar, anda harus menelannya satu hari satu pil cahaya ini untuk menunjang kesembuhan anda, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.
"Satu pil cahaya untuk satu hari ? Itu artinya aku tidak perlu menelan semua pil cahaya ?", tanya Aisyah.
"Ya, anda hanya perlu menghabiskan satu pil cahaya dalam satu hari dan untuk esok harinya lagi anda baru menelannya satu pil cahaya, Nona Aisyah", jawab cermin ajaib.
"Mmm..., aku mengerti, wahai cermin ajaib", ucap Aisyah.
__ADS_1
"Silahkan anda menelan pil cahaya tersebut, Nona Aisyah", kata cermin kristal ajaib.
"Iya, dan aku ucapkan sekali lagi terimakasih pada mu, wahai cermin ajaib", jawab Aisyah.
"Tidak perlu sungkan, semua adalah tugas hamba untuk menjaga anda, percayalah pada hamba, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib seraya tersenyum.
"Aku berdoa semoga Yang Maha Kuasa selalu menyertai kita", ucap Aisyah.
"Amien... Amien...", sahut cermin ajaib.
Aisyah mengambil pil cahaya yang berjumlah sebanyak tiga buah pil yang ada di atasnya melayang kemudian menggenggam pil-pil cahaya itu sebelum menelannya.
Dia memperhatikan pil cahaya yang ada di tangannya lalu mengambil satu butir pil itu dan memakannya dengan cara di telan.
"Glek ! Glek !', suara Aisyah menelan pil cahaya itu.
Aisyah terdiam sesaat setelah menelannya dan merasakan tubuhnya mulai mengalami perubahan, membiru seperti lebam-lebam di sekujur tubuh.
Reaksi pil cahaya itu langsung terasa ketika Aisyah selesai menelannya ke dalam mulutnya dan masuk ke tubuhnya.
"Apa yang terjadi padaku, wahai cermin ajaib ? Kenapa tubuhku lebam-lebam di seluruh badan ?'', tanya Aisyah kebingungan saat melihat dirinya membiru lebam.
"Hmmm... Itu adalah reaksi obat pada tubuh setelah menelan pil cahaya sesuai dengan penyakit atau luka yang anda derita dan reaksi pil cahaya tampaknya langsung berkhasiat ke dalam tubuh anda, Nona Aisyah", jawab cermin ajaib.
"Aku rasa juga seperti itu, dan sekarang tubuhku terasa lebih nyaman, wahai cermin ajaib", ucap Aisyah senang.
"Tubuh anda sudah terlihat sehat meski tidak seratus persen tetapi mulai menunjukkan perubahan yang berarti pada tubuh anda, Nona Aisyah", kata cermin ajaib.
"Iya dan aku tahu itu...", ucap Aisyah.
Gadis dengan tutup kain di kepalanya yang menjuntai panjang ke bawah lantas berdiri dari tempatnya duduk, dan ia berdiri dengan tegak sembari mencoba berjalan.
Benar saja, ia melihat dirinya tidak lagi berjalan dengan langkah terseret seperti sebelumnya.
Aisyah tampak sangat bahagia saat melihat dirinya dapat berjalan dengan normal kemudian mencoba melangkahkan kedua kakinya selangkah demi selangkah.
Betapa senangnya gadis berwajah bening itu tatkala ia tidak merasakan sakit di tubuhnya lagi, ia mencoba melompat-lompat di atas tanah yang terbuat dari lapisan gulali merah.
"Lihatlah ! Lihatlah wahai cermin ajaib ! Aku dapat meloncat lagi ! Dan..., dan lihatlah aku dapat berjalan dengan normal tanpa harus menyeret lagi, wahai cermin ajaib !", kata Aisyah berseru senang.
"Yah... Yah... Hamba juga turut senang mendengarnya dan syukurlah jika anda telah sembuh serta sehat seperti sediakala, Nona Aisyah", ucap cermin kristal ajaib.
Tampak keduanya berputar-putar dengan perasaan riang gembira, merayakan kebahagiaan atas kesembuhan Aisyah.
Aisyah tertawa bahagia sekali saat melihat dirinya telah sembuh dari luka-luka yang sangat menyakitkan dirinya selama di dalam dasar taman halus ini, wajahnya tampak berseri-seri penuh kegembiraan yang semakin menambah kecantikan di wajah gadis itu.
"Aku sangat senang... Aku sangat senang sekali... Terimakasih Tuhan... Terimakasih Ya Allah... Semoga kita panjang umur...'', ucap Aisyah dengan wajah gembira ria.
Keceriaan memenuhi dataran tinggi yang penuh dengan hiasan gulali-gulali yang berputar seperti baling-baling, suara gelak tawa dari Aisyah dan cermin kristal ajaib terdengar di seluruh dataran tinggi gulali itu.
Tidak ada lagi kesedihan di wajah gadis muda bernama Aisyah itu saat menyadari dirinya telah sembuh dari luka-luka yang ada di badannya.
Tertawa, melompat riang dan berputar seperti sedang menari, yang kini sekarang mereka lakukan, menyambut sang pemberani, Aisyah yang pulih kembali sediakala.
Selamat datang kegembiraan...
Hosh amadid, Aisyah...
__ADS_1
Kebahagian menyertai Aisyah yang telah sembuh dari luka-luka akibat terjatuh dari atas permukaan taman halus dan saat ia mengetahui dirinya dapat berjalan normal seperti semula, tidak perlu lagi harus menahan rasa sakit di tubuhnya ketika ia melangkahkan kedua kakinya, ia sangat bahagia sekali dan senyumnya selalu terlihat mengembang di sudut bibirnya yang mungil indah.