
Aisyah benar-benar takjub dengan pemandangan yang dia temui pada ruangan berkabut emas yang ada di pintu kelima.
Bertemu dengan Badar, sang penjaga pintu kelima yang berbadan besar dengan tubuh seluruhnya terbuat dari emas yang bercahaya terang benderang.
Membuat Aisyah terpaksa mengenakan batu membaca yang ditempelkan pada hidungnya supaya kedua matanya tidak mengalami kerusakan parah akibat kilauan sinar cahaya yang memancar keluar dari badan Badar yang sangat menyilaukan mata.
"Apa langkah selanjutnya yang harus aku lakukan sekarang, Badar ?", tanya Aisyah.
Aisyah berada di atas telapak tangan Badar yang berukuran besar bercahaya dan terbuat dari emas murni.
Badar yang selalu menatap lurus ke depan hanya tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari Aisyah seraya mengangkat tangannya ke hadapannya.
Kedua mata Badar yang terbuat dari emas hanya melirik sekilas ke arah Aisyah yang berdiri di atas telapak tangannya.
"Kamu ingin cepat menyelesaikan tugasmu, nona kecil", ucap Badar tertawa kecil.
"Tentu saja, itu sudah merupakan tugasku", kata Aisyah.
"Apa kamu memiliki alasan lainnya selain itu ?", tanya Badar.
"Alasan lain apakah yang kamu maksudkan itu, Badar ?", sahut Aisyah balik bertanya.
"Alasan kamu menerima tugas ini, bukankah ini bukan tanggung jawabmu, kamu tinggal meminta padaku menyesegerakan semua tugasmu tanpa menyelesaikannya dan kamu bisa langsung pulang", ucap Badar.
"Terus terang aku tidak mengerti dengan perkataanmu, aku bisa pulang tanpa menyelesaikan tugasku, maksudmu, aku tidak paham, Badar", kata Aisyah.
"Kamu bisa tinggal meminta padaku sebuah permintaan seperti 'kamu ingin pulang' maka aku akan segera mengabulkannya tanpa kamu harus bersusah payah mengembalikan waktu yang berhenti berputar", ucap Badar.
"Itu sangat menarik, dan penawaranmu sangat menggiurkan sekali... Tapi bagaimana dengan waktu yang berhenti itu...", tanya Aisyah.
"Tidak usah kamu pikirkan hal itu, lupakan saja, yang terpenting kamu berhasil keluar dari tempat ini", sahut Badar.
"Melupakannya..., artinya aku tidak perlu mengembalikan waktu yang berhenti berputar itu...", kata Aisyah.
"Tepat sekali, bukankah keinginanmu supaya keluar dari istana awan putih ini, Nona Aisyah", sahut Badar.
"Mmm, benar, aku memang ingin keluar dari istana ini", kata Aisyah.
"Katakan saja keinginanmu itu maka aku akan mengabulkannya cepat", ucap Badar.
"Lalu bagaimana jika waktu masih berhenti berputar ? Bukankah keadaan di dunia manusia juga turut berhenti berputar ?", tanya Aisyah.
"Iya, itu benar sekali, memang waktu turut berhenti berputar di dunia manusia sama seperti keadaan di istana awan putih ini", sahut Badar.
"Jika waktu masih berhenti berputar lantas kenapa kamu masih memaksaku mengajukan permintaan untuk pulang jika waktu di dunia manusia juga berhenti berputar", kata Aisyah.
Aisyah berdiri dengan melipat kedua tangannya di depan seraya menatap tajam ke arah Badar.
"Bukankah yang terpenting kamu keluar dari istana awan putih ini dan dirimu sendiri selamat, Nona Aisyah", ucap Badar.
Aisyah mengerutkan dahinya ketika memandangi Badar yang merupakan bangsa jin penjaga pintu kelima ini.
Dia tediam tanpa menanggapi perkataan Badar, makhluk ghaib terbuat dari emas itu.
"Perkataanmu sungguh menarik hatiku, Badar", kata Aisyah.
"Tentu saja, kenapa tidak menarik, karena kita akan bersenang-senang di dunia ini tanpa ada seorangpun yang akan mengganggu kita, Nona Aisyah", ucap Badar.
"Hmmm, aku tahu itu dan akupun membayangkan kesenangan tak terkira itu, seandainya keinginan itu terwujud, Badar", kata Aisyah.
"Lalu kenapa kamu masih ragu-ragu, Nona Aisyah ?", tanya Badar.
Aisyah menghela napasnya lalu memejamkan kedua matanya kemudian dia menatap dengan ekspresi wajah yang sangat serius.
__ADS_1
Dia merasakan tawaran ini membuatnya bingung antara membayangkan dia dapat dengan mudah keluar dari istana awan putih ini dan bersenang-senang atau dia memilih untuk tetap di dalam sini menyelesaikan tugas misi sistem kabut awan putih.
Semua tampak membingungkan Aisyah, karena ajakan Badar mampu menarik hati Aisyah.
"Apakah yang kamu katakan itu benar adanya, Badar ?", tanya Aisyah.
"Tentu saja, benar, apa pernah aku mengatakan sebaliknya, tentu tidak", sahut Badar.
"Kamu bermaksud menjebakku, Badar ! Dengan tipu daya serta bujukan mahkluk ghaib sepertimu yang menawarkan sejuta kesemuan sesaat, Badar", kata Aisyah.
"Oh tidak, itu tidak benar, tidak ada kesemuan ataupun kepalsuan tetapi semuanya benar-benar nyata dan tidak semu seperti yang ada katakan", ucap Badar.
"Tidak, kamu hendak mengelabuiku, untuk memilih yang salah, Badar", kata Aisyah.
"Mengelabuimu ?", tanya Badar tertawa dengan kerasnya.
Tawa Badar mengejutkan Aisyah yang berdiri di atas telapak tangan Badar yang terbuat dari emas itu.
"Semua keputusan berada di tanganmu, dan aku sebagai Badar, sang penunggu pintu kelima ini hanya bertugas mengabulkan permintaan", ucap Badar sambil tertawa keras.
Aisyah merasakan sedikit aneh dengan Badar, dan dia mundur pelan karena tubuhnya bereaksi terhadap ucapan Badar yang terdengar ganjil itu.
Pelan-pelan Aisyah bersiap hendak turun dari atas telapak tangan emas Badar tetapi tampaknya jin itu dapat membaca pikiran Aisyah.
"Ada apa, Nona Aisyah ?", tanya Badar.
"Maksudmu ?", sahut Aisyah.
"Apakah kamu merasakan ketakutan padaku ?", tanya Badar.
"Takut padamu !? Tentu saja tidak, Badar karena bagiku kamu sama denganku yang merupakan ciptaan dari Yang Maha Kuasa", sahut Aisyah.
"Bijak..., ucapan sangat bijak sekali, Nona Aisyah... Lalu untuk apa kamu merasa ragu sekarang !?", ucap Badar.
Sebuah senyuman menghias wajah Badar, jin yang terbuat dari emas itu tertawa keras sehingga ruangan di tempat itu berguncang sangat hebatnya.
Membuat ruangan menjadi runtuh, sehingga terlihat dengan jelas pemandangan di ruangan itu yang semuanya terbuat dari emas, mulai tanahnya, langit-langitnya yang kesemuanya dari emas berkilauan terang benderang.
Ternyata ruangan itu berupa hamparan padang pasir emas yang tertutup sekelilingnya oleh dinding beton yang tadi masih berdiri kokoh sebagian dan sekarang ruangan itu terbuka sepenuhnya akibat goncangan yang ditimbulkan oleh tawa Badar yang sangat kerasnya.
Aisyah terkejut antara perasaan kagum dan bingung melihat perubahan pada Badar, tubuh jin yang terbuat dari emas itu lalu berubah perlahan-lahan mengecil dan membentuk sebuah pedang yang indah, pada gagang pedangnya tampak sebuah ukiran berupa gambar awan putih sedangkan badan pedang itu sangat panjang serta berwarna putih mengkilat dan di badan pedang itu tertulis tulisan 'KUN FAYAKUN', dengan sebuah arti yang sebenarnya.
"Jadilah !" Maka terjadilah ia...
Aisyah hanya menatap pedang yang melayang itu tanpa berani menyentuhnya karena dia masih ragu dengan yang terjadi di tempat itu.
Dia sendiri berdiri melayang di udara setelah Badar menghilang dan berubah menjadi sebuah pedang yang bersinar-sinar terang.
Cermin kristal ajaib terbang menghampiri Aisyah yang terpaku diam memandangi pedang itu.
"Kemana perginya Badar ?", tanya cermin ajaib.
"Aku tidak tahu, setelah dia tertawa keras tiba-tiba dia menghilang entah kemana dan aku melihat tadi dia berubah menjadi sebuah pedang", jawab Aisyah.
"Pedang ? Maksud anda pedang di depan itu, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.
"Ya, pedang yang melayang dan sangat aneh itu, wahai cermin ajaib", kata Aisyah.
"Kenapa anda tidak mengambilnya, Nona Aisyah ?", tanya cermin ajaib.
"Mmm, aku tidak tahu harus bersikap, wahai cermin ajaib", sahut Aisyah.
"Bukankah itu hanya sebuah pedang biasa, untuk apa anda takut, Nona Aisyah !?", ucap cermin ajaib.
__ADS_1
Tiba-tiba sebuah petir menyambar badan cermin kristal ajaib sehingga membuat benda ajaib dari emas itu menjadi gosong.
CTAAARRR...
"A--apa..., i--ni..., kenapa bisa seperti ini ?", ucap cermin ajaib gemetaran.
"Apa kamu baik-baik saja, wahai cermin ajaib ?", kata Aisyah terkejut.
Aisyah bergegas ke arah cermin kristal ajaib yang menjadi gelap dan gosong akibat petir yang menyambar mengenai badan cermin ajaib.
Gadis muda itu lalu menarik badan cermin ajaib bermaksud menyelimuti cermin kristal ajaib tetapi panas dari petir tadi membuat tangan Aisyah terbakar.
"Ya Allah ! Apa yang terjadi ini, badan cermin ajaib sangat panas bagaikan bara api yang membakar sehingga aku tidak dapat menyentuhnya ?", kata Aisyah.
"Apa anda baik-baik saja, Nona Aisyah ?", tanya cermin ajaib.
"Aku baik-baik saja tetapi bagaimana denganmu ? Apakah kamu tidak apa-apa dan badan cerminmu sangat panas sekali, wahai cermin ajaib !?", kata Aisyah.
"Entahlah, kenapa badan hamba bisa seperti ini dan terkena petir ?", sahut cermin ajaib.
CTAAAARRR... CTAAAARRRR... CTAAAAR...
Tampak cahaya petir yang menyambar-nyambar di atas pedang putih mengkilat itu.
Aisyah sekarang tahu, darimana asal datangnya petir yang menyambar cermin ajaib itu dan ternyata petir tadi berasal dari arah pedang yang melayang di hamparan pasir emas.
Terdengar suara lantang yang membahana memenuhi padang hamparan pasir emas itu, suara itu lalu berbicara pada Aisyah.
"AMBILLAH PEDANG YANG ADA DI DEPANMU DAN GUNAKANLAH PEDANG INI KETIKA MENDESAK !"
"Siapa kamu ?", tanya Aisyah.
Hening...
Tidak ada suarapun yang menjawab dan suasana menjadi sunyi, hanya ada desiran angin berhembus yang bergerak diantara hamparan pasir.
Aisyah berjalan ke arah pedang itu lalu memandangnya sesaat, kemudian dia mengambil pedang putih yang sangat indah itu dengan tangan kanannya.
Pada saat tangannya menyentuh gagang pedang itu, muncul cahaya berkilauan yang bergerak menyelubungi tangan Aisyah dan berubah menjadi gelang berbentuk perisai putih yang terdapat sebuah ukiran kaligrafi yang sangat cantik sekali.
Aisyah lalu mengangkat pedang itu dan memberi pedang itu sebuah nama yang cocok dengan gambar pada gagang pedang itu.
"Aku akan memberinya pedang ini nama, yakni Pedang Awan Putih !", kata Aisyah.
Ketika pedang di tangan Aisyah terangkat ke atas terdengar suara gelegar petir menyambar ke arah pedang awan putih dan seketika tubuh Aisyah menjadi terang benderang.
Pakaian tunik yang dikenakan Aisyah berubah menjadi zirah emas serta bersamaan terdengar suara gemuruh angin keras yang bergerak ke arah Aisyah.
"Apa yang aku kenakan ini ?", ucap Aisyah terkejut.
"Itu semacam baju zirah adalah pakaian atau lapisan pelindung yang dikenakan untuk melindungi tubuh maupun kendaraan dari senjata atau benda yang dapat memberi luka fisik, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.
Aisyah melihat badan cermin ajaib sudah kembali semula dan tidak gosong lagi seperti tadi, dia juga melihat keadaan cermin itu baik-baik saja.
"Syukurlah kondisimu membaik, wahai cermin ajaib", kata Aisyah.
"Ini dikarenakan hamba dengan cepat mengubur badan hamba ke dalam pasir emas sehingga panas yang ada di badan hamba berpindah pada pasir emas itu", ucap cermin ajaib.
Aisyah kembali memperhatikan arah depan dan terlihat pusaran angin topan bergerak kencang menuju dirinya.
Sebuah angin topan datang membentuk pusaran kuat yang mampu menerbangkan benda-benda disekelilingnya, terlihat pasir-pasir emas berhamburan ke atas lalu membentuk pusaran angin kencang.
Ada sekitar tiga pusaran angin topan yang berputar di hamparan padang pasir emas itu yang bergerak mengarah ke Aisyah dan berdiri membawa pedang awan putih di genggaman tangannya.
__ADS_1