Mengubah Takdir Aisyah

Mengubah Takdir Aisyah
BARTER...


__ADS_3


Aisyah berdiri dengan tatapan mata yang sangat serius, di lihatnya tuan agung besar yang ada dihadapannya.


"Aku akan memberikan anda pusaka sakti ini tetapi aku mengajukan syarat pada anda", ucap Aisyah.


"Syarat ?", tanya Aisyah.


"Iya, sebuah syarat penting yang selama ini memang menjadi tujuan ku", sahut Aisyah.


Tampak pria bersurban itu berpikir sejenak dengan ucapan Aisyah kemudian dia menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, aku menerima syarat yang akan kamu ajukan pada ku, nona", lanjut tuan agung besar itu.


"Benar anda akan menyetujui syarat yang akan aku ajukan itu", kata Aisyah mencoba meyakinkan dirinya.


"Iya, kamu tidak perlu ragu kalau aku melanggar janji ku, katakan saja syarat yang ingin kamu ajukan", ucap tuan agung besar.


"Apakah anda yang telah mengutuk jam antik kuno ini, tuan ?", tanya Aisyah.


Aisyah menyodorkan sebuah jam antik kuno terbuat dari emas yang ada di telapak tangannya kepada tuan agung besar.


"Hmmm... jam antik kuno...", ucap tuan agung besar.


"Anda masih mengingatnya ?", tanya Aisyah.


"Coba aku lihat dari dekat", sahut tuan agung besar itu.


Tuan bersorban dengan jubah putihnya lalu mendekat ke arah Aisyah yang tengah berdiri sambil memegang jam antik kuno.


"Sepertinya ini jam antik kuno milik pusaka kerajaan Persia", ucap pria itu.


"Tidak, ini adalah jin yang anda kutuk di dalam jam antik kuno pada saat anda melintasi alam bangsa jin", sahut Aisyah.


"Astaga !", ucap tuan agung besar itu tersentak kaget.


Pria bersurban putih itu lalu mundur beberapa langkah dari hadapan Aisyah. Dan menatap lurus-lurus ke arah Aisyah.


"Siapa kamu sebenarnya, nona muda ?", tanya tuan agung besar.


"Nama ku Aisyah", sahut Aisyah lantang.


"Aisyah... Baiklah, nak, aku akan mengajukan beberapa pertanyaan penting pada mu", ucap tuan agung besar itu.


"Iya, silahkan tuan...", kata Aisyah.


"Darimana kamu mendapatkan jam antik kuno ini ?", tanya tuan agung itu.


"Dari mimpi", jawab Aisyah.


"Kamu mendapatkannya dari sebuah mimpi", ucap tuan agung.


Terlihat pria bersurban itu tertegun sambil berpikir keras dan hal itu jelas terlihat dari raut wajahnya bahwa tuan agung besar sedang memikirkan sesuatu.


"Bagaimana kamu bisa bermimpi jam antik kuno ini ? Dan bagaimana awalnya kamu mendapatkan mimpi itu ?", tanya sang sufi.


"Awalnya aku tengah bersekolah di suatu negeri, pada saat aku memasuki hari selanjutnya di asrama, sebuah keajaiban terjadi di sana", sahut Aisyah.


Aisyah menatap ke arah jam antik kuno yang ada di tangannya.


"Setelah aku usai makan malam di asrama, aku jatuh tertidur dan bermimpi tentang sebuah tempat asing yaitu padang pasir yang luas", lanjut Aisyah.


"Mimpi terkadang seperti pertanda...", ucap tuan agung besar itu.

__ADS_1


"Dari mimpi itulah aku mendapatkan jam antik kuno ajaib ini setelah aku terjaga di dalam kamar asrama ku", kata Aisyah.


"Ini sungguh mengejutkan", sahut tuan agung.


"Apakah anda tidak menyukai cerita ini, tuan ?", tanya Aisyah.


"Bukan seperti itu, melainkan aku hanya terkejut saja saat mendengar cerita mu, sangat jarang sekali orang yang bermimpi unik seperti dirimu dan itu langka", jawab tuan agung besar itu.


"Aku juga sebelumnya merasa sangat ketakutan bahkan hampir kehilangan akal sehat ku karena melihat sebuah jam antik kuno yang dapat berbicara", kata Aisyah.


"Jelas saja jam antik kuno itu mampu berbicara, karena benda itu ajaib dan merupakan sosok jin", sahut tuan agung besar.


"Alasan apa yang membuat anda mengutuk jin itu hingga ke dalam jam antik kuno ini, tuan", ucap Aisyah.


"Panjang ceritanya...", kata tuan agung itu.


"Baiklah, aku tidak akan bertanya lanjut lagi, tuan karena sekarang aku akan mengajukan syarat pada anda", ucap Aisyah.


"Baiklah, silahkan kamu ajukan syarat itu", jawab tuan agung besar.


"Syaratnya adalah tolong kembalikan wujud dari jam antik kuno seperti semula dan aku akan menyerahkan pusaka sakti ini pada anda, tuan suci", kata Aisyah.


Pria bersurban putih itu hanya terdiam memandangi Aisyah yang berdiri di depannya, jelas sekali tuan agung besar itu tengah berpikir sangat serius.


Lama tuan agung itu terdiam tanpa menatap sedikitpun ke arah Aisyah.


Tuan itu lalu mengeluarkan sebuah jam antik kuno yang mirip dengan jam kepunyaan Aisyah dari dalam jubahnya.


"Jam antik kuno milik mu sangat mirip dengan jam ku tetapi yang mengherankan ku adalah kenapa ada dua jam antik kuno lalu yang mana pusaka milik kerajaan dan yang asli", kata tuan agung itu.


"Dan kenapa anda menyerang ku setiap kita saling bertemu, tuan ?", tanya Aisyah.


Tuan agung suci itu memandangi Aisyah dengan serius.


Pria bersurban putih itu lalu terdiam sesaat sambil memandangi jam di tangannya.


"Dan sudah menjadi kewajiban ku untuk mengembalikan jin-jin yang tersesat supaya mereka tidak mengganggu kehidupan manusia terutama anak-anak kecil", lanjut tuan agung besar itu lagi.


"Tetapi aku bukanlah kaum bangsa jin, tuan", kata Aisyah.


Sufi itu tercengang sejenak dan menatap tajam Aisyah.


"Aku melihat aura yang sangat kuat dari diri mu dan aku menganggap aura itu biasanya datang dari kaum bangsa jin", sahut tuan agung besar itu.


Giliran Aisyah yang tersentak kaget saat mendengar penjelasan dari tuan agung besar itu.


"Mungkinkah aura itu berasal dari jam antik kuno ini sehingga aku terlihat seperti itu !?", ucap Aisyah termenung.


"Mungkin saja, itu terjadi, nak dan mungkin karena jam antik kuno yang kamu miliki yang membuat kamu memiliki aura kuat itu", lanjut tuan agung besar.


"Dan apakah anda akan menyetujui syarat yang aku ajukan pada anda untuk mengembalikan jam antik kuno ini seperti semula, tuan ?", tanya Aisyah.


"Aku akan mengatakan pada mu cara untuk mengembalikan jam antik kuno itu ke wujudnya semula dan membebaskan jin itu", kata tuan bersorban.


"Maksud anda, tuan", ucap Aisyah.


"Sebenarnya aku hanya memasukkan jin itu ke dalam jam antik tetapi cara mengembalikannya tidaklah mudah karena aku telah mengutuknya", jawab tuan agung besar itu.


"Lalu bagaimana caranya untuk membuat jam antik ajaib ini kembali ke wujud asalnya yaitu bangsa jin, tuan ?", tanya Aisyah.


"Caranya sangat mudah tetapi jalan menuju tempat itu yang agak susah", sahut tuan agung besar.


"Bisakah anda mengatakannya ?", tanya Aisyah.

__ADS_1


"Kamu harus menyucikannya dengan tujuh mata air yang berbeda dari tujuh sungai yang ada di penjuru Persia serta menaklukkan ketujuh penjaga mata air itu", jawab tuan agung besar.


"Baiklah, aku akan melakukannya", kata Aisyah.


"Tetapi ketujuh mata air itu sangat jauh dan apa kamu akan nekat pergi ke sana", ucap tuan agung besar itu.


"Iya, aku akan pergi mencari ke tujuh mata air itu dan mengembalikan jam antik kuno ke wujud asalnya", kata Aisyah.


"Baiklah, nak", ucap tuan agung besar itu.


"Tetapi aku tidak akan menyerahkan benda pusaka ini kepada anda sebelum aku mengembalikan jam antik kuno ke wujudnya semula", sahut Aisyah.


"Apakah kamu tidak mempercayai ucapan ku ?", tanya sufi itu.


"Bukan aku tidak mempercayai anda tetapi aku hanya ingin bersikap lebih berhati-hati terhadap orang yang baru aku kenal, tuan", kata Aisyah.


"Baiklah, jika keinginan dari mu demikian maka aku hanya bisa menunggu kemurahan hati mu untuk memberikan pusaka itu pada mu", ucap tuan agung besar.


"Setelah aku menyelesaikan tugas ku mencari ketujuh mata air dan mengembalikan jam antik ini ke wujudnya semula maka aku akan kembali menemui anda, tuan", sahut Aisyah.


"Aku mengerti tapi aku rasa ini seperti sebuah barter dalam transaksi bisnis", kata tuan agung besar.


"Iya, aku terpaksa melakukannya, tuan dan bukan maksud ku untuk bersikap kurang sopan pada anda, maaf untuk itu, tuan", jawab Aisyah.


"Baiklah, baiklah, aku mengerti dan setelah kamu berhasil dari misi mu, kamu dapat mencari ku di istana", kata tuan agung besar itu.


"Istana !?", ucap Aisyah.


"Benar, datanglah ke istana kerajaan Persia untuk menemui ku di sana dan aku akan menunggu di istana", sahut tuan agung besar itu.


"Bagaimana cara aku melewati penjagaan di istana nanti, tuan ?", tanya Aisyah.


"Tunjukkan saja jam antik kuno itu pada para penjaga istana maka mereka akan mengerti dan mengizinkan mu masuk ke istana", jawab tuan besar itu.


"Dan bagaimana jika anda membohongi ku ?", tanya Aisyah.


Tuan agung besar itu terdiam sambil menatap lurus ke arah Aisyah.


Sebentuk senyuman tersungging di sudut bibirnya saat mendengar ucapan dari Aisyah yang seakan mencari ketegasan serta kebenaran dari ucapan tuan agung itu.


"Aku tidak pernah membohongi mu, nak dan setiap ucapan yang aku katakan pada mu adalah benar adanya dan silahkan kamu buktikan sendiri", kata tuan agung besar itu.


"Baiklah, aku akan membuktikannya, tuan", kata Aisyah.


"Jika aku berbohong, kamu bisa segera menemui ku di istana dan mencari ku", ucap tuan agung besar.


"Aku mengerti, dan aku akan memegang setiap ucapan anda, tuan", kata Aisyah kemudian.


"Mari kita berpisah di tempat ini dan bertemu kembali di istana nanti", ucap tuan agung besar itu.


"Baik tuan, kita berpisah di tempat ini dan tunggulah aku kembali dari perjalanan ku mencari ke tujuh mata air itu", kata Aisyah.


Tuan agung besar itu lalu menganggukkan kepalanya.


"Sampai jumpa lagi, Aisyah !", kata tuan agung besar itu.


"Hosh Amadid !", ucap Aisyah sambil melambaikan tangannya.


"Hosh Amadid !", sahut tuan agung besar itu lalu pergi dari tempat itu.


Aisyah kembali berjalan menghampiri Aidl dan Tabib Naia yang terlihat pucat pasi.


Dia mengajak mereka untuk naik ke atas bunga tulip kuning raksasa dan segera melanjutkan perjalanannya mencari ke tujuh mata air di penjuru negeri Persia.

__ADS_1


Bertujuan mengembalikan jam antik kuno yang ajaib ke wujud asalnya serta menyerahkan benda pusaka ke istana secepatnya.


__ADS_2