
Tanah makam masih terlihat basah oleh guyuran air hujan yang turun, Aisyah masih terpaku didalam diam disebuah atap bangunan tua.
Tatapan matanya yang sangat sendu dan sayu terlihat jelas diwajah Aisyah dengan sebuah buket bunga mawar putih segar ditangannya, ia terbang turun melayang melewati makam-makam ditempat itu.
"Selamat malam kesayanganku...!", kata Aisyah lalu turun disebuah makam dengan batu nisan terbuat dari marmer warna putih.
Aisyah meletakkan buket bunga mawar putih segar diatas pusara yang basah oleh air hujan. Tanpa kata, tanpa suara, hanya pandangan mata yang sayu mewakili perasaan hati Aisyah yang sangat rindu.
"Maaf, aku baru mengunjungimu sekian lama karena sekarang aku tinggal diluar negeri untuk kuliah jadi saat aku pulang kerumah, aku baru bisa mengunjungi pusaramu !", kata Aisyah dalam hatinya yang pilu.
Air hujan membasahi wajah Aisyah, ia menggertakkan gerahamnya serta menahan tubuhnya yang menggigil gemetaran. Dan bagaimana rasa dingin yang menusuk tulang-tulangnya sekarang ini, ia tidak menghiraukannya sama sekali karena rasa dingin tidak dapat mengalahkan rasa didalam hatinya yang membeku lebih dingin dari air hujan ataupun es, ia berdiri cukup lama didepan pusara itu dengan kedua tangan menggenggam erat yang dimasukkan kedalam kedua saku jas hujannya.
Tatapan mata Aisyah kosong serta nanar saat memandangi pusara yang basah oleh guyuran air hujan. Hanya terdengar rintik air hujan yang mengisi heningnya tempat ini dimalam hari.
"Maafkan aku lama membuatmu menungguku...! Aku datang membawa bunga mawar putih kesukaanmu !", bisik Aisyah pelan. "Aku hanya ingin mengucapkan kata selamat tinggal padamu karena aku tidak tahu kapan aku akan pulang kerumah lagi !?"
Aisyah hanya bergeming ditempatnya, dan angin bertiup pelan disekitarnya seolah berbisik ditelinga Aisyah. Seakan-akan ingin menyampaikan pesan yang tertunda dan yang belum sempat ia katakan. "Aku tidak tahu kapan aku akan pulang kembali kemasa depan ini lagi karena aku juga tidak tahu bagaimana kelanjutan nasibku dalam perjalanan waktu ini !", kata Aisyah dalam hati kecilnya.
Aisyah menghela nafas panjang.
"Aku telah meminta restu pada baba secara langsung meski ia tidak dapat mendengarnya atau melihatku disisinya, dan sekarang aku datang ketempat terakhirmu untuk meminta ijin padamu meski kamu juga tidak dapat mendengarnya !", kata Aisyah sendu.
Tuhan memiliki rencana yang memang terkadang sangat sulit diterima oleh manusia ciptaanNya tapi rencana-rencana Tuhan yang telah disusun sebelum penciptaan alam jagat raya dan umat manusia itu telah ada sebelum kelahiran itu sendiri tercipta didalam buku Lauhul Mahfudz yang terletak dikening Malaikat Israfil.
Lauhul Mahfudz adalah sebuah kitab yang menuliskan seluruh catatan takdir dan kejadian dialam semesta. Kitab ini terjaga dan keberadaannya telah ada sebelum alam semesta dan umat manusia diciptakan.
Takdir yang tertulis didalam Lauhul Mahfudz dapat dihapus dan diubah oleh kehendak Allah dan tiada yang dapat mengubah takdir kecuali dengan doa serta mendapatkan umur panjang dengan tingkah laku baik. Pertobatan adalah jalan satu-satunya yang mampu mengubah takdir yang telah tertulis olehNya.
Aisyah paham jika jam antik kuno adalah sosok bangsa jin yang merupakan musuh nyata bagi manusia dan dirinya yang setiap ucapannya tidak dapat dipercaya oleh manusia. Tapi bagi Aisyah ini adalah jalan kebaikan yang ia pilih untuk menolong jam antik kuno agar bisa kembali keasalnya sebagai bangsa jin dengan melakukan pertobatan serta amal baik.
Tekad Aisyah mungkin dari sebagian orang adalah sesuatu yang sangat diluar batas akal manusia serta akan dipandang sebagai sebuah jalan kesesatan yang nyata tapi ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk membantu jam antik kuno itu menjalani pertobatan agar ia terampuni, apapun pandangan orang kepadanya yang memusuhi dirinya, hal itu bagi Aisyah tidak akan pernah ia memperdulikannya lagi.
Tak lama kemudian Aisyah beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut dengan cepat, meninggalkan jejak-jejak dirinya yang masih terasa ditempat ini.
Hujan menambah suasana malam semakin kelam...
Saat ini hujan masih mengguyur kota dimana Aisyah tinggal dan semakin deras turun membasahi setiap sudut kota. Air hujan tampak menggenang diatas permukaan tanah saat Aisyah menginjakkan kedua kakinya kebumi. Ia melangkah pelan menyusuri sepanjang jalan trotoar yang ada, terlihat deretan bangunan toko-toko yang serba modern berjejer disepanjang jalan kota.
Jas hujan warna hijau kesukaannya tampak basah oleh guyuran air hujan malam ini. Aisyah melangkahkan kakinya berbelok kearah sebuah toko jam dipinggir jalan. Ia berjalan masuk kedalam toko seraya melepaskan jas hujan miliknya.
"Selamat malam ! Ada yang bisa saya bantu ?", sapa seorang pria berdasi kupu-kupu dengan tatanan rambut disisir lurus kearah atas.
"Selamat malam, aku mau menanyakan sesuatu padamu !", kata Aisyah lalu mengeluarkan sebuah botol kecil dari dalam saku bajunya.
__ADS_1
"Iya ? Apa ini kalau boleh saya tahu ?", tanya pria tersebut.
"Emm...!? Aku mendapatkan dari seorang teman saat berkunjung keluar kota dan temanku memberikan ini sebagai hadiah untukku !", ucap Aisyah.
"Sebentar ! Saya akan melihatnya dahulu Anda bisa menunggunya dikursi tunggu sebelah sana !", kata pria berdasi kupu-kupu dengan senyum diwajahnya.
"Baiklah ! Terimakasih ! Aku akan menunggunya, kalau boleh tahu sampai berapa lama ?", tanya Aisyah.
"Tidak lama mungkin sekitar sepuluh menit untuk memeriksanya jika dirasa lama dan membutuhkan waktu yang panjang untuk menelitinya lebih akurat maka saya akan memanggil anda !", jelas pria berdasi kupu-kupu.
"Iya baik dan terimakasih !", kata Aisyah. "Aku akan menunggu duduk disana !"
"Silahkan !", sahut pria berdasi kupu-kupu.
Beberapa menit kemudian pria berdasi kupu-kupu tersebut memanggil kembali Aisyah seraya menyerahkan botol kecil pada Aisyah.
"Ini minyak pelumas khusus jam dan kualitasnya masih asli dan murni serta bagus sekali !", kata pria berdasi kupu-kupu.
"Benarkah ?", kata Aisyah kaget.
"Iya, bahkan ini kualitas terbaik yang pernah saya temui. Darimana anda mendapatkannya ?", tanya pria berdasi kupu-kupu.
"Paman saya yang memberikannya kepada saya ketika pulang dari luar negeri !", jawab Aisyah.
"Apa ?", kata Aisyah terkejut.
"Yah, jika nona masih memiliki banyak minyak pelumas mesin jam, anda bisa menjualnya kepada saya !", kata pria berdasi kupu-kupu.
"M--maaf, aku tidak menjualnya dan aku tidak memiliki banyak minyak pelumas jam !", sahut Aisyah kaget.
"Hmph !? Sayang sekali kalau begitu, pihak toko kami bersedia membelinya dengan harga tinggi jika anda mau menjualnya !", kata pria berdasi kupu-kupu seraya tersenyum tipis.
"Oh iya ?", kata Aisyah. "Wouw !!!"
"Benar, kami tidak sedang berbohong, jika anda mau kami akan membelinya dengan harga sekitar satu milyar !", tawar pria berdasi kupu-kupu serius.
"APA !? Satu Milyar !?", kata Aisyah tercengang.
"Bagimana ? Apakah anda berubah pikiran sekarang ?", ucap pria berdasi kupu-kupu sambil tersenyum.
"Aku, aku rasa tidak ! Ma--maaf aku tidak bersedia menjualnya !", kata Aisyah gugup.
"Hmm..., sayang sekali anda tidak berniat menjualnya padahal kami sangat tertarik sekali !", kata pria berdasi kupu-kupu kecewa.
__ADS_1
"Kenapa bisa semahal itu ? Bukannya ini hanya minyak pelumas jam biasa ?", kata Aisyah heran.
"Aduh, aduh, aduh..., ini minyak pelumas jam kualitas pertama dengan mutu terbaik ! Ini langka !", kata pria berdasi kupu-kupu.
"Langka ?", kata Aisyah.
"Benar ! Minyak pelumas ini bisa dikatakan masih termasuk minyak pelumas jam paling langka karena komposisinya masih murni dan baik sekali !", kata pria berdasi kupu-kupu.
"Bagaimana anda tahu jika ini minyak pelumas jam langka ?", kata Aisyah.
"Kami telah mengujinya tadi dan kami baru mengetahuinya setelah hasil tes uji keluar", ucap pria berdasi kupu-kupu dengan tatanan rambut disisir kearah atas.
Aisyah yang mendengar perkataan pria berdasi kupu-kupu sangat terkejut sekali karena ia tidak pernah menyangka jika minyak pelumas jam pemberian pria bermata biru cerah itu ternyata sangat langka dan memiliki kualitas terbaik.
Bagaimana mungkin minyak pelumas jam pemberian pria bermata biru cerah itu memiliki kualitas pertama dengan mutu terbaik, ia hanya mendapatkannya disebuah lapak toko dipinggir jalan Persia. Ia benar-benar tidak mempercayainya, ia berjalan mundur kebelakang, ia berpikir untuk segera pergi dari toko jam ini.
"Baiklah, terimakasih telah membantuku tapi aku harus segera pergi sekarang, permisi !", kata Aisyah buru-buru.
"Emm, tunggu ! Bagaimana jika aku menawarnya sekali lagi ? Kami akan menaikkan harganya ! Bagaimana ?", kata pria berdasi kupu-kupu.
"Tidak ! Tidak, terimakasih ! Aku akan pergi sekarang ! Mohon pamit !", kata Aisyah lalu berlari keluar dari toko.
"Tunggu ! Kita bisa berbisnis nona ! Tunggu !", kata pria berdasi kupu-kupu pada Aisyah yang telah berlari keluar dari toko jam.
Tampak pria berdasi kupu-kupu berlari mengikuti Aisyah keluar toko tapi pria itu tidak dapat mengejarnya karena Aisyah dengan cepat menghilang dari pandangan pria berdasi kupu-kupu secara terbang melayang.
Kecepatan terbang Aisyah mengalami peningkatan yang besar setelah ia meminum ramuan obat ajaib dari jam antik kuno setelah ia terluka waktu itu.
Aisyah lalu teringat jika waktunya minum ramuan obat lagi karena ia hampir lupa untuk meminumnya dikarenakan ia sibuk dengan kejadian yang baru menimpa jam antik kuno. Ia mengeluarkan sebuah botol kecil berbahan keramik dari tangannya.
Botol kecil keramik berwarna-warni itu terlihat berkilauan indah terkena cahaya lampu yang ada dijalan-jalan kota.
"Aku akan meminum ramuan obat ajaib ini dan segera pergi dari sini !", kata Aisyah lalu meminum ramuan obat ajaib yang ada didalam botol kecil terbuat dari keramik berwarna-warni.
Aisyah meminumnya dengan cepat sambil terbang melayang diudara, tiba-tiba tubuh Aisyah terasa dingin sekali seperti membeku, tubuhnya menjadi kaku dingin dan susah untuk digerakkan. Beku seperti bongkahan es batu. Ia kehilangan keseimbangannya dan jatuh menukik kebawah dengan kerasnya.
"BOOOOMMMM...!!!", terdengar suara keras jatuh ketanah.
Gumpalan debu keluar dari sekitar tubuh Aisyah saat ia terjatuh kebawah tanah dari atas ketinggian.
Tidak ada gerakan..., tidak ada suara..., tidak ada rintihan..., ataupun teriakan yang menggema..., yang terdengar hanya desir angin yang berhembus lembut disekitar tempat itu.
Tiba-tiba muncul sosok wanita dari dalam tanah dengan tubuh pucat dan kedua mata tanpa pupil hitam berdiri tegak tanpa bergeming sedikitpun, keluar kepulan asap es dari seluruh tubuh wanita itu dan auranya memancarkan aura dingin sedingin es.
__ADS_1