
Aisyah kembali berjalan mendekati area luar istana emas dengan sikap hati-hati serta penuh kewaspadaan, mengedarkan pandangannya ke arah luar segala penjuru istana emas.
Masih tidak terlihat tanda-tanda yang mengancam dirinya dari istana emas itu, dia memperhatikan keadaan di depan menuju masuk istana emas tetap tidak ada jebakan yang terlihat.
"Sepertinya keadaan sudah sangat aman sekarang, kita bisa masuk ke dalam istana emas", kata Aisyah.
"Iya, keadaan di istana emas tampaknya sudah aman di sekitar luar sini, lebih baik kita langsung masuk tanpa menundanya lagi, Nona Aisyah", kata Badar.
"Benar, lebih cepat lebih baik untuk kita segera menyelesaikan urusan kita di pintu kelima ini, Badar", ucap Aisyah.
"Tetapi tetaplah berhati-hati di dalam istana emas ini dan mungkin saja bahaya masih menghadang kita agar kita tidak dapat masuk dan membuka pintu istana emas", kata Badar.
"Baik, aku mengerti", sahut Aisyah.
Gadis berparas bening itu lalu berjalan melewati depan area istana emas yang luas dan sunyi itu. Dia berjalan sambil menghunuskan pedang awan putih di tangannya erat.
"Sepertinya semuanya baik-baik saja dan keadaan aman-aman saja. Bagaimana kalau kita membuka pintu masuk istana emas ini ?", tanya Aisyah.
"Iya, ini saat yang sangat tepat untuk masuk ke dalam istana emas, Nona Aisyah", sahut Badar dari dalam pedang awan putih yang ada digenggamannya.
Aisyah menghentikan langkah kakinya tepat di depan pintu masuk istana emas lalu membuka pintu dengan kunci kristal yang dia dapatkan setelah memendamnya ke dalam hamparan pasir emas.
KLEK... KLEK... KLEK...
Aisyah berhasil membuka pintu masuk istana emas kemudian melangkahkan kedua kakinya ke dalam istana emas.
"Kita berhasil masuk ke dalam istana emas dan ternyata ucapanmu benar kalau kunci kristal itu adalah kunci masuk ke istana emas", ucap Aisyah.
"Benar, Nona Aisyah", sahut Badar.
"Tapi bagaimana kamu tahu bahwa cermin kristal ajaib itu adalah kunci untuk membuka pintu istana emas ini, apakah kamu telah mengetahuinya sebelumnya ?", tanya Aisyah.
"Aku mendengarnya dari orang suci itu yang mengatakan kepadaku bahwa untuk membuka pintu istana emas agar aku dapat keluar bebas dari pintu kelima maka aku harus menemukan sebuah cermin kristal ajaib", sahut Badar.
"Apakah kamu menyadarinya ketika kamu melihat cermin kristal ajaib ?", tanya Aisyah.
"Iya, saat aku melihatnya, aku baru menyadari bahwa cermin kristal ajaib itu adalah kuncinya meski saat itu aku meragukannya", sahut Badar.
"Oh begitu ya...", ucap Aisyah.
Aisyah lalu memandangi ke seluruh ruangan istana emas yang anehnya tidak terbuat dari emas di dalamnya, ternyata istana emas hanya bagian luarnya saja yang terbuat dari emas.
"Ini sangat aneh sekali, tidakkah kamu lihat jika istana emas ini dalamnya tidak terbuat dari emas ?", kata Aisyah.
"Benar dan aku baru mengetahuinya", ucap Badar.
"Apakah ini memang sebuah perangkap untuk orang yang masuk ke dalam istana emas?", tanya Aisyah.
"Entahlah, aku juga tidak tahu, Nona Aisyah", sahut Badar. "Dan mungkin saja itu benar", sambungnya.
"Hmmm..., ada yang ganjil memang", kata Aisyah.
"Benar, karena itu berhati-hatilah, Nona Aisyah", sahut Badar.
"Iya, aku akan berhati-hati, Badar", kata Aisyah.
Pada saat kakinya melangkah ke dalam istana beberapa langkah, lantai ruangan istana emas langsung bergetar hebat hingga menggoyangkan dirinya yang berada di dalam ruangan itu.
DUK... DUK... DUK...
Aisyah terkejut sekali ketika seluruh ruangan di istana emas berguncang-guncang hebat, kepingan batu menghujani seluruh tempat istana emas.
"Ada apa ini ?", ucap Aisyah.
"Entahlah, Nona Aisyah", sahut Badar dari dalam pedang awan putihnya.
"Kenapa istana emas ini berguncang ketika kita memasukinya lebih dalam !?", kata Aisyah.
DRRRT... DRRRT... DRRRT...
Di depan ruangan istana emas muncul sebuah singgasana emas yang berukuran besar dan Aisyah melihat seluruh lantai istana emas berubah menjadi kaca bening yang di dalamnya terdapat ikan-ikan yang berenang kian-kemari.
__ADS_1
Aisyah menatap tertegun ketika dia melihat seluruh keadaan di istana emas yang tiba-tiba seluruhnya berubah. Bahkan dinding-dindingnya yang semula biasa dari beton kini semuanya telah berubah menjadi emas yang berkilauan terang benderang.
"Wow !", ucap Aisyah.
Ketika dia melihat ruangan istana emas yang seluruhnya berubah sangat berbeda sekali dari yang sebelumnya.
"Istana emas ini sekarang benar-benar terbuat dari emas seperti bagian luar istana ini, lalu tempat apakah itu yang mirip kursi, Badar ?", tanya Aisyah.
"Itu adalah singgasana, Nona Aisyah", sahut Badar.
"Singgasana ?", tanya Aisyah.
"Sebuah kursi yang diperuntukkan untuk seorang raja atau seorang ratu yang berkuasa di suatu wilayah", sahut Badar dari dalam pedang awan putih milik Aisyah.
"Hmmm, itu sangat menarik sekali kedengarannya, mungkin aku bisa menempati singgasana itu, Badar", sahut Aisyah.
"Silahkan, jika Nona Aisyah menghendakinya", sahut Badar.
"Tetapi tidakkah ini aneh, Badar", ucap Aisyah.
"Apa yang aneh itu, Nona Aisyah ?", tanya Badar.
"Untuk siapakah singgasana itu diperuntukkan sebenarnya ?", tanya Aisyah.
"Aku tidak tahu, tetapi sepertinya itu untuk penguasa istana emas ini", sahut Badar.
"Bukankah kamu pemilik kerajaan istana awan putih yang memiliki lima pintu ajaib dan unik itu sedangkan istana emas ini bukankah termasuk bagian istana awan putih milikmu, Badar ?", kata Aisyah keheranan.
"Akan tetapi, aku tidak mengetahui jika di dalam pintu ruangan pintu kelima ada sebuah istana emas dan aku hanya tahu dari orang suci itu kalau aku ingin bebas dari pintu kelima yang merupakan tempat aku dikurung didalamnya maka aku harus menemukan kunci kristal itu", sahut Badar.
"Mmm, itu artinya kamu tidak mengetahui jika di dalam pintu kelima ini terdapat istana lagi ?", tanya Aisyah.
"Benar, karena setahuku kalau pintu kelima hanyalah berupa hamparan emas dan aku baru melihat istana emas setelah aku dikurung di istana emas ini, Nona Aisyah", jawab Badar.
"Oh, aku mulai mengerti", ucap Aisyah.
Aisyah lalu memandangi kembali singgasana yang ada di depannya itu kemudian berjalan mendekat ke arah singgasana tetapi sebelum Aisyah sampai ke singgasana itu, muncul seseorang perempuan cantik duduk di atas singgasana dengan mahkota emas yang berbentuk bunga emas.
Terlihat kain tipis yang menghias tubuh perempuan cantik itu melambai-lambai pelan tertiup angin.
"Selamat datang di istana emas milikku", ucap perempuan cantik itu.
"Siapa kamu ?", tanya Aisyah dengan tegasnya.
"Aku adalah seorang ratu pemilik istana emas ini", sahut perempuan bermahkota emas berbentuk bunga yang melingkar di atas kepalanya.
"Bohong !", ucap Badar dari arah pedang awan putih.
"Siapa itu ?", tanya perempuan cantik yang mengaku ratu itu.
Perempuan cantik bermahkota emas berbentuk bunga mekar itu lalu berpaling dari Aisyah ke arah datangnya suara tadi.
"Kamu berbohong ! Istana emas ini bukan milikmu tetapi ini bagian dari pintu kelima yang merupakan bagian istana awan putih", sahut Badar.
"Ssshhh...", perempuan cantik itu bergerak turun dan mendaratkan kedua kakinya tanpa alas ke atas permukaan lantai kaca.
Dia lalu mendekati Aisyah seraya menatap gadis itu lekat-lekat dengan tatapan sinisnya serta berkata pada Aisyah.
"Apakah kamu yang berkata tidak sopan itu kepadaku ?", tanya perempuan cantik itu sambil memicingkan kedua matanya.
"Bukan aku yang berbicara denganmu melainkan pedang awan putih ini yang mengajakmu bicara barusan", sahut Aisyah.
Aisyah mengangkat pedang awan putihnya ke arah depan serta menunjukkan asal suara yang tadi berbicara dengan perempuan cantik itu sambil tersenyum.
"Pedang ini dapat berbicara ?", tanya perempuan cantik itu lalu mundur melayang ke arah belakang.
"Benar", sahut Aisyah tersenyum lebar.
"Oh, tidak, jangan pernah kamu berpikir kamu dapat membodohi diriku yang seorang ratu", ucap perempuan cantik itu.
"Membodohimu !? Tidak ! Aku tidak bermaksud seperti itu, sungguh !", kata Aisyah.
__ADS_1
Aisyah lalu berjalan menghampiri perempuan bermahkota emas berbentuk bunga itu dengan tetap mengarahkan pedang awan putihnya ke depan.
Tatapan Aisyah menjadi sangat tajam ketika dia melihat ke arah perempuan cantik yang tengah berdiri melayang dengan lugunya itu.
"Katakanlah, siapakah sebenarnya dirimu itu ?", ucap Aisyah.
"Sudah aku katakan aku adalah ratu dari istana emas ini dan istana emas ini adalah tempat tinggal ratu", sahut perempuan bermhakota itu.
"Lalu siapa namamu, ratu ?", tanya Aisyah.
"Aku !?", sahut perempuan bermahkota itu.
"Benar, siapa namamu ?", tanya Aisyah mengulang pertanyaannya.
"Diriku !? Aku adalah ratu istana emas !", sahut perempuan cantik itu.
"Benar bukan yang aku katakan itu jika perempuan itu bukanlah ratu istana emas ini, Nona Aisyah", ucap Badar.
"Hai ! Jangan berkata sembarangan seperti itu kepadaku wahai pedang yang unik !", kata perempuan itu.
"Astaga !? Kenapa dia berbelit-belit untuk mengatakan namanya saja ? Apakah dia benar-benar tidak memiliki nama ?", ucap Aisyah.
"Karena dia perempuan pembohong maka dia tidak memiliki nama, Nona Aisyah", kata Badar.
"Iiiih... Apa yang kamu katakan itu benda ajaib ? Aku ini seorang ratu istana emas dan memang aku adalah penunggu tempat ini", kata perempuan bermahkota itu.
"Jangan percaya dengan perkataan perempuan cantik itu, Nona Aisyah", sahut Badar.
"Fuih !? Baiklah, baiklah ! Jangan berdebat lagi, kalian mengerti !?", kata Aisyah.
"Aku tidak ingin berdebat denganmu, dan aku berkata yang sesungguhnya kalau aku memang ratu dari istana emas ini", ucap ratu itu.
"Lalu kenapa kamu tidak menyebutkan namamu ? Apakah kamu sengaja menyembunyikannya dariku ?", tanya Aisyah.
"Dia menyembunyikan namanya karena dia memang tidak memiliki nama, Nona Aisyah", kata Badar menimpali.
"Hai !", seru perempuan itu seraya melayang ke arah pedang awan putih yang mengarah kepadanya. "Jangan berbicara yang mengada-ada seperti itu !", sambungnya.
"Tapi itu benar bukan kalau dirimu tidak memiliki sebuah nama dan artinya kamu bukanlah berasal dari tempat ini", kata Badar dari dalam pedang awan putih.
"Namaku Bilqis", sahut perempuan bermahkota itu.
Bersamaan itu Aisyah dan Badar tertawa keras setelah mendengar ucapan perempuan cantik dengan mahkota emas itu yang mengaku dirinya adalah Bilqis.
"Jangan membuat lelucon seperti itu sehingga membuatku tertawa, bodoh !", kata Aisyah.
"Hai ! Jangan menertawaiku ! Dan aku tidak bodoh karena itu memang namaku", sahut perempuan cantik itu.
"Dan jangan kamu katakan bahwa dirimu adalah Ratu Bilqis sang penguasa dari negeri Sheba penyembah matahari itu ?", ucap Aisyah.
"Itu memang benar, dan aku akui itulah aku, Ratu Bilqis dari Negeri Sheba", sahut perempuan cantik itu.
"Oh Tuhan ! Dia benar-benar membuat lelucon konyol, mana mungkin seorang ratu sesungguhnya berada di dalam istana emas ini !?", kata Aisyah.
"Jangan katakan bahwa seseorang telah mengurungmu di tempat ini", ucap Badar dari dalam pedang awan putih ini.
"Itu memang benar jika aku memang Ratu Bilqis yang terkurung oleh seorang ahli sufi dari suatu negeri Persia karena aku tidak menyetujui ajarannya yang terbilang menyimpang", ucap Ratu Bilqis.
"Apa benar dia Ratu Bilqis dari Sheba yang termanshyur itu !?", tanya Aisyah kepada Badar.
"Aku juga tidak mengerti, Nona Aisyah", sahut Badar.
"Bagaimana bisa dia berada di istana emas ini ?", tanya Aisyah.
"Entahlah, Nona Aisyah", sahut Badar.
"Mungkinkah ini perangkap yang membingungkan sehingga kita tersesat didalamnya dan tidak pernah mampu untuk keluar lagi !?", kata Aisyah penasaran.
"Mungkin saja, ini juga perangkap ilusi agar kita percaya dengan segala sesuatu yang ada didalam istana emas ini, Nona Aisyah", ucap Badar.
"Ini sungguh membingungkan sekali, dan sebaiknya kita berhati-hati, Badar", kata Aisyah.
__ADS_1
Aisyah hanya menatap perempuan cantik dengan mahkota di kepalanya dengan seribu pertanyaan yang memenuhi isi kepalanya.
Penasaran dengan kisah Bilqis yang sebenarnya dan mungkinkah dia adalah sebuah perangkap supaya Aisyah terkecoh di dalam istana emas itu dan terjebak selamanya di pintu kelima istana awan putih.