
Aisyah memperhatikan arah jalan di depannya saat mereka berada di sebuah pusat kota yaitu tepatnya pasar tradisional Persia.
"Kita sudah sampai di pusat transaksi barang, Nona Aisyah", ucap jam antik kuno.
"Aku melihatnya ada beberapa lapak yang buka di sepanjang jalan", kata Aisyah.
"Tapi kita belum melihat tuan agung itu disini", sahut Bilqis.
"Apakah kamu tahu ciri-ciri tuan agung yang kami cari, Bilqis ?", tanya Aisyah lalu menoleh ke arah perempuan cantik berbusana tipis itu.
"Tidak, aku tidak tahu, Aisyah", sahut Bilqis.
"Tuan agung yang dicari oleh jam antik kuno sangatlah kuat dan dia selalu mengenakan jubah putih serta sorban", kata Aisyah.
"Kalau dilihat dari ciri-ciri tuan agung yang kalian cari hampir mirip dengan orang suci yang telah mengutukku ke dalam istana emas itu, Aisyah", sahut Bilqis.
"Mungkinkah tuan agung yang kita cari itu sama dan memiliki kemiripan ?", kata Aisyah penasaran.
"Entahlah, hamba tidak mengetahuinya. Apakah orang yang sedang kita cari adalah orang yang sama ?", ucap jam antik kuno.
"Hmm... Kita harus segera menemukannya sehingga kita dapat mengetahuinya", sahut Aisyah seraya menghela nafasnya.
"Agak susah untuk mencari tahu karena kita tidak tahu nama tuan agung besar itu seandainya kita tahu pasti sangat mudah kita mengetahuinya", ucap jam antik kuno.
"Benar sekali wahai jam antik kuno, tidaklah mudah mencari tahu sosok tuan agung itu", kata Aisyah.
"Mengapa !?", tanya Bilqis.
"Karena sebelum kita mendekatinya atau menghampiri tuan agung itu, dia akan langsung tahu keberadaan kita", jawab Aisyah.
"Benarkah !? Sehebat itukah tuan agung besar kalian !?", ucap Bilqis.
"Bahkan saat kamu berjalan jauh di belakangnya maka tuan agung itu akan langsung mengetahuinya cepat", kata Aisyah.
"Wow ! Luar biasa sekali tuan agung yang kalian cari itu, Aisyah", ucap Bilqis.
"Tidak hanya itu saja, dia mampu mengenali kita meski kita telah bersembunyi bahkan dia akan menyerang kita", kata Aisyah.
"Itu artinya tuan agung yang kalian cari bukanlah dari kalangan orang biasa saja", ucap Bilqis.
"Oh iya !?", kata Aisyah terkejut.
"Aku curiga dia adalah seorang pria kuat yang memiliki pengaruh besar di Persia", ucap Bilqis kemudian.
"Aku juga sempat berpikir sama dengan mu karena saat aku berjumpa dengannya, aku melihat kharisma yang berbeda dari tuan agung besar itu", lanjut Aisyah.
"Artinya tidaklah mudah untuk menghadapi tuan agung itu, Aisyah", kata Bilqis.
"Iya, aku tahu itu", sahut Aisyah.
"Di samping dia mampu melewati dua alam yang berbeda sekaligus, aku juga menanangkap tunebi an itu memiliki kesamaan dengan orang suci yang telah mengurungku di istan emas", ucap bilqis.
__ADS_1
"Hmmm... !?", gumam Aisyah yang terlihat mulai berpikir tatkala mendengar ucapan Ratu Bilqis dari Sheba itu.
"Aku rasa kita harus berhati-hati saat berhadapan dengan tuan agung besar itu, Aisyah", ucap Bilqis.
"Terimakasih atas peringatannya, Bilqis", sahut Aisyah. "Kami akan lebih hati-hati saat berhadapan dengannya nanti", sambungnya.
"Aku harap seperti itu, Aisyah", lanjut Bilqis.
Aisyah kembali memperhatikan arah jalan di depannya dengan cermat, sesekali dia mengedarkan pandangannya ke arah sekeliling pasar khas Persia.
"Masih tidak terlihat orang itu, wahai jam antik kuno", kata Aisyah.
"Iya, tidak ada tanda-tanda dari tuan agung besar itu di area pasar tradisional itu, Nona Aisyah...", sahut jam antik kuno.
"Tetapi kita harus tetap berhati-hati karena bisa saja tuan agung itu mengetahui kehadiran kita di tempat ini", kata Aisyah.
"Baik Nona Aisyah... Hamba akan lebih waspada dan meningkatkan keamanan kita semua", sahut jam antik kuno.
Bunga tulip kuning raksasa terus bergerak pelan dari atas jalan-jalan di area kota Persia yang cukup ramai oleh penduduk yang mulai berdatangan ke pasar tradisional itu.
Belum terlihat keberadaan tuan agung besar di area pasar yang menjual beraneka ragam jenis barang khas Persia.
"Aku ingin sekali membeli buah tangan khas Persia sebagai kenang-kenangan kita pernah datang ke masa lima ratus tahun yang lalu", kata Aisyah.
"Lebih baik kita turun saja dari atas bunga tulip kuning raksasa ini dan berjalan-jalan di area pasar seperti yang lainnya agar tidak terlalu mencolok terlihat", kata jam antk kuno.
"Idea yang bagus dan aku pikir sebaiknya kita segera turun ke bawah, wahai jam antik kuno", sahut Aisyah.
"Iya, Nona Aisyah... Dan hamba akan menurunkan bunga tulip raksasa ini dekat di area tersembunyi...", jawab jam antik kuno.
"Ayo, kita segera turun sebelum orang melihat kita semua di sini dengan bunga tulip raksasa", ucap Aisyah.
"Iya, iya, aku akan turun segera bersama Tabib Naia", lanjut Bilqis.
Bilqis beserta Tabib Naia turun melompat ke bawah bersama-sama kemudian disusul oleh Aidl.
"Akan kamu sembunyikan kemana bunga tulip raksasa ini, wahai jam antik kuno ?", tanya Aisyah yang masih berada di atas bunga tulip itu.
"Hamba akan menyuruh bunga tulip ini terbang ke atas dan bersembunyi di balik awan-awan", sahut jam antik kuno.
"Apakah kamu tidak mengembalikan wujud bunga tulip raksasa itu ke wujud asalnya ?", tanya Aisyah.
"Tidak, hamba akan membiarkan wujud bunga tulip ini tetap seperti ini karena jika terjadi sesuatu yang mengancam kita maka kita dapat segera lari", sahut jam antik kuno.
"Hmmm... Benar juga yang kamu katakan itu...", kata Aisyah.
"Baiklah, Nona Aisyah ! Mari kita segera turun dari bunga tulip ini !", ucap jam antik kuno.
"Iya, aku akan segera turun ke bawah", lanjut Aisyah.
Aisyah terlihat bersiap-siap turun tetapi dia lalu mengurungkan niatnya karena dia melihat dari kejauhan tuan agung besar itu tengah berjalan ke arah area tempat mereka bersembunyi.
"Bilqis naik !", teriak Aisyah.
__ADS_1
"Eh, apa !?", ucap Bilqis kebingungan.
Aisyah lalu menunjuk ke arah seorang pria berjubah putih dengan sorban di kepalanya yang berjalan diantara kerumunan orang-orang di pasar.
Ratu dari negeri Sheba itu langsung menolehkan kepalanya ke arah pria yang dimaksud oleh Aisyah.
Betapa terkejutnya Bilqis ketika melihat orang yang ditunjuk oleh Aisyah itu dan dia lalu berkata pada dirinya sendiri.
"Itu orang suci yang telah mengurungku di dalam istana emas", ucap Bilqis bergumam pelan.
"Ada apa Bilqis ?", tanya Tabib Naia.
"Kita harus segera bersembunyi, Tabib Naia", sahut Bilqis.
"Bersembunyi !? Untuk apa kita harus bersembunyi, Bilqis !?", lanjut Tabib Naia heran.
"Tuan agung besar itu kini ada dekat sekali di depan kita, tabib", sahut Bilqis cemas.
"Tetapi untuk melompat ke atas bunga tulip raksasa itu tidaklah mungkin karena waktu kita terlalu sempit", ucap Tabib Naia.
"Kalau begitu kita bersembunyi saja, tabib", sahut Bilqis.
Ratu Bilqis dari bangsa jin lalu mengedarkan pandangannya ke arah sekitarnya dan berusaha mencari tempat persembunyian untuk mereka.
Tiba-tiba Bilqis menarik tangan Tabib Naia ke suatu kios yang dekat dari arah mereka berdiri.
Mereka masuk untuk bersembunyi dari tuan agung besar itu dan meninggalkan Aidl sendirian di luar.
"Kenapa kita harus bersembunyi dari orang itu ? Akankah baiknya kita langsung menghadapinya, Bilqis ?", ucap Tabib Naia.
"Maksudmu kita langsung saja melawannya tanpa persiapan", kata Bilqis.
"Iya, bukankah ini saat yang tepat untuk mencari perhitungan dengannya dan menyuruhnya untuk mengembalikan mu ke asalmu", lanjut Tabib Naia menyarankan.
"Meminta pertanggung jawaban atas kekejaman orang suci itu !?", kata Bilqis bimbang.
"Tepat sekali, tidaklah mudah menemukan orang suci itu dan setelah kita melihatnya, sebaiknya kita langsung menghadapinya", saran Tabib Naia.
"Hmmm...", gumam Bilqis ragu-ragu.
"Kamu takut menghadapinya Bilqis, bukankah kamu memiliki kekuatan yang imbang dengan orang suci itu", kata Tabib Naia.
"Tetapi kekuatan orang suci itu lebih tinggi dariku dan aku tidak tahu apakah aku sanggup melawannya, tabib", sahut Bilqis.
Mereka tengah mengintip keluar dari dalam jendela kios yang kosong itu seraya memperhatikan keberadaan tuan agung besar atau orang suci itu.
"Aku tidak pernah menyangka jika orang yang aku cari sama dengan orang yang Aisyah dan jam ajaib itu cari", kata Bilqis terpana.
"Bukankah ini kesempatan kalian semua untuk menyerang orang itu secara bersama-sama", lanjut Tabib Naia.
"Benar juga yang kamu katakan itu, tabib", sahut Bilqis. "Sebaiknya kami semua bergerak menghadapinya dan mendesak orang itu untuk mengembalikan kami semua", sambungnya.
"Iya...", ucap Tabib Naia setuju.
__ADS_1
Tabib Naia lalu menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan yang dikatakan oleh Bilqis, menurut Tabib Naia, untuk apa menghindar jika target yang mereka cari telah berada dekat dengan mereka. Sedangkan Bilqis sendiri mulai setuju dengan perkataan tabib wanita itu untuk segera menghadapi orang suci yang selama ini dia cari.