Mengubah Takdir Aisyah

Mengubah Takdir Aisyah
Peliharaan Baru Aisyah...


__ADS_3

Aisyah langsung bergerak ke arah layar monitor kereta dan menekan papan tuts dengan mengetikkan beberapa kalimat penting untuk mencari informasi pada sistem.


Layar monitor mulai kembali aktif, tertera beberapa jawaban atas pertanyaan yang diajukan olah Aisyah.


"Apa yang sedang anda lakukan, Nona Aisyah ?", tanya cermin ajaib.


"Aku sedang mencari data keterangan mengenai anemon laut, aku harus menyingkirkan mereka karena jika tidak aku tidak akan bisa keluar dari istana ini", sahut Aisyah.


"Bagaimana kalau kita gunakan saja tanaman foxglove itu untuk menahan anemon-anemon laut itu, mungkin saja kita berhasil, Nona Aisyah ?", tanya cermin ajaib.


"Baiklah aku akan mencobanya", sahut Aisyah.


Aisyah mengetikkan sesuatu untuk menggerakkan tanaman foxglove agar menangkap anemon-anemon tersebut pada sistem.


Keluarlah sebuah penjelasan pada layar monitor tentang cara menggerakkan tanaman foxglove.


"Aku sepertinya harus menggerakkan cursor yang tertera pada papan tuts untuk membuat tanaman foxglove itu bekerja", kata Aisyah.


DUAK... DUAK... DUAK...


Terdengar suara keras menghantam kereta gulali roller coaster saat Aisyah hendak menyentuh cursor-cursor itu.


Aisyah memalingkan wajahnya dari layar monitor ke arah jendela kereta dan melihat gerombolan anemon-anemon laut itu menyerang kereta mereka dengan ganasnya.


"Oh tidak, makhluk laut itu menyerang kita", kata Aisyah berseru pelan.


"Ini sangat berbahaya sekali sebab kereta gulali roller coaster tidak mampu menahan kuatnya hantaman dari makhluk laut itu, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.


"Aku tahu itu..., jumlah mereka sangat banyak sekali, dan itu sangatlah berbahaya bagi keselamatan kita di kereta ini", kata Aisyah.


BEP... BEP... BEP...


Terdengar suara berbunyi dari arah layar monitor sistem kereta gulali roller coaster diiringi suara keras dari luar kereta.


"GLEDAK... GLEDAK...GLEDAK... GLEK..."


Kereta gulali bergerak-gerak kencang dan berputar dengan cepatnya.


"A--pa yang sedang terjadi !? Aduh ! Kepalaku pusing sekali !", seru Aisyah sambil memegangi kepalanya.


"Aih... Ya... Ada apa ini !?", ucap cermin ajaib bergulingan di udara dalam kereta gulali.


"GLEDAK... GLEDUK... GLEDAK... GELEDUK..."


Suara guncangan kereta gulali roller coaster semakin kencang dan membuat tubuh Aisyah terbanting ke samping kanan dan kiri saat berada di dalam kereta tersebut.


"Auw ! Kepalaku pusing sekali ! Sakit !", ucap Aisyah saat tubuhnya terhempas ke bawah lantai kereta gulali.


BRUK !


Tubuh Aisyah terjatuh ke bawah dengan tengkurap, dia tidak sempat menggerakkan lagi cursor yang ada di papan tuts agar tanaman foxglove di kereta gulali dapat di gerakkan untuk menjerat anemon-anemon laut itu.


Guncangan kereta semakin keras dan memaksa Aisyah harus bertahan di bawah dengan berpegangan erat pada lantai kereta yang seluruhnya terbuat dari gulali.


"Aduh !? Bagaimana ini ? Apa yang harus aku lakukan sedangkan aku tidak dapat berdiri karena guncangan kereta sangat kuat sekali !?", ucap Aisyah gelisah.


GLEDAK... GLEDUK... GELEDAK... GELEDUK...


Kereta gulali roller coaster terlihat berguncang keras sekitar kurang lebih setengah jam.


Setelah itu kereta mulai berhenti perlahan dan tidak ada gerakan apapun dari kereta gulali. Dan kereta diam serta suasana menjadi tenang kembali.


Aisyah mengangkat kepalanya lalu mendongakkan wajahnya ke arah sekeliling kereta gulali roller coaster seraya bergumam pelan.


"Kereta berhenti...", ucapnya.


Aisyah melihat ke arah cermin ajaib yang terdiam melayang di udara dan dia bangkit berdiri dengan pelan-pelan dari atas lantai kereta gulali roller coaster.


"Wahai cermin ajaib... Apakah kamu baik-baik saja ? Aku tidak melihatmu bergerak ataupun bersuara...", tanya Aisyah lalu berjalan pelan mendekati cermin ajaib.


"Mmm... Hamba baik-baik saja, Nona Aisyah...", ucap cermin ajaib masih terdiam berbaring melayang di udara.


"Oh, syukurlah kalau demikian, aku sempat khawatir kepadamu, wahai cermin ajaib", kata Aisyah.

__ADS_1


Dia mendekat lalu memperhatikan ke arah cermin kristal berbingkai emas itu dengan tatapan seksama dan cermat.


Aisyah meraih cermin ajaib yang melayang di udara itu seraya mengusapnya lembut.


"Maaf... Selalu membawamu dalam situasi yang tidak menyenangkan seperti ini, wahai cermin ajaib...", ucap Aisyah.


"Tidak apa-apa, hamba sudah terbiasa sejak menjadi pelayan setia anda, dan itu bukanlah masalah bagi hamba, Nona Aisyah", sahut cermin ajaib seraya membuka kedua matanya yang bulat.


"Syukurlah... Semoga Allah selalu melindungi kita, wahai cermin ajaib...", kata Aisyah tersenyum lega.


"Amien...", sahut cermin ajaib.


"Apa yang tengah terjadi sebenarnya, kereta ini berguncang lalu terdiam ?", tanya Aisyah.


"Bagaimana kalau kita mencari tahu dan keluar dari kereta gulali dengan begitu kita dapat melihat yang terjadi di luar sana ?", sahut cermin ajaib.


"Baiklah, aku akan mencari tahu di luar sana dan tunggulah kamu di dalam kereta gulali ini, wahai cermin ajaib !", kata Aisyah lalu meletakkan cermin ajaib di atas kursi.


"Tunggu Nona Aisyah ! Hamba akan ikut bersama dengan anda, mana mungkin hamba tinggal di dalam kereta gulali sendirian !?", seru cermin ajaib.


"Jangan, lebih baik kamu tetap tinggal di kereta karena akan memudahkan aku bergerak", ucap Aisyah dengan mencegah cermin ajaib.


"Tidak ! Tidak ! Tidak Nona Aisyah ! Hamba akan ikut bersama dengan anda keluar !", ucap cermin ajaib.


Tampak cermin kristal ajaib lalu bergerak terbang ke arah Aisyah.


"Tunggulah disini, wahai cermin ajaib ! Karena jika ada sesuatu yang berbahaya padaku maka kamu dapat segera menolongku dan tetaplah tinggal di dalam kereta gulali roller coaster ini !", kata Aisyah kepada cermin ajaib.


"Tapi Nona Aisyah...", sahut cermin ajaib.


"Tidak apa-apa, aku akan baik-baik saja dan kamu tidak perlu mengkhawatirkan diriku, tetaplah menunggu di dalam kereta gulali ini !", perintah Aisyah bersungguh-sungguh.


"Nona Aisyah...", ucap cermin ajaib gelisah.


"Percayalah padaku, wahai cermin ajaib ! Kamu dapat memantau perkembanganku di luar dari layar monitor sistem yang ada pada kereta gulali ini, lihatlah kesana !", kata Aisyah sambil menunjuk ke arah layar monitor.


"Iya, Nona Aisyah, hamba paham", ucap cermin ajaib.


"Baik, Nona Aisyah", jawab cermin kristal ajaib.


"Aku akan melihat keluar kereta gulali roller coaster dan mencari tahu yang terjadi di luar sana, dan jika terjadi sesuatu padaku maka segeralah kamu menolongku", pesan Aisyah.


Aisyah lalu berjalan ke arah luar kereta dan turun seraya melangkahkan kedua kakinya pelan.


Dia melihat tanaman foxglove yang menjulur serta mengikat erat gerombolan anemon-anemon laut itu di dinding istana awan putih.


Anemon-anemon laut itu bercahaya terang benderang serta mengeluarkan busa dari tubuh mereka.


"Oh tidak ! Apa yang terjadi pada hewan laut itu ? Kenapa mereka semua berbusa seperti itu ?", ucap Aisyah bertanya-tanya.


Tanaman foxglove melingkari anemon-anemon laut yang berbusa seperti jaring raksasa serta keluar sinar hitam dari tanaman menjalar beracun itu sedangkan dari badan anemon laut muncul asap menggumpal di sekitar hewan laut itu.


Aisyah tertegun ketika melihat pemandangan tersebut tanpa berkedip. Dia terkejut saat menyaksikan anemon-anemon laut yang bergerombol itu sudah tidak berdaya dan terdiam serta berbusa.


"Apakah racun dari tanaman foxglove itu telah menetralisir racun yang ada pada anemon laut sehingga membuat anemon itu berbusa ?", kata Aisyah.


Aisyah lalu teringat dengan benda yang didapatkan dari dunia mimpi dan dia mengambil kedua benda itu dari dalam saku tuniknya.


Saat Aisyah mengeluarkan gulali berbentuk lingkaran tiba-tiba keluar asap berwarna cokelat yang mengarah kepada gerombolan anemon laut.


"Asap apakah itu ? Bagaimana asap keluar dari gulali itu ?", tanya Aisyah terkejut.


WUSH... WUSH... WUSH...


Asap berwarna cokelat itu lalu berputar di sekitar anemon-anemon yang terikat erat pada tanaman menjalar foxglove.


Menyerap energi dari anemon-anemon laut yang bersinar berkilauan.


Aisyah hanya terdiam terpana melihat asap tersebut menghisap energi yang keluar dari badan anemon laut.


"Ya Tuhanku... Yang Maha Kuasa...", ucap Aisyah bergumam pelan seraya menutup rapat mulutnya dengan kedua tangannya.


Anemon-anemon laut lalu berkumpul menjadi satu kesatuan dan bergerak hebat di antara jaring tanaman menjalar foxglove.

__ADS_1


Terbang ke arah atas lalu bercahaya benderang kemudian menyatu menjadi anemon laut berukuran raksasa dan ikatan tanaman menjalar foxglove perlahan-lahan terlepas dari badan anemon laut raksasa itu.


"Astaga ! Anemon laut itu lepas dari tanaman foxglove yang mengikat mereka dan bergerak ke arahku ?", kata Aisyah lalu berlari menghindar.


Anemon laut turun rendah ke arah Aisyah kemudian mengejar gadis muda berparas bening itu.


Aisyah menoleh ke belakang dan dia melihat hewan laut itu masih tetap mengejarnya tetapi anemon laut itu tidak menyerangnya.


"Berhenti nona muda, jangan takut kepadaku", terdengar suara dari arah anemon laut.


Aisyah terkejut kaget ketika mendengar suara yang berbicara kepada dirinya kemudian dia menghentikan larinya dan berbalik menghadap anemon laut itu.


"Kamu berbicara kepadaku...", ucap Aisyah.


"Benar, aku adalah anemon laut yang dikirim dari dunia mimpi untuk menemuimu di istana awan putih ini, nona", sahut anemon laut itu seraya menggoyangkan helai kelopak yang menyerupai mawar di badannya lembut.


"Bukankah kamu adalah anemon laut dan bagaimana bisa kamu berbicara kepadaku yang seorang manusia ?", ucap Aisyah bertanya-tanya keheranan.


"Seperti itulah diriku yang sesungguhnya dan aku memang dapat berbicara karena tanpa nona sadari bahwa nona bisa mendengar aku bersuara dengan bahasaku yang berasal dari hewan laut", jawab anemon laut.


"Maksudmu aku mampu mendengar dan dapat berbicara dengan hewan laut ?", tanya Aisyah tertegun.


"Yah... Bisa dikatakan demikian, nona... Sebenarnya nona dapat mendengar suara maupun perkataan yang diucapkan oleh semua hewan termasuk anemon laut", sahut anemon laut.


"Benarkah itu ? Aku dapat mendengar suara dan ucapan hewan ?", tanya Aisyah termenung.


"Benar, bahkan nona dapat bercakap-cakap dengan kami yang merupakan bangsa hewan", ucap anemon laut.


"Itu artinya aku memiliki kemampuan khusus dapat berbicara dengan makhluk hidup yaitu binatang termasuk anemon laut", kata Aisyah.


"Tepat sekali yang nona katakan bahwa sebenarnya nona dapat serta mampu berbicara dengan kami, hewan laut", sahut anemon laut itu.


Makhluk yang termasuk hewan laut itu bergerak menghampiri Aisyah yang tengah berdiri tegak di ruangan istana awan putih yang luas itu serta jauh dari kereta gulali roller coaster.


Anemon laut mendekati Aisyah lalu mengusapkan tubuhnya kepada gadis muda itu yang terlihat kegelian dengan helaian-helaian anemon laut yang mengenai tubuhnya.


"Hai ! Hentikanlah ! Aku merasa geli dengan helai-helai anemonmu itu !", ucap Aisyah seraya menutupi wajahnya.


"Naiklah ke badan anemonku, nona !", ucap anemon laut.


"Tidak ! Kamu beracun dan aku akan tersengat oleh racunmu jika aku menaiki badan anemonmu", kata Aisyah lalu mundur beberapa langkah ke arah belakang.


"Jangan takut, aku tidak berbahaya seperti yang kamu perkirakan, nona", ucap anemon laut.


"Oh tidak, aku pernah tersengat racunmu dan jatuh koma sehingga aku berada di dimensi lain dan terperangkap di dunia mimpi dan hingga kini aku masih amnesia", kata Aisyah sambil menggelengkan kepalanya pelan.


"Maaf... Karena kami, nona tersengat racun dan koma, maaf atas ulah bangsaku, nona...", ucap anemon laut penuh penyesalan.


"Kenapa kamu memburuku dan mengejarku ?", tanya Aisyah.


"Kami tidak ingin menyerangmu hanya saja itu adalah reaksi alami pada saat sinyal radar kami merasakan sesuatu yang asing di sekitar kami, nona", sahut anemon laut.


"Apakah itu benar yang kamu ucapkan ? Lalu aku harus memanggilmu apa ?", tanya Aisyah.


"Anemon laut... Itu saja... nona hanya perlu memanggilku dengan panggilan anemon laut saja", sahut hewan laut yang mirip bunga mawar itu.


"Hmmm... Baiklah... Aku akan memanggilmu dengan anemon laut", kata Aisyah.


"Lalu siapa nama nona ?", tanya anemon laut.


"Namaku Aisyah", sahut Aisyah.


"Nama yang sangat indah sekali, baiklah, Nona Aisyah, aku sekarang adalah peliharaanmu dan akan mematuhi perintahmu mulai detik ini dan seterusnya. Apa tugasku Nona Aisyah ?", tanya anemon laut.


"Tugas ? Oh belum ada tugas untukmu tetapi aku sedang berusaha untuk keluar dari istana ini", kata Aisyah.


"Baiklah aku mengerti", ucap anemon laut.


Aisyah memandangi anemon laut yang berukuran raksasa itu dan hanya berdiri menatapnya terdiam.


Tidak ada sedikitpun pertanyaan maupun perkataan yang ingin Aisyah ucapkan kepada anemon laut.


Dia hanya ingin berada lebih lama di samping makhluk laut itu.

__ADS_1


__ADS_2