Mengubah Takdir Aisyah

Mengubah Takdir Aisyah
Perjalanan Ke Tujuh Mata Air Part I...


__ADS_3


Aisyah sangat lega bahwa Keroshy akhirnya menyetujui ajakan darinya untuk mencari lokasi ke tujuh mata air.


"Kita sudah keluar dari Susa, lantas kita akan menuju ke arah mana, Keroshy ?", tanya Aisyah.


"Setelah dari kota Susa kita akan mengarah ke selatan", sahut Keroshy sambil memperhatikan area bawah.


"Baiklah, kami mengerti", kata Aisyah.


Aisyah lalu memerintahkan kepada jam antik kuno untuk mengatur arah gerakan bunga kuning tulip raksasa.


"Kita berbelok ke selatan mengikuti mata arah angin, wahai jam antik kuno", ucap Aisyah.


"Hamba mendengarnya dan hamba akan mengarahkan bunga tulip kuning raksasa ini menuju selatan sesuai petunjuk dari Keroshy", sahut jam antik kuno dengan sigapnya.


"Iya...", jawab Aisyah sambil menganggukkan kepalanya.


Jam antik kuno milik Aisyah lalu bergerak melayang ke atas dan mulai berputar seraya mengucapkan kata-kata yang biasa jam itu ucapkan.


"KAMU ADALAH TUANKU DAN AKU ADALAH PELAYAN SETIAMU... JAM... JAM ANTIK BERPUTARLAH... !", kata jam antik kuno.


Seberkas cahaya terang mengelilingi badan bunga tulip kuning raksasa dan mengangkat bunga itu bergerak ke arah selatan.


Melaju cepat meninggalkan kota Susa, berkelok-kelok melintasi awan putih.


Angin menerpa wajah Aisyah yang bening kemerahan terkena sinar matahari yang cukup hangat.


Aisyah lalu berkata seraya memalingkan mukanya.


"Apakah jalur yang kita tuju sudah benar ke arah selatan, Keroshy ?", tanya Aisyah.


"Aku lihat sepertinya jalur yang kita tempuh sudah benar, hanya saja kita butuh waktu agak lama untuk sampai di salah satu mata air yang kita cari itu, Aisyah", sahut Keroshy.


"Kalau begitu kita percepat saja laju bunga tulip kuning raksasa ini, wahai jam antik kuno", kata Aisyah.


"Baik nona Aisyah, hamba akan mempercepat laju bunga tulip ini agar sampai ke lokasi mata air", ucap jam antik kuno serta ajaib.


"Bagaimana kamu yakin bahwa itu lokasi mata air yang kami cari, Keroshy ?", tanya Aisyah.


"Karena aku pernah pergi ke sana, Aisyah", sahut Keroshy.


"Untuk apa kamu ke mata air itu ?", tanya Aisyah lagi.


"Aku hanya mencari ke tujuh mata air itu untuk tambahan ramuan obat ketika penduduk di kota Susa keracunan", sahut Keroshy.


"Ternyata kamu masih mengingat tempat itu, Keroshy", ucap Tabib Naia.


"Tentu, aku masih mengingat lokasi mata air itu karena terkadang aku membutuhkannya untuk ramuan-ramuan obat ku, Naia", jawab Keroshy.


"Kenapa kamu mencampur ramuan obat buatan mu dengan air dari ke tujuh mata air itu, tidakkah kamu menggunakan bahan lainnya, Keroshy ?", tanya Aisyah.


"Karena air dari ke tujuh mata air sangat berkhasiat bahkan terbilang ajaib sekali", sahut Keroshy.


"Ajaib !?", ucap Aisyah.


"Iya...", sahut Keroshy.


"Aku juga akan mengambil air itu", kata Tabib Naia kemudian.

__ADS_1


"Benar, aku berpikir alangkah baiknya jika kita mengambil juga air dari ke tujuh mata air itu untuk persediaan", jawab Tabib Naia.


"Aku sarankan pada mu, Aisyah, untuk mengambil air dari ke tujuh mata air itu, bukan hanya untuk jam antik kuno tetapi buat diri mu sendiri", kata Tabib Naia.


"Buat ku !?", sahut Aisyah.


"Iya... Buat diri mu, air ini sangat berkhasiat dan anggap saja sebagai kenang-kenagan kalau kamu pernah datang ke negeri Persia ini, Aisyah", kata Tabib Naia.


"Hmmm..., baiklah..., tidak ada salahnya, aku pikir...", sahut Aisyah.


"Ini ! Ambillah botol ini ! Untuk menampung air itu, Aisyah", kata Tabib Naia.


Aisyah menerima sebuah botol antik berlukiskan hiasan cantik warna-warni itu dari Tabib Naia lalu berkata.


"Apakah kamu masih mempunyai botol lagi ?", tanya Aisyah.


"Tentu, karena aku membawa banyak botol dari rumah Keroshy", sahut Tabib Naia.


Tabib Naia membuka bungkusan dari karung berukuran besar kemudian menguarkan banyak botol antik yang mirip seperti Aisyah pegang.


"Wouw !!! Kamu membawa banyak sekali botol antik, Tabib Naia !", pekik Aisyah.


"Kapan kamu mengambilnya dari rumah ku, Naia ? Kenapa aku tidak tahu !?", kata Keroshy.


"Aku mengambilnya ketika kamu mempersiapkan bekal mu dan aku melihat banyak botol berserakan di salah satu ruangan rumah mu jadi aku langsung mengambilnya, Keroshy", sahut Tabib Naia.


"Lalu untuk apa kamu mengambil semua botol-botol itu dan membawanya !? Aku tidak berharap bahwa kamu akan memasukkan semua air dari ke tujuh mata air itu ke semua botol-botol ini", ucap Keroshy.


"Itulah maksud ku yang sebenarnya, aku memang berniat mengambil air dari ke tujuh mata air itu", jawab Tabib Naia.


Keroshy hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saat mendengar jawab dari Tabib Naia.


Tabib Naia hanya tersenyum mendengar ucapan dari Keroshy.


"Lihat ! Itu ada air yang keluar dari kaki pegunungan !", seru Aisyah.


Aisyah berdiri sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah bawah.


"Kita sudah sampai di mata air Koohrang", sahut Keroshy.


"Apa yang di ucapkan oleh tuan agung besar itu adalah benar adanya, dan ternyata memang ada mata air di negeri ini", kata Aisyah.


"Sebaiknya kita turun untuk mengambil air itu, Aisyah", lanjut Keroshy.


"Kita berada di daerah mana sekarang, Keroshy ?", tanya Aisyah.


Aisyah mengamati area mata air itu yang sangat indah.


"Kita berada di daerah pegunungan Zardkooh", sahut Keroshy.


"Tempat ini alangkah indahnya dan aku sangat menyukai pemandangan di sini", kata Aisyah.


"Ayo, kita segera turun !", ucap Keroshy.


"Iya...", sahut Aisyah dan Tabib Naia bersama-sama.


Bunga tulip kuning raksasa itu lalu bergerak turun ke bawah dan mendarat ke area pegunungan Zardkooh yang masih alami dan kehadiran nomaden di daerah itu.


"Tunggu..., tunggu !", ucap Tabib Naia.

__ADS_1


"Ada apa Naia ?", tanya Keroshy.


"Aku akan membawa botol-botol ini dulu, Aisyah", sahut Tabib Naia.


"Astaga Naia ! Bukankah kamu masih bisa kembali ke tempat ini, Naia !?", kata Keroshy.


"Oh, iya, ya...", ucap Tabib Naia.


"Ayo, kita turun dan segera mengambil air dari mata air itu secepatnya karena kita masih harus melanjutkan perjalanan kita", kata Keroshy.


Mereka berempat dan jam antik kuno itu lalu turun dari atas bunga tulip kuning raksasa dan berjalan menuju ke mata air Koohrang.


"Ternyata di bawah sini alirannya sangat deras", kata Aidl.


"Air mata Koohrang adalah sumber air Sungai Zayandeh dan Karun yang merupakan sumber air minum bagi penduduk sekitarnya", sahut Keroshy.


"Karena itu ada aliran air yang sangat deras dari arah kaki pegunungan ini", kata Aisyah.


"Hawanya sangat sejuk serta damai sekali saat kita berjalan di area pegunungan ini", lanjut Aidil.


Aidl mengedarkan pandangannya ke arah pegunungan Zardkooh yang masih alami dan sepi itu.


"Aisyah !", panggil Aidl.


"Iya, Aidl ! Ada apa ?", sahut Aisyah seraya menolehkan kepalanya ke arah Aidl.


Aisyah menghentikan langkah kakinya dan menatap Aidl.


"Jangan lupa untuk berhati-hati dengan ratu jin itu karena kita tidak tahu keberadaan dia sekarang ini dan mungkin saja dia mengikuti kita", ucap Aidl.


"Oh iya..., aku hampir melupakannya karena terlalu bersemangat dengan keindahan pemandangan di sini", sahut Aisyah.


"Kalau begitu, kita lanjutkan saja mengambil air dari mata air Koohrang dan segera pergi melanjutkan perjalanan kita", kata Aidl.


"Iya, Aidl, dan aku ucapkan terimakasih telah mengingatkan kami semua", jawab Aisyah.


Aidl menngangguk-anggukkan kepalanya serta tersenyum.


Mereka berempat kembali melanjutkan langkah mereka menuju ke mata air Koohrang lebih dekat supaya bisa mengambil air itu dengan mudah.


Aisyah memasukkan mata air Koohrang ke dalam botol antik dan menyimpannya.


"Wahai jam antik kuno, cobalah kamu berendam di dalam aliran mata air Koohrang ini !", ucap Aisyah.


"Baik, Nona Aisyah", sahut jam antik kuno.


Jam antik kuno serta ajaib itu langsung menceburkan dirinya ke dalam aliran mata air Koohrang.


"Berhati-hatilah, wahai jam antik kuno ! Karena aliran airnya sangat deras", teriak Aisyah mengingatkan.


Jam antik kuno sudah tidak terlihat lagi karena seluruh badannya terendam di dalam aliran mata air Koohrang yang deras.


Aisyah menunggu jam antik kuno di pinggir tepian aliran mata air Koohrang sembari duduk di atas bebatuan pegunungan Zardkooh.


Ketika jam antik kuno berendam di dalam aliran mata air Koohrang muncul seberkas cahaya pelangi yang indah dari dalam air.


Cahaya itu semakin lama semakin bersinar kuat dan keluarlah jam antik kuno yang terangkat ke atas.


Jam antik kuno itu lalu berputar-putar sangat cepatnya dan mulai terlihat badan dari jam antik kuno yang berubah dari warna emas yang kusam menjadi warna emas yang terang benderang serta berkilauan.

__ADS_1


"Ternyata mata air ini benar-benar berkhasiat", ucap Aisyah saat melihat perubahan yang terjadi pada diri jam antik kuno.


__ADS_2