
Kunci antik kuno itu melayang terbang dihadapan Aisyah saat ia mengintipnya dari balik meja awan putih itu sambil berjongkok.
Aisyah hanya mengedipkan kedua matanya tanpa berani bersuara ataupun beranjak berdiri. Ia takut jika cahaya petir itu akan kembali datang menyambar tubuhnya dan membuatnya kesakitan karena itu ia menyembunyikan tubuhnya dibalik meja terbuat dari awan putih.
"Kunci apakah itu ?", kata Aisyah ragu-ragu.
Terdengar suara keras dari layar besar itu yang menggema diseluruh ruangan istana awan putih ini lalu berkata, "AMBILLAH KUNCI ITU LALU BUKALAH PINTU KAMAR YANG TELAH DIPILIH TADI !!!"
"Apakah kamu tidak akan menyambarkan cahaya petir itu lagi padaku ???", kata Aisyah.
"DIMULAI SEKARANG DALAM HITUNGAN SATU...DUA...", suara dari sistem layar awan putih besar itu mulai menghitung maju.
Aisyah lalu berteriak keras seraya beranjak berdiri dari tempat persembunyiannya dan berkata lantang, "Baiklah ! Baiklah ! Dan tolong jangan berhitung lagi ! Aku akan membukanya !"
Suara itu tetap saja tidak berhenti menghitung dan terus saja berhitung maju, "TIGA....!!!",
Aisyah lalu terbang melayang diudara secepat kilat dan menyambar kunci antik kuno terbuat dari awan putih itu kemudian menuju kearah pintu kamar yang ada ditengah-tengah.
"CEKREEK !!", suara kunci antik kuno terbuat dari awan putih itu saat masuk kedalam lubang kunci pintu kamar.
Pintu kamar dari awan putih itu kemudian terbuka setelah Aisyah berhasil untuk membukanya dengan kunci antik kuno terbuat dari awan putih itu, tapi anehnya kamar dari awan putih itu tidak sepenuhnya terbuka lebar.
Aisyah melihat tumpukan batu terbuat dari awan putih keluar dari balik pintu kamar yang ada ditengah.
Kamar itu memang hanya bisa dibuka separuh dan saat Aisyah hendak membukanya lebar hal itu sangat sulit sekali. Kemudian tumpukan batu dari awan putih itu berterbangan pelan keluar dari dalam kamar awan putih dan berhamburan disekitar Aisyah lalu membentuk sebuah benda.
"Kunci ?", kata Aisyah saat benda terbuat dari awan putih itu turun perlahan kearah tangannya.
Aisyah melihat kunci dari batu awan putih itu dengan perasaan takjub, dan bergumam pelan, "Ini pasti kunci ajaib !"
Baru pertama kalinya ia melihat pemandangan seajaib itu dengan perasaan sebahagia ini. Bayangkanlah ini semua terjadi diatas langit dan diawan. Bukankah ini sebuah keajaiban yang luar biasa tercipta dan tampak sangat nyata terjadi, bukan hanya sekedar khayalan semata.
Aisyah melihat jam antik kuno yang ia gantungkan dilehernya, ia melihat jam antik kuno itu masih diam tidak bergerak sama sekali dan jarum jam yang ada didalamnya turut berhenti berputar menandakan bahwa waktu masih berhenti berputar saat ini.
"Apa gunanya kunci kedua ini ?", tanya Aisyah sambil berteriak keras pada layar besar dihadapannya.
"TUT...TUT...TUT...!!! TEKAN PAPAN AWAN !!! TEKAN PAPAN AWAN !!! TEKAN PAPAN AWAN !!!", terdengar suara dari layar besar itu.
__ADS_1
"Tekan papan awan !?", kata Aisyah bergumam pelan sembari membalikkan badannya menghadap kearah papan awan putih itu yang berdiri tegak dibelakangnya.
"TEKAN PAPAN AWAN ! TEKAN PAPAN AWAN ! TEKAN PAPAN AWAN !", suara dari layar besar itu berulang-ulang.
"Baiklah, baiklah, baiklah ! Aku akan melakukannya !", kata Aisyah.
Aisyah melangkahkan kakinya menuju kearah papan awan putih itu dan menyentuh papan awan putih itu dengan tangannya dan sesuatu terjadi lagi yaitu muncul sebuah tempat seperti lubang kunci dari dalam papan awan putih itu yang terbelah menjadi dua.
"Apakah aku harus memasukkan kunci ini kedalam lubang kunci diatas papan awan ini ?", kata Aisyah seraya mengusap benda yang ada ditangannya.
Terdengar suara lagi dari dalam layar besar itu berbicara pada Aisyah dengan lantang, "KUNCI DIMASUKKAN PADA HITUNGAN MUNDUR DIMULAI...TIGA...DUA...SATU...NOL...!!!"
Aisyah lalu memasukkan kunci dari awan putih itu kedalam lubang kunci diatas papan awan putih itu dan terdengar bunyi suara, "CEKREEK...!!!"
"SILAHKAN MENUJU PINTU KAMAR KEDUA YANG TELAH DIPILIH !!!", suara sistem berbicara pada Aisyah dengan lantang.
"Mungkinkah aku harus memilih salah satu pintu atau aku harus menyelesaikan semua lima pintu kamar diruangan istana awan ini ?", kata Aisyah sambil mengepakkan pelan kedua sayapnya yang berwarna pelangi indah.
"SILAHKAN MENUJU PINTU KAMAR KEDUA YANG TELAH DIPILIH !!!", suara dari layar besar itu berbicara padanya.
"Pintu yang mana ?", kata Aisyah bingung karena ada empat pintu kamar yang masih belum dibuka olehnya.
Gerakan Aisyah terhenti pada sebuah pintu kamar yang ada dipaling pojok dari ruangan istana awan putih ini, ia merasa jika pintu tersebut sedikit berbeda dan unik. Ada satu hal lagi yang aneh dari pintu kamar diujung paling pojok ruangan ini yaitu ia mendengar suara aneh dari dalam pintu kamar. Suara itu seolah-olah sedang memanggil kearah Aisyah seperti berbisik ditelinga.
Lamat-lamat terdengar suara dari dalam pintu ruangan tersebut, sebenarnya ia sendiri sedikit ngeri mendengar suara aneh itu tapi ia berusaha memberanikan dirinya untuk tetap tenang mendekati pintu dari awan putih itu.
"Aisyah...., Aisyah...., Aisyah...., waktu telah tiba...."
Suara aneh itu semakin lama semakin jelas saat Aisyah mendekat tepat didepan pintu dari awan putih itu. Ia kini benar-benar sudah berdiri tepat didepan pintu tersebut dan tanpa banyak bicara ia memasukkan kunci yang terbuat dari awan putih itu dengan sangat cepat tanpa ada keraguan sedikitpun dihati Aisyah.
"CEKREEK !!! CEKREEK !!!", terdengar suara kunci pintu berputar berkali-kali saat Aisyah memasukkan kunci dari awan putih itu.
Tidak seperti saat awal Aisyah membuka pintu yang pertama yaitu pintu yang ada ditengah, pintu kedua kali ini agak berbeda karena ia harus memutar kunci dari awan putih itu kelubang kunci pintu berkali-kali dan agak lama kemudian baru ia bisa berhasil membuka pintu dari awan putih itu.
Aisyah terdiam untuk beberapa saat ketika ia berhasil membuka pintu yang kedua.
Tidak ada reaksi apapun dari dalam pintu awan putih itu, benar-benar sangat hening dan sunyi senyap dan ia tidak melihat lagi tumpukan batu dari awan putih itu yang keluar berserakan kebawah dari dalam pintu yang terbuat dari awan putih itu.
__ADS_1
"Aneh !?", kata Aisyah bergumam pelan.
Lantas ia membuka pintu itu dengan lebar-lebar dan untuk kedua kalinya perbedaan terlihat sangat jelas sekali dibandingkan dengan pintu yang pertama ia temui karena pintu yang kedua ini ia bisa membukanya sangat lebar dan ia dapat melihat sebuah ruangan luas didalam kamar itu.
Tertegun...
Aisyah benar-benar tertegun. Ia berdiri mematung didepan pintu yang telah terbuka lebar itu. Ia melihat ruangan luas didalam kamar itu tampak sangat sunyi dan ruangan ini seluruh dindingnya berwarna putih, berbeda, dan tidak terbuat dari awan putih tapi tampak seperti kamar yang ada diruangan tidur pribadinya dirumah.
Kedua kaki Aisyah lalu melangkah masuk kedalam ruangan kamar yang luas itu. Ia tidak merasakan sesuatu apapun yang aneh didalam ruangan kamar ini. Ia melihat ruangan ini berdinding tembok dan tidak berdinding dari awan putih lagi. Bahkan nyaris dibilang biasa saja, tidak ada yang menarik diruangan ini dan terkesan tenang tiada reaksi apapun.
"Ah...! Mungkin aku salah pilih pintu ! Atau dibilang kurang beruntung saja !", kata Aisyah datar.
Aisyah lalu berbalik arah untuk pergi keluar meninggalkan tempat ini tapi saat ia hendak melangkahkan kakinya menuju kearah keluar tiba-tiba seluruh ruangan kamar berubah menjadi bergerak-gerak dan penuh dengan kilatan sinar lampu temaram yang berwarna-warni bak pelangi.
Pintu kamar tertutup keras dan terkunci dengan sendirinya, ia melihat kunci dilubang pintu dari awan putih itu berputar dengan sendirinya seperti gerakan mengunci.
"CEKREEK...! CEKREEK...! CEKREEK...!", terdengar suara kunci pintu mengunci.
"Haiiii...!!! Jangan bercanda !!!", Aisyah terpekik keras seraya berlari kearah pintu yang terkunci rapat itu. "Bukaaa !!!"
Pintu diruangan kamar itu benar-benar tidak dapat dibuka bahkan kunci dari awan putih itu yang terpasang dilubang kunci pintu tidak dapat digerakkan sama sekali. Benar-benar tidak dapat dibuka serta tertutup rapat dan Aisyah kini berada terkunci didalam ruangan ini sendirian.
"Ayo bukaaa pintunya ! Apa-apaan ini ???", kata Aisyah panik seraya berusaha memutar kunci pintu dari awan putih itu tapi usahanya sungguh sia-sia karena pintu itu tidak bisa dibuka.
Aisyah menggedor pintu itu dengan keras lalu ia teringat dengan cermin kecil kristal yang cantik itu kemudian dengan tergesa-gesa ia mengeluarkan cermin ajaib tersebut dari dalam saku bajunya.
"Karena jam antik kuno itu tidak bergerak, aku akan memakai cermin kecil kristal ajaib yang cantik ini saja untuk membuka pintu awan ini !", kata Aisyah.
Aisyah mengarahkan cermin ajaib kecil kristal yang cantik itu ditangannya kearah depan seraya memejamkan kedua matanya dan seraya berkata lirih, "Aku perintahkan kepadamu wahai cermin ajaib kristal yang cantik untuk segera membuka pintu awan ini !"
Hening dan hampa...
Suasana diruangan ini sangat hening sekali, hanya ruang hampa yang ada diruangan ini.
Tidak ada reaksi dari cermin kecil kristal yang cantik serta ajaib miliknya itu, ia merasakan suasana didalam ruangan ini sangat sunyi. Ia membuka kedua matanya lalu menoleh kearah sekeliling ruangan ini. Tidak ada perubahan yang terjadi dan rupanya cermin kecil kristal yang cantik serta ajaib itu juga tidak bekerja ataupun berekasi seperti jam antik kuno itu, hanya diam membatu.
"Apakah kekuatan ajaib dari cermin kecil kristal yang cantik ini tidak bekerja juga ? Ataukah turut berhenti layaknya waktu didalam istana awan putih ini ?", kata Aisyah seraya melirik kearah cermin kecil kristal yang cantik serta ajaib digenggamannya itu. "Sungguh sangat ironis sekali !"
__ADS_1
Aisyah lalu mengedarkan pandangannya kearah sekeliling ruangan ini yang telah berubah penuh kilatan sinar lampu temaram yang berwarna pelangi indah serta seluruh dinding ruangannya bahkan lantainya bergerak-gerak dengan sendirinya. "Apakah aku akan terjebak ditempat ini selamanya seorang diri ? Apakah ini tanda dari mimpiku selama ini ? Bahwa perubahan takdirku adalah terjebak didalam sebuah ruangan dari awan putih didalam istana awan putih yang ada diatas langit ? Apakah ini akhir kisahku dan akhir dari penantian panjangku dalam perjalanan waktu ?", kata Aisyah dalam hati kecilnya bergumam.