
Aisyah yang masih berdiri dengan penuh amarah merasa telah dipecundangi oleh perempuan yang mengaku bernama Bilqis itu.
Dia telah menaruh seluruh kepercayaannya kepada Bilqis dan membantunya keluar dari istana emas.
Namun, perempuan yang menjelma menjadi ratu jin ternyata hanya memanfaatkan Aisyah untuk lepas dari kurungannya.
"Aku terlalu naif karena sudah mempercayai seseorang yang baru aku kenal dan kini dia berkhianat padaku", ucap Aisyah.
"Tenanglah Nona Aisyah dan tidak perlu anda sesali karena nasi telah menjadi bubur sebaiknya kita hentikan ratu jin itu agar tidak semakin menghancurkan negeri ini", sahut jam antik kuno.
"Apakah kalian bangsa jin tidak dapat dipercaya ?", tanya Aisyah.
Jam antik kuno terdiam tanpa menjawab pertanyaan dari Aisyah karena dia merasa kata-kata itu juga tertuju untuk dirinya yang merupakan salah satu dari bangsa jin.
BOM... BOM... BOM...
Terdengar suara dari arah pusaka yang dipegang oleh ratu jin saat pusaka itu dilepas dari selongsong pusakanya.
"Apa yang bercahaya itu ?", tanya Aisyah.
"Itu adalah pusaka dengan kekuatan tujuh tingkat langit yang sangat dahsyat sekali kehebatannya, Nona Aisyah", sahut jam antik kuno.
"Pusaka itu mengeluarkan aura jahat ke seluruh penjuru tempat ini dan sangat menyesakkan dada", kata Aisyah.
"Benar sekali, pusaka itu beracun dan sangat berbahaya", ucap jam antik kuno.
"Oh tidak... Kita harus segera menghentikannya, wahai jam antik kuno...", lanjut Aisyah cemas.
"Iya, Nona Aisyah. Dan mari kita lawan ratu jin yang kejam itu", ucap jam antik kuno.
AAAAAAKH... ! AAAAAKH... ! AAAKH... !
Beberapa orang tumbang satu per satu sambil memegangi dada mereka saat pusaka itu mengeluarkan aura jahat yang gelap serta beracun.
"Lihatlah banyak yang menjerit kesakitan karena pusaka itu", kata Aisyah.
"Kita segera hentikan ratu jin sebelum dia menggunakan pusaka itu, Nona Aisyah", ucap jam antik kuno.
"Badar, apa kamu melihatnya, keadaan di luar ini ?", tanya Aisyah kepada pedang awan putihnya yang berada di salah satu genggaman tangannya.
"Iya, aku melihatnya, Nona Aisyah", sahut Badar.
"Kalau begitu segera kita hadapi ratu jin itu dan tahukah kamu cara menghentikan ratu jin ?", ucap Aisyah.
"Arahkan saja senjata pedang awan putih untuk melawan ratu jin agar dia tidak sempat menggunakan pusaka itu, Nona Aisyah", ucap Badar lanjut.
"Baiklah, Badar aku akan melakukannya dan bersiaplah untuk menyerang ratu jin itu", sahut Aisyah.
Aisyah segera melambung tinggi dan mulai mengayunkan pedang awan putihnya.
Dia melesat cepat bagaikan angin ke arah ratu jin yang masih terlihat memperhatikan pusaka di tangannya tanpa menyadari Aisyah bergerak menyerangnya.
DASH... DASH... DASH...
Aisyah menghajar ratu jin dengan pedang awan putihnya dengan menghunuskannya kepada ratu jin yang tidak sempat menghindar.
BUM !
Ratu jin itu langsung terhempas jauh ke arah belakang dan tubuhnya menghantam pasir sehingga membuat debu disekitarnya berterbangan.
Aisyah bergerak cepat menuju ratu jin untuk segera mengambil pusaka yang ada di tangan ratu jin.
Bersamaan itu pula terlihat tuan agung besar melesat cepat menuju ratu jin yang jatuh terduduk di atas pasir.
"Tuan agung besar itu mengikutiku, wahai jam antik kuno", ucap Aisyah.
__ADS_1
"Benarkah ?", tanya jam antik kuno.
Terlihat jam antik yang ajaib itu menyembul dari balik saku Aisyah.
"Untuk apa dia mendekat ke arah ratu jin ataukah dia berniat mengambil pusaka dari ratu jin itu", kata Aisyah.
"Mungkin, Nona Aisyah... Dan cepatlah sebelum tuan agung itu dapat kembali mengambil pusaka di tangan ratu jin", ucap jam antik kuno.
"Baiklah, aku akan mengambil pusaka itu secepatnya, wahai jam antik kuno", kata Aisyah.
"Gunakanlah kekuatan luar biasa anda, agar kita tiba lebih cepat dari tuan agung besar itu", sahut jam antik kuno.
"Apakah kamu akan menjadikan pusaka itu sebagai alat negoisasi dengan tuan agung itu ?", kata Aisyah.
Tidak ada jawaban dari jam antik kuno yang mulai keluar melayang di samping Aisyah yang sedang melesat kencang ke arah ratu jin.
"Tuan agung besar itu melayang sangat cepat dan hampir menyusulku, bisakah kamu membantuku supaya aku sampai lebih dulu darinya", kata Aisyah yang menoleh ke arah samping kanannya.
"Cepatlah Nona Aisyah !", pinta jam antik kuno.
Aisyah langsung mengubah dirinya kembali menjadi dingin dengan kedua mata yang putih tanpa pupil hitam.
Tubuh Aisyah mengeluarkan asap putih seperti es yang dingin dan bergerak sangat cepatnya menuju ke ratu jin.
Sekali hentakan Aisyah mampu melompat ke arah ratu jin setelah dia mengubah dirinya dengan kekuatan yang menyeramkan.
Aisyah langsung mengambil pusaka dari tangan ratu jin sebelum tuan agung itu berhasil melakukannya.
"Dapat !", seru Aisyah.
"Dan segera masukkan pusaka itu kembali ke dalam selongsongnya, Nona Aisyah", ucap jam antik kuno.
"Baik, aku akan memasukkan kembali pusaka itu ke dalam selongsongnya", sahut Aisyah.
Pada saat pusaka itu kembali ke dalam selongsongnya, tidak terlihat lagi aura jahat serta aroma beracun disekitar pusaka itu bahkan keadaan di seluruh area tempat Aisyah berada terlihat normal kembali.
"Kemana ratu jin itu ? Dia menghilang dengan cepat sekali", ucap Aisyah terpana.
"Sepertinya dia terluka akibat serangan anda dan kabur untuk menyelamatkan dirinya", sahut jam antik kuno.
Tiba-tiba dari arah belakang Aisyah terdengar suara memanggilnya.
"Hai nona muda ! Tolong serahkan pusaka itu padaku lagi !", ucap tuan agung besar.
Aisyah hanya terdiam bergeming tanpa menjawab ucapan tuan agung itu bahkan dia tidak membalikkan badannya untuk menghadap tuan agung besar.
"Tolong, serahkan pusaka itu, nona...", ulang tuan agung besar.
Gadis berparas bening itu masih tetap diam tanpa merespon perkataan orang suci itu.
"Siapakah kamu yang sebenarnya, nona ? Kekuatan milikmu sungguh luar biasa bahkan jauh berada di atasku...", kata tuan agung besar.
Aisyah lalu memutar tubuhnya dan melihat ke arah tuan agung itu.
"Nona... Apakah kamu baik-baik saja ?", tanya tuan agung besar terkejut.
Orang bersurban itu tampak kaget sekali melihat perubahan pada diri Aisyah yang terlihat sangat menyeramkan.
Seperti biasanya ketika Aisyah berubah menjadi dingin layaknya es dengan kedua mata putihnya, dia tidak akan berkata-kata bahkan hanya diam menatap orang yang melihatnya.
Aisyah akan berbicara sesuai kata hatinya, dan tuan agung besar itu semakin keheranan ketika dia melihat sebuah jam antik kuno yang sedang melayang disamping Aisyah.
"Apakah kamu gadis muda yang aku temui beberapa waktu yang lalu di kamarku ?", tanya tuan agung besar.
Ternyata ingatan dari tuan agung masih sangat kuat serta melekat di dalam benak pria bersurban itu.
"Yah... Aku ingat itu... Kamulah orang yang memasuki kamarku untuk mengambil jam antik kuno milikku...", ucap tuan bersurban itu.
Aisyah masih terdiam tanpa bersuara, menatap tajam ke arah tuan agung besar serta bersikap hati-hati.
__ADS_1
Dia masih mengingat bagaimana tuan suci itu menyerangnya dengan kekuatan yang sama dengan jam antik kuno.
"Apa yang kamu inginkan tuan ?", tanya Aisyah dengan suara paraunya.
"Aku meminta pusaka itu darimu, nona muda", sahut tuan agung besar itu.
"Pusaka ini !?", kata Aisyah sambil menoleh ke arah pusaka yang ada di salah satu tangaannya.
"Iya, aku menginginkannya, bisakah kamu mengembalikannya kepadaku", ucap tuan agung besar itu.
"Untuk apa pusaka ini bagi anda ?", tanya Aisyah lagi.
"Tidak ada, karena aku hanya ingin menyimpannya di tempat yang lebih aman", sahut tuan agung besar itu.
"Apa ucapan anda dapat aku percaya ?", tanya Aisyah sambil memandang lurus ke arah tuan bersurban itu.
"Iya, kamu dapat mempercayaiku", sahut tuan agung itu meyakinkan.
"Bukti... Aku meminta bukti bahwa ucapan anda itu memang benar dan dapat aku percayai...", ucap Aisyah.
"Bukti !? Bukti apa yang kamu minta dariku, nona ?", tanya tuan bersorban itu.
"Bukti bahwa ucapan anda benar kalau anda memang berniat menyimpan pusaka ini pada tempat yang aman, tuan", sahut Aisyah.
"Ya Allah... Haruskah aku membuktikannya... Pantang bagiku berkata dusta, nona", ucap tuan agung besar itu. "Percayalah !"
"Aku bukanlah orang yang mudah mempercayai orang lain meski dia adalah seorang pembesar suatu negeri", kata Aisyah tegas.
"Apa yang kamu inginkan dariku nona ?", tanya tuan agung besar itu.
Akhirnya keinginan Aisyah terpenuhi dengan keluarnya ajakan negoisasi yang diajukan oleh tuan agung besar itu.
Aisyah memang menunggu tuan bersurban mengambil langkah awal untuk melakukan sebuah transaksi dengannya sehingga Aisyah tidak perlu repot-repot jika orang suci itu akan menolak permintaan darinya.
Gadis muda itu berpikir cerdas bahwa tuan agung besar itu pasti akan mengabulkan permintaannya.
99 persen, Aisyah yakin bahwa tuan agung besar itu akan memenuhi permintaan yang akan dia ajukan.
"Katakanlah, mungkin saja aku dapat mengabulkan permintaan mu, nona", ucap tuan agung besar itu.
"Benarkah yang anda ucapkan tuan ?", tanya Aisyah.
"Benar, aku akan memenuhi janjiku demi pusaka itu, nona", sahut pria bersurban itu.
"Apakah begitu berharganya pusaka ini untukmu, tuan ?'', tanya Aisyah serius.
"Melebihi hidupku...", jawab tuan agung besar itu.
"Itu artinya benda pusaka ini benar-benar sangat berharga bagi anda", kata Aisyah.
"Iya..., sangat berharga untukku...", lanjut tuan agung besar.
"Tetapi aku juga menginginkannya", ucap Aisyah.
"Baiklah, jika kamu menyukainya tetapi aku sangat membutuhkan pusaka itu", kata tuan agung besar.
"Apa alasan yang melatarbelakangi anda bersikeras memiliki benda pusaka ini ?", tanya Aisyah.
"Untuk menyelamatkan negeriku... Persia...", sahut tuan agung besar.
Aisyah tersentak kaget saat mendengar alasan dari tuan bersurban untuk memiliki benda pusaka itu.
Tidak pernah terbayangkan bahwa benda yang kini ada di tangan Aisyah sangat berharga bagi keselamatan negeri yang dia kunjungi itu, yaitu negeri Persia.
Aisyah menatap tajam ke arah pria bersurban dengan jubah panjangnya dan mencari kesungguhan dari ucapan tuan agung besar itu.
"Benarkah yang tuan agung besar katakan bahwa dia menginginkan benda pusaka itu untuk keselamatan negeri Persia !? Tetapi dari apa dan siapa negeri ini harus terselamatkan !?"
Aisyah hanya berucap dalam hatinya dan mencoba untuk tidak terpancing dengan perkataan dari tuan agung besar itu padanya.
__ADS_1