
Setelah meminum habis ramuan ajaib yang ada di dalam botol keramik yang ia pegang itu, Aisyah mulai merasakan tubuhnya sehat serta terasa kuat dan bertenaga kembali.
Dia mencoba menggerakkan tubuhnya yang berada di atas alas tidur terbuat dari kerang, dan ia melihat gerakan tangannya yang bertenaga prima itu.
Memutar lengannya lalu mengangkatnya tinggi-tinggi ke arah atas, dan tak lupa Aisyah menggerakkan badannya ke arah samping kanan dan kiri.
"Sepertinya, tubuhku sudah terasa kuat lagi, dan siap untuk melanjutkan perjalanan yang tertunda itu, wahai cermin ajaib", kata Aisyah.
"Syukurlah, anda sudah merasa baikan lagi, hamba tahu setelah bangkit dari koma tidaklah mudah untuk beradaptasi setelah lama terbaring lalu beraktifitas kembali, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.
"Aku tahu itu, tetapi ramuan ajaib ini benar-benar ampuh mengembalikan vitalitas tubuhku seperti sediakala, aku akan mencoba untuk turun dari alas tidur ini", kata Aisyah.
Keseimbangan Aisyah tidak stabil saat ia turun dan berdiri, itu dikarenakan tubuhnya setelah koma membutuhkan waktu untuk kembali beradaptasi dengan sekitarnya.
"Hati-hati, Nona Aisyah ! Jangan terlalu memaksakan diri anda untuk berjalan secepat itu karena anda baru bangun dari koma, Nona Aisyah !", ucap cermin ajaib.
"Iya, maaf, aku tidak berhati-hati saat turun tadi, maafkan aku telah membuatmu khawatir, wahai cermin ajaib", sahut Aisyah.
"Sebaiknya anda perlu beristirahat untuk mengembalikan kekuatan anda serta kestabilan tubuh anda setelah lama koma, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.
"Tidak, aku harus segera menyelesaikan tugas misi sistem kabut istana awan putih ini, wahai cermin ajaib", kata Aisyah tetap memaksakan dirinya untuk berdiri tegak.
Aisyah lalu berjalan dan berdiri di depan pintu yang tidak ia ingat pintu apakah itu. Dia menarik gagang pintu dihadapannya lalu membukanya tetapi pintu tidak bisa dibuka dari dalam dan terkunci rapat.
"Nona Aisyah, anda akan pergi keluar ?", tanya cermin ajaib itu.
"Iya, aku akan keluar dari ruangan ini tetapi nampaknya pintu ini terkunci dan aku tidak bisa membukanya dari dalam", sahut Aisyah.
"Tunggu sebentar, coba hamba yang membukanya, tapi hamba lihat di lantai ini, air menggenang, air apakah itu Nona Aisyah ?", tanya cermin ajaib.
Aisyah terkejut mendengar penjelasan dari cermin ajaib, ia menengok ke arah bawah dan benar yang diucapkan oleh cermin kristal ajaib jika lantai di ruangan ini digenangi oleh air serta anehnya air itu keluar terus menerus dari bawah lantai.
"Oh tidak, air apakah ini !? Aku sendiri tidak tahu darimana datangnya air ini, sangat aneh sekali !?", kata Aisyah seraya menundukkan kepalanya ke arah bawah.
"Apakah anda tahu kita berada dimana, Nona Aisyah ?", tanya cermin ajaib.
"Tidak, aku tidak tahu, kita berada dimana, aku juga tidak ingat apa-apa, wahai cermin ajaib", sahut Aisyah.
"Astaga !? Itu artinya ramuan ajaib dari jam antik kuno juga tidak bisa membantu mengembalikan ingatan anda, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.
"Maaf, membuatmu kecewa tapi aku masih belum mengingat apapun dan yang aku ingat hanyalah sebuah benda yang mirip jam antik kuno tetapi aku tidak tahu apa maksudnya", kata Aisyah.
"Jam ! Iya, itu benar, jam antik kuno, Nona Aisyah ! Anda benar ! Anda mulai mengingatnya, Nona Aisyah !", seru cermin ajaib.
Betapa senangnya cermin kristal ajaib itu saat mendengar ucapan dari Aisyah yang mengingat jam antik kuno itu dan saking senangnya, cermin tersebut berputar-putar di udara dengan berjungkir balik tidak karuan.
Aisyah yang melihat tingkah laku dari cermin kristal ajaib turut ikut senang, senyumannya mengembang di wajah Aisyah yang bening itu.
"Nona Aisyah mulai sembuh ! Dia sehat kembali ! Dia mulai mengingat lagi !", ucap cermin kristal berseru lantangnya.
__ADS_1
"Iya, tapi aku hanya mengingat jam antik kuno saja tetapi aku masih belum ingat sepenuhnya dengan semuanya, wahai cermin ajaib", kata Aisyah.
"Tidak apa-apa, terpenting anda telah mengingatnya meski hanya ingat jam antik kuno saja, nanti dengan seiringnya waktu ingatan anda akan kembali perlahan-lahan, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.
"Mudah-mudahan yang kamu katakan itu benar dan terwujud, wahai cermin ajaib", kata Aisyah.
"Percayalah, karena Yang Maha Kuasa akan menolong anda yang baik hati dan pemberani ini, Nona Aisyah", ucap cermin kristal ajaib.
"Amien... Dan aku anggap ucapanmu adalah doa yang baik buatku, wahai cermin ajaib", jawab Aisyah.
"Amien... Semoga seperti itu, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.
Aisyah lalu kembali memperhatikan ke pintu yang ada di depannya itu dan mencoba mendorong pintu tersebut tetapi percuma karena usahanya tidak membuahkan hasil dan pintu itu masih terkunci rapat.
"Bagaimana kita keluar dari sini sedangkan pintu ini tidak dapat dibuka sama sekali !? Apa yang harus kita lakukan sekarang, wahai cermin ajaib ?", tanya Aisyah.
"Coba hamba yang membukanya tetapi jika ruangan ini terkunci dan hamba lihat saat anda koma tadi, penjagaan yang dilakukan oleh sistem sangatlah ketat, Nona Aisyah", sahut cermin ajaib.
"Maksudnya !?", tanya Aisyah.
"Itu artinya bahwa keadaan di luar sana sangat berbahaya karena itulah sistem mengunci ruangan ini agar sesuatu yang diluar sana dan sangat membahayakan anda tidak dapat masuk ke dalam ruangan ini", sahut cermin ajaib.
"Sesuatu yang berbahaya ? Apakah itu ?", tanya Aisyah bingung.
"Hamba juga tidak tahu, tetapi akan hamba coba melihat keadaan di luar sana, Nona Aisyah", jawab cermin ajaib.
"Melihatnya... Apakah kamu akan melihatnya keluar dan menembus pintu itu, wahai cermin ajaib ?", tanya Aisyah lagi.
"Bagaimana caranya kamu akan melihatnya jika tidak keluar !?", kata Aisyah bertanya-tanya.
"Tunggu sebentar, hamba akan berkonsentrasi untuk melihatnya dari kaca cermin milik hamba ini, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib.
Aisyah hanya menganggukkan kepalanya seraya memperhatikan cermin tersebut.
Tampak cahaya berwarna-warni keluar dari badan cermin kristal ajaib itu dan mengarah terang ke arah pintu yang ada di depan mereka.
Keluarlah pemandangan dari cahaya yang mengenai badan pintu itu, suatu gambaran yang menggambarkan keadaan di luar ruangan tempat mereka berada sekarang.
Terlihat genangan air berwarna kehijaun mengambang memenuhi seluruh ruangan di dalam istana awan putih itu, dari arah dalam air yang kehijauan itu muncul sesuatu benda bergerak-gerak pelan dengan badan yang melambai-lambai seperti kelopak mawar.
Benda berwarna hijau kekuningan itu berenang pelan di atas permukaan air yang menggenang di dalam istana awan putih kian kemari dan banyak sekali jumlahnya.
"Oh Tuhan ! Benda apakah itu ? Sangat menggelikan sekali, aku tidak menyukainya, wahai cermin ajaib. Apakah itu !?", tanya Aisyah terkejut seraya membuka mulutnya menganga lebar.
"Hmmm... Rupanya benda itulah yang telah membuat anda koma, Nona Aisyah", sahut cermin ajaib.
"Benda apakah itu ? Apakah kamu tahu, wahai cermin ajaib ?", tanya Aisyah lagi dengan tatapan lurus ke arah pemandangan yang muncul dari cahaya kristal ajaib di depannya.
"Anemon laut dapat terlihat seperti bunga yang indah, namun sebenarnya hewan tersebut sangat berbahaya, terutama bagi ikan yang berenang disekitarnya. Anemon, memiliki tentakel beracun untuk menusuk korban. Racun yang dihasilkan adalah neurotoxin dan racun tersebut akan membuat sakit", sahut cermin ajaib menjabarkan tentang salah satu jenis makhluk hidup laut itu dengan sangat jelas.
__ADS_1
"Anemon laut ? Beracun ?", tanya Aisyah.
"Benar, itu sejenis makhluk hidup yang ada di lautan dan biasanya tempat ikan giru atau ikan badut tinggal", ucap cermin ajaib.
"Tempat tinggal ikan badut ? Aneh sekali !?", kata Aisyah semakin terheran-heran.
"Benar, kedua jenis makhluk hidup itu memiliki hubungan simbiosis mutualisme yang saling menguntungkan keduanya", ucap cermin ajaib.
"Simbiosis mutualisme..., semacam makanan atau manisan ?", tanya Aisyah.
"Bukan, Ikan badut yang hidup disekitar anemone laut akan memakan alga dan berbagai hewan invertebrate kecil yang dapat membahayakan kelangsungan hidup anemone. Begitu pula ikan badut sangat merasa diuntungkan karena mereka mendapat makanan dari anemone, itu yang disebut hubungan simbiosis mutualisme Nona Aisyah", jawab cermin ajaib menjelaskan kepada gadis muda itu.
"Hmmm..., rumit sekali..., dan aku tidak mengerti akan ada hubungan seperti itu, wahai cermin ajaib", kata Aisyah.
"Aih... Aih... Aih..., anda tidak mempelajari pelajaran biologi sewaktu anda sekolah, Nona Aisyah ?", tanya cermin ajaib itu.
"Biologi ? Pelajaran biologi ? Apakah itu, wahai cermin ajaib ?", tanya Aisyah balik.
"Oh Yang Maha Kuasa Semesta Alam... Hamba lupa bahwa anda masih hilang ingatan dan tidak dapat mengingat apa-apa dengan masa lalu anda, Nona Aisyah", jawab cermin ajaib.
"Yah, yang kamu katakan itu memang benar sekali dan aku meminta maaf akan hal itu, wahai cermin ajaib", kata Aisyah dengan raut wajah memelas.
"Tidak apa-apa, hal yang wajar bagi anda dan itu bukanlah kesalahan anda, Nona Aisyah, wajar sekali, sangat wajar, hamba rasa, nona", ucap cermin ajaib mengerti.
Aisyah kembali melihat ke arah datangnya cahaya yang keluar dari cermin kristal ajaib itu dan menyaksikan anemon laut yang banyak jumlahnya tengah mengapung di permukaan laut dan membuat seluruh air yang tergenang itu berwarna kehijauan saat tertimpa sinar cahaya matahari diluar sana.
Pemandangan yang sangat indah sekali karena air yang menggenang berwarna kehijauan itu tampak berkilauan cantik sekali.
Benar-benar terasa berada di dalam laut yang dalam, sangat mengagumkan dan suasana disekitar istana awan putih mirip sekali seperti aquarium raksasa jika dilihat dari dalam ruangan.
"Kamu tahu, kalau kita ini seperti berada di sebuah aquarium yang berukuran besar, apakah kamu menyadarinya, wahai cermin ajaib ?", tanya Aisyah kepada cermin kristal yang ada disebelahnya.
"Iya, iya, yang anda katakan itu benar adanya, hamba juga merasa berpikiran seperti itu, seakan-akan kita tengah di dalam lautan dan pemandangan di luar sana mirip sekali dengan aquarium raksasa", sahut cermin ajaib yang mengiyakan perkataan gadis muda itu.
"Hmmm, tapi sayangnya kita tidak dapat keluar dari ruangan ini untuk sekedar bersenang-senang, dan sangat amat disayangkan sekali, aku rasa, wahai cermin ajaib", kata Aisyah.
"Kalau yang anda katakan sebenarnya tidaklah tepat karena memang tindakan yang dilakukan oleh sistem kabut istana awan putih ini adalah tindakan yang benar sekali untuk keselamatan anda, Nona Aisyah", ucap cermin ajaib mencoba menanggapi ucapan Aisyah.
"Benar... Iya memang aku dapat memahaminya tetapi aku ingin merasakan sensasi berada di tengah lautan, wahai cermin ajaib", kata Aisyah.
"Ya Tuhanku...", sahut cermin ajaib itu panik.
"Kenapa ?", tanya Aisyah dengan santainya seraya menatap ke arah cermin kristal ajaib yang mengeluarkan cahaya terang.
Cermin kristal ajaib tidak menjawab perkataan Aisyah dan hanya terdiam seraya bergumam sendiri dan berkata pada dirinya sendiri.
"Apakah Nona Aisyah ingin kembali koma seperti tadi karena tersengat racun anemon laut ? Apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran Nona Aisyah itu ? Hamba tidak mengerti sama sekali..., meskipun ia memang seorang yang sangat pemberani tetapi untuk melakukan hal yang sama, bukanlah idea yang baik dan itu sangat tidak masuk akal..., apalagi harus koma untuk kedua kalinya..., Tuhan Yang Maha Esa..."
Cermin kristal ajaib yang cantik itu sangat terkejut mendengar pernyataan dari Aisyah yang menginginkan bahwa dirinya ingin merasakan berada di tengah kumpulan anemon-anemon laut yang beracun itu.
__ADS_1
Dia mulai berpikir dengan kerasnya dan mencoba mencari jawaban dari pernyataan yang diutarakan oleh gadis muda itu yang dengan gamblangnya menginginkan berada di dalam genangan air tersebut.
Cermin ajaib itu tidak mengerti dengan jalan pikiran Aisyah tetapi ia tetap saja mencari cara untuk mewujudkannya meskipun ia tahu resikonya dan akan tersengat racun dari anemon laut yang berenang di genangan air.