
Aisyah mengemudikan kereta rollercoaster gulalinya dengan sangat cepat.
Dia mengarahkan kereta itu melewati awan-awan putih di atas langi biru yang mulai gelap.
"Kita akan bergerak kemana sekarang Keroshy ?", tanya Aisyah sambil menggerakkan tuas pengungkit kereta.
"Kita akan ke Qanat...", sahut Keroshy yang membantu Aisyah menggerakkan tuas pengungkit agar laju kereta terarah.
"Apa masih jauh dari sini ?", kata Aisyah.
"Tidak, sebentar lagi kita sampai kesana", jawab Keroshy.
"Hari sudah menjelang malam, apakah kita akan terus melanjutkan perjalanan kita ke Qanat ?", tanya Aisyah.
"Setelah kita sampai di Qanat, kita bisa beristirahat sejenak kemudian kita lanjutkan lagi tujuan kita ke Qanat", sahut Keroshy.
"Aku rasa itu ide yang bagus buat kita semua karena kita butuh istirahat setelah perjalanan dari danau ovan kemari", kata Aisyah.
"Iya, tetapi nanti saja kita beristirahat setelah sampai di Qanat, akan mempersingkat waktu kita, Aisyah", ucap Keroshy.
"Baiklah...", lanjut Aisyah.
Kereta rollercoaster gulali terus bergerak memasuki sebuah kawasan desa yang sejuk, Aisyah mengarahkan kereta itu ke arah bawah menuju sebuah taman sesuai petunjuk dari Keroshy.
"Apakah kita akan turun di taman ini, Keroshy ?", tanya Aisyah.
"Kita akan turun di taman fin, disini terdapat pemandian sirip kashan, dimana mata air keluar terus menerus dari sistem Qanat", sahut Keroshy.
"Aku kira Qanat adalah suatu tempat atau kota ternyata itu nama sistem", kata Aisyah.
"Qanat merupakan jaringan kanal khusus yang digali secara sistematis untuk memenuhi kebutuhan air di Persia", jawab Keroshy.
"Lalu apakah ada hubungannya dengan mata air yang kita cari itu ?", tanya Aisyah.
"Ada kaitannya dengan mata air yang kamu cari, karena Qanat yang muncul di Fin ini berasal dari mata air yang diperkirakan berumur beberapa ribu tahun, disebut Musim Semi Sulaiman ("Cheshmeh-ye Soleiman"). Diperkirakan telah memberi makan daerah Sialk sejak jaman dahulu", sahut Keroshy.
"Musim Semi Sulaiman ?", kata Aisyah takjub.
"Iya, ini adalah taman bersejarah di Persia, permukiman taman dalam bentuknya yang sekarang dibangun di bawah pemerintahan Abbas I dari Persia (1571-1629), sebagai bagh tradisional di dekat desa Fin", sahut Keroshy.
"Bukankah kita berada masa dinasti safawi ?", tanya Aisyah.
"Benar, pada masa dinasti safawi, taman fin mengalami perkembangan lebih lanjut", kata Keroshy.
"Wah... Aku benar-benar berada di negeri Persia pada masa lima ratus tahun yang lalu, dan ini sungguh mengagumkan", ucap Aisyah semakin takjub.
"Baiklah, kita akan mendarat di dekat pohon cemara saja karena akan mempermudah kita untuk menyembunyikan kereta ini dari para penjaga keamanan taman fin", kata Keroshy.
__ADS_1
"Apakah taman fin ini ada yang menjaganya, tetapi aku tidak melihatnya ?", tanya Aisyah.
"Mereka sedang berada di dalam bangunan taman fin untuk mengontrol sistem Qanat di sini", sahut Keroshy.
"Sebaiknya aku dan Aidl saja yang pergi mengambil mata air itu karena langkah kami lebih cepat dari kalian", kata Aisyah.
"Tidak ! Aku ingin mengambil air dari mata air Musim Semi Sulaiman !", ucap Tabib Naia.
Aisyah dan Keroshy menoleh ke arah Tabib Naia secara bersama-sama.
"Apa yang kamu katakan itu ?", tanya Keroshy.
"Aku akan mengambil air dari mata air di taman fin itu, bukankah aku sudah lama mempersiapkan momen ini...", sahut Tabib Naia.
"Aduh ! Kamu selalu mencari masalah, Naia !", kata Keroshy.
"Apa maksud mu, Keroshy ?", sahut Tabib Naia.
"Jika kamu ikut maka para penjaga akan langsung melihat mu dan menangkap mu", kata Keroshy.
"Aku akan berlari secepatnya dan tidak akan mungkin tertangkap", ucap Tabib Naia.
"Tidak !", sahut Keroshy tegas.
"Ayolah..., Keroshy... Biarkan aku ikut mengambil mata air itu bersama Aisyah...", bujuk Tabib Naia.
"Tabib Naia, biarkan aku dan Aidl saja yang pergi ke mata air taman fin dan aku berjanji akan mengambilkan mu mata air itu untuk mu", kata Aisyah.
Aisyah terdiam menatap ke arah Tabib Naia dengan bimbang, cukup lama dia berpikir mengenai permintaan tabib perempuan itu.
"Baiklah... Aku akan mengajak mu ke mata air Musim Semi Sulaiman itu, karena kita semua sudah berada di taman fin ini maka lebih baik kita bersama-sama ke sana", sahut Aisyah.
Aisyah menyunggingkan senyumannya kepada Tabib Naia sambil mengangkat kedua tangannya.
"Kalau begitu, kita segera pergi mendekat ke taman fin itu, dan aku rasa ini adalah kesempatan terbaik kita karena hari sudah malam disini", kata Keroshy.
"Akan lebih mudah jika kita bergerak di malam hari karena tidak ada yang melihat kita", ucap Aidl.
"Iya, aku juga berpikir sama dengan kalian semua", sahut Aisyah.
Mereka berempat mulai bergerak perlahan-lahan menuju ke arah mata air taman fin, ketiganya berjalan dengan membungkukkan badan mereka saat mendekat ke pemandian sirip karshan.
Tabib Naia sudah tidak sabaran untuk segera sampai di mata air Musim Semi Sulaiman, dan dia berlari cepat menuju sistem Qanat itu.
"Sabarlah, Naia ! Jangan sampai menimbulkan suara karena para penjaga taman akan mengetahui keberadaan kita disini !", ucap Keroshy yang berdiri di sebelah kanan Tabib Naia.
"Iya, aku tahu itu, Keroshy", sahut Tabib Naia. "Dan aku akan lebih berhati-hati disini", sambungnya.
"Apakah kamu akan mengisi semua botol antik itu lagi ?", tanya Keroshy.
__ADS_1
"Hmmm..., tidak, aku rasa sebaiknya aku mengisi lima botol saja karena akan merepotkan ku untuk membawa banyak botol", sahut Tabib Naia.
Di sisi lain tampak Aisyah beserta Aidl berdiri di pinggir Qanat, Aisyah membuka pembungkus kain sutera lalu mengeluarkan jam antik kuno dan menaruhnya di mata air yang keluar dari Qanat.
"Cahaya yang terpancar dari badan jam antik kuno semakin lama semakin terang benderang", ucap Aidl.
"Benar..., cahayanya memancar sangat menyilaukan mata...", kata Aisyah.
"Dan apakah kamu akan terus memakai benda aneh yang ada di wajah mu itu, Aisyah ?", tanya Aidl.
"Oh, batu membaca ini, maksud mu ?", sahut Aisyah sambil membetulkan letak batu membaca di hidungnya.
"Iya...", sahut Aidl datar.
"Aku akan terus memakainya sampai cahaya yang terpancar dari badan jam antik kuno menghilang", kata Aisyah.
"Apakah sangat menyakitkan mata, Aisyah ?", tanya Aidl.
"Tidak, aku hanya sudah terbiasa saja memakai batu membaca ini", sahut Aisyah.
"Aku sarankan lebih baik kamu melepas batu membaca itu", kata Aidl.
"Kenapa ?", tanya Aisyah.
"Tidak apa-apa... Aku hanya berpendapat bahwa kamu lebih baik tanpa batu membaca itu, Aisyah", sahut Aidl.
Aidl mengusap hidungnya seraya melirik ke arah Aisyah.
"Oh...", ucap Aisyah.
Aisyah lalu melepaskan batu membaca yang ada di wajahnya dan memasukkannya ke dalam tas ransel miliknya.
"Nah, sekarang kamu terlihat lebih muda dan lebih cantik, Aisyah", kata Aidl lalu tersenyum.
"Terimakasih atas pujian mu, Aidl", sahut Aisyah.
"Tidak masalah..., santai saja...", kata Aidl ramah.
Aisyah hanya menundukkan kepalanya dengan wajah tersipu malu.
Beberapa menit telah berlalu...
Mereka berempat yaitu Aisyah, Aidl, Keroshy dan Tabib Naia sedang menunggu jam antik kuno yang tengah berada di dalam mata air yang ada di Qanat di taman fin.
Tampak jam antik kuno itu berendam di dalam air dengan memancarkan cahaya terang benderang dari badannya yang terbuat dari logam emas murni.
Suasana di taman fin yang di tumbuhi banyak pohon cemara terasa sangat sunyi.
Hanya terdengar suara desir angin yang bertiup pelan di malam hari dan menambah ketenangan di taman fin.
__ADS_1
Hari telah malam saat mereka semua tiba di taman fin sehingga mempermudah gerakan mereka di taman fin itu untuk leluasa mendekat ke mata air yang ada di Qanat.