
Aisyah melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki melewati hamparan padang pasir emas serta memegang senjata pedang awan putih di tangannya.
Perjalanan menuju ke istana emas sangatlah jauh meski istana emas terlihat dekat, tetapi jarak antara padang pasir emas cukuplah jauh bahkan terasa semakin jauh tanpa adanya cermin ajaib karena dia harus berjalan kaki sangatlah jauh sekali.
"Hmm, ternyata udara di padang pasir emas ini sangat panas !", ucap Aisyah sembari menyeka keringat di dahinya.
"Ada apa ?", tanya Badar dari dalam pedang awan putih.
"Aku hanya merasa panas dan perjalanan ke istana emas jauh sekali, padahal istana emas terlihat dekat di mata kelihatannya", sahut Aisyah.
"Memang benar, tetapi tetaplah bertahan untuk sampai di istana emas agar bisa segera keluar dari tempat ini", ucap Badar.
"Hai ! Apakah yang bergerak di tengah-tengah padang pasir emas itu ?", tanya Aisyah.
Aisyah melihat sosok yang tengah berlari diantara hamparan padang pasir emas dan semakin dekat dia melihat seekor kuda emas bersayap yang sangat cantik.
"Wow ! Itu seekor sembrani emas !", pekik Aisyah terkagum.
Kuda emas bersayap itu berlari kencang ke arah Aisyah berdiri, terlihat kuda itu meringkik pelan lalu terdiam seraya mendengus.
"Ssst...Tenanglah ! Aku adalah kawanmu !", ucap Aisyah.
Aisyah mengusap lembut tubuh kuda sembrani emas dengan kedua tangannya tampak kuda itu mulai tenang dan menurut padanya.
"Apakah kuda sembrani emas ini milikmu ?", tanya Aisyah kepada Badar.
Badar terlihat menyembul dari dalam pedang awan putih milik Aisyah.
"Bukan, itu bukan punyaku", sahut Badar.
"Lalu bagaimana kuda sembrani bisa muncul disini jika kuda ini bukan punyamu !?", tanya Aisyah.
"Entahlah, aku juga tidak mengerti, bagaimana kuda itu bisa ada di tempat ini ataukah ini milik orang suci itu ?", ucap Badar.
"Orang suci yang kamu maksud itu yang telah mengutukmu dan istana awan putihmu didalam jam antik kuno dari emas ?", tanya Aisyah.
"Benar...", sahut Badar.
"Artinya dia mata-mata !", seru Aisyah kaget.
"Tidak bisa dikatakan semuanya adalah mata-mata, namun, hewan untuk mengelabui mata lawan seperti kita", ucap Badar.
"Sama saja artinya, sama-sama dengan hewan mata-mata", ucap Aisyah.
Gadis berparas bening itu lalu mengarahkan pedangnya ke arah kuda sembrani emas seraya menatap tajam.
"Apa yang kamu lakukan ?", tanya Badar.
"Membunuhnya", sahut Aisyah.
"Jangan, lebih baik gunakan kuda sembrani emas ini sebagai tunggangan untuk ke istana awan putih", kata Badar.
"Tapi aku tidak bisa menunggang kuda", sahut Aisyah.
"Menaiki kuda sembrani tidaklah sesusah kuda biasa karena kuda ini bisa terbang maka tidak akan susah", ucap Badar.
"Tapi ini adalah kuda mata-mata milik orang suci, dan bagaimana aku bisa menaiki kuda milik musuh ?", tanya Aisyah.
"Bagaimana kalau kita tes terlebih dahulu ?", saran Badar.
"Mengetesnya !? Bagaimana tanpa menaikinya ?", tanya Aisyah.
"Sebentar aku akan membuatkan boneka tiruan yang mirip denganmu untuk menaiki kuda sembrani emas itu untuk mengetesnya. Apakah reaksi dari kuda sembrani emas itu ?", ucap Badar.
"Baiklah, kamu boleh mencobanya, silahkan !", sahut Aisyah.
Badar lalu memerintahkan boneka tiruan Aisyah untuk segera naik ke atas kuda sembrani emas yang tengah berdiri dihadapan mereka.
__ADS_1
Boneka tiruan yang mirip Aisyah lalu naik ke atas pelana kuda, dan kuda meringkik pelan ketika tali kendali kuda ditarik kemudian berlari kencang pergi tanpa bisa dikendalikan oleh boneka tiruan yang mirip Aisyah, melesat cepat meninggalkan Aisyah yang berdiri termangu di hamparan padang pasir emas.
"Mereka pergi, Badar", kata Aisyah lirih.
"Itu artinya kuda sembrani emas tidak pantas untuk dikendarai karena kuda itu langsung pergi setelah boneka tiruan yang mirip denganmu menaikinya", ucap Badar.
"Bahkan kuda sembrani emas itu tidak terkendali, Badar", kata Aisyah.
Aisyah hanya menatap kuda sembrani emas itu dan melanjutkan kembali perjalanannya menuju istana emas tempat pintu keluar dari pintu kelima.
Dia berjalan menelusuri hamparan padang pasir emas yang luas serta udara yang terasa panas sekali hingga tubuhnya bermandikan peluh keringat di sekujur tubuhnya.
"Fuih...", desah Aisyah sambil mengusap keningnya dengan tangannya.
Dia berhenti sejenak kemudian melanjutkan kembali langkah kakinya ke istana emas yang ada di depannya yang berjarak beberapa meter lagi, meski dengan langkah terseok-seok karena beratnya pasir emas yang menutupi permukaan tempat itu.
Aisyah tetap bertahan dan terus berjalan menuju istana emas dengan berkali-kali menancapkan pedang awan putihnya ke atas hamparan padang pasir emas.
"Kita hampir sampai Badar, apakah kamu mendengarku ?", tanya Aisyah.
"Iya, aku bahkan melihatnya hanya saja kita perlu waspada", sahut Badar.
"Waspada !?", tanya Aisyah seraya mengedarkan pandangannya ke arah sekeliling istana emas.
"Benar, aku rasa di istana ini, akan ada jebakan khusus untuk melindungi istana emas ini", sahut Badar.
"Jebakan !? Maksudmu perangkap di area istana emas ini ?", ucap Aisyah.
Aisyah hanya menatap lurus ke arah istana emas yang ada tak jauh di depannya dengan memperhatikannya sangat serius.
"Jebakan itu biasanya ada disekitar istana emas sebelum pintu masuk atau di area depan istana emas", sahut Badar.
"Apakah kamu yang membuat jebakan-jebakan itu, Badar ?", tanya Aisyah.
"Tidak", sahut Badar.
"Istana emas sudah ada di dalam pintu kelima secara otomatis tercipta tanpa aku membuatnya", sahut Badar.
"Oh, aku mengerti, artinya pada saat istana awan putih itu tercipta secara tidak langsung sistem di istana emas telah dibuat dengan sendirinya", kata Aisyah.
"Tepatnya seperti itu", sahut Badar.
"Bagaimana kalau kita masuk kesana ?", tanya Aisyah.
"Baik, tapi tetaplah waspada", ucap Badar.
"Iya, aku akan terus waspada", sahut Aisyah.
Aisyah lalu melangkahkan kakinya menuju ke area istana emas yang tak jauh dari dirinya berada saat ini. Dengan langkah sangat hati-hati dia memperhatikan sekitar area di istana emas itu.
Dia tidak melihat tanda-tanda di sekitarnya akan muncul jebakan yang datang dua langkah, tiga langkah lalu dia berhenti sembari mengawasi area istana emas kemudian dia kembali berjalan ke arah depan istana emas sambil menghunus pedang awan putihnya.
Tidak ada tanda-tanda jebakan atau perangkap akan muncul di depannya, Aisyah terdiam sejenak kemudian berjalan lagi ke depan istana emas.
"Hmmm, tidak ada tanda jebakan di area istana emas ini, Badar", ucap Aisyah.
"Mungkin saja memang tidak ada jebakan di area ini, tetapi tetaplah untuk waspada kemungkinan saja jebakan-jebakan itu masih tersembunyi", ucap Badar.
"Iya, aku mengerti dan ingatkan aku jangan sampai aku lengah dan tolong beritahu padaku jika jebakan itu datang, Badar", kata Aisyah.
"Baik, aku akan memberitahukan kepadamu tetapi sebaiknya kita semua selalu tetap waspada dengan bahaya yang mengancam kita, Nona Aisyah", ucap Badar.
"Iya, aku mengerti...", kata Aisyah.
Masih tidak ada tanda apapun di area depan istana emas, jebakan masih tidak terlihat akan muncul tetapi pada saat Aisyah melangkah sekitar sepuluh langkah tiba-tiba datang sebuah anak panah melesat ke arah Aisyah. Dengan cepat gadis itu memalingkan kepalanya ke arah datangnya anak panah itu.
KLANG...
__ADS_1
Aisyah menangkis anak panah tersebut hingga jatuh ke pasir emas dan muncul lagi anak panah yang lainnya datang bertubi-tubi menuju Aisyah.
KLANG... KLANG... KLANG...
Aisyah berhasil mematahkan serangan anak panah yang datang ke arahnya dengan cepatnya lalu berlarian menghindari jebakan anak panah yang terus berdatangan.
Hampir mirip dengan serangan tombak milik tiga jin angin topan, hanya saja serangan anak panah disekitar area istana emas datangnya tidak satu arah saja melainkan dari berbagai arah, mulai dari dalam hamparan pasir emas yang ada di depan Aisyah, kemudian lemparan anak panah dari arah udara yang datangnya entah darimana hingga hujanan anak panah yang datangnya dari sisi kiri dan kanan Aisyah berdiri.
Terdengar suara senjata pedang awan putih milik Aisyah dengan anak-anak panah yang berdatangan di area istana emas dan dari berbagai area sekitar gadis muda itu, beradu cukup keras dan nyaring.
KLANG... KLANG... KLANG...
Beberapa anak panah dapat Aisyah patahkan serangannya. Namun, muncul lagi serangan anak-anak panah yang datang bermunculan secara serempak dari berbagai arah.
Aisyah langsung melambung ke atas sembari meliuk-liukkan tubuhnya di udara menghindari hujanan anak-anak panah yang datang ke arahnya.
WOSH...
Aisyah bergerak cepat lalu menghentakkan kakinya diantara anak panah yang datang kemudian mendaratkan tubuhnya ke atas hamparan pasir emas.
Terus menerus hujanan anak panah kembali menyerang Aisyah tanpa hentinya, dan memaksa gadis itu menggunakan perisai pelindung miliknya yang berbentuk bintang sambil mengarahkannya tepat ke depan tubuh Aisyah.
KLANG... KLANG... KLANG...
Anak-anak panah langsung jatuh ke hamparan pasir emas dan patah terkena cahaya yang berasal dari perisai pelindung bintang milik Aisyah.
Cahaya perisai pelindung yang sangat tajam itu mampu mematahkan anak panah menjadi beberapa bagian.
"Sebaiknya kita mencari sumber datangnya anak panah ini sehingga kita dapat segera menghancurkan serangan anak-anak panah dari istana emas itu", ucap Badar.
"Bagaimana caranya kita melihat pusat datangnya anak-anak panah itu, Badar ?", tanya Aisyah.
"Coba anda perhatikan kembali ke arah istana emas itu !", kata Badar.
"Iya", ucap Aisyah.
"Dari arah istana emas keluar anak-anak panah itu tetapi kita tidak melihat siapapun disana artinya istana emas itu tidak ada penghuninya", kata Badar.
"Benarkah ?", tanya Aisyah.
"Lalu siapa yang menggerakkan anak-anak panah itu, Badar ?", tanya Aisyah.
"Kemungkinan sistem yang menggerakan serangan anak-anak panah itu, dan perhatikanlah lagi istana emas itu, ada tanda di area dekat dinding benteng istana emas", kata Badar.
"Mana ?", tanya Aisyah.
"Tepat di dekat dinding benteng, lurus di depanmu itu, Nona Aisyah !", sahut Badar.
"Iya, aku melihatnya, ada sebuah simbol merah mirip bendera yang berkibar, tapi apakah itu tanda untuk menggerakkan serangan anak-anak panah ke arah kita, Badar ?", tanya Aisyah.
"Hmm, benar sekali, kamu dapat menghancurkan tanda berupa bendera yang berkibar itu sekarang juga", sahut Badar.
"Tapi bagaimana caranya !? Aku tidak memiliki benda yang mampu menghancurkan tanda itu, Badar !?", kata Aisyah.
"Arahkan saja pedang awan putih ini tepat ke tanda berupa bendera berkibar itu, lakukanlah segera !", perintah Badar.
"Baiklah, aku akan melakukannya sekarang, Badar", sahut Aisyah.
Aisyah lalu mengarahkan pedang awan putih miliknya tepat ke tanda yang ada didekat dinding benteng istana emas. Dan benar yang diucapkan oleh Badar, ketika Aisyah mengarahkan pedang awan putih miliknya tepat ke arah tanda berupa bendera, langsung sinar yang keluar dari arah pedang awan putih mengenai tanda tersebut.
DAR... DAR... DAR...
Suara ledakan terjadi tepat saat sinar menembus tanda bendera yang berkibar di istana emas itu.
"Bagus Nona Aisyah, kamu berhasil melakukannya dengan sempurna, dan tanda itu kini telah hancur tak tersisa", ucap Badar dengan nada senang.
Aisyah tertegun melihat ledakan hebat itu tanpa mampu berkata-kata lagi dan dengan seiringnya ledakan yang terjadi di istana emas maka hujanan serangan anak-anak panah berhenti seketika itu juga.
__ADS_1
Tidak ada lagi serangan anak panah yang datang kepada Aisyah setelah dia berhasil menghancurkan tanda bendera yang ada di istana emas. Dan suasana di istana emas kembali tenang, tidak ada lagi hujanan serangan anak-anak panah yang berdatangan ke arah Aisyah.