Mengubah Takdir Aisyah

Mengubah Takdir Aisyah
GARUDA...


__ADS_3


Aisyah berusaha terus menggeser batu besar yang terbuat dari bongkahan emas dengan kedua tangannya.


Namun, tenaga Aisyah kalah kuat dengan ukuran batu yang ada dihadapannya sehingga dia merasa kesulitan untuk memindahkan batu besar itu dari tempatnya kini.


"Ugh !", keluh Aisyah.


Aisyah terus menggerakkan batu besar di depannya tetapi tetap tidak berhasil dia lakukan.


"Bagaimana, Nona Aisyah ? Apakah anda bisa menggeser batu itu ?", tanya Badar yang menyembul dari badan pedang awan putih.


"Tidak, aku tidak dapat melakukannya, batu ini terlampau besar dan sangat kuat sekali hingga aku tidak dapat menggesernya dari tempatnya", sahut Aisyah.


"Untuk apa perempuan itu menyuruhmu menggeser batu besar itu, apakah dia sengaja melakukannya agar kita sibuk saja di istana emas ini, Nona Aisyah", kata Badar.


"Tidakkah kamu tadi mendengarnya bahwa untuk keluar dari istana emas ini maka aku harus segera menggeser batu besar ini !?", ucap Aisyah.


"Menurutku itu adalah pekerjaan dia untuk membuat kita menunda waktu kita di istana emas ini", sahut Badar.


"Sudahlah, dan jangan marah padanya", jawab Aisyah.


"Tapi saya sarankan jika kita sebaiknya tidak mendengarkan perkataan perempuan dari Sheba itu, Nona Aisyah", ucap Badar.


"Mungkin saja yang dia katakan itu benar, supaya kita dapat keluar dari istana emas ini maka kita harus segera menggeser batu ini", kata Aisyah.


Aisyah masih bersikukuh untuk menggeser batu besar yang ada di depannya dengan sekuat tenaga.


"Ukh ! I--ini b--berat sekali...", kata Aisyah.


Dia lalu berhenti sejenak untuk mengatur nafas seraya menyeka keringat yang mengalir membasahi wajahnya.


"Ini tidak mudah dan aku rasa harus memikirkan lagi cara termudah untuk menggeser batu besar ini", kata Aisyah.


"Apakah perlu aku membantumu, Nona Aisyah ?", tanya Badar.


"Hmm, aku rasa tidak perlu karena aku sanggup untuk menggeser batu ini sendiri dan akan aku buktikan pada ratu itu bahwa aku mampu melakukannya", sahut Aisyah.


"Kamu yakin, Nona Aisyah !?", ucap Badar.


"Yah...", jawab Aisyah.


Aisyah kembali memperhatikan batu besar itu lalu dia berpikir cara tertentu untuk mengangkatnya. Dan dia mengubah bentuk tubuhnya setelah dia meminum ramuan ajaib yang diambilnya dari dalam kantung kain sutra dari sulaman tangan.


"Fuih ! Ramuan ajaib ini lumayan menyegarkan tubuhku sehingga rasa haus serta lelah, menghilang dariku", ucap Aisyah.


Dia memasukkan botol minuman ke dalam kantung kain sutra bersulam benang emas dan menaruhnya ke saku pakaian zirahnya.


"Sebaiknya aku segera menyelesaikan tugas ini secepatnya", kata Aisyah.


Gadis muda itu bersemangat menggeser batu besar yang terbuat dari bongkahan emas dan ketika tangannya menyentuh batu dihadapannya, tubuh Aisyah mengeluarkan cahaya terang.


Batu berukuran besar itu dapat Aisyah singkirkan dari tempatnya, dia melemparkan batu dari bongkahan emas ke arah luar istana emas.


"Woah ! Kamu ternyata dapat menyingkirkan batu emas itu, Aisyah", kata Biliqis.


Terlihat perempuan cantik melayang turun mendekat ke arah Aisyah dan tersenyum sedangkan Aisyah hanya memandangi Bilqis dengan tajam.


"Kamu yang terhebat dan terbaik Aisyah, aku kagum padamu. Hanya kamu yang dapat mengangkat batu besar dari bongkahan emas itu, Aisyah", kata Bilqis.


"Benarkah ?", kata Aisyah seraya memicingkan kedua matanya.


"Benar, untuk apa aku berbohong kepadamu ?", sahut Bilqis.


"Sekarang kamu sudah puas bukan karena semua keinginanmu telah terpenuhi lalu katakan padaku cara untuk keluar dari istana emas ini", kata Aisyah.


"Baiklah, baiklah, rupanya kamu sudah tidak sabaran untuk mendengarnya, Aisyah", kata Bilqis.


"Iya, itu benar yang kamu ucapkan. Cepatlah kamu katakan dimana jalan keluar dari istana emas ini ?", tanya Aisyah.

__ADS_1


"Coba kamu lihat ke arah bawah sana, ada lubang besar, bekas tempat batu besar itu tadi !", ucap Bilqis.


Perempuan cantik bermahkota itu lantas menunjuk ke arah sebuah lubang besar di bawah lantai tempat batu besar dari bongkahan emas itu tadi berada.


"Lubang apakah itu, Ratu Bilqis ?", tanya Aisyah.


"Entahlah, aku juga tidak tahu tempat apakah itu, dan lebih baik kita turun kesana untuk mencari tahu tempat apa itu sebenarnya", jawab Bilqis.


"Hmmm... Baiklah, aku setuju dengan ucapanmu. Mari kita segera turun bersama-sama ke bawah sana !", ucap Aisyah.


Kedua perempuan itu lalu bersama-sama melompat turun ke dalam lubang besar yang ada di bawah lantai istana emas.


Aisyah bergerak turun terus ke bawah hingga mendarat ke dasar lubang yang cukup dalam sedangkan Bilqis melayang pelan saat turun ke bawah dengan kain tipis yang melambai-lambai disekitar tubuhnya yang indah terpahat.


"Hup !", seru Aisyah.


"Lubang ini ternyata dalam juga dan aku kira hanyalah lubang biasa saja tetapi lubang ini sangat unik", ucap Bilqis.


"Apakah kamu tidak tahu tempat ini yang sebenarnya ? Bukankah kamu pemilik istana emas ini, Ratu Bilqis ?", ucap Aisyah.


"Yah, memang itu benar tetapi tidak semuanya aku mengetahui tiap-tiap sudut istana emasku, Aisyah", sahut Bilqis.


Aisyah mengedarkan pandangannya ke arah sekitar lubang yang bercahaya kemilau itu, dia berjalan pelan mengawasi tempat dengan dinding dari bongkahan emas.


"Sebaiknya kita cari tahu tempat apakah ini dan menemukan jalan keluar dari tempat ini secepatnya", kata Aisyah.


"Baiklah, aku rasa juga seperti itu, semakin kita cepat menemukan jalan keluar maka kita bisa pergi dari sini", kata Bilqis.


"Ayo, kita segera menuju lorong itu, mungkin disana kita menemukan jalan keluar dari tempat ini", ucap Aisyah.


"Iya...", sahut Bilqis.


Mereka berjalan menuju ke dalam lorong berkilauan yang seluruh dindingnya dari emas yang menyilaukan.


"Lorong ini sangat aneh dan semuanya dari emas", kata Aisyah.


"Aku juga baru melihatnya jika di istana emasku terdapat lorong terbuat dari emas", ucap Bilqis.


"Iya, iya, aku tahu kalau kamu tidak pernah mempercayaiku, tapi memang seperti itu kenyataannya bahwa aku tidak pernah tahu adanya lorong emas ini", sahut Bilqis.


"Apa kegunaan dari lorong ini ? Apakah ini tempat persembunyian dari serangan musuh ?", kata Aisyah.


"Aku terjebak disini tanpa tahu ada lorong di istana emas tapi yang aku tahu pesan dari batu tertulis bahwa aku harus menyingkirkan batu besar dari emas itu jika ingin keluar dari tempat ini", ucap Bilqis.


"Kenapa kamu tidak pernah menyingkirkan batu besar dari bongkahan emas itu sebelumnya ?", tanya Aisyah.


"Sudah, bahkan aku setiap hari melakukannya tapi aku tidak pernah berhasil menyingkirkan batu besar itu", sahut Bilqis.


Aisyah melanjutkan perjalanannya, lorong itu makin lama semakin dalam dan saat Aisyah melihat ke depan lorong dari emas itu, dia melihat seekor burung garuda putih tengah berdiri gagahnya.


"Lihat itu ! Ada burung garuda !", teriak Bilqis.


"Burung garuda di lorong emas ?", tanya Aisyah.


"Wah, burung garuda ini benar-benar besar sekali !", seru Bilqis.


"Hewan ini bukan milikmu lalu kenapa ada di dalam istana emasmu ?", tanya Aisyah.


"Aku juga baru pertama melihatnya dan terus terang saja burung garuda ini bukan punyaku, aku tidak tahu ini punya siapa", kata Bilqis.


"Aneh sekali, lalu darimana burung garuda ini memperoleh makanan jika berada di dalam lorong ini tanpa siapapun yang mengetahuinya", ucap Aisyah.


"Entahlah, aku juga tidak tahu darimana asalnya burung garuda ini, atau mungkin saja disini memang habitat burung garuda ini", kata Bilqis.


"Habitat !? Di dalam lorong emas ?", kata Aisyah heran.


"Coba kamu lihat di atas sana Aisyah !", ucap Bilqis.


Perempuan cantik itu tengah menunjuk ke arah sebuah atap yang terbuka di atas mereka semua.

__ADS_1


"Atap terbuka !?", ucap Aisyah.


"Mungkin burung garuda ini terbang kemari dan menjadikan lorong ini sebagai tempat tinggalnya yang layak", ucap Bilqis.


"Hmmm... Mungkin juga yang kamu katakan itu benar dan dia mengira ini adalah gua yang cocok untuk burung garuda ini...", kata Aisyah.


"Gua ?", tanya Bilqis. "Tempat apakah itu ?"


"Tempat yang biasanya berada di sebuah gunung atau bukit besar dan biasanya terdapat di area hutan atau lembah", sahut Aisyah.


"Baik, baik, tapi sayangnya aku memang tidak mengetahui tentang itu semuanya, jadi maafkanlah akan ketidaktahuanku itu", ucap Bilqis.


"Kamu adalah seorang ratu dari suatu negeri jin Sheba tapi kamu tidak pernah mengetahui keadaan disekitar negerimu !?", kata Aisyah.


"Benar, karena semua urusan di luar kerajaan yang mengurus adalah menteriku serta orang-orang pemerintahanku", ucap Bilqis.


"Apa kamu sangat mempercayai mereka semuanya, Ratu Bilqis ?", tanya Aisyah.


"Yah, kami adalah bangsa jin dan tidak ada sifat saling curiga-mencurigai diantara kami kaum bangsa jin, karena kami semua sama-sama bangsa jin. Bagi kami tidak penting untuk menjatuhkan satu dengan lainnya karena kami bangsa jin", sahut Bilqis.


"Indah sekali hubungan diantara masyarakat negeri Sheba dari kaum bangsa jin, di negerimu Ratu Bilqis", kata Aisyah.


"Yah...", ucap Bilqis.


Aisyah memperhatikan burung garuda putih itu lalu mencoba mendekatinya. Dan betapa mengejutkan Aisyah kalau kaki burung garuda itu terikat rantai besi di sebuah tiang panjang dari emas.


"Kaki burung garuda ini ternyata terikat di tiang panjang itu", kata Aisyah.


"Benarkah ?", tanya Bilqis.


"Apakah ini ulahmu, Ratu Bilqis ?", tanya Aisyah.


"Tidak ! Aku tidak pernah tahu adanya burung garuda di lorong ini bahkan keberadaan lorong emas ini pun, aku tidak tahu, Aisyah", sahut Bilqis.


"Apakah aku bisa mempercayai ucapanmu itu, Ratu Bilqis ?", tanya Aisyah.


"Benar Aisyah... Dan untuk apa aku berbohong padamu Aisyah...", jawab Bilqis.


Aisyah lalu membalik badannya ke arah Bilqis dan menatapnya dengan serius, dia seolah-olah sedang membaca pikiran perempuan cantik bermahkota emas itu.


Dalam benak Aisyah terlintas banyak pertanyaan tentang kejadian yang terjadi selama dia temui, terutama di dalam istana emas ini. Karena semuanya seakan-akan terjadi secara kebetulan.


"Mungkin saat ini aku masih mempercayai semua ucapanmu, Ratu Bilqis..., tapi...", kata Aisyah.


Aisyah lalu menarik pedangnya yang dia letakkan di pinggangnya dengan cepat sambil menatap tajam ke arah Ratu Bilqis.


"A--apa yang kamu lakukan itu... ?", tanya Bilqis seraya berjalan mundur.


"Aku tidak pernah bisa mempercayai perkataan orang lain kepadaku", sahut Aisyah.


"M--aksudmu...", ucap Bilqis.


"Kamu mungkin mengatakan semuanya seperti ini semua terjadi tanpa sepengetahuanmu tapi aku tidak percaya jika kamu tidak mengetahuinya", kata Aisyah.


Aisyah berjalan maju ke arah Bilqis sambil menghunuskan pedang awan putihnya kepada Bilqis.


"Apa yang kamu katakan itu Aisyah ?", ucap Bilqis.


"Katakanlah yang sebenarnya Ratu Bilqis ! Siapakah kamu yang sebenarnya !", kata Aisyah.


Langkah Aisyah terhenti ketika tubuh Bilqis menempel tepat di dinding emas dengan pedang masih terhunus ke arah ratu jin itu.


"Katakanlah yang sebenarnya, Ratu Bilqis ! Apakah kamu yang merencanakan ini semuanya ?", tanya Aisyah.


"Tidak ! Sudah aku katakan bahwa aku tidak mengetahui tentang ini semuanya bahkan merencanakan semua ini, aku tidak tahu, Aisyah !", ucap Bilqis.


"Lalu siapa yang telah merantai kaki burung garuda ini ? Dan bagaimana burung garuda ini masih tetap hidup di lorong tanpa ada yang tahu ?", kata Aisyah.


"Aku sungguh mengatakan yang sebenarnya, dan aku benar-benar tidak mengetahuinya tentang ini semua, Aisyah !", ucap Bilqis.

__ADS_1


Tampak Bilqis bersandar di dinding lorong emas dengan wajah mengiba serta memohon kepada Aisyah.


Tidak ada wajah yang menunjukkan tanda jika perempuan cantik dari bangsa jin yang bernama Ratu Bilqis itu berkata bohong.


__ADS_2