
Aisyah semakin bersemangat untuk menemukan tempat air tersebut meskipun ia harus berjalan tertatih-tatih dan terluka, ia selalu bersemangat.
Ketika ia menyadari jika dirinya spesial, dan mengetahui jika dirinya di anugerahi perisai pelindung.
Semangat Aisyah berkobar-kobar untuk mencari tempat air itu dan bertekad keluar dari dasar taman halus walaupun tubuhnya penuh dengan luka, dirinya pantang menyerah dan kembali memiliki semangat tinggi.
Aisyah berjalan dan berusaha berlari dengan langkah terseret, ia tidak memperdulikan lagi luka yang ada di tangannya itu.
Dia menahan rasa sakitnya yang sangat di sekujur tubuhnya, ia juga tidak memperdulikan lagi rasa sakit yang ada di tangannya serta tubuhnya yang demam tinggi.
"Aku harus segera menemukan tempat air tersebut, dan mencari jalan keluar dari sini", kata Aisyah.
Aisyah setengah berlari saat ia mencari sumber air di dasar taman halus, dengan berpegangan pada batu-batu dari cokelat yang tersedia di sekitarnya, ia terus melanjutkan langkah kakinya untuk menemukan sumber air tersebut.
Memang terdengar suara gemericik air yang menggema di dasar taman halus sehingga menyebabkan Aisyah mengira jika air tersebut berada dekat di sekitarnya, tetapi lagi-lagi itu hanya suara air saja tidak ada tempat sumber air ketika Aisyah menelusuri suara air di taman halus itu.
Gadis muda itu berhenti untuk beristirahat sejenak, lalu menarik nafas dalam-dalam dan mengusap keringatnya yang membasahi wajahnya yang memerah akibat panas yang tinggi disertai demam.
"Apakah benar jika air itu hanya suara saja ? Sampai kapan aku akan terus terjebak di dasar taman halus ini ?", ucap Aisyah.
Aisyah terdiam memandangi lokasi taman halus, ia berkali-kali menghela nafasnya sambil melihat pemandangan di dalam dasar taman halus.
"Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya agar sampai kesana ? Dan aku sudah berjalan cukup lama sedari tadi ?", kata Aisyah.
Aisyah terus mengedarkan pandangannya ke arah sekitar dasar taman halus, dan ia berdiri sambil berpegangan pada batu cokelat itu
"Ugh... Ini sangat sakit sekali, tubuhku sangat panas sekali dan demamku tinggi...", kata Aisyah menggigil.
Dia memeriksa tangannya yang terluka, ia melihat lukanya telah kering meski terasa masih sakit.
"Luka di tanganku..., sudah mengering tetapi ini masih sakit sekali dan aku tidak dapat mengobatinya...", kata Aisyah.
Aisyah berjalan kembali sembari memperhatikan gelang-gelang yang ada di tangannya yang bergemerincingan.
"Apakah gelang ini memiliki fungsi selain sebagai perisai pelindung ? Bagaimana caranya menggunakannya lagi ? Apakah gelang-gelang ini hanya bekerja dengan sendirinya ?", kata Aisyah.
Gadis itu melangkahkan kedua kakinya dengan terseret tetapi ia masih bisa memperhatikan gelang-gelang di tangannya penasaran, tanpa melihat langkah di depannya.
Aisyah tampak keasyikan dengan gelang-gelang di tangannya meski sesekali ia meringis kesakitan karena luka-luka di tubuhnya serta tangannya yang juga terluka parah.
"Mmmm... Gelang ini sangat indah sekali... Tapi sayangnya hanya sebagai perisai pelindung saja", kata Aisyah seorang diri.
Ketika ia tepat di sebuah batu besar berwarna cokelat tua, Aisyah merasakan kedua kakinya menginjak permukaan tanah yang basah dan terasa lembek.
__ADS_1
"Apakah ini ?", ucap Aisyah.
Saat kakinya telah menginjakkan ke atas permukaan tanah yang lembek, Aisyah merasakan tubuhnya semakin lama terhisap perlahan-lahan ke dalam tanah berwarna cokelat tua dan mengambang.
Tanah yang ada di permukaan tempat itu berbeda dari tempat yang lain, tanahnya tercampur air dan halus.
Pasir hisap adalah pasir biasa yang bercampur dengan air dalam jumlah banyak sehingga gesekan antara partikel pasir menjadi berkurang.
Aisyah tidak memperhatikan jalan yang ada di hadapannya itu karena sibuk dengan gelang-gelang di tangannya, karena ia merasa jika tanah di depannya itu juga memiliki permukaan tanah yang keras seperti tanah yang lainnya.
"Apakah ini pasir hisap ?", kata Aisyah terperanjat kaget saat ia melihat tubuhnya masuk ke dalam tanah berwarna cokelat tua dan terhisap sangat kuat.
Aisyah langsung panik dan berusaha untuk keluar dari dalam tanah cokelat tua yang sangat lembek, ia berusaha menggerakkan kedua kakinya agar air dan pasir cokelat maksimal merembes masuk ke daerah hampa dan bisa mengurangi tekanan badan, sekaligus bikin pasir menggembur.
Dia merenggangkan anggota tubuhnya supaya memperluas area yang bebas buat membebaskan kakinya dari lumpur supaya ia leluasa berada di dalam pasir terbuat dari cokelat tua itu.
Permukaan tanahnya memang berbeda dari tekstur tanah lainnya di dalam taman halus, tanah di sekitar Aisyah halus dengan pasir yang mengapung berwarna cokelat tua.
"Aku tidak boleh panik menghadapi pasir hisap ini dan tetap tenang ! Ini juga terbuat dari cokelat !?", kata Aisyah sambil berseru.
Pasir hisap yang terbuat dari cokelat tua itu semakin lama menyedot masuk tubuh Aisyah dan membuat tubuhnya setengah tenggelam ke dalam pasir hisap berwarna cokelat tua serta terbuat dari cokelat cair.
Aisyah kembali menggerakkan kedua kakinya agar tetap berada di atas permukaan pasir hisap itu serta ia berusaha mencari pegangan untuk keluar dari dalam pasir hisap yang terbuat dari cokelat cair itu, tetapi ia tidak menemukan sesuatu untuk berpegangan.
"Aku harus segera keluar dari pasir hisap ini !?Dan tidak membiarkan tubuhku terus menerus berada tenggelam di dalam kubangan pasir hisap dari cokelat ini ! Aku harus bisa keluar dari tempat ini !", kata Aisyah dengan berusaha sekuat tenaga menggerakkan kedua kakinya dan menahan rasa sakit yang mendera tubuhnya akibat terluka.
Gadis itu terus menggerakkan tubuhnya dan berusaha mencapai tepi pasir hisap itu, ia terus membuat gerakan di kedua kakinya yang terhisap ke dalam pasir hisap dari cokelat.
"Argh... Sa--sakit sekali, aku tidak dapat menahan tubuhku lagi, dan aku sudah tidak kuat untuk bergerak... Aku sangat lelah sekali !", kata Aisyah dengan tubuh gemetaran hebat.
Aisyah mencari-cari sesuatu di sekitarnya tetapi ia tidak dapat menemukan benda yang di maksudkan olehnya.
Semakin ia bergerak, hisapan pasir cokelat itu juga semakin kuat menghisap tubuh Aisyah ke dalam lumpur cokelat tersebut.
"Aduh ! Tanganku sangat sakit sekali, aku tidak dapat bergerak lagi tapi jika aku tidak menggerakkan tubuhku maka aku akan terhisap sepenuhnya ke dalam pasir hisap dari cokelat ini !", kata Aisyah.
Tenaga yang dirasakan oleh Aisyah semakin lama semakin terkuras habis dan ia mulai kelelahan saat di dalam pasir hisap itu.
Aisyah juga merasakan kedua matanya berkunang-kunang karena lelah. Dan ia juga pusing sekali akibat terlalu menggunakan tenaganya untuk menggerakkan kedua kakinya.
"Kepalaku terasa sakit dan aku mulai pusing !? Apa yang harus aku lakukan sekarang ?", kata Aisyah berkeringat dingin dan demam.
Tubuh Aisyah seluruhnya terasa panas dan kepalanya berdenyut-denyut, ia merasa pandangan matanya kabur.
__ADS_1
Dia berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya dengan berpegangan pada batu dari cokelat sembari tetap tersadar.
"Pasir hisap cokelat ini semakin dalam menghisap tubuhku, aku tidak dapat menggerakkan kedua kakiku tapi aku harus tetap bergerak supaya terbebas dari jebakan lumpur cokelat ini", kata Aisyah.
Aisyah mencoba meraih tepian dengan terus menggerakkan kedua kakinya sekuat tenaganya, ia juga menggoyangkan tubuhnya agar dapat menepi.
Kepala Aisyah terasa pusing sekali saat ia harus menggerakkan tubuhnya ke tepi dengan menahan rasa sakit yang sangat memusingkan kepalanya.
Tangannya gemetaran hendak menyentuh tepian pasir hisap dari cokelat tersebut.
"Ugh ! Ini sangat menyakitkan sekali ! Tapi aku harus bisa meraih tepian itu agar selamat dari hisapan pasir dari cokelat ini !", kata Aisyah dengan memegangi kepalanya.
Saat ia memegang kepalanya yang pusing, ia lupa jika tangan yang satunya terluka. Ketika ia mencoba meraih pinggiran dari pasir hisap itu, Aisyah merasakan kakinya kaku dan tidak dapat digerakkan lagi.
Sekuat tenaga dirinya mencoba bergerak tetapi tetap nihil, karena seluruh tenaganya telah terkuras habis serta melemah.
"K--kenapa kedua kakiku tidak dapat bergerak !? Dan aku tidak bisa merasakan apa-apa !? Oh Tidak ! Kakiku kesemutan..., di saat situasi seperti ini... Aku tidak dapat bergerak?", kata Aisyah dengan tubuh bergetar menahan panas yang tinggi.
Pasir hisap yang terbuat dari cokelat itu semakin menghisap tubuh Aisyah ke dalam secara perlahan-lahan dan tubuh gadis muda itu semakin susah untuk digerakkan.
Terkadang tidak semua pasir hisap itu sangat dalam tetapi lumpur cokelat di sekitar taman halus ternyata dalam sekali menghisap tubuh Aisyah.
"Aku harus bertahan..., dan jangan sampai terhisap ke dalam pasir hisap ini..., aku harus tetap sadar !", kata Aisyah.
Dia merobek lapisan pakaian luarnya dan menjadikannya simpul-simpul kain kemudian melemparkan tali kain itu ke arah batu yang terbuat dari cokelat di tepi pasir hisap.
Aisyah berusaha sekuat tenaga melemparkan tali simpul kain itu ke arah batu dari cokelat agar terkait tetapi ia selalu gagal melakukannya, ia memutar kembali simpul tali kain lalu mengaitkannya lagi meski ia selalu gagal tetapi ia berusaha sekuat tenaga untuk mengulanginya lagi.
Hampir sebelas kali Aisyah melemparkan tali simpul kain itu ke arah batu cokelat tua yang ada dipinggir tepi pasir hisap tetapi ia gagal.
Aisyah terdiam memandangi tepian pasir hisap yang terbuat dari cokelat berwarna pekat itu dengan tubuh bergetar hebat, ia memegangi tali simpul yang ia buat dari sobekan pakaiannya.
"Pasir hisap ini semakin menghisap tubuhku dan menariknya ke dalam lumpur cokelat ini ! Aku harus mengaitkan tali kain ini ke arah batu cokelat itu dan sebisa mungkin keluar dari dalam lumpur ini !", kata Aisyah berusaha sekuat tenaga menggapai tepian pasir hisap itu.
Aisyah melemparkan kembali tali kain simpul dari pakaiannya itu dan berharap berhasil.
Memang tali kain simpul itu akhirnya dapat mengenai batu dari cokelat, dan Aisyah dapat bergerak dengan pelan ke arah tepian pasir hisap tetapi ketika gadis berwajah bening itu hampir menggapai tepi tiba-tiba ikatan tali simpul dari kain pakaiannya terputus.
"SREEET...."
"Argh !!!", jerit Aisyah.
Pegangan Aisyah terlepas dari ikatan tali simpul kain yang terkait pada batu dari cokelat itu dan ia tergelincir jatuh ke kubangan lumpur di dalam pasir hisap cokelat.
__ADS_1
"Hmph...! Blurp... T--tolong aku ! Blurp... Tolong !", teriak Aisyah sembari kedua tangannya terangkat ke atas menggapai-gapai untuk meraih tepi pasir hisap tersebut.
Sayangnya, tak seorangpun yang dapat mendengar jeritan Aisyah yang meminta tolong di dalam dasar taman halus yang sepi dan senyap itu.