Mengubah Takdir Aisyah

Mengubah Takdir Aisyah
Mengajak Keroshy...


__ADS_3


Di sebuah ruangan yang terbuat dari pasir dipadatkan terdapat meja berukuran besar dari kayu, di sisi-sisi meja itu terlihat Aisyah dan dua orang lainnya tengah duduk menghadap meja kayu.


Muncul dari balik tirai sulaman tangan seorang perempuan keluar dengan membawa senampan makanan khas Persia di tangannya.


"Maaf, sudah membuat kalian menunggu lama", ucap perempuan itu.


"Kamu memasak hidangan kegemaranku, Koreshy !", ucap Tabib Naia saat perempuan bernama Koreshy mendekat ke arah meja.


Koreshy hanya tertawa kecil sambil meletakkan beberapa hidangan ke atas meja kayu besar.


"Silahkan kalian cicipi Ash Reshteh ini !", ucap Koreshy.


"Terimakasih, Koreshy", sahut Aisyah.


"Ini hidangan Ash Reshteh yang paling aku gemari", ucap Tabib Naia dengan penuh semangat.


"Ash Reshteh ini cukup nikmat jika disantap selagi masih panas, aku sengaja memasaknya ketika cuaca di Susa mulai dingin, dan aku lihat kalian memakai jubah tebal serta baru datang dari luar cukup lama karena itu aku membuatnya Ash Reshteh ini", kata Koreshy.


"Terimakasih, Ash Reshteh ini sungguh lezat, Koreshy !", ucap Tabib Naia senang.


"Aku senang mendengarnya dan aku puas jika kalian semua menyukai Ash Reshteh buatan ku ini", sahut Koreshy.


"Ash Reshteh ini rasanya unik sekali dan aku sendiri sangat suka rasa makanan ini", kata Aisyah.


"Terimakasih... Siapa dia, Tabib Naia ?", tanya Koreshy.


"Oh iya, aku hampir lupa mengenalkan pada mu, nama teman-teman ku", sahut Tabib Naia.


"Aku Aisyah", kata Aisyah sembari mengulurkan tangannya kepada Koreshy.


"Nama ku Koreshy", ucap Koreshy.


"Dan dia Aidl", ucap Tabib Naia.


Tabib perempuan itu menjawab sambil menunjuk ke arah pria berwajah tampan yang tengah menikmati Ash Reshteh.


Aidl tidak membalas pandangan Koreshy dan terus melahap Ash Reshteh di tangannya sampai habis.


"Apa yang membawa mu ke Susa, Naia ?", tanya Koreshy.


"Oh, ada yang ingin kami tanyakan pada mu tetapi setelah kami menghabiskan Ash Reshteh ini", sahut Tabib Naia.


"Baiklah, silahkan kalian menikmati Ash Reshteh ini terlebih dahulu", kata Koreshy.


Beberapa menit kemudian, semua telah menyelesaikan menyantap hidangan Ash Reshteh mereka masing-masing.


"Baiklah, Koreshy... Kami akan mengatakan niat kami datang ke Susa dan tujuan kami mencari mu hingga kemari...", ucap Tabib Naia.

__ADS_1


"Aku akan mendengarkannya, Naia", sahut Keroshy.


"Aisyah, sebaiknya kamu utarakan saja maksud kedatangan mu kemari agar Keroshy tahu dan mendengarnya sendiri secara jelas dari mu", ucap Tabib Naia.


"Begini, Keroshy..., maksud kedatangan ku kemari adalah hendak menanyakan mengenai lokasi ke tujuh mata air di negeri Persia ini", kata Aisyah.


"Tujuh mata air !?", ucap Keroshy.


"Benar, aku sedang mencari lokasi ke tujuh mata air untuk mengembalikan sahabat ku, jam antik kuno ke wujudnya semula", sahut Aisyah.


"Tujuh mata air adalah tempat yang memiliki medan yang rumit serta penuh bahaya dan tak seorangpun yang berhasil sampai ke tujuh mata air itu", lanjut Keroshy.


"Bagaimana caranya aku dapat ke sana ?", tanya Aisyah.


"Iya, Keroshy... Kami mohon pada mu untuk membantu kami menemukan lokasi ke tujuh mata air itu", sambung Tabib Naia.


"Tetapi aku ragu dapat membantu kalian ke sana karena letak lokasi dari ke tujuh mata air itu tersebar di penjuru Persia", sahut Keroshy.


"Artinya tempat ke tujuh mata air itu tidak berada pada satu lokasi", kata Tabib Naia.


"Benar, Naia... Lokasi dari ke tujuh mata air itu sangat jauh sekali tempatnya masing-masing dan tidaklah mudah untuk mencapainya ke sana...", sahut Keroshy.


"Tidak masalah Keroshy, selama aku dapat pergi ke tempat itu maka aku akan melakukannya meskipun lokasinya sangat berbahaya", lanjut Aisyah.


"Setiap lokasi dari ke tujuh mata air itu letaknya terpisah-pisah satu dengan lainnya, Aisyah", sahut Keroshy.


"Baiklah, aku mengerti, Keroshy", kata Aisyah.


Aisyah menganggukkan kepalanya cepat seraya menatap pada Keroshy dengan sangat serius.


"Iya, aku akan tetap melanjutkan perjalanan ku ke sana, Keroshy", sahut Aisyah tanpa ragu-ragu.


"Hati mu benar-benar teguh serta tidak dapat berubah lagi, Aisyah", ucap Keroshy.


"Apakah kamu memiliki sebuah peta petunjuk untuk mencapai lokasi ke tujuh mata air itu, Keroshy ?", tanya Aisyah.


"Tidak, aku tidak memiliki barang yang kamu maksudkan itu, Aisyah", sahut Keroshy.


"Bagaimana kamu dapat mengingat lokasi ke tujuh mata air itu, jika kamu tidak mempunyai peta petunjuk untuk ke sana ?", tanya Aisyah.


"Aku mengingat semua jalan menuju ke lokasi itu di dalam kepala ku", sahut Keroshy.


Keroshy menunjuk ke arah kepalanya dengan satu jari tangannya sehingga Aisyah yang melihatnya tersenyum.


"Bisakah kamu ikut bersama ku ke tujuh mata air itu, Keroshy", pinta Aisyah.


"Iya..., karena kamu satu-satunya orang yang tahu tempat dari lokasi ke tujuh mata air itu, Keroshy", ucap Tabib Naia.


"Hmmm...", gumam Keroshy sembari memandangi ke arah Aisyah serta Tabib Naia.

__ADS_1


Terlihat perempuan bernama Keroshy itu sedang berpikir keras dengan perkataan yang di ucapkan oleh kedua orang perempuan muda dihadapannya.


"Aku akan memberi mu sekantung koin emas, Keroshy", ucap Aisyah.


"Ambil saja Keroshy sebagai imbalan mu !", kata Tabib Naia.


"Maaf, tetapi aku tidak menginginkan imbalan apa-apa dari kalian dan aku belum menjawab permintaan kalian untuk pergi ke tempat tujuh mata air itu", sahut Keroshy.


"Aku mohon dengan amat sangat pada mu, Keroshy !", ucap Aisyah.


Aisyah lalu meraih tangan Keroshy dan menggenggamnya erat-erat. Tatapan Aisyah sangat serius ketika melihat ke arah Keroshy di sampingnya duduk.


"Tolonglah aku, untuk menemukan ke tujuh mata air itu, Keroshy ! Aku mohon pada mu !", pinta Aisyah.


"Tapi aku sudah tidak berminat melakukan petualangan lagi, Aisyah", jawab Keroshy.


"Oh tidak..., tujuan ku untuk bisa mengembalikan jam antik kuno pupus sudah...", kata Aisyah sambil menundukkan kepalanya.


"Aisyah...", ucap Tabib Naia sedih.


Keroshy memandangi Aisyah dengan perasaan kalut, ada penyesalan diam-diam memasuki hatinya.


Dia lalu menghela nafas panjangnya seraya menengadahkan kepala ke atas dengan mata terpejam.


"Baiklah Aisyah...", ucap Keroshy kemudian.


Aisyah mendongakkan kepalanya kebingungan dengan ucapan Keroshy.


"Apa maksud mu, Keroshy ?", tanya Aisyah.


"Aku akan ikut bersama mu untuk mencari ke tujuh mata air itu, Aisyah", sahut Keroshy.


"Benarkah itu Keroshy ?", kata Aisyah terkejut.


"Iya, aku akan menerima ajakan mu untuk pergi ke tempat mata air itu, Aisyah", jawab Keroshy.


"Ya Tuhan ku... Maha Pencipta ! Terimakasih telah mempermudah segala urusan ku !", seru Aisyah langsung sujud syukur.


"Aisyah...", ucap Tabib Naia terharu.


"Bangunlah Aisyah ! Dan mari kita lakukan perjalanan kita bersama-sama menuju ke tempat ke tujuh mata air itu", sahut Keroshy.


"Apa benar yang kamu katakan pada ku, Koreshy ?", tanya Aisyah.


"Iya, benar, aku akan ikut serta bersama mu ke tempat dari lokasi tujuh mata air itu, Aisyah", sahut Koreshy.


"Terimakasih atas kemurahan hati mu, Koreshy", lanjut Aisyah.


"Jangan berkata seperti itu, Aisyah ! Bukankah kita sama-sama teman yang saling menolong dan sepantasnya aku membantu mu, Aisyah", sahut Koreshy.

__ADS_1


Keroshy membantu Aisyah untuk berdiri serta menyanggupi permintaan Aisyah, untuk pergi ke lokasi tempat ke tujuh mata air berada.


Wajah Aisyah langsung berubah senang dan lega ketika mendengar kesanggupan Keroshy yang menerima ajakannya untuk mencari ke tujuh mata air di negeri Persia.


__ADS_2