Mengubah Takdir Aisyah

Mengubah Takdir Aisyah
Perjalanan Ke Tujuh Mata Air Part XI...


__ADS_3


Kereta rollercoaster berhenti tepat di sebuah kawasan hutan yang lebat dengan ditumbuhi oleh tanaman pohon oak dan anjili yang hijau.


Suasana hutan yang dingin dan terasa sejuk menambah suasana hati Aisyah sangat senang.


Mereka berempat lalu turun dari dalam kereta rollercoaster gulali sedangkan jin Sulaiman masih duduk bersila di atas kereta.


"Kita sudah sampai di hutan awan atau biasa disebut hutan varkan", kata Keroshy saat turun dari kereta rollercoster gualali yang membawanya ke hutan awan.


"Hutan ini sangat indah sekali dan udaranya menyejukkan", sahut Aisyah.


"Hutan Hirkani adalah yang selamat dari era ketiga geologi dan zaman es yang berusia 40 juta tahun", ucap Keroshy.


"Pantas saja bentuk pohonnya sangat langka dan besar sekali ukurannya", kata Aisyah.


"Berhati-hatilah karena hutan ini masih sangat alami dan terdapat spesies hewan langka di hutan awan ini", ucap Keroshy.


"Harimau Mazandarani adalah hewan karnivora terbesar dihutan ini", sahut Aidl.


"Tampaknya kamu banyak mengenal tentang hutan awan ini, Aidl", kata Keroshy.


"Tidak juga, aku hanya membacanya melalaui jam tangan modernku", sahut Aidl.


"Bagaimana bisa sebuah alat petunjuk waktu bisa mengetahui informasi tentang sebuah hutan !?", tanya Keroshy.


"Bisa saja karena di dunia masa depan tidak ada yang tidak mungkin terjadi dan lewat kecanggihan teknologi yang serba modern maka semua bisa terwujud", sahut Aidl.


"Lalu bisakah alat petunjuk waktumu itu memberitahukan kepada kami mengenai letak danau tak berpenghuni di dalam hutan awan ini ?", kata Keroshy.


"Baiklah, aku akan mencoba mencarinya", sahut Aidl.


Aidl lalu mengarahkan jam tangan canggihnya ke arah depan sehingga muncul semacam layar monitor semu dari jam tangan Aidl.


"Wow ! Apa itu ?", pekik Tabib Naia.


"Itu adalah layar komputer yang bisa melihat informasi atau mencari letak keberadaan danau tak berpenghuni itu", sahut Aisyah.


"Benda yang sangat ajaib dan langka", kata Tabib Naia terkagum-kagum.


"Apakah kita dapat mencari letak danau tak berpenghuni dari benda itu ?", tanya Keroshy.


"Coba kalian semua perhatikan ke arah layar !", perintah Aidl.


"Itu lokasi hutan awan ini !", pekik Tabib Naia.


"Benar, itu kita ada didalam layar !", seru Keroshy.


Layar yang menyala itu lalu menampilkan pemandangan didalam hutan awan yang sejuk serta sangat hijau dengan ditumbuhi berbagai spesies tanaman.

__ADS_1


Daerah dataran rendah sebagian besar adalah hutan Oak, Shamshad, Alnus, dan Anjili.


Di lereng tengah, biasanya dipenuhi Anjili dan Oak, dan di lereng tinggi pohon Beech.


Pohon-pohon lain dari hutan ini termasuk Hornbeam, Maple, Elm, Ash, Cherry liar, Sorbus torminalis dan Yew.


Semak-semak hutan ini juga ditumbuhi Medlar, Hawthorn, Ceri cornelian, Ceri Plum liar, Delima dan Apel liar. 


"Layar komputer milikmu sangat canggih dan mampu melihat ke dalam lokasi hutan secara detail", kata Aisyah.


Aisyah memperhatikan layar monitor yang menyala dihadapannya itu dengan seksama.


"Iya, bahkan kita bisa langsung melihat diri kita didalam layar itu", sahut Aidl.


"Dimana kamu membelinya ?", tanya Aisyah.


"Tidak, aku tidak membelinya melainkan jam tangan ini adalah ciptaanku sendiri", sahut Aidl.


"Benarkah ? Jam tangan itu buatanmu sendiri ?", tanya Aisyah.


"Iya...", sahut Aidl.


"Apakah kamu sudah menemukan letak danau tak berpenghuni itu ?", tanya Keroshy.


"Ini masih aku cari", sahut Aidl.


Terlihat sebuah lereng yang menuju ke sebuah danau yang mengalir air jernih dan bening.


"Apakah itu danau tak berpenghuni yang kita cari ?", tanya Tabib Naia.


"Mungkin karena aku sendiri belum pernah datang ke hutan awan ini", sahut Keroshy.


"Lalu bagaimana kamu tahu kalau ini adalah mata air yang kita cari ?", tanya Aidl menimpali.


"Aku mendengarnya dari penduduk di daerah Tehran karena letaknya memang dekat dari Tehran", sahut Keroshy.


"Baiklah... Mari, kita lanjutkan perjalanan kita ke danau tak berpenghuni itu dan segera menyelesaikan tujuan kita datang kemari", ucap Tabib Naia.


Aisyah lalu menolehkan kepalanya ke arah jin Sulaiman yang berada tepat di atas kereta rollercoaster gulali.


"Wahai jin Sulaiman ! Bisakah kamu membawa kami ke lokasi danau tak berpenghuni yang ada di dalam layar itu ?", kata Aisyah.


"Tentu, nona Aisyah", jawab jin Sulaiman.


Jin Sulaiman yang berwujud masih bayangan putih itu kemudian melesat turun bagaikan kilat menuju ke arah Aisyah.


"Hamba akan membawa kita semua ke danau tak berpenghuni yang ada di layar itu", ucap jin Sulaiman.


"Baik, kami sudah bersiap-siap", sahut Aisyah.

__ADS_1


"BHALAZAM... !!!", teriak jin Sulaiman.


Jin Sulaiman lalu membawa mereka semua termasuk kereta rollercoaster gulali masuk ke dalam layar monitor menuju ke danau tak berpenghuni.


Beberapa detik kemudian mereka semua telah sampai di danau tak berpenghuni.


Danau tak berpenghuni itu terlihat sangat sunyi dan lembab, hampir tidak ada spesies hewan berada di lokasi danau itu.


Hanya ditumbuhi oleh rimbunan pohon-pohon hutan Oak, Shamshad, Alnus, dan Anjili yang sangat hijau.


Aisyah melayang turun menuju ke danau tak berpenghuni dan berdiri tepat dipinggir tepian danau lalu berkata pada jin Sulaiman.


"Wahai jin Sulaiman, saatnya kamu berendam ke dalam danau ini !", perintah Aisyah.


"Baik, nona Aisyah..., hamba akan segera berendam ke dalam danau tak berpenghuni itu...", sahut jin Sulaiman.


"Segeralah kamu turun dan berendam...", kata Aisyah.


Jin Sulaiman yang berwujud sesosok bayangan putih lalu turun ke dalam danau tak berpenghuni dan berendam di dalam air danau.


Terlihat tubuh jin Sulaiman yang berwujud bayangan putih itu berangsur-angsur berubah dan mulai terlihat wujud aslinya meskipun masih samar.


Cahaya menerangi tubuh jin Sulaiman dan cahaya itu semakin lama semakin bersinar terang.


"Apakah kita berhasil mengembalikan tubuh jin Sulaiman itu kembali ke asalnya ?", tanya Aidl.


"Aku pikir kita telah berhasil meski masih 99 persen dan belum sepenuhnya berhasil tetapi jika dilihat perubahan dari sosok bayangan putih itu, aku rasa sebentar lagi kita melihat hasilnya", jawab Aisyah.


"Aku harap begitu karena semakin cepat kita menyelesaikan misi ini maka kita dapat segera pulang ke masa depan dengan perasaan tenang", kata Aidl.


"Iya..., aku juga sudah sangat lama menunggu waktu ini datang, Aidl...", sahut Aisyah.


"Apakah kamu akan kembali ke rumahmu, Aisyah ?", tanya Aidl.


"Tidak, karena aku masih harus menyelesaikan pendidikanku di Ain Shams setelah itu aku akan kembali pulang ke rumahku", sahut Aisyah.


"Jika kita telah menyelesaikan misi ini, lain waktu aku akan mengunjungimu di Ain Shams, Aisyah", ucap Aidl.


"Benarkah ? Kamu akan mengunjungiku disana ?", tanya Aisyah dengan mata berbinar-binar senang.


"Tentu saja, setelah aku pulang ke negaraku dan mengurus pekerjaanku, aku akan datang berkunjung ke tempatmu, Aisyah", sahut Aidl.


Aisyah menatap ke arah Aidl yang tengah tersenyum itu lalu keduanya saling tertawa senang.


"Aku harap kedatanganmu, Aidl", kata Aisyah.


"Tentu, aku akan datang mengunjungimu, Aisyah", sahut Aidl.


Aisyah dan Aidl terlihat sama-sama sangat senang dan bahagia karena tujuan mereka di Persia untuk membantu jam antik kuno kembali ke wujud asalnya telah menunjukkan keberhasilan.

__ADS_1


Tinggal selangkah lagi menuju ke mata air terakhir yang ada di Persia untuk mengembalikan jin Sulaiman ke bentuknya semula.


__ADS_2