Mengubah Takdir Aisyah

Mengubah Takdir Aisyah
Ke Kota Susa...


__ADS_3


Aisyah melihat bunga tulip kuning raksasa melaju lamban saat memasuki sebuah kota.


Ada sebuah bangunan yang tampak menonjol di antara beberapa bangunan lainnya, bunga tulip kuning raksasa lalu terbang rendah dan mendarat di atas bangunan itu.


"Kita turun di sini saja karena lebih dekat ke rumah Koreshy", ucap Tabib Naia.


"Kamu yakin jika letak rumah Koreshy berada di daerah Susa", ucap Aidl.


"Iya, percayalah padaku", sahut Tabib Naia.


"Bagaimana kita akan turun ?", tanya tabib perempuan itu.


"Peganglah tanganku dan kita turun bersama-sama, tabib", sahut Aisyah.


"Baik, Aisyah", lanjut Tabib Naia.


Aisyah melompat ke bawah bersama Tabib Naia yang berpegangan pada Aisyah.


Disusul Aidl serta jam antik kuno yang turun ke bawah.


"Nah, kita sudah sampai di bawah dan saatnya kita pergi ke rumah Koreshy", lanjut Aisyah.


"Sebaiknya, kita berhati-hati terhadap ratu jin kemungkinan saja dia sedang menyamar menjadi orang lain saat ini", kata Aidl.


"Apakah kita harus mengubah penampilan kita semua, Aidl ?", tanya Aisyah.


"Aku sarankan kita mengenakan jubah panjang dengan tudung yang menutupi kepala supaya kita tidak terlalu mencolok saat berjalan di Susa", sahut Aidl.


"Bagaimana pendapat mu wahai jam antik kuno ?", tanya Aisyah.


"Hamba akan menyiapkan jubah untuk menutupi tubuh kalian semua agar tidak terlihat dari pandangan luar", sahut jam antik kuno.


Setelah jam antik kuno memberikan jubah yang mereka inginkan, kemudian mereka semua melanjutkan perjalanan di Kota Susa.


"Apa kamu tidak salah lokasi, Tabib Naia ?", tanya Aisyah.


"Tidak, aku tidak salah lokasi, beberapa bangunan di depan sana maka kita akan sampai di rumah Koreshy", sahut Tabib Naia.


Di depan terdapat bangunan beratap ilalang yang lumayan besar dengan pintu dari kayu serta terdapat sebuah bangku usang di sudut bangunan.


"Itu rumah Koreshy !", ucap Tabib Naia sambil berlarian kecil.


Aisyah ikut mempercepat langkah kakinya menuju ke rumah terbuat dari susunan batu bata dari pasir.


"Tunggu Tabib Naia, apakah benar ini rumah orang yang kamu maksudkan itu ?", tanya Aisyah ragu-ragu.


"Benar, seingatku rumah milik Koreshy bentuknya seperti ini, ciri khas atap bangunannya terbuat dari ilalang", sahut Tabib Naia.


"Sudah berapa tahun kamu terakhir berkunjung ke rumah Koreshy ?", tanya Aisyah.


"Sekitar tujuh tahun yang lalu", sahut Tabib Naia.


Aisyah yang mendengar ucapan Tabib Naia terkejut kaget.


"Tujuh tahun yang lalu !?", kata Aisyah.

__ADS_1


"Benar... Kenapa, Aisyah ?", tanya tabib itu.


"Aku berharap dia masih ada", sahut Aisyah.


"Jangan mempermasalahkan usia Koreshy karena umur kami sepantaran, Aisyah", ucap tabib perempuan itu.


"Oh, ternyata usia kalian sama", sahut Aisyah.


"Benar, dia masih muda usianya tetapi sangat kaya pengalaman", kata Tabib Naia.


"Kedengarannya orang bernama Koreshy sangat hebat", sahut Aisyah.


Tabib Naia lalu mengetuk pintu rumah sebanyak tiga kali dan dia berdiri di samping pintu rumah seangkan Aisyah berada di belakangnya.


Tok... Tok... Tok...


"Assalamualaikum..."


Terdengar suara dari dalam rumah menyahut panggilan Tabib Naia.


"Walaikumsalam..."


Pintu rumah terbuka dan hanya menyisakan celah sedikit, terlihat seseorang dari balik pintu rumah tengah memperhatikan Aisyah serta Tabib Naia.


"Siapa kalian ?", tanya seorang perempuan dari balik pintu.


"Aku Tabib Naia, Koreshy ! Apa kabar mu ?", sahut tabib itu ramah.


"Tabib Naia... ?", tanya orang dari dalam ruangan rumahnya.


"Benar, aku Tabib Naia yang pernah berkunjung ke Susa untuk mengobati orang-orang yang keracunan", jawab Tabib Naia.


"Maaf, jika kamu tidak mengingat ku, dan aku memakluminya", sahut tabib.


"Apa tujuan kalian kemari ?", tanya Koreshy.


"Aku ingin menanyakan satu hal pada mu, Koreshy", sahut tabib.


"Silahkan...", ucap Koreshy.


"Apakah kamu tahu keberadaan ke tujuh mata air di Persia, Koreshy ?", tanya tabib.


"Tujuh mata air !?", sahut Koreshy.


"Benar, aku dan teman ku sedang mencari ke tujuh mata air di Persia", kata tabib.


"Apakah kamu membawa orang lain bersama mu, tabib ?", tanya Koreshy.


"Iya, aku membawa dua orang teman bersama ku ke Susa untuk menemui mu, Koreshy", sahut tabib.


Pintu rumah terbuka lebar dan perempuan bernama Koreshy mempersilahkan mereka semua masuk ke dalam rumahnya.


"Silahkan kalian duduk dan aku akan menyiapkan hidangan untuk kalian", kata Koreshy.


"Jangan terlalu sungkan, Koreshy !", ucap Tabib Naia. "Kami tidak lama disini", sambung Tabib Naia.


"Tidak apa-apa, karena ini sudah tradisi di Susa untuk kami menyambut tamu dengan hidangan", sahut Koreshy.

__ADS_1


"Terimakasih atas kebaikan mu tetapi kami harus segera pergi mencari ke tujuh mata air itu, Koreshy", ucap tabib.


"Tunggulah sebentar, aku akan kembali beberapa menit dan membawakan kalian hidangan yang patut kalian coba saat berkunjung ke Susa", kata Koreshy.


"Tapi...",


Ucapan Tabib Naia terhenti ketika Aisyah menahan tabib itu untuk meneruskan kalimatnya.


Aisyah menggelengkan kepalanya kepada Tabib Naia.


"Biarkan saja dia mempersiapkan hidangan untuk kita, Koreshy", kata Aisyah.


"Baiklah, jika kamu menginginkannya, Aisyah", sahut tabib.


"Duduklah, tabib ! Tunggulah perempuan itu selesai membuat hidangannya untuk kita setelah itu kita bertanya padanya", lanjut Aisyah.


"Iya, Aisyah", kata tabib.


Aisyah dan yang lainnya duduk di sebuah bangku terbuat dari kayu utuh.


"Apakah kamu mengenal Koreshy ?", tanya Aisyah.


"Iya, aku mengenalnya saat aku mengobati penduduk di Susa yang terkena racun", kata tabib.


"Racun ?", ucap Aisyah kaget.


"Hmmm...", gumam tabib seraya menganggukkan kepalanya cepat.


"Racun apakah yang telah menyerang kota Susa ini ?", tanya Aisyah.


"Penduduk di kota Susa keracunan makanan yang berasal dari hantaran pesta pada saat perayaan musim panen tiba", kata Tabib Naia.


Aisyah terdiam seraya memandangi ke arah Tabib Naia.


"Dari peristiwa itulah aku berkenalan dengan Koreshy yang saat itu tengah mengobati penduduk yang keracunan", lanjut tabib perempuan itu.


"Apakah dia juga seorang tabib seperti mu ?", tanya Aisyah.


"Tidak... Koreshy bukanlah tabib melainkan dia seorang pembuat roti hanya saat peristiwa itu, dia menjadi seorang relawan", sahut tabib.


"Tapi kenapa kamu mengajak ku kemari, tabib ?", tanya Aisyah.


"Karena Koreshy tahu letak lokasi ke tujuh mata air yang kalian cari dan aku pikir alangkah baiknya jika kita membawa serta Koreshy", sahut tabib.


"Kamu berniat membawa Koreshy bersama kita, tabib", kata Aisyah.


"Benar, itu memang tujuanku dari awal saat mencari Koreshy di Susa", ucap Tabib Naia.


"Kenapa kita harus membawanya bersama kita, tabib ?", tanya Aisyah.


"Biarkan Koreshy yang menunjukkan kepada kita letak lokasi dari tujuh mata air itu karena dia sangat paham tempat-tempat mata air itu, Aisyah", sahut Tabib Naia.


"Apakah tidak akan membahayakan ?", kata Aisyah bimbang.


"Kamu tidak perlu ragu atau bimbang untuk membawa serta Koreshy karena dengan mengajaknya bersama kita maka akan mempermudah kita menemukan ke tujuh mata air itu secepatnya, Aisyah", sahut Tabib Naia.


"Hmmm... Aku pikir idea dari Tabib Naia ada benarnya Aisyah, dan aku juga sarankan kita lebih baik mengajaknya bersama kita", kata Aidl.

__ADS_1


Aidl yang sedari tadi diam mulai ikut memberikan suaranya terhadap idea yang disarankan oleh Tabib Naia.


Dia juga menyetujui saran dari tabib perempuan itu untuk mengajak Koreshy pergi bersama dengan mereka, mencari ke tujuh mata air itu.


__ADS_2