
Aisyah terbangun dari pingsannya dan tersadar cepat, tanpa ia sadari ia duduk di atas punggung harimau besar itu.
Dia lalu duduk terjaga seraya mengedarkan pandangannya ke arah sekitarnya, dia masih berada di dimensi lain.
"Argh !? Aku belum kembali ke istana awan itu !? Dan masih berada disini !?", gumam Aisyah.
Terdengar seseorang tengah bersenandung dan bersandar di atas awan yang melayang, dan seraya memperhatikan ke arah harimau yang tengah terlelap pulas.
Aisyah masih berada dalam alam lain di kota asing, dia belum mengingat apa-apa dengan semua yang terjadi padanya.
"Apa kamu sudah sadar ?", tanya sosok berjubah putih itu dari arah awan yang melayang di udara.
"Mmm..., kenapa..., kenapa kamu menanyakannya ? Apa hubungannya denganmu ?", jawab Aisyah sambil memegangi kepalanya.
"Tidak ada hubungannya denganku tetapi itu berkaitan dengan janji kamu pada sebuah jam antik kuno !?", sahut sosok berjubah putih itu.
"Hah..., tidak ada hubungannya lantas mengapa kamu begitu bersemangat untuk mengusirku dari kota asing ini ?", kata Aisyah seraya mendongakkan kepalanya.
"Aku hanya merasa prihatin denganmu maka aku sekedar mengingatkannya padamu tentang misi utamamu datang ke tempat asing ini", sahut sosok bayangan berjubah putih itu santai.
"Oh, benarkah ? Tapi sayangnya aku benar-benar telah melupakannya dan memang tidak mengingatnya !?", jawab Aisyah.
"Apabila kamu memang ingin tinggal di kota asing ini, aku tidak akan melarangmu sama sekali jika kamu menginginkannya !? Itu adalah hak kamu, hak hidup kamu tapi sayangnya kamu telah melewatkan persahabatanmu dengan jam antik itu dan harapan serta cita-citamu akan terhenti disini, di tempat mimpi ini !?'', jawab sosok bayangan berjubah putih itu.
"Aku tahu itu dan itu adalah keputusan milikku sendiri, untuk apa aku harus menyesal jika itu memang yang terbaik buat diriku ?", ucap Aisyah.
"Hak kamu... Dan juga hidup kamu... Aku disini hanya untuk mengingatkan kamu bukan untuk memaksa dirimu...", kata sosok berjubah putih itu.
"Tapi kamu memaksaku ! Dan Jangan membuatku untuk melawanmu ! Jangan paksa aku !", teriak Aisyah.
"Baiklah..., terserah padamu, aku tidak akan memaksanya...", sahut sosok bayangan putih itu sambil merebahkan tubuhnya di atas awan putih yang melayang itu.
"Jangan mengingatkan aku akan apapun karena aku ingin tetap tinggal disini !", jawab Aisyah dengan nada tinggi.
"Baiklah... Aku mengerti !?", ucap sosok bayangan berjubah putih itu.
"Kenapa kamu bersikeras agar aku mengingat semuanya ? Apa yang menjadi tujuanmu itu, adakah yang kamu inginkan dariku ?", tanya Aisyah.
"Hmm..., tidak, sama sekali tidak ada, aku hanya sebagai pengingatmu, supaya kamu dapat kembali pada jalanmu lagi, percayalah ! Aku tidak bermaksud untuk mengganggumu, disini kamu bebas melakukan yang kamu inginkan !", jawab sosok bayangan berjubah putih itu.
"Bebas ? Bebas katamu tetapi kamu terus mengikutiku, kemana aku melangkah di kota asing ini !?", kata Aisyah.
"TIdak ! Aku tidak mengikutimu sama sekali, dan ini memang tugasku untuk selalu bersama denganmu bukan bermaksud membututimu di kota mimpi ini !?", kata sosok bayangan berjubah putih itu.
"Tapi sangat jelas kamu mengikutiku dan itu bukan tugasmu untuk selalu bersama denganku di kota asing ini !", kata Aisyah.
"Ya... Aku tahu itu... Dan aku tidak bermaksud untuk merepotkanmu tetapi hanya sekedar sebagai alarm waktu untuk mengingatkan kamu jika akan ada masanya kamu harus kembali pulang, ini bukan tempat kamu berasal dan ini hanya mimpi", kata sosok berjubah putih itu dengan sikap santainya.
"Benarkah ? Tapi mengapa kamu masih berada disini ?", tanya Aisyah.
__ADS_1
"TIdak apa-apa, ini hanya kegemaranku berada di sampingmu, dan aku sangat menyukainnya", kata sosok bayangan berjubah putih itu.
"Kamu menggangguku !?'', ucap Aisyah.
"Baiklah ! Baiklah ! Jangan marah, aku akan bersembunyi tetapi agak jauh darimu !?'', kata sosok bayangan berjubah putih itu.
"Kamu sangat lucu ! Tapi kamu tidak pernah berani menunjukkan wajah kamu yang sebenarnya, kenapa ? Bukankah itu sangat mengganggu diriku ?", ucap Aisyah.
"Bukankah itu juga tergantung di tangan kamu ?", sahut sosok bayangan berjubah putih itu sambil mengangkat kedua bahunya.
"Tergantung padaku ?'', kata Aisyah.
"Yeah !? Semua tergantung pada anda sebenarnya ! Jika nona mampu mengingat semuanya lagi, dan kembali ke dalam kehidupan nona, aku akan dapat kembali pada wujudku yang sempurna !", ucap sosok bayangan berjubah putih itu.
''Padaku ? Dan apa yang sedang kamu bicarakan ? Aku benar-benar tidak mengerti, dan tolong jangan berspekulasi denganku !", kata Aisyah.
"Baiklah, baiklah, baiklah ! Aku mengerti itu dan jangan marah !", kata sosok bayangan berjubah putih itu.
"Lantas kenapa kamu masih berada di sini ? Kenapa tidak segera pergi dariku ?'', tanya Aisyah.
"Haruskah aku segera pergi dari sini agar kamu mau mengingat semuanya ?'', sahut sosok bayangan berjubah putih itu.
"Bukan itu alasanku untuk membuatmu pergi dari sini, tapi memang kamu sangat menggangguku !'', sahut Aisyah.
" Tapi ini memang tugasku untuk menjagamu, nona, sampai kamu dapat mengingat semuanya !?'', kata sosok bayangan berjubah putih itu.
"Apa benar jika ini memang tugas mu untuk menjagaku disini atau memang membuatku untuk semakin marah dan memaksa ku agar aku mengingat semuanya ?'', kata Aisyah.
"Jika kamu dapat meyakinkan diriku, maka aku akan sukarela untuk mengingat semuanya dan kembali pulang ke duniaku yang sebenarnya", kata Aisyah.
"Benarkah ? Apa ucapanmu dapat dipercaya ?'', kata sosok bayangan berjubah putih itu.
"Yah... Tergantung juga pada kamu, apakah kamu dapat membuktikan perkataan kamu", kata Aisyah sembari menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Bagaimana caranya untuk membuktikan semuanya ? Supaya nona, mau mempercayai ucapanku ?'', tanya sosok bayangan berjubah putih itu.
"Terserah padamu, dan aku tidak tahu jawabannya, itu urusan anda !'', kata Aisyah seraya melipat kedua kakinya.
Harimau berukuran besar itu, mulai bergerak perlahan-lahan dan menguap, suaranya menggetarkan seluruh bangunan kota asing itu.
Dia juga membuat tubuh Aisyah yan sedang berada di atas punggung harimau berguncang hebat dan hampir membuat Aisyah terjatuh.
"Hai ! Apa yang kamu lakukan wahai harimau besar ? Tidakkah kamu bersikap untuk sedikit tenang ?", ucap Aisyah terkejut.
"ROOOAAAAARRRR....!!!!'', suara auman harimau besar itu semakin keras.
"Hai ! Kamu bergerak kemana ? Kamu akan pergi kemana ?", tanya Aisyah panik sambil berpegangan erat di tubuh harimau besar itu.
"Hati-hatilah nona ! Berpeganganlah yang kuat ! Jangan bergerak dan jangan sampai terjatuh !!!'', teriak sosok bayangan berjubah putih itu.
__ADS_1
"Haiiii.... Tenanglah hewan manis... Bersikaplah yang baik !!!!'', jerit Aisyah semakin panik.
"ROOOOOOAAAAARRRRRR....!!!! ROAAAARRRR !!!!'', harimau itu mengaum keras.
"Pegangan yang kuat nona ! Dan jangan sampai terjungkal ke bawah !", teriak sosok bayangan berjubah putih itu.
"Yeay ! Tenanglah manis ! Tenanglah !", ucap Aisyah kebingungan.
"Harimau itu tidak dapat tenang, nona, maka berhati-hatilah, nona Aisyah !", ucap sosok bayangan berjubah putih itu menahan tawanya.
"Aishhh !? Dia hanya bisanya berteriak dan memandu seperti itu ? Tanpa mau membantuku sama sekali ? Orang macam apa itu ? Tidak bisakah makhluk aneh itu turun dari atas awan dan menolongku ? Katanya tugasnya menjagaku tapi kenapa masih duduk disana ?", ucap Aisyah kesal.
"Tenanglah Nona Aisyah ! Tetaplah tenang ! Dan berpegnganlah dengan kuat di atas harimau besar itu !", kata sosok bayangan berjubah putih itu.
"Dia berteriak lagi !? Apa yang sedang ia bicarakan itu ?", gumam Aisyah.
"Pegangan Nona Aisyah ! Jangan bergerak atau membuat harimau besar itu panik karena akan sangat berbahaya sekali untuk keselamatanmu !'', kata sosok bayangan berjubah putih itu penuh semangat.
Aisyah hanya menatap lurus ke arah depan sambil berpegangan tangan erat pada tubuh harimau besar itu karena ia harus berhati-hati agar dirinya tidak sampai terjatuh dari punggung harimau yang memiliki ukuran tubuh yang sangat besar itu.
Gadis dengan kain penutup kepala tampak bekonsentrasi penuh tatkala ia berada di atas tubuh harimau besar yang sedang berlari dengan kecepatan penuh itu.
Aisyah sangat berhati-hati sekali saat harimau besar itu semakin mempercepat laju larinya dan semakin membuat Aisyah ketakutan.
Dia benar-benar telah melupakan semua kemampuan khususnya serta kehilangan kendali untuk menggunakan kekuatan yang ada ditubuhnya, ia lupa dengan perisai dari batu pirus yang berasal dari bintang roh miliknya, ia juga tidak ingat akan cermin kecil kristal miliknya ataupun kekuatan yang baru ia dapatkan di dalam istana awan itu. Bahkan ia telah melupakan keberadaan jam antik kuno yang selalu bersama dengannya setiap hari.
Sahabat Aisyah yang menemaninya kemanapun ia pergi, gadis muda itu telah melupakannya dan tidak lagi mengingatnya.
Aisyah benar-benar telah melupakannya dan tidak mampu untuk mengingatnya, ingatannya telah menguap semuanya dari pikirannya.
Entah pergi kemana semua kenangan yang ada di kepalanya itu, menghilang dari memori yang biasanya tertanam di otaknya dan selalu ia ingat kemanapun langkah Aisyah melangkahkan kedua kakinya yang selalu tertutup sepatu indah.
Aisyah telah melupakannya dan ia lebih memilih untuk tidak megingatnya, membuangnya jauh-jauh dari kepalanya karena ia ingin hidupnya tampak tenang tanpa gangguan dari manapun.
Kota asing dalam dimensi lain itu telah membuat Aisyah terbuai dalam mimpi-mimpi yang tidak pernah ada ujung akhirnya, membuatnya terlena dalam kota asing yang ina itu.
Dia sengaja memang tidak ingin terjaga dari mimpinya dan tidak ingin segera tersadar dari komanya yang panjang seusai ia dari pintu ke empat.
"Berhati-hatilah harimau manis ! Kamu akan membuatku jatuh jika kamu bergerak secepat itu, bisakah kamu bergeak perlahan-lahan ?'', ucap Aisyah.
"ROOOOAAARRR !!!'', suara auman harimau itu seakan-akan mengerti yang diucapkan oleh Aisyah.
"Baguslah kamu mengerti ! Kerja yang bagus, wahai harimau besar yang manis !? Kerja yang bagus sekali, terimakasih kamu mau mendengarkan perkataanku !?'', kata Aisyah.
Aisyah mengusap-usap lembut tubuh harimau besar itu dari atas punggungnya dan berusaha untuk menenangkan harimau berukuran besar itu.
Hewan buas itu terus bergerak tanpa hentinya dan membawa Aisyah yang ada di atas punggungnya terus berlari kencang.
"Kamu akan membawaku kemana ? Apakah kamu hendak menunjukkan sesuatu kepadaku ?'', tanya Aisyah.
__ADS_1
Harimau besar itu tidak merespon ucapan Aisyah dan terus berlari amat kencang dan membuat Aisyah yang ada di atas tubuhnya terpaksa berpegangan lebih kuat lagi.